Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Kiya vs Hanifa


__ADS_3

Syakirah dan Kiya pulang dari pasar dan menyusuri jalan raya yang cukup padat.


Setelah sekitar lima belas menit berlalu, akhirnya mereka sampai di rumah Syakirah. Mereka turun dari motor sambil membawa kantong yang berisi sayuran dan daging tadi. Syakirah memasukkan barang belanja'annya ke dalam lemari es. Setelah memasukkan barang belanja'annya tadi, Syakirah pamit kepada ibunya untuk pergi ke supermarket. Setelah mendapatkan izin dari ibunya, Syakirah dan Kiya bergegas untuk pergi ke supermarket.


Syakirah dan Kiya memakai mobil untuk ke supermarket karena mereka akan berbelanja banyak dari sebelumnya. Mereka mengobrol sambil mendengarkan lagu.


Ketika cinta bertasbih nadiku berdenyut merdu.


Kembang-kempis dadaku merangkai butir cinta.


Garis tangan tangan tergambar tak bisa aku menentang.


Sujud syukur padamu atas segala cinta.


"Apa kau tahu lagu ini Syakirah?" tanya Kiya kepada Syakirah saat mendengarkan lagu tadi.


"Tentu saja. Lagu itu dinyanyikan oleh Melly Goeslaw dan juga Ame. Lagu ini cukup terkenal, banyak yang menyukai lagu ini." jawab Syakirah.


"Ya, kau benar sekali." Kiya.


Setelah mengobrol tentang lagu tadi, tak lama mereka sampai ke supermarket. Mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam supermarket tersebut. Mereka mengambil troli dan mulai mencari apa yang ingin mereka beli.


"Baiklah, Ayo kita cari buah dulu!" ajak Kiya kepada Syakirah.


Mereka mencari buah terlebih dahulu. Saat mereka sampai di tempat buah, mereka mengambil beberapa buah, seperti jeruk, apel, anggur, dan tidak lupa mereka membeli buah kesukaan Abel, yaitu buah naga. Abel sangat suka sekali dengan buah naga, entah karena apa dia menyukainya, padahal Syakirah dan Kiya tidak terlalu suka dengan buah naga, memang selera orang berbeda-beda, jadi kita tidak perlu menghina orang tersebut.


"Kita sudah membeli beberapa buah, lalu kita beli apa lagi?" tanya Kiya kepada Syakirah.


"Kita juga harus membeli camilan untuk disana juga, aku juga menyarankan untuk membeli ikan sarden juga dan juga beberapa kaldu makanan." jawab Syakirah.


"Ya sudah, Ayo kita cari!" Kiya.


Mereka mencari beberapa camilan dan juga minuman agar bisa di minum saat di mobil nanti. Saat kiya mencari beberapa camilan, trolinya tiba-tiba ditabrak oleh seseorang. Kiya pun menoleh ke seseorang tersebut dan mendengus kesal.


"Hai kiya, sedang apa kau ada disini?" tanya seseorang tersebut.


Kiya mengabaikan orang tersebut dan mencari camilan lagi, sementara Syakirah sedang mencari ikan sarden dan juga kaldu. Mereka berpencar untuk mencari apa yang mereka beli agar cepat selesai.


"Kau mengabaikan ku?" tanya seseorang tadi.


"Aku tidak mengabaikan mu, aku hanya malas berbicara." jawab Kiya santai.


"Oh begitu ya. Aku tanya sekali lagi. Sedang apa kau ada disini?"


"Apa kau tidak melihat Hanifa? sekarang aku berada di supermarket, tentu saja aku sedang berbelanja!" jawab Kiya ketus.


Orang tersebut adalah Hanifa. Hanifa tidak sendirian, dia ditemani oleh kedua temannya, yaitu Marwa dan Najwa. Kiya benci sekali pada mereka, karena mereka tidak pernah mendengarkan nasehat yang diberikan orang lain untuk mereka. Saat di pesantren, mereka dijuluki trio ular, karena sifat mereka yang licik dan juga sombong. Mereka bahkan tidak menjaga jarak ke sesama muhrimnya dan sering menggoda lelaki yang bukan mahramnya. Jadi, wajar saja jika mereka disebut trio ular.


"Wow, ketus sekali jawabanmu!" jawab Hanifa. Kiya hanya mengabaikannya saja.


