Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Surat dari Asraf


__ADS_3

Karena hari sudah mau sore, akhirnya Kiya memutuskan untuk pulang. Tapi tidak dengan Hanifa, dia masih berada di caffe dan melihat kepergian Kiya. Tak lama kemudian ada seorang lelaki yang langsung duduk di meja Hanifa, Hanifa hanya mendengus kesal saja.


"Kau sudah tahu reaksinya kan? Jadi kau tidak perlu lagi bertanya kepadaku. Aku sudah membantumu. Aku harap kau tidak merepotkanku lagi. Kau sudah tahu seperti apa Kiya itu, jangan coba-coba untuk macam-macam lagi dengannya!" ujar Hanifa memperingati.


"Aku tahu, oleh sebab itu kenapa aku meminta bantuanmu. Aku tidak akan merepotkanmu lagi, mungkin." ujar seseorang itu yang tak lain adalah Asraf.


Asraf sudah ada di caffe tersebut sebelum Kiya datang. Dia sudah membuat rencana dengan Hanifa. Niat Hanifa memang menitipkan hadiah untuk Ahmad dan Syakirah, tapi tak di sangka dia harus menyampaikan salam dari Asraf untuk Kiya. Asraf duduk sedikit lebih dekat dengan meja Hanifa, agar dia bisa mendengar percakapan antara Hanifa dan Kiya. Asraf menutupi wajahnya dengan topi dan masker, bisa di bilang Kiya tidak akan tahu.


"Berhentilah untuk membuat masalah dengannya, dari apa yang aku dengar, Syakirah berubah seperti dulu lagi. Jangan coba untuk macam-macam atau kau akan berhadapan dengannya. Kau tahu sendiri seperti apa rumor tentang Syakirah dulu." ujar Hanifa. Hanifa memang tahu kalau Syakirah adalah ketua geng motor, tapi dia tidak tahu bagaimana Syakirah menjalankan aksinya. Dia hanya tahu kalau Syakirah adalah ketua geng motor saja.


"Iya, soal itu aku juga sudah tahu. Aku tidak akan membuat masalah lagi, kau tenang saja."


Hanifa hanya menghela nafas saja mendengar ucapan Asraf. Akhirnya mereka berdua pulang bersama karena memang mereka satu arah.


***


Hari sudah malam, pekerjaaan Kiya juga sudah selesai setelah magrib tadi. Kiya juga sudah masuk ke dalam kamarnya, sudah berganti pakaian baju tidur. Kiya memandangi tasnya yang di dalamnya ada isi sebuah amplop yang berisi surat dari Asraf. Enggan rasanya dia untuk membaca surat itu. Akhirnya Kiya membuka surat itu juga.


Untuk Kiya yang aku sayangi


......Aku tahu kamu masih marah, masih menyimpan dendam dan masih kecewa denganku. Aku harap kamu mau membaca suratku ini. Maaf jika suratku mengganggumu, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu padamu. ......

__ADS_1


...Kiya, aku minta maaf atas perbuatanku untuk kejadian beberapa tahun yang lalu. Aku khilaf waktu itu. Sekarang yang aku inginkan hanya satu, aku ingin hubungan kita lebih dekat. Aku tahu meskipun ini sulit bagimu, tapi aku sangat mencintaimu. Aku sudah lama memendam rasa ini begitu lama, aku ingin mengungkapkannya tapi aku malu untuk berhadapan denganmu lagi. Aku ingin mengenalmu lebih dalam lagi. Mungkin ini terdengar sangat konyol tapi perasaanku kepadamu tidak main-main, aku sunguh-sungguh dengan perasaanku padamu....


...Terima kasih sudah mau membaca suratku ini. Maaf sekali lagi jika suratku mengganggumu. Jika kamu berkenan, aku harap kamu mau menemuiku di taman XX 3 hari lagi. Aku tidak memaksamu kesana, jika kamu mau datang, datanglah tapi jika kamu tidak mau juga tidak apa-apa. Dan juga jika kamu berkenan, kamu bisa menghubungi nomorku ini. 0834XXXXXXX...


See you next time. Aku sayang kamu, Kiya.


^^^Asraf^^^


Kiya membaca surat dari Asraf dengan seksama, Kiya hanya menghela nafas saja. Kiya menutup suratnya dan meletakkannya kembali ke dalam amplop. Kiya meremas amplop itu sampai berbentuk bulat, lalu melemparkannya ke dalam tempat sampah yang ada di belakang pintu kamarnya. Kiya mengambil ponsel yang dia letakkan di atas nakas dan menghubungi Hanifa.


