
Sementara Wahyu sedang berfikir keras, dia bingung harus menjelaskannya seperti apa kepada Syakirah nanti. Wahyu membanting tubuhnya di kasur dan mulai berfikir. Seharusnya dia sekarang berada di kamar mandi tapi gara-gara mereka bertiga Wahyu tidak jadi ke kamar mandi dan lebih memilih ke kamar.
"Aku harus bagaimana? Aku yakin Syakirah sangat terpukul sekali dengan keadaan pertemanannya yang seperti ini. Ck! Aku sendiri juga bingung, hanya karena cinta saja sampai bawa-bawa pertemanan. Lalu, aku harus bagaimana? Apa sebaiknya aku memberitahu Kiya ya? Jika aku memberitahu Kiya, Kiya pasti bisa mengerti. Tapi pasti ujung-ujungnya dia akan emosi juga. Arrrggghhh! Ck!"
Wahyu memutuskan untuk ke kamar mandi untuk menyegarkan pikirannya yang sedang panas. Dan setelah mandi Wahyu memutuskan untuk tidur karena kepalanya sangat pusing.
***
Malam telah di gantikan oleh pagi, Syakirah sudah sampai di ruangannya. Syakirah bisa melihat Wahyu, Rey, dan Navile sudah duduk di meja kerja mereka tanpa Ryan tentunya karena dia masih diliburkan bukan. Dan jangan lupakan Ahmad dia adalah orang yang datang paling pagi sebelum mereka, wajar dia adalah seorang direktur utama.
"Selamat pagi semuanya." ujar Syakirah.
"Selamat pagi, Syakirah." Wahyu dan Ahmad. Hanya mereka berdua yang menjawab salam Syakirah, sementara Rey dan Navile tidak menjawab sama sekali, jangankan menjawab melihat Syakirah saja tidak.
Kenapa mereka berdua diam saja? Biasanya mereka juga menjawab jika aku mengucapkan selamat pagi. batin Syakirah bingung.
Syakirah memandangi Rey dan Navile di meja kerjanya, entah kenapa perasaan Syakirah tidak enak. Sementara Wahyu memperhatikan Syakirah dari meja kerjanya, Wahyu yakin Syakirah saat ini sedang dalam mode bingung.
Aku akan mengajak Syakirah bicara nanti waktu istirahat. Dia juga harus tahu, kan masalahnya juga ada di dia. batin Wahyu.
Wahyu menghela nafas lelah, dia mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu di benda pipih itu.
Ponsel Syakirah bergetar menandakan ada pesan masuk, Syakirah segera membuka ponselnya.
Wahyu
"Nanti saat bel istirahat berbunyi ikut aku, jangan pergi ke kantin. Kita harus bicara berdua, ada masalah. Jangan menunggu Rey dan Navile langsung ikuti aku!"
__ADS_1
Pesan dari Wahyu Syakirah baca, Syakirah melihat Wahyu yang sedang fokus melihat komputernya. Syakirah meletakkan ponselnya lagi dan mulai bekerja.
***
Bel istirahat sudah berbunyi, seperti apa yang di perintahkan Wahyu kepada Syakirah. Wahyu berjalan keluar ruangan di ikuti oleh Syakirah dari belakang. Sementara Rey, Navile dan Ahmad hanya memperhatikan kepergian mereka berdua. Ahmad hanya memandangi mereka biasa saja, tapi tidak dengan Rey dan Navile. Ada sorot mata kebencian dan kekecewaan yang terpancar di mata mereka.
Dan sinilah Wahyu dan Syakirah, di lorong yang menuju belakang pabrik. Tempat ini lumayan sepi saat istirahat, karena semua karyawan sedang menikmati makan siang mereka.
"Ada apa, Wahyu? Kenapa kau mengajakku kesini dan menyuruhku untuk mengikutimu saat bel istirahat? Apa yang ingin kau bicarakan? Kau bilang ada masalah, ada masalah apa?" tanya Syakirah mengebu.
Wahyu memijat batang hidungnya, dia sendiri juga bingung mau menjelaskannya seperti apa kepada Syakirah. Wahyu takut Syakirah akan sangat terpukul, itu bisa-bisa mempengaruhi kondisi mental Syakirah dan Wahyu tidak mau itu terjadi.
"Syakirah, begini. Apa yang nanti aku katakan kepadamu, kau jangan terlalu memikirkannya. Jangan terlalu di pikirkan. oke?" Wahyu.
