
Ahmad berjalan menuju sofa. Dia duduk di kursi tunggal.
"Hei Kiya, Syakirah, sudah lama kalian tidak datang kesini."
Syakirah murung, sementara Kiya menatap Ahmad tajam. Seperti mau menerkam Ahmad. Begitu arti tatapannya.
Kenapa kak Kiya malah memanggil Ahmad sih? Ah sudahlah, mungkin ini juga akan mengujiku juga. ujar Syakirah dalam hati.
"Ya." hanya itu yang di jawab oleh Kiya.
Astaga, Syakirah kau tambah cantik sekali. Seharusnya aku tadi berdandan dan memakai parfum dulu supaya terlihat keren. Huh! Ini semua gara-gara aku terlalu takut tadi. ujar Ahmad dalam hati.
"Ahmad, aku ingin bicara berdua denganmu secara pribadi." ujar Kiya.
Glek
Ahmad benar-benar ketakutan untuk saat ini. Bagaimana bisa Kiya mengajaknya bicara berdua saja.
"Ya boleh. Kau mau kita bicara dimana?" tanya Ahmad biasa saja.
"Dimana saja. Yang penting sepi."
"Kalau begitu, ikutlah denganku."
Ahmad berdiri dan mulai berjalan. Kiya mengikuti Ahmad, tapi seketika Kiya berhenti saat Syakirah ikut dengannya.
"Syakirah tunggulah disini dengan kak Rani." ujar Kiya.
"Kenapa?"
"Aku ingin bicara berdua saja dengan Ahmad."
"Tapi… aku ingin ikut."
"Disini saja!"
"Baiklah."
Syakirah duduk kembali dan membiarkan Kiya pergi dengan Ahmad. Jauh di lubuk hatinya, dia sedikit khawatir.
"Kau tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa." Kak Rani menenangkan Syakirah.
"Apanya yang tidak apa-apa. Kak Rani tahu apa sih tentang kak Kiya!" jawab Syakirah ketus.
"Hei Syakirah. Kau tahu kata-kata mu itu menusuk sampai ke tulang-tulang ku."
__ADS_1
Syakirah tidak menggubris perkataan dari kak Rani. Lebih baik dia bermain dengan ponselnya dari pada bicara dengan kak Rani.
Sementara Kiya dan Ahmad sedang ada di belakang rumah Ahmad yang di tumbuhi beberapa tanaman. Mereka berdua duduk di bawah pohon mangga dengan jarak yang cukup jauh.
Mereka berdiam sesaat. Tidak ada yang membuka pembicaraan sama sekali. Mereka berdua fokus pada pikiran mereka masing-masing. Beberapa kali Ahmad melihat Kiya, begitupun sebaliknya. Ahmad menghela nafas.
"Aku tahu kedatanganmu datang kesini." ujar Ahmad memecahkan keheningan.
"Benarkah? Memangnya aku datang kesini untuk apa?"
"Kau ingin membahas tentang Syakirah kan."
Kiya tersenyum simpul menanggapi ucapan Ahmad. Ahmad akan peka sekali jika membahas tentang Syakirah.
"Apa kau tahu, Ahmad? Apa kau tahu betapa menderitanya Syakirah karena dirimu?"
Ahmad diam tidak menjawab. Dia tahu, dia salah. Tapi dia harus bagaimana, Syakirah saja menjauhinya. Lalu begaimana dia mau meminta maaf, bahkan Kiya saja juga melarangnya untuk bertemu dengan Syakirah. Dia pusing, dia ingin meminta maaf tapi banyak sekali orang yang menghalanginya.
"Berikan aku kesempatan, Kiya." ujar Ahmad.
"Kenapa aku harus memberimu kesempatan? Sementara kau telah menyakiti perasaan Syakirah begitu dalam."
"Beri aku kesempatan. Aku akan memperbaiki semuanya. Mulai awal sampai akhir."
"Kau pikir aku akan percaya. Tidak sama sekali. Kau dulu pernah aku beri kesempatan tapi kau menyia-nyiakannya. Kau ingat? Tiga tahun. Tiga tahun yang lalu, aku memberimu kesempatan tapi kau menyia-nyiakannya!" jawab Kiya dengan emosi.
Tiga tahun yang lalu…
Ahmad sedang menunggu Syakirah datang ke caffe untuk bertemu dengannya. Dia menunggu Syakirah sambil memainkan ponselnya. Ada pesan masuk ke ponselnya, dia segera membukanya dan mendapat'i Hanifa yang mengirimkan pesan kepadanya.
"Ahmad."
"Ada apa han?"
"Kau ada dimana?"
