
"Evan memang seperti itu, dia selalu ingin mendekatkan dirinya dengan orang yang dekat dengan Syakirah agar dia bisa mengenal Syakirah lebih dalam lagi." ujar Wahyu.
"Apa kau juga seperti itu dulu saat kau bertemu dengannya?" tanya Kiya kepada Wahyu. Entah kenapa Kiya sedikit tertarik dengan kepribadian Evan, ingat hanya sedikit tidak banyak. Apakah Evan lebih baik dari Ahmad? Atau malah sebaliknya? Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Kiya.
"Tentu saja. Evan adalah lelaki yang supel, dia mudah berbaur dengan teman. Jika di lihat dari segi kenyataan, Evan lebih baik dari Ahmad. Kau tahu sendiri kan kalau Evan lah yang membuat Syakirah berubah? Bagiku Evan lebih baik dari pada Ahmad. Hanya saja kesalahan Evan telah meninggalkan Syakirah begitu saja." jelas Wahyu. "Jika kau di suruh memilih mana yang akan kau pilih? Evan atau Ahmad?" lanjut Wahyu dengan pertanyaan.
"Entahlah, aku tidak tahu. Bagiku kedua laki-laki itu sama-sama brengseknya, mereka berdua juga pernah menorehkan luka di hati Syakirah. Jika aku di suruh memilih mungkin aku akan menjawab tidak keduanya dan lebih baik mencari yang lain." jawab Kiya sambil menghela nafas lelah. "Aku heran, kenapa lelaki yang mendekati Syakirah adalah lelaki brengsek? Kenapa tidak ada lelaki yang waras saat mendekati Syakirah?" lanjut Kiya lagi.
"Syakirah bukanlah wanita yang memandang dari segi fisik, karena saat Ahmad menorehkan luka di hati Syakirah, Syakirah mulai berhati-hati saat mencari pasangan. Syakirah melihat dari sifat lelaki itu, saat Evan dulu mengajak Syakirah untuk menjalani hubungan, Syakirah tidak menerimanya langsung tapi dia menyelidikinya. Syakirah menerima Evan karena Evan adalah ketua geng motor juga, Syakirah berfikir kalau Evan akan sibuk dengan urusannya sendiri dan tidak akan memikirkannya. Tapi dugaannya salah, Evan lebih perhatian dan sangat posesif. Padahal Syakirah berharap Evan tidak akan memperdulikannya. Syakirah mencari pasangan yang sibuk dengan dunianya sendiri tanpa memikirkannya." jelas Wahyu.
"Apakah Syakirah memilih orang yang sibuk begitu maksudmu? Agar dia bisa bebas dan tidak di perhatian? Semisal menjalani hubungan dengan orang cuek begitu?" tanya Kiya.
"Iya, Syakirah memilih untuk menjalin hubungan dengan orang yang seperti itu, contohnya saja Evan. Saat Syakirah menyelidiki Evan, Syakirah mendapatkan info kalau Evan adalah ketua geng motor sekaligus CEO perusahaan papanya. Syakirah menerima Evan berharap kalau Evan sibuk dengan dunianya sendiri tanpa memikirkan Syakirah. Laki-laki yang selama ini Syakirah cari adalah semacam itu." jawab Wahyu. "Mungkin Ahmad dan Evan memiliki ketampanan yang sama tapi sifat mereka berdeda. Evan sedikit cuek dengan orang yang baru saja dia kenal... "
"Tapi dia sok dekat tadi denganku, dia juga mengajakku berkenalan." potong Kiya dengan ucapannya.
"Itu karena kau adalah sepupu Syakirah, makanya dia seperti itu. Jika kau bukan sepupu Syakirah tidak mungkin juga dia bersikap seperti itu padamu." jawab Wahyu.
"Wahyu, apa kau menyetujui jika Syakirah balikan lagi dengan Evan?" tanya Kiya. Kiya tidak pernah melarang Syakirah menjalani hubungan dengan seseorang, hanya saja Kiya takut Syakirah akan terluka lagi saat menjalani hubungan. Syakirah sudah beberapa kali di sakiti oleh seorang laki-laki, Kiya takut hati Syakirah membeku seperti dulu lagi. Cukup sulit untuk mencairkan hati Syakirah yang dulu.
__ADS_1
"Apa aku terlihat menyetujuinya?" Wahyu tidak menjawab ucapan Kiya tapi malah bertanya balik.
"Sepertinya tidak." tebak Kiya.
