
"Sorry, Van." Roy dan Thomas.
"Roy, waktu lo putar arah mobil gue, kita papasan kan sama Syakirah, bahkan mobil juga dekat banget sama dia." Roy mengangguk mendengar ucapan Evan. " Dia lihat ke arah belakang mobil, gue juga ada di belakang mobil kan dan secara gak sengaja mata kita bertemu. Gue lihat Syakirah terkejut lihat belakang mobil, apalagi Syakirah sempet memicingkan matanya. Apa Syakirah tahu ya kalau itu gue? Dan sewaktu kita udah lewatin dia, dia masih kayak orang terkejut gitu dan gue bisa lihat mulutnya itu nyebut nama gue. Apa Syakirah beneran tahu kalau itu gue? Secara kan kaca mobil gue gelap kalau di lihat dari luar gak kelihatan, gak mungkin kan Syakirah tahu kalau itu gue?" ujar Evan mencoba untuk memastikan. Dia masih belum siap jika harus bertemu dengan Syakirah, takut Syakirah menolak kehadirannya.
"Ada kemungkinan sih iya, soalnya lo tau sendiri Syakirah kayak gimana. Dia itu ketua geng motor, kayak lo. Kemungkinan besar dia tahu. Emang kaca lo hitam tapi jangan meragukan penglihatan Syakirah, matanya tajam kayak serigala." ujar Roy mencoba untuk menjelaskannya kepada Evan.
"Tapi itu gak mungkin, Roy. Syakirah gak mungkin tau kalau itu gue." Evan tetap kukuh pada pendiriannya. Tidak percaya jika Syakirah benar-benar melihatnya tadi.
"Van, buat apa sih lo sembunyi terus? Lebih baik lo tunjukin diri lo ke Syakirah, lagi pula Syakirah udah tau." Thomas
Bugh.
Bantal sofa mendarat dengan sempurna di wajah Thomas, Thomas hanya menggeram kesal menahan emosi. Sabar, ingat dia itu Evan, isi pikiran Thomas.
"Lo bego apa gimana sih?! Udah gue bilang kan, Syakirah itu benci setengah mati sama gue, dan gue gak mau Syakirah malah tambah benci lagi sama gue!" Evan.
"Justru itu, Van. Kemungkinan besar Syakirah udah tau kalau lo disini. Dia pasti akan lebih kecewa lagi kalau lo gak hubungi dia. Coba deh pikir lagi. Seandainya lo gak sengaja ketemu dia di jalan, lo kaget lah sementara Syakirah kagak kaget, malah dia pandang lo dengan tatapan datarnya itu. Terus dia bilang gini 'Gue kecewa sama lo, Van! Seharusnya lo hubungi gue saat lo udah sampai disini tapi kenapa lo gak kasih tau gue dan lo menghindar dari gue! Gue bener-bener kecewa sama lo, Van!' nah coba bayangin kalau Syakirah ngomong gitu ke lo, apa masalahnya gak tambah runyam?" jelas Roy panjang lebar.
Evan membenarkan ucapan Roy, apa yang Roy katakan ada benarnya, pikir Evan. Evan larut dalam pemikirannya tentang Syakirah sampai dia tidak sadar kalau Roy meletakkan sesuatu di meja yang ada di depannya, yang tak lain adalah selembar kertas yang bertulisan nomor ponsel seseorang
__ADS_1
"Van, lo hubungi nomor itu. Ada baiknya lo hubungi dia, lebih cepat lebih baik atau dia malah tambah kecewa lagi sama lo. Gue cuma nyaranin aja sebelum semuanya terlambat."
Evan mengambil kertas itu dan mengeluarkan ponselnya. Dia ragu-ragu untuk mengetikkan nomor ponsel itu tapi Evan tetap mengetiknya. Sampai dia menyimpan nomor itu, akhirnya Evan bisa melihat foto profil yang bergambar Syakirah dan seorang wanita. Evan mengerutkan keningnya bingung saat melihat wanita yang berada di sebelah Syakirah.
"Siapa dia?" Evan memperlihatkan hpnya ke mata Roy. Roy mencoba untuk mengenali wajah wanita itu.
