
"Kalian tidak bisa memaksa Syakirah untuk memilih salah satu dari kalian. Syakirah berhak memilih orang yang pantas untuk menjadi pendamping hidupnya. Jangan memaksanya atau Syakirah akan membenci kalian." Wahyu.
"Apa sesulit itu untuk mencintai salah satu dari kita?" Rey.
"Aku sudah bilang kan, jangan memaksa Syakirah. Dia berhak memilih pasangan hidupnya, kita hanya bisa menerima saja." Wahyu.
"Tapi apa sesulit itu untuk menghargai perasaan kita?" Navile.
"Bukankah Syakirah sudah menghargai perasaan kalian. Syakirah mau berteman dengan kalian, menghargai kalian sebagai temannya. Jangan membuat masalah kalau kalian tidak ingin Syakirah membenci kalian. Kalian harusnya mendukung keputusan Syakirah bukan malah memojokkannya seperti ini." Wahyu mulai emosi.
"Lalu, kalian ingin Syakirah berkencan dengan kalian satu persatu begitu? Kalian pikir Syakirah itu wanita malam apa?! Aku tidak mengerti dengan pola pikir kalian. Kalian dulu mendukung Syakirah dan sekarang kalian memojokkannya. Jika kalian tidak suka dengan Syakirah yang sekarang lebih baik kalian menjauhinya. Percuma kalian dekat dengannya jika kalian menginginkan sesuatu." lanjut Wahyu lagi dan langsung meninggalkan 2 orang itu dengan perasaan emosi.
Rey dan Navile hanya memperhatikan kepergian Wahyu. Mereka juga sedang emosi.
"Memangnya ada yang salah dengan ucapan kita? Bukankah apa yang kita bicarakan ini benar?" Navile.
"Wahyu terlalu mementingkan perasaan Syakirah. Aku tahu Syakirah perempuan tapi dia tidak pernah menghargai perasaan kita. Bukankah itu keterlaluan?" Rey.
"Dia masih mau menjalani hubungan denganmu dulu, tapi dengan aku tidak, padahal dia juga tahu kalau aku suka dia." Navile.
"Sudahlah, percuma berdebat seperti ini. Apa yang di ucapkan Wahyu ada benarnya, lebih baik kita menjauhinya dari pada kita terus mendekatinya karena suatu alasan." Rey.
Navile mengangguk, akhirnya mereka berdua berjalan menuju ke ruangan mereka.
***
Bel pulang pabrik sudah berbunyi, semua karyawan siff pagi sudah di gantikan oleh karyawan siff malam. Syakirah dan Wahyu juga sudah ada di parkiran.
"Kemana Rey dan Navile?" tanya Syakirah saat tidak melihat mereka berdua.
"Sudah pulang." jawab Wahyu.
__ADS_1
"Tumben?"
Wahyu hanya mengangkat bahunya, dia tidak akan memberitahu Syakirah soal kejadian tadi siang, meskipun Syakirah harus tahu soal itu. Wahyu akan memberitahu Syakirah jika Rey dan Navile benar-benar menjauhi Syakirah. Akhirnya mereka berdua pulang.
***
Wahyu baru saja sampai rumah dan dia bisa melihat Rey dan Navile sedang ada di rumah Ryan. Wahyu tidak mau berperasangka buruk tentang mereka, akhirnya Wahyu lebih memilih masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan mereka.
Baru saja Wahyu mau masuk kamar, tiba-tiba suara Rey memanggil namanya terdengar dari depan rumahnya. Wahyu terpaksa menemui mereka.
"Apa?" tanya Wahyu tanpa basa-basi.
"Kau yakin tidak mau ikut kami?" Ryan. Wahyu mengerutkan keningnya bingung.
"Ikut kemana?" Wahyu.
"Wahyu, seharusnya kau itu lebih memilih kami dari pada Syakirah. Kami itu sepupu mu sementara Syakirah hanya temanmu." Rey.
"Tentu saja, kami sudah menanti selama beberapa tahun ini tapi Syakirah tidak pernah menghargai perasaan kami." Navile.
"Syakirah itu menghargai kalian, hanya saja kalian yang tidak mengerti!" Wahyu.
"Menghargai bagaimana? Syakirah tidak memikirkan perasaan kita. Kita yang selalu menghibur dia di saat dia sedih, tapi dia lebih memilih Ahmad." Ryan.
