Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Rencana Kiya dan Wahyu ( Part 2 )


__ADS_3

Pagi ini Syakirah sudah sampai di pabrik. Meskipun kemarin dia bahagia bersama Ahmad nyatanya dalam hatinya masih ada kesedihan. Sekarang ini dia sedang menunggu teman-temannya di depan warung pabrik sambil menyeduh teh hangatnya.


"Syakirah." ujar seseorang sambil menepuk bahu Syakirah pelan.


"Wahyu? Tumben lama sekali datangnya?" ujar Syakirah kepada Wahyu. Wahyu duduk di samping Syakirah.


"Tidak apa-apa. Biasa di rumah kan adik aku gak mau ditinggal." Syakirah mengangguk.


"Syakirah, bagaimana cuti kemarin? Apa kau ada di rumah?" tanya Wahyu penasaran, padahal dia sudah tahu


"Aku tidak ada dirumah."


"Lalu, kau kemana?"


"Aku berkencan dengan Ahmad."


"Kenapa?"


"Apanya?"


"Kenapa kau berkencan dengan Ahmad?"


"Ahmad bilang kalau dia mau minta maaf. Jadi, aku menurutinya saja."


"Lalu, kenapa kau cemberut begitu? Apa Ahmad menyakitimu?" tanya Wahyu memastikan.


"Tidak. Hanya saja aku tidak terlalu bahagia. Aku hanya pura-pura tersenyum di hadapannya, tapi jauh di lubuk hatiku ada rasa sakit hati yang mendalam." ujar Syakirah sendu.


"Jika, kau tidak bahagia, kenapa kau menurutinya?"


"Aku hanya taruhan dengan kak Rani. Jika aku disakiti Ahmad lagi, maka kak Rani akan melepaskan aku dengan ikhlas. Tapi jika semua baik-baik saja maka kak Rani akan tetap berusaha untuk menyatukan aku dengan Ahmad. Tapi nyatanya aku bahagia. Aku yakin sekarang kak Rani senang karena dia yang menang."


Wahyu diam tidak menjawab. Dia sudah menduga hal ini. Syakirah memang pandai menutupi perasaannya.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan?"


"Tidak ada."


Wahyu menghela nafas lelah. Dia sangat lelah sekali jika berurusan dengan Ahmad. Bagi Wahyu, Ahmad adalah parasit yang selalu mengganggu Syakirah.


"Syakirah, apa kau sudah dihubungi oleh Kiya semalam?" tanya Wahyu.


"Kenapa kau bisa tahu?" tanya Syakirah curiga.


"Sebenarnya aku dan Kiya sedang merencanakan sesuatu untuk Ahmad. Tapi itu tergantung kau setuju atau tidak."

__ADS_1


"Memangnya kau akan melakukan apa dengan kak Kiya?"


"Syakirah, aku akan membawa mu pergi dari sini. Tidak akan lama, hanya sebentar saja. Mungkin sekitar 2 sampai 3 minggu." Syakirah melotot dengan ucapan Wahyu.


"Wahyu, apa kau sudah gila? Aku tidak mungkin meninggalkan pabrik begitu saja!" bela Syakirah.


"Tenang saja, Syakirah. Kita akan meminta izin, jika kita tidak diizinkan maka terpaksa kita harus resign dari pabrik."


"Wahyu, aku tidak mau resign dari pabrik. Kau tahu kan kalau aku masih memiliki adik. Aku harus membiayai sekolah adikku. Aku tidak mungkin terus menyusahkan orang tuaku."


"Syakirah, kau tenang saja. Aku akan melakukan sesuatu untuk itu. Aku tidak akan bertindak seperti ini tanpa menyusun rencana. Kau jangan takut."


"Lalu, bagaimana kalau gagal?"


"Kita pasti berhasil. Sekarang yang terpenting adalah, kau mau atau tidak?"


Syakirah merasa bimbang dengan keputusannya. Di satu sisi dia setuju, tapi di sisi lain dia tidak setuju. Dia takut akan menyakiti banyak perasaan orang lain.


"Apa disini yang tersakiti hanya Ahmad yang tersakiti?" tanya Syakirah memastikan.


"Kemungkinan besar, iya."


Syakitah berfikir sampai akhirnya dia mengangguk.


***


Bel istirahat sudah berbunyi. Syakirah pergi ke kantin sendirian, karena Wahyu ingin berbicara kepada ketiga sahabatnya itu. Mereka bertiga datang terlambat, karena ketiduran. Maklum habis begadang.


