Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Waktu satu tahun


__ADS_3

Kalau mau menikah setidaknya beritahu aku supaya aku tidak kecewa seperti ini. Kau pikir tidak sakit apa rasanya, rasanya hatiku tertusuk ribuan duri yang tajam. Bisa-bisanya dia menyembunyikan hal ini dariku. Mungkin kehadiranku tidak penting di hidupnya, selama ini yang dia urus kan Aisyah bukan aku. Ayolah Kiya, jangan membawa adikmu kecilmu yang tidak tahu apa-apa itu. Jangan bawa-bawa dia ke dalam masalahmu. Dia itu hanya tahu bermain saja, kau menjelaskannya beberapa kali pun dia hanya akan garuk-garuk kepala saja. Kenapa hidupku pahit sekali ya? Masalah keluarga, masalah percintaan, dan masalah hidup. Miris sekali rasanya, ingin mati saja aku rasanya. batin Kiya.


Tanpa Kiya sadari ada orang yang memperhatikannya. Orang itu padahal sudah duduk di kursi yang ada di depan Kiya.


Nih anak bisa nangis juga? Hati sedingin es, bisa nangis juga dia. batin orang itu yang tak lain adalah Evan. Sudah bisa di tebak dari gaya bicaranya.


"Galau bro? Sini cerita sama gue." ujar Evan yang membuat Kiya gelagapan. Kiya langsung menghapus air matanya dan Kiya melihat orang yang ada di depannya.


Cih! Kenapa harus dia sih?! batin Kiya kesal. Kiya langsung melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


"Hei Kiya, gue mau nanya nih. Kalau ulang tahun Syakirah, lo sama Wahyu ngerayain gak?" tanya Evan.


"Hmm." jawab Kiya dengan gumam'an.


"Biasanya siang atau malam?" tanyanya lagi.


"Sesuai selera." jawab Kiya singkat.


"Hah! Lo kok kayak orang gak niat jawab gitu sih!" ujar Evan kesal.


"Memang." jawab Kiya. Evan berdecak kesal mendengar jawaban Kiya.


"Kenapa kau ada disini? Kau mengganggu perkerjaanku saja!" ujar Kiya tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas.


"Inikan tempat umum, jadi siapa aja boleh kesini dong." jawab Evan. Kiya mendengus kesal.


"Kalau begitu aku yang akan pergi, hidupku rasanya mau mati jika berdekatan denganmu!" ujar Kiya sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Evan langsung mengambil laptop Kiya.


"Hei! Kembalikan barangku!" ujar Kiya emosi karena Evan telah mengambil laptopnya.

__ADS_1


"Gak usah pergi, duduk disini aja sama gue. Kalau lo duduk lagi, gue kembalikan laptop lo." ujar Evan. Kiya berdecak kesal tapi dia langsung duduk lagi. Kiya tidak meladeni Evan, dia lebih memilih untuk memberi nilai kertas ulangan dari pada berdebat dengan Evan. Evan sendiri masih memegang laptop Kiya tanpa mengembalikannya.


"Tadi kenapa lo nangis?" tanya Evan.


"Bukan urusanmu!" jawab Kiya acuh tak acuh.


"Urusan gue lah, orang yang berhubungan dengan Syakirah itu adalah urusan gue! Ngerti gak lo?!" ujar Evan. "Lagian kalau di pendam sakit tahu, lebih baik lo cerita. Barang kali gue bisa ngasih solusi." lanjut Evan lagi.


Kiya melihat Evan, matanya memancarkan keseriusan. Kiya tidak tahu apa yang ada di pikiran Evan sekarang, tidak mungkin hanya karena orang terdekat dengan Syakirah, Kiya mendapat perlakuan seperti ini. Geng motor Syakirah dan Aliya saja tidak mendapatkan perlakuan seperti ini. Kiya masih belum menyadari bahwa Evan menyukai dirinya, karena hati Kiya sedingin es. Jadi dia sulit untuk mengerti perasaan cinta atau bukan. Kiya menopang dagunya dengan tangan kanannya, lalu dia melihat ke arah kolam.


"Kakakku akan menikah 2 bulan lagi." ujar Kiya.