"Halo, Kiya. Tumben kau menelponku duluan? Apa ada yang penting?" ujar di seberang sana.


"Katakan kepada Asraf agar tidak berharap lebih denganku. Perbuatan masa lalunya tidak akan pernah aku maafkan begitu saja. Katakan padanya, dia ada bersamamu kan. Tidak mungkin juga dia tidak bersamamu, waktu di caffe saja dia ada bersamamu." ujar Kiya kepada seberang sana. Yang di seberang sana gelagapan mau berbicara apa.


Tut...


Panggilan telpon pun sudah terputus, Kiya menggenggam ponselnya dengan sangat erat, geram. Kiya tahu kalau Asraf berada di caffe tadi, karena dia masih hafal bagaimana bentuk tubuh Asraf. Apalagi Asraf juga memakai gelang tanda keluarganya, jadi Kiya bisa mengenalnya. Awalnya Kiya juga tidak akan percaya kalau itu Asraf tapi karena Hanifa tiba-tiba saja menyebut nama Asraf, akhirnya Kiya tahu bahwa orang yang duduk dekat mejanya adalah Asraf.


Sementara Hanifa sedang bingung, bagaimana Kiya bisa tahu kalau Asraf ada bersamanya? Itu adalah isi pikiran Hanifa saat ini.


"Bagaimana Kiya bisa tahu kalau kau ada disana?" tanya Hanifa yang bingung.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu. Aku tidak menyangka kalau Kiya orang yang sepeka itu dengan orang." ujar Asraf.


"Ya, dia memang orang yang sangat peka. Kau menunjukkan ekspresi yang tidak di mengerti orang lain saja, pasti dia akan mengerti apa arti ekspresimu." ujar Hanifa. "Kau sudah dengar apa yang baru saja dia katakan kan? Jadi aku tidak perlu mengatakannya lagi denganmu." lanjut Hanifa. Asraf menghela nafas mendengar ucapan Kiya tadi.


"Boleh aku pinjam ponselmu?" tanya Asraf.


"Untuk apa?" tanya Hanifa balik.


"Aku mau mengirimkan pesan untuk Kiya. Aku tidak mungkin mengirimkan pesan untuknya, malah yang ada nomorku akan di blokir sebelum dia membacanya." jawab Asraf. Hanifa meminjamkan ponselnya kepada Asraf. Asraf mulai memgetikkan kata-kata di benda pipih itu.


Sementara Kiya sedang berbaring di ranjangnya, meluruskan sendi-sendinya yang bekerja seharian ini. Ponsel Kiya berdering menandakan ada pesan masuk, Kiya segera membuka ponselnya, ternyata dari Hanifa.


"Kiya, ini aku Asraf. Aku meminjam ponsel Hanifa. Kiya setidaknya temui aku sekali saja, karena mungkin hari itu adalah hari terakhirku bertemu denganmu. Aku mohon. Setelah 3 hari lagi, aku akan melanjutkan studi ku di luar kota selama beberapa tahun dan aku ingin bertemu denganmu untuk yang terakhir kalinya. Aku mohon, sekali ini saja." pesan dari Hanifa yang di ketikkan oleh Asraf. Kiya mengetikkan sesuatu di ponselnya.


"Aku akan datang menemuimu." pesan terkirim, hanya kalimat itu saja yang Kiya ketikkan di ponselnya. Kiya lalu mematikan daya ponselnya dan mulai tidur karena sudah lelah.


Sementara Asraf sedang tersenyum senang karena akhirnya Kiya mau bertemu dengannya, ya meskipun sepertinya penuh dengan keterpaksaan.


"Apa yang dia bilang?" tanya Hanifa.


"Dia mau bertemu denganku." jawab Asraf dengan tersenyum senang. "Akhirnya aku bisa bertemu dengannya sebelum aku pergi untuk studi." lanjut Asraf lagi.

__ADS_1


"Beruntung kau kalau seperti itu. Anggap saja ini hadiah dari Kiya karena sudah mau menemuimu." ujar Hanifa. Asraf hanya menanggapi ucapan Hanifa dengan senyum. Akhirnya mereka berdua melanjutkan pulang mereka lagi.


Bersambung......


__ADS_2