"Oh itu, itu sepupunya Syakirah. Kiya namanya." jawab Roy.
"Perasaan Syakirah gak punya sepupu cewek deh?"
"Dia anak pesantren, lo emang gak pernah tau. Gue juga kaget saat nyelidiki cewek itu adalah sepupu Syakirah."
"Jangan ngomong sembarangan, Van! Lo masih belum tau dia. Saat Syakirah udah jinak, dia yang berada paling depan. Lo tau Ahmad kan, mantan pacar Syakirah." Evan mengangguk mendengar nama Ahmad yang sudah tidak asing lagi di telinganya. "Nah lo harus tau juga, itu si Kiya sepupunya Syakirah yang berada paling depan. Bahkan sekitar 2 bulan yang lalu Kiya membawa Syakirah pergi gara-gara Ahmad." Evan tambah bingung lagi mendengar ucapan Roy. "Ahmad itu mencoba buat dapetin Syakirah lagi, sementara Kiya itu gak ikhlas kalau Syakirah balikan lagi sama Ahmad jadi Kiya bawa Syakirah kabur." jelas Roy lagi
"Apa?! Ahmad mencoba buat dapetin Syakirah lagi?!" ujar Evan penuh emosi. Dan Roy mengangguk sebagai jawaban.
Praaang.
Seketika vas bunga yang ada di meja pecah karena Evan melemparnya ke dinding. Mata Evan terpancar emosi dengan sangat jelas, semua anak buah Evan merinding ketakutan, bahkan Roy juga sama dengan yang lain.
__ADS_1
"Apa-apaan si Ahmad itu?! Cari mati apa sama gue!" ujar Evan yang penuh dengan emosi.
"Sabar Van, sabar. Jangan emosi, lagi pula Syakirah gak nerima perasaan Ahmad juga kok." ujar Roy mencoba untuk menenangkan Evan. Seketika nyali Roy menciut saat Evan melihatnya dengan tatapan kematian.
"Gue gak mau Syakirah balikan lagi sama Ahmad! Gue mau Syakirah sama gue! Apapun rencana kalian jangan buat Ahmad mendapatkan Syakirah! Gue gak mau tau, kalian harus buat sesuatu!" ujar Evan lagi.
"Oke, Van. Gue tau lo lagi emosi. Sekarang lo duduk dulu, kita bicarakan ini baik-baik ya. Tenang, Van. Hati Syakirah masih belum jadi milik siapa-siapa jadi masih aman. Oke. Lo tenangkan diri lo dulu." Roy mencoba untuk mencairkan suasana hati Evan. Evan akhirnya duduk lagi sambil mengusap wajahnya kasar.
"Van, gue minta sama lo agar tetap tenang di setiap keadaan. Kalau lo emosi terus kayak gini yang ada masalahnya tambah berbelit." Roy menenangkan lagi. "Sekarang dengerin gue. Syakirah masih belum menerima perasaan Ahmad, dia cuma memberi kesempatan buat Ahmad buat ngecoba mulai dari awal lagi. Lo masih punya kesempatan, tapi kayaknya akan lebih sulit lagi."
"Kenapa?" tanya Evan heran.
"Gue udah bilang kan tadi. Kiya selalu ada di depan Syakirah setiap Syakirah ada masalah." jawab Roy.
"Dia mana mungkin tahu tentang gue, gak akan tau juga dia." Evan dengan sombongnya meremehkan Kiya, padahal dia masih belum tahu bagaimana Kiya beraksi saat berhubungan dengan Syakirah.
"Lo jangan ngeremehin dia, Van. Meskipun dia ukhti tapi jangan di ragukan aksinya, dia lebih sempurna menjalani aksinya dari pada kita. Kalau di samakan, dia sama kayak Syakirah saat menjalankan aksi." jelas Roy agar Evan tidak meremehkan Kiya.
"Huh! Apa sempurnanya dia? Menurut gue gak ada tuh! Penampilannya aja kayak gitu, belum tentu juga kelakuannya sama kayak penampilannya!" Evan mencibir Kiya lagi. Roy sampai tepuk jidat melihat keras kepala Evan.
__ADS_1
Bersambung......