Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Hati Clara ( Part 2 )


__ADS_3

"Gue emang gadis miskin. Gue emang anak yang gak di anggap oleh orang tua gue. Gue selalu menopang hidup pada orang lain. Apa lo pikir gue mau jadi kayak gini? Nggak sama sekali! Gue juga ingin hidup penuh kasih sayang dari orang tua meskipun orang tua gue miskin. Gue juga ingin hidup mandiri. Gue gak pernah ingin jadi kayak gini tapi mungkin ini adalah takdir gue. Lo hidup serba berlebihan, sementara gue hidup serba kekurangan. Buat makan aja susah. Gue bisa lulus sekolah pun itu gue bersyukur. Lo gak pernah ada di posisi gue. Dimana harus ekstra sabar dan harus bisa menjadi dewasa di usia yang masih dini. Gue tau, gue gak sepadan sama lo tapi apa lo gak bisa menghina gue kalau gue adalah anak yang gak di anggap. Coba kalau gue ngomong gitu ke lo, apa lo gak sakit hati? Pasti hati lo sakit. Lo emang gak pernah ada di posisi gue, makanya lo gak pernah ngerasain gimana rasanya jadi gue." ujar Clara dengan perasannya air mata. Roy hanya mendengar dan mengamati saja, ada rasa bersalah di hati kecilnya. Clara menarik nafasnya dalam sebelum dia melanjutkan kata-katanya.


"Andai lo ngerasain jadi gue, lo pasti bisa merasakan kejamnya dunia. Ketika seseorang di paksa dewasa itu menyakitkan. Harusnya dulu kita hanya mengagumi bukan merasakan. Gue emang gak sepadan dengan lo. Gue lebih rendah dari lo. Tapi gue tetap bersyukur karena Tuhan masih memberi gue kesempatan hidup dan bertemu dengan lo. Apa lo pernah datang ke panti asuhan? Nggak kan? Lo gak pernah datang kesana sama sekali, hanya orang tua lo yang datang ke panti asuhan. Saat lo datang ke panti asuhan, lo pasti bisa melihat anak yang kurang kasih sayang dari orang tuanya tapi mereka tetap beruntung karena masih ada orang tua panti yang menyanyi mereka. Sementara gue, gue sejak kecil selalu di siksa, di hina tapi gue udah terbiasa dengan semua itu. Lo berhak menghina gue tapi jangan di depan gue, melainkan di belakang gue. Karena hati gue sakit rasanya saat mendengar cibiran. Sekuat-kuatnya hati gue, gue akan nangis di saat hati gue sudah lelah." lanjut Clara dengan air mata yang masih mengalir dengan sangat deras. Hati Clara berdenyut nyeri menahan rasa sakit.


Roy, Thomas dan Aliya diam, mereka tahu bagaimana perasaan Clara sekarang. Roy yang menghina Clara merasa sangat bersalah sekali. Roy mengutuki kebodohannya sendiri, dia jadi ingat kata-kata yang di lontarkan mamanya dulu.


"Jangan sesekali kamu membuat wanita menangis, meskipun wanita itu bukan mama. Karena dia adalah perempuan, perjuangan perempuan itu sangat besar di banding dengan laki-laki. Jika kamu membuat wanita menangis, itu artinya kamu sedang melukai hati mama. Mama sama-sama perempuan jadi mama bisa merasakan bagaimana perasaan perempuan yang sedang menangis. Jika kamu membuatnya menangis itu artinya kamu harus pergi dan melepaskan dia dari tanganmu. Dia juga berhak bahagia."


Kata-kata mamanya terngiang-ngiang di kepala Roy. Sungguh Roy sangat bodoh sekali. Seharusnya dia tidak perlu menghina Clara tadi.


