
3 minggu kemudian…
Sudah 3 minggu sejak kepergian Syakirah ke Bandung, sudah seminggu juga Ahmad berada di Bandung untuk mencari Syakirah.
Saat ini Ahmad sedang berjalan-jalan di sebuah taman. Dia ingin mencari udara segar disini. Dia lelah telah mencari Syakirah seminggu ini tapi tidak menemukan apa-apa. Ahmad bahkan menyelesaikan pekerjaannya dengan sangat cepat agar dia bisa menjemput Syakirah.
Ahmad masih terus berjalan-jalan di taman, melihat sepasang kekasih yang sedang berjalan-jalan di taman sambil bergandengan tangan.
Andai aku dan Syakirah seperti itu, mungkin aku sudah bahagia bersamanya saat ini, hubunganku juga tidak akan renggang seperti ini. batin Ahmad.
Ahmad mendengar suara orang yang sedang bernyanyi, dia mendengarkan lagu itu sambil terus berjalan. Ahmad berhenti melangkah saat mendengar suara nyanyian itu. Dia merasa tidak asing dengan suara itu.
Selalu kucoba untuk lupakan
Cerita lama yang menjadi buku
Terlanjur sudah 'ku membaca
Dari bab perkenalan
Suara itu seperti suara Syakirah. Tapi itu tidak mungkin suara Syakirah kan? batin Ahmad.
Ahmad berjalan mendekat ke arah panggung. Dan benar saja saat dia sudah sampai di tangga, dia melihat ke bawah dan melihat Syakirah sedang bernyanyi.
Itu tidak mungkin Syakirah. batin Ahmad lagi.
Ahmad terus mendengarkan lagu itu sampai selesai.
Tak semua halaman merana
Namun yang kelam terlalu berarti
Yang bahagia terlupakan
Terselimuti benci
Warna fana ragu
Hanya karena kamu
Seperti kutegak berdiri
Di atas kertas putih
Seperti kencangnya berlari
Tanpa tujuan henti
Halaman tawa yang aku cari
Telah hangus namun di hati
Percaya terangkan kembali
Beranikan diri
Tak semua halaman merana
Namun yang kelam terlalu berarti
Yang bahagia terlupakan
Terselimuti benci
Fatamorgana ragu
Hanya karena kamu
Seperti kutegak berdiri
Di atas kertas putih
__ADS_1
Seperti kencangnya berlari
Tanpa tujuan henti
Halaman tawa yang aku cari
Telah hangus namun di hati
Percaya terangkan kembali
Beranikan diri
Tutup buku ini
Semua karena keyakinan
Aku padamu
Tapi baiknya terucap
Semua
Seperti kutegak berdiri, hmm
Seperti kencangnya berlari, oh
Seperti kutegak berdiri
Di atas kertas putih
Seperti kencangnya berlari (kencangnya berlari)
Tanpa tujuan henti (tanpa tujuan henti)
Halaman tawa yang aku cari (tawa yang aku cari)
Telah hangus namun di hati
Beranikan diri
Tutup buku ini
Saat selesai, Ahmad mengedarkan ke seluruh panggung yang di bawah itu. Dan dia bisa melihat Kiya dan Wahyu sedang duduk di kursi yang telah disediakan.
Jadi benar itu Syakirah. Akhirnya aku tidak sia-sia untuk mencarikumu selama ini. batin Ahmad.
Ahmad berjalan menghampiri Kiya dan Wahyu. Ahmad duduk di sebelah kursi Kiya, tapi Kiya tidak menyadari kehadirannya.
Sampai langit yang semakin lama semakin gelap, akhirnya pertunjukkan panggung telah selesai. Jam menunjukkan pukul 9 malam, selama 2 jam Kiya dan Wahyu tidak menyadari keberadaannya. Syakirah menutup sambutan dan semua orang beranjak dari duduknya untuk pulang.
"Lagunya indah sekali." ujar Ahmad. Kiya langsung menoleh ke sampingnya saat mendengar suara itu.
"Kau!" Kiya.
"Hai, Kiya." Ahmad.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Wahyu tak suka saat melihat Ahmad berada di samping Kiya.
"Tentu saja untuk menjemputnya." tunjuk Ahmad kepada Syakirah.
"Atas hak apa kau menjemputnya? Memangnya kau siapanya sampai kau menjemputnya?" tanya Kiya.
"Saat ini aku memang bukan siapa-siapanya, tapi tunggulah bebarapa bulan lagi. Pasti aku sudah memiliki status yang sangat tidak terduga dengannya." jawab Ahmad senang.
"Kau sangat licik!" Wahyu.