"Apa kau sendirian kesini? Dimana adik tersayangmu itu?" Hanifa.


"Kenapa kau mencari Syakirah?" Kiya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, biasanya jika ada kau pasti ada Syakirah. Bagiku dia seperti parasit yang selalu menempel denganmu. Hahahahahaa." Hanifa. Kedua temannya tertawa saat Hanifa mengatakan bahwa Syakirah adalah parasit. Kiya hanya menghela nafas lelah dan pergi meninggalkan mereka. Hanifa tentu saja tidak membiarkan hal itu terjadi, dia memegang pergelangan tangan Kiya, Kiya pun menatap tajam ke arah Hanifa.


"Apa yang kau inginkan Hanifa?" tanya Kiya menantang.


"Ayolah! kita sudah lama tidak bertemu. Bagaimana kalau kita mengobrol sebentar?" Hanifa.


"Aku tidak ada waktu untuk mengobrol denganmu!" Kiya.


"Hei Kiya, jangan sok jual mahal seperti itu. Ikutlah dengan kami!" Marwa.


"Dia benar Kiya, Ayo kita mengobrol!" Hanifa


Kiya memalingkan wajah malas. Kiya tidak mendengarkan ocehan mereka dan bergegas untuk mencari Syakirah. Kiya benar-benar bingung mencari Syakirah dimana, padahal Syakirah bilang kalau dia akan mencari ikan sarden. Kiya berjalan dengan cepat karena dari tadi dia di ikuti oleh trio ular tadi.


Ya Allah, dimana Syakirah? ujar Kiya dalam hati khawatir.


Hanifa tidak tinggal diam. Dia mengejar Kiya yang berjalan dengan cepat. Hanifa menarik kerudung panjang Kiya sampai sobek. Kiya benar-benar terkejut saat melihat kerudungnya yang sobek. Dia bukannya marah karena kerudungnya sobek, tapi marah saat rambutnya terlihat begitu jelas.


"Hei hanifa, apa yang kau lakukan?" tanya Kiya dengan amarah.


"Oh maaf, aku tidak sengaja." jawab Hanifa santai.


Kiya benar-benar kehabisan kesabaran, tapi dia menahan amarahnya agar tidak meluap disini. Kiya menyampingkan kerudungnya yang sobek tadi dan meninggalkan trio ular tadi untuk bergegas mencari Syakirah lagi. Tapi lagi-lagi tangannya ditahan oleh Hanifa. Kiya yang sudah kehabisan kesabaran pun refleks mengibaskan tangan Hanifa dan juga menampar pipinya. Hanifa yang mendapat tamparan dari Kiya tentu saja tidak terima. Dia mau membalas tamparan Kiya, tapi tiba-tiba tangannya ditahan oleh seseorang.


Hanifa melihat seseorang tadi, dia tersenyum senang. Bagaimana tidak tersenyum senang, seseorang tadi adalah Ahmad. Hanifa bergelanyut manja di lengan Ahmad, Kiya hanya mendengus melihat kelakuan Hanifa.


"Sayang, kau lihat tadi? Kiya baru saja menamparku!" adu Hanifa kepada Ahmad. Ahmad menatap Kiya tajam sementara Kiya menatap Ahmad datar.


"Ini semua juga salahmu, Hanifa! Aku melihatnya dari awal sampai Kiya menamparmu, harusnya kau tidak perlu memaksa Kiya untuk ikut denganmu dan juga jangan seenaknya menarik kerudungnya sembarangan!" Ahmad.


Ahmad risih dengan gelanyutan manja Hanifa. Ahmad mendorong pelan bahu Hanifa.


"Jangan seperti ini, aku risih!" Ahmad.


"Ahmad!" Hanifa.


"Hanifa, minta maaf lah kepada Kiya, kau sudah merobek kerudungnya!" Ahmad.


"Itu salahnya sendiri karena tidak mendengarkan perkataanku." Hanifa.


Ahmad hanya memalingkan wajah malas melihat kelakuan Hanifa. Berbicara kepada Hanifa tidak ada gunanya karena dia bukan lawan bicara yang tepat.


"Kiya, maafkan Hanifa. Aku tahu dia kelewatan, tapi tolong maafkan dia!" Ahmad.


