Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Ahmad vs Wahyu


__ADS_3

Weekend pun tiba. Jam masih menunjukkan pukul sembilan pagi. Ahmad juga sedang menunggu kedatangan Wahyu. Dia tidak akan membiarkan mereka membawa Syakirah pergi begitu saja. Dia akan berjuang apapun itu caranya agar dia bisa mendapatkan Syakirah kembali.


Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh tapi Wahyu belum datang dan membuat Ahmad mengumpat dengan kesal. Dia bahkan datang jam delapan pagi tadi agar dia tidak telat dan membuat Wahyu marah, tapi ini malah wahyu yang membuatnya marah.


Ahmad mulai beranjak dari duduknya. Dia sudah berdiri tapi tiba-tiba saja ada orang yang menepuk bahunya.


"Maaf aku terlambat, tadi sedikit ada urusan." ujarnya.


"Hei kau tahu? Aku menghabiskan tiga gelas kopi dalam beberapa jam, padahal aku jarang sekali minum kopi disaat pagi dan siang!" ujar Ahmad kesal.


"Sudah aku bilang tadi aku ada urusan, jadi aku sedikit telat!" ujar Wahyu tak mau kalah.


Ahmad duduk kembali ke kursinya dan memperhatikan Wahyu yang sedang memesan minuman.


"Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Ahmad tak sabar.


"Tentang Syakirah."


"Ck. Apa yang kau mau lagi dariku?"


"Ahmad kau memiliki dua pilihan. Satu, kau memilih Syakirah atau Hanifa. Dua, kau memilih Syakirah untuk pergi dari sini atau tetap tinggal?" ujar Wahyu sambil memperlihatkan jari telunjuk dan tengahnya kepada Ahmad.


"Hei, apa-apaan itu? Bagaimana bisa aku memilih salah satu dari itu! Masing-masing yang kau berikan itu ada alasannya!" ujar Ahmad kesal.


"Lalu, apa kau tidak mau memilih salah satu tadi? Kalau kau tidak mau memilih, maka aku anggap kau setuju jika Syakirah pergi dari sini."


"Hei, apaan lagi itu? Aku memiliki alasan yang logis untuk hal itu!"


"Kalau begitu sebutkan alasanmu!"


"Apa?"


"Kalau kau tidak mau itu tidak masalah, aku anggap kau sepakat jika aku membawa Syakirah pergi dari sini."

__ADS_1


"Pertanyaanmu yang pertama tadi. Apakah aku harus memilih Syakirah atau Hanifa? Jawabanku adalah Syakirah. Hanifa hanya aku jadikan pelampiasanku saja, jika aku mengakhiri hubunganku dengannya maka yang ada Syakirah akan kena masalah nanti. Lalu pertanyaanmu yang kedua itu, aku mau Syakirah tetap ada disini."


"Kenapa?"


"Apa? Kau tanya kenapa? Tentu saja karena aku masih mencintainya. Kau bodoh sekali!"


Pesanan Wahyu sampai, dia memakan makanannya dengan sangat santai tanpa memperdulikan Ahmad sekalipun. Dia tahu akan jawaban Ahmad, tapi dia masih tidak yakin. Wahyu menatap Ahmad tajam.


"Ahmad." ujar Wahyu.


"Apa?"


"Kalau aku tetap membawa Syakirah pergi, apa yang akan kau lakukan?"


"Aku akan mencarinya."


"Kenapa?"


"Kalau begitu, kenapa kau dulu menyia-nyiakannga?"


"Aku terlalu agresif dan egois waktu itu. Aku ingin Syakirah ada di samping ku terus menerus, tapi perbedaan sekolah kami lah yang membuat kami berbeda."


"Ahmad, aku tidak tahu kenapa kau berfikiran seperti itu. Syakirah pernah bilang kepadaku, Dia pernah berjanji tidak akan menyelingkuhimu, tapi kenapa malah kau yang menyelingkuhinya?"


"Soal itu… aku tidak menjawabnya. Maaf."


"Sudah aku duga, kau tidak akan memberitahu soal perselingkuhanmu itu!"


Ahmad diam tidak menjawab, dia memiliki alasan tersendiri untuk hal itu. Dia tidak akan memberitahu siapa-siapa soal itu, kalau sampai informasi itu bocor bisa gawat dia.


Ahmad, kau benar-benar laki-laki bodoh yang pernah aku temui. Bagaimana bisa kau menyia-nyiakan Syakirah? Wanita cantik yang menjadi idola kaum lelaki. Apa kau tidak bersyukur memiliki Syakirah? ujar Wahyu dalam hati.