Syakirah istirahat sendirian, dia tidak mengenal siapapun disini. Hanya teman-temannya saja yang menjadi teman pabriknya. Syakirah bukannya tidak ingin berteman tapi tempatnya bekerja sangat sepi untuk hanya berkenalan saja. Tempatnya dikantor sementara yang paling banyak orangnya di tempat pembuatan barang.


Syakirah cepat-cepat menghabiskan makannya dan segera kembali ke ruangannya. Tapi, pada saat dia sudah hampir habis ada seseorang yang duduk di depannya.


"Syakirah ya?" tanya orang tersebut. Syakirah mengangguk.


Orang yang duduk di depan Syakirah adalah seorang lelaki. Lelaki yang sepertinya sudah berumur 30 tahunan. Syakirah menatap lelaki yang ada didepannya dengan sangat insten. Lelaki itu tersenyum ke arah Syakirah.


"Namaku Adi. Aku adalah direktur utama pabrik disini." ujar Adi memperkenalkan diri. Syakirah langsung terkejut.


"Maaf, pak. Saya tidak tahu." ujar Syakirah. Adi hanya tersenyum.


"Tidak apa-apa. Saya memang jarang ada dipabrik. Selama ini saya dinas keluar kota terus." jelas Adi. Syakirah hanya mengangguk.


Adi memperhatikan Syakirah dengan insten. Dia tahu kalau Syakirah sedang gugup atau bisa dibilang sedang takut.


"Saya sudah berumah tangga. Saya juga sudah memiliki 2 anak." Syakirah menatao Adi heran. Pasalnya Adi seperti tahu apa yang ada dipikirannya.

__ADS_1


"Maaf, pak. Bukannya saya berkmasud gitu… " ucapan Syakirah di potong oleh Adi.


"Tidak apa-apa. Itu wajar kita baru saja ketemu. Saya sebenarnya akan pindah dari pabrik ini."


"Lah? Kenapa pak?" tanya Syakirah heran.


"Saya akan mengurus cabang pabrik XX di kota XX. Jadi untuk beberapa bulan, saya akan menyelesaikan urusan saya disini. Setelah urusan saya selesai, saya akan pindah kesana."


"Apa bapak akan pindah kesini lagi?"


"Soal itu saya tidak tahu. Tapi pabrik di kota XX akan saya pegang untuk waktu yang sangat lama, sampai anak dari CEO pabrik XX bisa memegangnya."


"Oh begitu ya."


Mereka berdua bicara sangat santai karena Syakirah sudah tidak tahu lagi dengan Adi. Syakirah yang awalnya ingin pergi meninggalkan kantin setelah makan, jadi tidak pergi.


Sementara Wahyu dan ketiga sahabatnya itu sedang mempersiapkan diri. Mereka akan bertindak besok karena Syakirah sudah menyetujuinya.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan?" tanya Rey.


"Nanti kalian datang ke rumah Ahmad, buat rusuh disana. Tapi, ingat jangan terlalu berlebihan, biasa saja."


"Tapi, kalian akan kembali lagi kan?" tanya Navile.


"Tenang saja. Kita bertiga akan kembali. Mungkin satu bulan itu paling lama, jika tidak hanya 2 sampai 3 minggu saja." jawab Wahyu.


"Apa kalian sudah memikirkan resiko ini?" tanya Rey.


"Sudah. Kita tidak akan bertindak jika tidak tahu resikonya. Berhubung kita sudah tahu resikonya, kita akan tetap bertindak."


"Aku sangat khawatir. Bandung sangat jauh dari sini. Ini juga pertama kali kalian kesana. Apa kalian tidak akan kenapa-kenapa?" tanya Rey.


"Tenang saja. Jangan khawatirkan masalah itu. Yang harus kalian pikirkan adalah, kalian harus berhasil menjalani peran kalian. Kalian mengerti?" Mereka berempat mengangguk.


Setelah itu, Wahyu menelpon Kiya bahwa dia sudah mempersiapkan temannya, dan tinggal urusan pabrik saja. Kiya pun juga siap dengan kak Rani, bagaimanapun Ahmad tidak boleh bertindak seenaknya.


Bersambung......


***


Happy eid mubarak🙏🏻


Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1-2 Syawal 1142 H. Minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin🙏🏻🙏🏻


Author minta maaf ya sama kalian, kalau author punya salah dan pernah khilaf ke kalian🙏🏻 Karena Author juga manusia biasa seperti kalian yang tidak luput dari kesalahan. 🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2