"Memangnya ada apa? Kenapa kau bicara begitu? Jangan membuatku mati penasaran, Wahyu!" Syakirah mulai emosi karena Wahyu tak kunjung memberitahunya.
"Turuti dulu apa yang aku bilang tadi!"
Tapi ini masalahnya lumayan besar, Syakirah! batin Wahyu.
"Baiklah, begini Syakirah. Sebenarnya... "
"Sebenarnya apa, Wahyu? Jangan membuatku mati penasaran seperti ini!"
"Persahabatan kita sudah terbelah." lirih Wahyu.
Tubuh Syakirah seperti tersambar petir mendengar ucapan Wahyu. Antara percaya dan tidak percaya.
__ADS_1
"Kau jangan bercanda, Wahyu! Ini tidak lucu!" ujar Syakirah.
"Apa aku terlihat sedang bercanda?"
"Ini tidak mungkin!"
"Ini kenyataanya, Syakirah. Apa kau tidak lihat tadi saat kau masuk ke ruangan saat pagi tadi? Apa kau mendengar Rey dan Navile menjawab ucapan selamat pagimu? Tidak kan? Memang seperti ini kenyataannya, Syakirah."
"Tapi kenapa?"
Syakirah sudah berlinang air mata saat ini. Persabatan yang selama ini dia bangun dengan teman-temannya harus berakhir secepat ini.
"Ini semua karena urusan cinta." ujar Wahyu.
"Apa maksudmu?" tanya Syakirah bingung.
"Syakirah, kau lebih memilih Ahmad di bandingkan mereka bertiga. Mereka berfikir kau akan memilih salah satu dari mereka, Tapi nyatanya kau lebih memilih Ahmad. Mereka tidak suka jika kau harus bersama dengan Ahmad, mereka ingin kau memilih salah satu dari mereka bertiga. Mereka bilang kau tidak menghargai perasaan mereka, padahal kau sudah menghargai perasaan mereka. Kau menjadi teman mereka itu adalah bentuk kau menghargai perasaan mereka. Aku masih ingat betul saat kau di sekolah dulu, kau selalu menghindar saat ada lelaki yang menyukaimu. Sementara Rey, Ryan dan Navile, apa kau menghindarinya? Padahal kau tahu kalau mereka menyukaimu. Tidak kan?"
Apa yang di ucapkan Wahyu benar sekali. Sewaktu Syakirah sekolah, jika dia bertemu dengan lelaki yang menyukainya maka dia akan menghindar. Tapi tidak dengan Rey, Ryan ataupun Navile, mereka punya tempat sendiri di hati Syakirah. Bagi Syakirah mereka bertiga adalah orang istimewa, Syakirah menghargai perasaan Rey dengan menjalani hubungan dengannya dulu tapi tidak dengan Ryan dan Navile. Syakirah juga menghargai perasaan Ryan dan Navile, berteman dengan Ryan dan Navile adalah pilihan terbaik bagi Syakirah, itu adalah bentuk dia menghargai perasaan Ryan dan Navile.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Syakirah.
"Tidak ada yang harus kita lakukan. Semuanya akan tetap sama meskipun tidak semenangkan dulu, masih ada aku disini. Kau tidak sendirian, ada aku dan Kiya yang menemanimu. Aku tahu mereka penting bagimu tapi jika itu pilihan mereka, apa kita bisa memaksa? Kita memaksa pun belum tentu mereka akan menuruti kita. Aku yakin mereka akan kembali dengan sendirinya, kau tidak perlu khawatir." ujar Wahyu sambil mengusap air mata Syakirah dengan ibu jarinya.
Wahyu tahu bagaimana perasaan Syakirah sekarang, jika sudah seperti ini Syakirah tidak boleh di perlakukan dengan kasar karena itu akan sangat menganggu kondisi psikologisnya.
"Apa hanya gara-gara cinta persahatan kita harus bubar? Kenapa cinta merusak semuanya?" ujar Syakirah yang masih belum bisa menerima kenyataannya ini.
__ADS_1
"Ini adalah pilihan mereka. Bagi mereka ini adalah pilihan terbaik, kita tidak boleh memaksa mereka untuk kembali kepada kita. Yang hanya bisa kita lakukan adalah menerima kenyataan ini. Aku tahu ini berat untukmu dan juga untukku tapi kita harus menerimanya." ujar Wahyu.
Bersambung......