"Tentu saja, aku tidak menyetujui jika Syakirah balikan lagi dengan Evan. Tapi kita juga tidak bisa melarang Syakirah, kita hanya bisa menasehatinya dan menyuruh Syakirah untuk mengingat masa lalunya saat bersama Evan. Tapi sepertinya Syakirah sudah tidak menyukai Evan lagi, di lihat dari gerak gerik dan cara Syakirah saat bicara dengan Evan tidak seperti dulu. Dan aku sangat yakin kalau Syakirah tidak menyukai Evan lagi."
"Aku juga tidak pernah melarang Syakirah untuk menjalani hubungan, hanya saja aku takut Syakirah sakit hati lagi. Itu saja, oleh sebab itu kenapa aku selalu melarangnya ini itu dan mengaturnya ini itu." Wahyu mengangguk mendengar ucapan Kiya, Wahyu juga demikian. Dia tidak pernah melarang Syakirah tapi dia hanya menasehatinya saja.
Perbandingan antara Evan dan Ahmad sangatlah susah, mereka berdua sama-sama memiliki wajah yang tampan tapi hati mereka tidak sama. Evan memiliki hati kejam dan dingin kepada orang lain, sementara Ahmad memiliki hati yang hangat meskipun terkadang juga hatinya buruk. Jika di lihat dari segi fisik mereka seimbang tapi jika di lihat dari segi kelakuan, mereka sangat berbeda 180 derajat. Entah Syakirah memilih Evan atau Ahmad itu terserah dengan hati Syakirah, bisa saja Syakirah memilih orang lain dari pada mereka berdua.
Sementara di rumah Aliya, Syakirah sedang uring-uringan dengan Evan. Syakirah hanya tepuk jidat saat melihat Evan yang menghadang Syakirah tadi. Saat ini mereka berdua sudah duduk di kursi teras. Syakirah beberapa kali menendang kaki Evan karena sangking jengkelnya.
"Iya iya, aku cuma mau kenalan aja kok. Salah apa ya?" ujar Evan.
"Ya gak gitu, Van. Meskipun kak Kiya selalu berbicara dengan seorang laki-laki tapi dia tidak pernah ada kontak fisik. Kak Kiya itu perempuan, dia juga butuh bantuan seorang lelaki saat dia sedang susah nanti. Lo pikir tenaga perempuan sama apa kayak cowok?" gerutu Syakirah. "Kalau mau kenalan sama kak Kiya seenggaknya jangan ada kontak fisik. Coba aja lo tadi panggil namanya aja gak usah pakai hadang dia, gak mungkin dia ngomong gitu ke lo. Meskipun kak Kiya berhijab tapi omongannya ceplas-ceplos, karena dia sendiri juga tidak mau di rendahkan." lanjut Syakirah lagi.
"Apa emang dia kayak gitu? Cuek? Dingin?"
"Lo kenapa sih tanya-tanya tentang kak Kiya? Jangan-jangan lo suka ya sama kak Kiya?" Syakirah menebak Evan, bahkan dia juga menunjuk wajah Evan agar mau mengaku. "Ngaku gak lo!" lanjut Syakirah.
__ADS_1
"Hoek. Ngapain juga aku suka sama dia, dia itu bukan tipe aku. Dia itu jauh dari tipe aku, di lihat dari segi fisik dia itu udah di luar tipe aku. Tipe aku itu cuma kamu." Evan menggombali Syakirah.
"Hidih, gombal lo! Gombalan lo itu gak bakalan ampuh lagi kayak dulu!" sindir Syakirah. Evan hanya menghela nafas saja, dia sedang tidak mau berdebat dengan Syakirah.
***
Sementata di rumah keluarga Roy, Clara dan Roy sudah ada di depan teras sambil membawa 2 buah koper besar. Clara tidak menyangka Roy akan membiayai semua operasinya.
"Ma pa, Roy sama Clara berangkat dulu ya." ujar Roy.
"Iya, Roy. Hati-hati saat di jalan ya, nanti kalau sudah sampai disana kabari kita ya. Semoga operasinya juga berhasil." ujar mama Roy.
"Amiin." jawab Roy dan Clara.
"Makasih ya, tante om udah baik sama Clara. Clara gak tau harus gimana buat balas budi sama om dan tante." ujar Clara.
"Kamu gak usah balas budi sama kita, Clara. Cukup kamu jadi menantu sama istrinya Roy aja om udah senang." ujar papa Roy. Roy tertawa senang, sedangkan Clara tertawa gagu. Memangnya aku pantas apa jadi menantu keluarga ini? Batin Clara.
Bersambung......
__ADS_1