Dan tiba-tiba saja ada suara mobil yang berhenti di rumah Aliya. Clara membersihkan air matanya saat mendengar suara mobil yang berhenti di rumah Aliya. Mereka semua menoleh dan melihat mobil Evan, Syakirah dan Evan turun dari mobil. Tubuh Syakirah sudah di selimuti oleh jas milik Evan yang hampir selutut kakinya. Syakirah dan Evan menghampiri mereka semua. Syakirah mengerutkan keningnya saat melihat mata Clara yang berkaca-kaca.


Apa Clara habis menangis? Tapi karena apa? Apalagi di depan anak buah Evan. batin Syakirah.

__ADS_1


Selama ini Clara selalu menyembunyikan tangisannya dari semua orang, kecuali Syakirah. Dia bersikap seolah-olah adalah gadis setegar karang, padahal jauh di lubuk hatinya dia adalah gadis yang rapuh.


"Syakirah kau dari mana saja? Aku sampai panik saat melihatmu di tarik dengan Evan! Apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka? Aku bahkan sampai memanggil Clara datang kesini saking paniknya!" ujar Aliya sambil melihat-lihat tubuh Syakirah.


"Tidak ada apa-apa, aku tidak terluka sama sekali. Aku baik-baik saja." jawab Syakirah.


"Syukurlah kalau begitu." Aliya akhirnya bisa bernafas lega mendengar jawaban dari Syakirah. Aliya beralih menatap Evan dengan tatapan kemarahan. Aliya menghampiri Evan dan mendorong tubuh Evan, Evan tidak bergeming. Dorongan Aliya tidak membuatnya berubah posisi, hanya bahunya saja tadi yang sedikit ke belakang tapi kakinya tidak. Padahal Aliya tadi mendorongnya sangat keras.


"Hei Evan! Kalau mau ajak Syakirah itu gak usah kasar-kasar! Kau pikir tangan kecil Syakirah di cengkeram oleh tanganmu tidak sakit apa?! Gini Syakirah mau balikan denganmu, sepertinya aku tidak ikhlas! Kau sangat kasar!" ujar Aliya yang intonasinya meninggi. Evan tidak menjawab, enggan sekali dia berbicara dengan Aliya yang cerewetnya tidak ada bandingnya.


"Clara, maafkan aku ya sudah membuatmu datang kesini padahal sepertinya kau sedang sibuk. Hehe." ujar Aliya. Clara hanya mengangguk saja, enggan rasanya dia berbicara di saat suasana hatinya sedang buruk seperti. Dihina dengan orang yang pernah dia cintai itu sangat menyakitkan.


"Apa yang sedang terjadi saat aku sedang bersama Evan?" Syakirah berbisik tepat di telinga Aliya.

__ADS_1


"Nanti aku ceritain, sekarang suruh mereka bertiga pulang dulu. Suasana hati Clara juga sedang berantakan." Aliya juga berbisik di telinga Syakirah juga.


"Karena ini sudah malam, lebih baik kalian pulang. Ini sudah malam, gue juga mau tidur. Gue bukan maksud buat ngusir kalian atau apa, cuma emang kan udah malam, gak baik kalau cowok berkunjung ke rumah cewek malam-malam gini." usir Syakirah secara halus. Syakirah tidak mau salah satu dari mereka salah paham akibat ucapannya.


Mereka semua mengangguk. Evan mengambil tangan kanan Syakirah dan mengecup punggung tangan Syakirah.


Blush.


Rona merah muncul di kedua pipi Syakirah, Syakirah memalingkan wajahnya karena malu. Sementara yang melihat hanya melengos saja, terlebih-lebih Aliya, rasanya mau muntah dia melihat Evan yang sok romantis.


Kumat. batin mereka semua, tentu saja kecuali Syakirah dan Evan.


Akhirnya mereka semua pulang, bahkan Clara pun juga ikut pulang padahal Syakirah berharap Clara menginap disini dan cerita padanya apa yang sedang terjadi. Syakirah dan Aliya akhirnya masuk ke dalam rumah setelah mereka semua pulang.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2