"Ahmad, maaf jika aku terlalu ikut campur urusanmu. Tapi, aku tidak akan segan-segan untuk membawa Syakirah dari sini! Kau tahu betapa sakit hatinya Syakirah saat kau berselingkuh dengan Abel dulu? Dia benar-benar kecewa padamu!"

__ADS_1


Betul sekali, Abel adalah selingkuhan Ahmad dulu. Abel rela menjadi selingkuhan Ahmad dulu, karena dia juga menyimpan perasaan kepada Ahmad. Oleh sebab itu, kenapa Syakirah sering sekali mengatakan kalau Abel juga termasuk bagian dari masa lalunya.


Awalnya Kiya tidak tahu jika Abel adalah selingkuhan Ahmad, dia tahu saat Ahmad sedang berjalan-jalan dengan Abel di taman dulu. Kiya begitu sangat marah pada Abel waktu itu, dia bahkan tidak berteman dengan Abel cukup lama. Sampai Abel memutuskan mengakhiri hubungannya dengan Ahmad pun, Kiya masih marah padanya. Pantas saja Syakirah dulu tidak mau menceritakan tentang perselingkuhan Ahmad, ternyata selingkuhannya adalah temannya sendiri. Kiya memaafkan Abel, saat Abel sedang menangis tersedu-sedu padanya dan berlutut di depannya. Dia memohon kepada Kiya agar Kiya memaafkannya, tapi Kiya tetap pada egonya. Adik sepupunya merasakan sakit hati yang begitu dalam, sementara Abel merasakan kebahagian tiada tara saat dia menjadi selingkuhan Ahmad. Sekitar dua tahun Kiya tidak menyapa Abel meskipun Abel sering menyapanya.


"Ahmad, aku sudah mendengar cerita tentangmu dari Syakirah dan juga Kiya, bahkan aku juga sempat menanyakannya kepada Abel dulu. Mau tidak mau, kau tetap bersalah!" ujar Wahyu.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan, Wahyu?" ujar Ahmad frustasi.


"Minta maaflah dengan benar kepada Syakirah!"


"Apa? Wahyu kau tahu? Kiya bahkan melarangku untuk melihat Syakirah saja, itu melihat, bagaimana kalau bicara!"


"Pilihanmu ada dua. Minta maaf atau tidak. Jika kau meminta maaf dan meminta Kiya untuk mengizinkanmu untuk bertemu dengan Syakirah, maka aku tidak akan membawa Syakirah pergi. Tapi, jika kau tidak mau minta maaf, maka terpaksa aku akan membawa Syakirah pergi!"


"Kenapa kau jadi seperti Kiya yang selalu mengancamku!"


"Jangan samakan aku dengan Kiya! Aku dan Kiya memiliki peranan berbeda. Jika aku membawa Syakirah pergi, maka suatu hari aku akan membawanya kembali. Tapi, jika Kiya yang membawa Syakirah pergi, mungkin dia tidak akan kembali, bahkan bisa dibilang mereka menghilang bagai ditelan bumi."


"Wahyu, percayalah padaku! Aku mohon biarkan aku merancang strategi dengan caraku sendiri! Aku berjanji akan minta maaf dengan Syakirah!"


"Aku tidak bisa percaya kata-katamu lagi, Ahmad. Kata-katamu hanya pemanis buatan saja."


"Apa?"


"Berhati-hatilah kepada Kiya, Ahmad. Dia sudah menyusun strategi untuk membawa Syakirah pergi dari sini. Jangan berhati-hati padaku, tapi berhati-hatilah kepada Kiya! Dia lebih agresif dari pada aku!"


Setelah mengatakan itu, Wahyu pergi meninggalkan Ahmad yang mematung di tempatnya. Wahyu juga sudah meletakkan tiga lembar uang seratus ribu untuk membayar pesanannya dan pesanan Ahmad tadi.


Ahmad benar-benar pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa dia menyelesaikan masalahnya. Masalahnya banyak sekali, belum membereskan soal Hanifa, belum juga membereskan soal Syakirah, Kiya dan Wahyu. Rasanya kepalanya ingin pecah sekarang ini.


Bagaimana bisa aku menyelesaikan masalah dalam satu waktu yang bersamaan? Aku bahkan tidak tahu harus memulai dari mana. Ahmad, kau benar-benar bodoh sekali! Kau mencari masalah dengan orang yang salah! ujar Ahmad dalam hati dengan frustasi.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2