"Hah? Terus masalahnya ada dimana coba? Lo gak mau kakak lo nikah gitu?" tanya Evan.


"Bukan, aku mau kakakku menikah tapi... dia tidak memberitahuku kalau dia mau menikah, aku tahu ini pun bukan darinya tapi dari temanku langsung. Tahu-tahu kakakku sudah melamar perempuan saja." ujar Kiya sambil tersenyum getir. Dia menghirup nafas dalam-dalam, sebelum mengucapkan kata selanjutnya. "Dan saat kakakku sudah menikah, aku harus tinggal dengannya bukan dengan ayah dan ibuku lagi. Aku sangat tertekan dengan hal ini. Belum lagi aku harus mencari seorang pasangan dalam waktu satu tahun ini, jika tidak maka aku akan di jodohkan." lanjut Kiya lagi.


Hah? Apa? Harus cari pasangan dalam waktu satu tahun? Bisa sih tapi kalau lihat sifat Kiya kayaknya susah deh. batin Evan.


"Tidak ada. Aku hanya pasrah dengan keadaanku saat ini." jawab Kiya lesu.


"Umur lo berapa sih sebenarnya?" tanya Evan.


"Umurku baru saja 19 tahun." jawab Kiya.


Baru aja? Itu artinya dia habis ulang tahun dong? batin Evan.


"Terus? Lo harus nikah di umur berapa?" tanya Evan lagi.


"20 tahun." jawab Kiya.

__ADS_1


"Kenapa harus nikah di umur 20 tahun coba? Kan ada umur selanjutnya, kayak lo mau mati aja." ujar Evan heran.


"Aku juga tidak tahu." ujar Kiya.


Evan dan Kiya sama-sama terdiam, Evan juga tidak bisa memberikan saran untuk Kiya karena dia juga baru kali ini mendengar masalah seperti ini. Evan menatap Kiya yang sedang melamun.


Ada waktu satu tahun, dalam waktu satu tahun ini gue harus bukti'in ke diri gue sendiri. Apa gue suka sama Kiya apa nggak. Kalau gue suka, gue akan ambil dia. Tapi kalau nggk, Kiya harus nikah sama orang lain. Kasihan sih sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi. batin Evan.


"Siapa yang akan di jodohkan sama lo?" tanya Evan.


"Aku tidak tahu. Tapi kemungkinan besar umurnya akan jauh lebih tua dariku, bisa saja umurnya berjarak 7 tahun dari umurku." jawab Kiya.


Apa?! 7 tahun?! Gila apa ya! Emang cinta itu gak memandang umur tapi kalau jaraknya jauh kayak gitu, gue juga gak mau. batin Evan.


"Kenapa lo gak cari sendiri aja? Kan masih ada waktu satu tahun? Manfaatin lah." tanya Evan.


"Kakakku menawarkanku untuk bertemu dengan bosnya. Dia bilang bosnya masih berumur 20 tahunan dan umurnya sekitar umur kakakku, mungkin jika aku pikir-pikir umurnya adalah 23 tahun." jawab Kiya.


"Memang kakak lo kerja dimana coba?" tanya Evan.


"Perusahaaan Novanda." jawab Kiya. Evan terkejut mendengar ucapan Kiya.


Apa? Perusahaaan Novanda? Itukan perusahaan gue. Siapa kakaknya Kiya? Gue gak pernah dekat sama orang perusahaan gue. Gue cuma dekat sama sekretaris gue dan bang Rahman, selain itu gue juga gak deket sama siapa-siapa. batin Evan.


"Emang kalau gue boleh tau siapa nama kakak lo?" tanya Evan.


"Kak Rahman." jawab Kiya.


Duarr.

__ADS_1


Bagai tersambar petir saat mendengar nama kakak Kiya. Evan sampai diam kaku dan tidak bergerak sama sekali. Evan sangat terkejut sekali. Dan yang paling Evan terkejut lagi adalah, apakah Kiya tidak pernah tahu nama panjangnya. Perusahaan Novanda adalah perusahaan papanya. Dan nama panjang Evan adalah, Evan Arwien Novanda. Kiya tidak tahu tentang hal ini? Tentu saja bagi Kiya, Evan itu tidak penting karena Kiya baru mengenalnya juga.


Bersambung......


__ADS_2