Kiya hanya menatap Ahmad datar, dia tidak memberikan reaksi apapun. Kiya menghela nafas lelah.


"Jaga kekasihmu ini baik-baik. Dia suka sekali membuat keributan. Aku harap kau bisa menjaganya!" Kiya.


"Iya, terima kasih. Kalau kau mau aku bisa mengganti keru... " Ahmad tidak melanjutkan ucapannya karena ucapannya di potong oleh Kiya terlebih dahulu.


"Kau tidak perlu mengganti kerudungku!" Kiya.


"Tapi, kerudungmu robek." Ahmad.

__ADS_1


"Tidak apa-apa." Kiya.


Setelah Kiya mengatakan itu, dia meninggalkan trio ular tadi dan juga Ahmad.


Ahmad aku tidak tahu apa yang sebenarnya


yang kau sukai dari Hanifa? Tapi aku yakin kau mempunyai niat tersembunyi dengan menjalin hubungan dengan Hanifa. ujar Kiya dalam hati.


Ahmad yang melihat kepergian Kiya pun langsung menoleh ke Hanifa dan menatapnya dengan tajam.


"Hanifa, jangan membuat masalah di sembarang tempat! Apa kau tidak tahu kalau kau berada di supermarket?" ujar Ahmad dengan amarah.


"Ahmad, kenapa kamu jadi memarahiku harusnya kamu memarahi Kiya yang sudah menamparku, bukan malah aku!" ujar Hanifa tak terima.


"Berhentilah seperti ini! Kiya tidak akan menamparmu jika kau tidak membuat masalah duluan!" Ahmad.


"Jadi, kau membelanya?" Hanifa.


"Aku tidak membelanya, aku hanya memperingatkanmu saja! Apa kau tidak tahu saat Kiya sedang marah?" Ahmad.


"Hah? Kiya memang bisa marah? Menurutku dia tidak bisa marah!" Hanifa.


"Terserah kau mau bilang apa! tapi yang jelas aku sudah memperingatkanmu!" Ahmad.


Setelah mengatakan itu, Ahmad pergi meninggalkan Hanifa. Hanifa yang ditinggal Ahmad tentu saja merasa kesal.


Sementara di sisi lain, Syakirah sedang mengobrol dengan temannya waktu SMP. Dia tidak sengaja bertemu dengannya tadi. Jadi, Syakirah sedikit mengobrol dengan teman lamanya sampai lupa kalau Kiya sedang mencarinya.


"Syakirah!" Syakirah menoleh ke sumber suara yang memanggil namanya. Dia melihat Kiya yang sedikit agak badmood atau moodnya sedang memburuk.


"Kak? Ya Allah kak, aku lupa kalau ada kakak!" Syakirah.


"Kemana saja kau itu? aku pusing mencarimu!" Kiya.


"Iya kak, maaf. Aku tadi tidak sengaja bertemu dengan teman lamaku waktu SMP dulu, jadi aku sedikit mengobrol dengannya. Maaf ya!" Syakirah.


Kiya menghela nafas lelah, untung saja adiknya ini tidak ditemui Hanifa. Kiya melihat teman lama Syakirah. Syakirah pun refleks mengenalkan Kiya dengan teman lamanya.


"Oh iya kak. Perkenalkan ini teman lamaku namanya Aliya. Dia adalah teman curhat ku dulu. Dan Aliya perkenalkan ini kakak sepupuku, Kiya. Aku pernah menceritakannya padamu, kau tidak lupa kan?" Syakirah.


"Tentu saja tidak." Aliya.


"Aliya." ujar Aliya memperkenalkan diri kepada kiya dan mengulurkan tangannya.


"Kiya, salam kenal." balas Kiya.


"Iya, salam kenal juga." Aliya.


Setelah perkenalkannya dengan Kiya, Aliya pamit untuk pergi karena dia sedang ditunggu oleh seseorang. Setelah berpamitan kepada Syakirah dan Kiya, Aliya meninggalkan mereka.


Syakirah melirik Kiya, dia melihat Kiya yang sedang dalam mood memburuk. Padahal tadi dia lihat mood Kiya membaik, kenapa sekarang jadi memburuk.


Syakirah memasukkan ikan sarden dan juga minumannya ke dalam troli dan mengajak Kiya untuk ke kasir. Kiya pun mengikuti Syakirah dalam diam.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2