Ahmad hanya tersenyum menanggapi sebutan Wahyu untuknya. Dia tahu dia licik, dia pernah melakukan hal yang sangat adil tapi dia tidak pernah di hargai. Sebenarnya Ahmad tidak ingin melakukan cara licik Ahmad, tapi mau bagaimana lagi, hanya itu satu-satunya cara untuk mendapatkan Syakirah.
"Aku melakukan ini juga gara-gara kalian. Kalian tidak menghargai perjuanganku, oleh sebab itu kenapa aku melakukan ini." jawab Ahmad santai.
Sementara Syakirah berjalan ke arah mereka sambil menyebut nama Kiya dan Wahyu. Syakirah menghampiri mereka, tanpa dia sadari ada Ahmad disini.
__ADS_1
"Kak." panggil Syakirah kepada Kiya.
"Sudah selesai?" ujar Kiya. Syakirah mengangguk.
Syakirah masih belum menyadari bahwa ada Ahmad, sampai Ahmad memanggil namanya dan baru itulah Syakirah menyadarinya.
"Syakirah." panggil Ahmad.
"Ya?" Syakirah menoleh dan terkejut dengan kedatangan Ahmad, seketika senyum yang merekah itu berubah menjadi cemberut.
"Ahmad?" gumam Syakirah. Ahmad tersenyum melihat Syakirah.
"Hei Brengsek, jangan senyum-senyum ke Syakirah!" Kiya.
"Senyum itu ibadah. Memangnya salah jika aku tersenyum?" Ahmad.
"Aku tahu senyum itu ibadah, tapi jangan tersenyum melihat Syakirah! Dia takut!" Kiya.
Ahmad menoleh ke Syakirah dan mendapati Syakirah sedang menunduk. Ahmad menghela nafas.
"Syakirah, ayo kita pulang." ajak Ahmad.
"Hei, siapanya kau?! Berani-beraninya mengajaknya pulang!" gerutu Kiya.
"Syakirah, aku akan menjelaskannya kepadamu. Semuanya, tanpa ada yang tertinggal sedikitpun." Ahmad.
"Diamlah, Ahmad! Kau hanya penganggu!" Wahyu. Ahmad tidak menggubris ucapan mereka dan menarik tangan Syakirah untuk ikut dengannya. Tapi tentu saja tidak bisa, Kiya memegang tangan Syakirah dan melotot ke Ahmad.
"Jangan pernah sentuh Syakirah dengan tangan kotormu itu!" Kiya.
"Kenapa?" Ahmad.
"Aku tidak rela jika Syakirah sampai ternodai olehmu!" Kiya.
"Kenapa? Kenapa Kiya? Kenapa kau selalu bersikap seperti ini kepadaku? Apa salahku?" Ahmad.
"Tentu saja karena kau menyakiti Syakirah! Memangnya apa lagi kalau bukan itu?!" Kiya.
"Bukankah aku sudah minta maaf?" Ahmad.
"Memang, tapi Syakirah tidak bahagia!"
Ahmad dan Kiya berdebat panjang sampai jadi tontonan pengunjung taman ini. Syakirah mencoba menenangkan Kiya tapi tidak bisa. Sementara Wahyu tidak mau ikut campur urusan mereka, ya meskipun dia ikut campur membawa Syakirah pergi dari sini.
"Kak, jangan berdebat disini. Apa kakak tidak malu di lihat para pengunjung itu?" ujar Syakirah. Kiya mengedarkan pandangannya dan benar saja dia jadi bahan tontonan pengunjung. Kiya mendengus kesal melihat Ahmad.
"Ayo Syakirah, kita pulang." Kiya menarik tangan Syakirah, tapi seketika Syakirah berhenti karena tangannya di cekal oleh Ahmad.
"Apa maumu?" Kiya.
"Aku mau menjelaskannya kepada Syakirah." Ahmad.
"Ahmad, kita bicara di kontrakkan saja ya. Aku tidak mau kita jadi bahan tontonan semua orang disini." Syakirah.
"Syakirah!" Kiya.
"Kak, apa kakak tidak malu di lihat semua orang itu? Kita selesaikan saja di kontrakkan." Syakirah.
Setelah berdebat dengan Syakirah, akhirnya Kiya menyetujuinya.
"Syakirah ikut denganku." Ahmad.
"Tidak! Syakirah ikut aku!" Kiya.
"Aku mau Syakirah ikut aku!"
"Aku itu kakak sepupunya, jadi aku lebih berhak atas Syakirah!"
"Tapi aku mau bicara secara pribadi dengan Syakirah."
"Kau mau bicara apa? Kan kita mau bicara di kontrakkanku!"
__ADS_1
Bersambung......