
Kak Dara langsung menyemburkan air yang dia minum tadi, terkejut dengan ucapan mamanya. Kak Dara beralih melihat Clara terkejut dan tidak percaya.
"Oh, jadi lo yang namanya Lara-Lara itu?! Lo ngapain masih mau sama adek gue?! Padahal kan lo udah di hina sama di caci maki sama dia! Lo di ancam kan sama dia! Ayo ngaku, biar gue gebek-gebek adek gue yang durjana ini!" ujar kak Dara yang tiba-tiba emosi.
Kak Dara tahu tentang Clara tapi dia tidak tahu kalau Clara sudah ada di samping adik durjananya itu. Karena sewaktu Roy bercerita, Roy bilang namanya Lara bukan Clara, jadi wajar jika dia tidak tahu. Mendengar cerita Roy beberapa tahun yang lalu membuat kak Dara emosi, karena adiknya telah pilih-pilih perempuan. Padahal orang tuanya sudah memperingati agar tidak pilih-pilih teman dan saling menghargai, dan itu sukses membuat kemarahan kak Dara datang. Kak Dara bahkan sampai memukul kepala Roy dan menghukum Roy berdiam diri di kolam saat malam hari.
"Kak Dara tau aku?" tanya Clara sedikit terkejut.
"Gimana gue gak tau lo coba. Cecunguk ini pernah cerita sama gue kalau mantannya itu miskin dan nggak banget gitu, terus dia putusin pacarnya itu. Dia bilang namanya itu Lara bukan Clara, ya gue pikir bukan lo orangnya. Eh ternyata di luar dugaan ternyata lo orangnya." jawab kak Dara. "Udah, lo gak suka kan sama adek gue? Lebih baik lo ikut aja keluar kota, menjauh dari dia. Biar hidup lo itu tenang, gak di gangguin sama dia." lanjut kak Dara lagi.
Sebenarnya kak Dara Ini benci sama gue apa suka sama gue sih? Kok dia kayak dukung gue gitu buat menjauh dari gue. Jadi ini sebenarnya kayak gimana sih. Kalau kak Dara suka sama gue, berarti rencana gue gagal dong. Yaelah, udah capek-capek bikin scenario buat pulang dari sini ngelakuin apa aja. Ternyata oh ternyata, gagal seratus persen. batin Clara kebingungan bercampur dengan kecewa.
Clara sudah menyusun rencana saat dia keluar dari rumah ini nanti. Dia sudah bosan disini karena Roy terus mengusilinya. Tapi sayangnya rencananya itu sudah hangus karena kak Dara sepertinya malah menyukainya.
"Clara, lo kenapa diam aja sih?! Jawab gue napa!" ujar kak Dara kesal karena Clara melamun.
__ADS_1
"Eh? Iya, kak? Aku juga gak tau sih, kak. Aku juga kurang ngerti juga." jawab Clara gelapagan.
"Lo suka sama adek gue?" tanya kak Dara.
Clara diam, tidak menjawab. Dia juga bingung, apakah dia suka sama Roy atau tidak atau malah perasaan benci yang masih tersimpan. Jauh di lubuk hati Clara masih ada perasaan benci dengan Roy, tapi Clara selalu berusaha agar tidak memperlihatkan kebenciannya itu kepada keluarga Roy. Hati Clara masih sakit kalau mengingat Roy menghinanya beberapa tahun yang lalu. Tapi Clara juga tidak bisa menyangkal, karena memang itu kenyataannya.
Saat ini mereka bertiga sudah duduk di sofa ruang tamu. Ya hanya bertiga, mama papa Roy sudah masuk ke kamarnya karena sudah lelah melihat perdebatan anaknya, di tambah lagi dengan kak Dara yang terus saja menghakimi Clara secara tiba-tiba.
Kak Dara bersedekap dada, dia melihat Roy dan Clara secara bergantian. Clara hanya diam saja, sementara Roy melengos melihat gaya kakaknya yang sok keren itu.