"Oke, kalau kalian benar-benar ingin menjauhi Syakirah, jauhi saja tapi aku tidak! Kalian terlalu mementingkan ego kalian sendiri tanpa memikirkan ego orang lain!" Wahyu.
"Jangan naif kau, Wahyu! Sebenarnya kau juga suka kan kepada Syakirah! Tidak mungkin kau tidak suka dengan Syakirah!" Ryan.
"Aku menganggap Syakirah seperti saudaraku sendiri, tidak lebih!" Wahyu.
"Itu tidak mungkin, mana mungkin kau tidak menyukai Syakirah. Secara kau lah yang paling dekat dengannya." Rey.
__ADS_1
"Terserah kalian mau berfikiran apa, aku tidak peduli itu. Tapi yang jelas aku tidak memiliki perasaan apa-apa kepada Syakirah. Aku menganggap Syakirah itu saudara, jika kalian berfikir lebih itu salah pikiran kalian sendiri. Kalian mengorbankan pertemanan kalian hanya gara-gara urusan cinta, kalian sangat bodoh sekali! Aku harap kalian tidak menyesal." Wahyu.
"Kami tidak akan menyesal sama sekali!" Rey.
"Terserah. Hanya gara-gara cinta pertemanan kita berakhir. Cih! Sungguh sangat kekanak-kanak'an!" Wahyu.
"Jika tidak ada yang ingin kalian bicarakan lagi, lebih baik kalian pulang! Aku juga mau istirahat!" lanjut Wahyu lagi.
"Kau mengusir kami?" Rey.
"Tentu saja. Kalian datang ke rumahku hanya untuk membahas hal ini. Rey, Ryan, kalian itu sepupuku meskipun begitu jika perbutan kalian salah, aku akan tetap menganggap itu salah. Dan kau Navile, kau paling dewasa di antara kami tapi pola pikirmu seperti anak-anak. Tidak kah kau berfikir sedikit saja tentang pertemanan kita? Hanya karena urusan cinta pertemanan kita harus berakhir. Kalau aku, Rey dan Ryan itu tidak masalah karena kami masih ada hubungan darah. Tapi jika itu kau tentu saja akan beda ceritanya. Aku tidak masalah dengan berakhirnya pertemanan kita, tapi tidak dengan Syakirah. Syakirah pasti akan terpukul sekali mendengar hubungan pertemanan kita. Tidak kah kalian berpikir tentang perasaannya? Jangan pikirkan perasaan cinta kalian tapi pikirkan perasaan pertemanan kalian." jelas Wahyu panjang lebar.
Wahyu benar-benar tidak habis pikir dengan pola pikir mereka bertiga, hanya karena urusan cinta pertemanan mereka harus berakhir. Apa sepenting itukah cinta di banding pertemanan? Sungguh sangat membingungkan, pikir Wahyu.
Mereka bertiga diam, antara ego dan perasaan sedang berperang menjadi satu. Apa yang di ucapkan Wahyu ada benarnya, pikir mereka bertiga.
"Jika tidak ada yang kalian bicarakan lebih baik pulang!" Wahyu.
Braaakk.
Wahyu menutup pintu dengan sangat keras, bahkan mereka bertiga sampai terkejut.
"Memangnya kita salah? Syakirah kan memang tidak pernah menghargai kita." Ryan.
"Sudahlah, jangan membahas ini terus. Lebih baik kita pulang." Navile.
Akhirnya mereka bertiga pulang, bukan pulang lebih tepatnya sedang jalan-jalan ke suatu tempat yang sangat mereka suka kunjungi.
Sementara Wahyu sedang berfikir keras, dia bingung harus menjelaskannya seperti apa kepada Syakirah nanti. Wahyu membanting tubuhnya di kasur dan mulai berfikir. Seharusnya dia sekarang berada di kamar mandi tapi gara-gara mereka bertiga Wahyu tidak jadi ke kamar mandi dan lebih memilih ke kamar.
"Aku harus bagaimana? Aku yakin Syakirah sangat terpukul sekali dengan keadaan pertemanannya yang seperti ini. Ck! Aku sendiri juga bingung, hanya karena cinta saja sampai bawa-bawa pertemanan. Lalu, aku harus bagaimana? Apa sebaiknya aku memberitahu Kiya ya? Jika aku memberitahu Kiya, Kiya pasti bisa mengerti. Tapi pasti ujung-ujungnya dia akan emosi juga. Arrrggghhh! Ck!"
__ADS_1
Bersambung......