
Syakirah menceritakan kejadian dirinya saat di bawa Evan pergi begitu saja tanpa ada yang tertinggal satu pun, agar Aliya merasa tenang dengan ceritanya meskipun Syakirah tidak menceritakan tentang Evan menanyakan namanya di hati Syakirah. Aliya pun dengan antusias mendengarkan cerita Syakirah, karena Aliya juga sangat takut terjadi apa-apa kepada Syakirah.
Saat Aliya menceritakan tentang kejadian Clara menangis gara-gara Roy, Syakirah sangat geram sekali. Dia pernah memperingati Roy agar tidak menghina Clara tapi Roy malah mengulanginya lagi.
"Aku tidak tahu ra harus melakukan apa. Aku juga takut saat berhadapan dengan mereka semua. Aku tidak bisa membela, kau tahu sendiri bagaimana aku kan. Aku hanya bisa diam saat Clara di hina oleh Roy." ujar Aliya di akhir ceritanya. Ada rasa bersalah di hati Aliya saat melihat Clara menangis seperti itu, sementara Aliya tidak bisa berbuat apa-apa. Aliya tidak seperti Clara, satu kelebihan Aliya, dia adalah gadis yang sangat cerewet jika sudah menyangkut nama temannya.
"Ya sudah, kita coba selesaikan ini besok saja. Ini sudah malam, kita harus tidur."
Mereka berdua pun akhirnya pergi ke kamar mereka masing-masing.
***
Sementara Clara, dia mengendarai motornya di belakang Roy dan Thomas. Enggan rasanya untuk membalap mereka. Saat ada pertigaan, Clara membelokkan motornya, entah kemana dia. Roy yang melihat Clara membelokkan motornya dari kaca spionnya langsung berhenti, Thomas pun juga ikut berhenti saat Roy berhenti.
"Ngapain lo berhenti?" tanya Thomas sambil melepas helmnya. Roy melihat ke arah belakang, tidak ada tanda-tanda Clara membutinnya lagi. Ada rasa khawatir di hati Roy saat tidak melihat motor Clara lagi.
"Mas, lo duluan aja. Kayaknya hp gue ketinggalan di rumah Aliya." ujar Roy.
__ADS_1
"Mau gue temenin?"
"Gak usah, lo pulang aja. Awasi Evan dari belakang."
Thomas mengangguk dan memakai helmnya lagi. Thomas pun akhirnya pergi meninggalkan Roy. Roy kembali arah untuk melihat Clara, Roy membelokkan motornya di jalan yang di lewati Clara tadi. Saat Roy ada di perempatan jalan, Roy berhenti.
Ini gue harus kemana ya? Belok kanan? Belok kiri? Atau terus ya? Gue juga gak pernah lewat sini juga! gerutu Roy dalam hati.
Akhirnya Roy membelokkan motornya ke arah kanan, entah mengapa feelingnya berkata seperti itu. Sampai Roy tiba-tiba saja berhenti saat melihat Clara turun dari motornya, Roy pun juga ikut turun dan membuntuti Clara dari belakang.
Saat Roy mengikuti Clara, ternyata Clara pergi ke arah danau. Pikiran Roy kacau saat Clara pergi ke danau itu, takut jika tiba-tiba Clara bunuh diri begitu saja tapi Roy tetap tenang di situasinya sekarang ini.
"Kenapa gue harus cinta sama lo, Roy?! Kenapa?! Harusnya waktu itu gue cukup mengagumi lo aja! Supaya gue gak terlalu sakit hati saat lo menghina gue kayak tadi!" Clara berteriak lagi, bahkan air danau itu sampai bergetar. Roy yang merasa namanya di sebut pun semakin terkejut lagi.
"Apa secinta itukah lo sama gue, Clara?" gumam Roy pelan. Saat ini dia sedang bersembunyi di balik pohon yang rindang, meskipun ada lampu tapi tetap saja terlihat gelap.
Clara menatap wajahnya di air danau itu. Clara menarik nafasnya dalam lagi, dia berdiri hendak untuk pulang. Saat dia berbalik betapa terkejutnya dia saat mendapati Roy yang melihatnya dan juga sudah ada di jembatan kayu yang sama dengan Clara.
__ADS_1
Tunggu! Apa dia lihat gue tadi? Apa dia ngikuti gue sampai sini? Apa dia dengar kata-kata gue dari awal sampai akhir? batin Clara panik.
Clara tidak mau sampai di sebut gamon dari Roy, karena dia tidak ingin di pandang rendah. Clara diam di tempatnya, sementara Roy menghampirinya. Saat Roy sudah semakin mendekatkan, Clara memundurkan dirinya, lupa kalau di belakangnya ada danau yang lumayan dalam. Saat Clara mundur selangkah lagi, kakinya tidak menginjak jembatan kayu itu, alhasil dia menjebur ke danau. Roy yang mau menangkap tangan Clara sudah terlambat, akhirnya Roy pun juga ikut menjeburkan dirinya untuk menyelamatkan Clara.
Roy menggendong tubuh Clara dengan bridal style, menurunkan Clara di jembatan kayu itu. Clara memegangi kaki kanannya, sakit. Kaki kanan Clara mengidap tulang bengkok, meskipun jalannya terlihat lancar dan baik-baik saja tapi kaki Clara akan sakit jika berenang akibat tekanan air. Dulu sewaktu dia kecil, kaki kanannya di pukul dengan bongkahan kayu besar oleh kedua orang tuanya, dan hasilnya dia mengidap kaki bengkok. Dokter sudah menyarankannya untuk operasi tapi Clara tidak punya biaya, bahkan dulu saja dia menumpang hidup di rumah pamannya. Pamannya memang sanggup untuk membiayai operasinya tapi itu akan merepotkan pamannya, jadi Clara lebih memilih untuk tidak operasi. Sewaktu ada ujian praktek berenang di sekolahnya saja, dia langsung praktek tanpa harus pemanasan dulu. Jika dia pemanasan yang ada dia tidak akan bisa ikut ujian praktek tersebut.
Clara meringis kesakitan sambil memegang kaki kanannya, sakit tiada tara yang Clara rasakan. Bahkan bisa di bilang seperti di patahkan.
"Ngapain lo ngikutin gue, brengsek?!" tanya Clara sambil mendorong tubuh Roy. Roy diam tidak menjawab pertanyaan bagi Clara dan masih memeluk tubuh Clara.
Clara meringis kesakitan, kesakitan kakinya biasanya tidak separah ini dan entah kenapa sakitnya lebih parah dari ini. Karena sudah tidak sanggup menahan rasa sakitnya, akhirnya Clara pingsan di dalam pelukan Roy.
"Hei Clara! Lo pingsan?! Jangan main-main lo!" ujar Roy khawatir. Roy beberapa kali menepuk pipi Clara, tapi Clara tak kunjung membuka matanya. Roy menghubungi seseorang dan menyuruh seseorang itu untuk menjemputnya di sebuah danau, dengan membawa 2 orang.
Sekitar setengah jam, akhirnya orang suruhan Roy datang. Roy menggendong tubuh Clara dan memasukkannya ke dalam mobil belakang. Roy menyuruh 2 orang untuk membawa motornya dan motor Clara, sementara satunya sebagai supir. Roy masuk ke dalam mobil, menjadikan pahanya sebagai bantal untuk kepala Clara.
"Clara! Bangun! Lo kenapa sampai pingsan sih?! Dingin juga kagak dingin-dingin amat sih! Ya meskipun tubuh gue juga kedinginan sih." ujar Roy tambah khawatir.
__ADS_1
Bersambung......