"Sekarang gue tanya. Lo masih suka sama Roy, adek gue? Jawabnya kayak bahasa gue aja. Gak usah aku kamu, alay tau gak." tanya kak Dara sambil mencibir.
"Hah?! Lo gak tau?! Yang bener dong kalau jawab itu!" tegas kak Dara.
"Gue juga gak tau, kak! Gue gak tau perasaan apa yang ada di dalam hati gue buat Roy! Ada rasa benci, ada rasa sayang dan ada rasa kecewa! Semuanya bercampur menjadi satu! Gue juga bingung sama perasaan gue sendiri!" ujar Clara sambil berteriak sampai membuat Roy dan kak Dara melongo. "Gue juga gak tau. Jauh di lubuk hati gue masih ada perasaan benci sama Roy, tapi gue selalu menutupi hal itu karena keluarga kalian sudah membantuku untuk menyembuhkan kakiku. Gue berhutang budi sama kalian, oleh sebab itu kenapa gue gak pernah menunjukkan kebencian gue kepada Roy." lanjut Clara dengan suara yang sudah melemah.
__ADS_1
Kak Dara tahu apa yang di rasakan oleh Clara saat ini, sangat tahu jelas. Terlihat kak Dara sedang menghela nafas.
"Roy, jangan paksa dia buat tunangan sama lo. Biarin dia memantapkan hatinya dulu." ujar kak Dara kepada Roy.
"Apa?! Kakak udah gila ya! Gue gak mau!" tolak Roy dengan sangat tegasnya.
"Huh! Ck! Biarin dia memantapkan hatinya dulu, dia gak bakalan kemana-mana! Dia akan tetap jadi milik lo! Cuma beri dia waktu supaya dia bisa nerima lo lagi! Lo jangan egois dong!" ujar kak Dara emosi melihat adiknya yang tidak peka sama sekali.
Roy langsung berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan 2 wanita yang sama-sama penting baginya. Hatinya sedang kesal saat ini, tidak tahu juga kesal gara-gara apa, pokoknya kesal. Kak Dara dan Clara memandangi kepergian Roy yang di iringi dengan kekesalan juga.
"Udah, gak usah di pikirin. Nanti juga balik lagi tuh anak." ujar kak Dara menenangkan Clara yang cemas melihat kepergian Roy. Clara hanya mengangguk saja mendengar ucapan kak Dara.
Kak Dara membantu Clara untuk pergi ke kamarnya, karena Clara tidak membawa kursi rodanya. Bukan tidak membawa, tapi memang Roy selalu menggendong Clara jika hanya di area persekitaran rumahnya.
***
__ADS_1
Sementara di kamar Syakirah, Syakirah sedang memikirkan ucapan Ahmad saat ada di warung tadi. Meskipun Ahmad sudah berpesan agar tidak terlalu memikirkannya, tapi tetap saja Syakirah terus memikirkannya sampai dia tidak bisa tidur. Dia masih belum percaya kalau Evan berbicara seperti itu kepada Ahmad, tapi dia juga bisa percaya karena saat Ahmad bicara tidak ada kebohongan sama sekali di mata dan wajahnya. Syakirah terus berusaha untuk menepis pikiran-pikiran negatif tentang Evan, tapi tetap saja dia kepikiran. Ingin memberitahu Kiya, takut jika Kiya tiba-tiba marah dan kecewa. Syakirah tadi juga sudah menghubungi teman geng motornya untuk mencari informasi tentang Evan dan Kiya saat dinner, Syakirah mau informasi itu secepatnya. Tapi tidak bisa, karena kedua geng motor tersebut bertolak belakang jadi akan lebih susah lagi dan membutuhkan waktu yang sedikit lama. Syakirah hanya bisa menunggu dengan sabar sampai waktunya informasi itu datang. Cemas yang ada di dalam hatinya juga semakin menjadi.
Bersambung......