"Di caffe."
"Ngapain?"
"Nunggu Syakirah."
Yang di seberang sana sedang mengumpat kesal, karena Ahmad sedang menunggu Syakirah. Hanifa mencoba untuk meanghasut Ahmad.
"Ahmad, apakah kau tahu? Beberapa hari yang lalu aku melihat Syakirah berjalan dengan banyak lelaki setiap harinya. Berbeda-beda juga."
__ADS_1
"Itu tidak mungkin." Ahmad tidak percaya dengan pesan yang dikirimkan Hanifa.
"Percayalah, aku memiliki bukti." Hanifa mengirimkan beberapa foto ke Ahmad. Ahmad terkejut dengan foto yang dikirimkan Hanifa. Dia benar-benar melihat Syakirah sedang berjalan dengan beberapa lelaki, padahal Ahmad tidak tahu kalau itu adalah sepupu Syakirah dari ibunya Syakirah sendiri.
"Ahmad, maaf ya. Aku telat. Tadi di jalan sedikit macet."
Syakirah tersenyum sumringah melihat Ahmad. Tapi tidak dengan Ahmad, dia melihat Syakirah penuh kebencian.
"Syakirah, aku pikir kau itu perempuan baik, ternyata kau tidak sebaik yang aku kira." ujar Ahmad sedikit berteriak, bahkan ada pengunjung caffe yang sedang melihat mereka.
"Apa? Apa maksudmu? Aku tidak tahu apa yang kau maksud." tanya Syakirah polos.
"Dasar wanita j*l*ng!"
Setelah mengatakan itu, Ahmad pergi dengan amarah dan meninggalkan Syakirah begitu saja. Syakirah benar-benar terkejut mendengar Ahmad menyebutnya wanita j*l*ng. Dia benar-benar malu kepada para pengunjung caffe. Dia berjalan keluar caffe dengan cepat sambil menangis tersedu-sedu.
Saat sampai di rumah, Syakirah menceritakan semua kejadian di caffe kepada Kiya. Kiya yang mendengarkan cerita dari Syakirah, begitu sangat marah. Padahal dia sudah memberikan Ahmad kesempatan tapi Ahmad malah menyia-nyiakannya.
Aku tidak akan memaafkanmu Ahmad. Bagaimana bisa kau bilang kalau Syakirah adalah wanita j*l*ng. Aku tidak akan membiarkanmu bertemu dengan Syakirah tanpa seizinku. ujar Kiya dalam hati.
"Apa kau ingat itu Ahmad? Kau menyia-nyiakannya kesempatanmu."
"Aku tahu, Kiya. Aku tahu. Oleh sebab itu, tolong berikan aku kesempatan lagi."
"Bagaimana bisa kau memintaku untuk memberikanmu kesempatan lagi? Saat kau tahu foto yang dikirimkan Hanifa kepadamu dan laki-laki yang berjalan dengan Syakirah adalah sepupunya sendiri. Kau begitu sangat menyesal. Kenapa kau tidak bertanya kepada Syakirah dulu? Kenapa kau tidak menanyakannya langsung padanya? Siapa lelaki yang berjalan denganmu? Kenapa Ahmad? Kenapa!"
Kiya benar-benar sedang meluapkan emosinya saat ini kepada Ahmad. Ahmad diam tidak menjawab. Dia meremas rambutnya frustasi. Frustasi karena kebodohannya dulu. Bagaimana bisa dia begitu bodoh saat itu?
"Kiya, aku… "
"Cukup Ahmad! Sudah cukup, kau menyakiti Syakirah lagi! Carilah wanita lain selain Syakirah! Biarkan Syakirah bahagia!" Kiya berteriak ke Ahmad.
"Aku tidak bisa, Kiya. Aku tidak bisa. Aku sangat mencintai Syakirah, Kiya. Sangat sangat mencintainya!" Ahmad juga tak kalah berteriak.
Kiya menatap Ahmad sendu, bahkan pelupuk matanya sudah berair. Kiya memalingkan wajahnya agar air matanya tidak jatuh.
"Lalu kenapa? Lalu kenapa kau dulu menyia-nyiakannya, Ahmad?" ujar Kiya sendu.
"Aku akui dulu aku yang bodoh. Aku waktu itu terlalu cemburu, Kiya. Sampai aku lupa bahwa Hanifa sedang menghasutku." ujar Ahmad tak kalah sendu. Air matanya juga sudah memgumpul di pelupuk matanya. Dia tidak akan pernah bisa menahannya jika menyangkut Syakirah.
"Temui aku di tempat XX weekend ini jam tujuh malam. Kita akan menyelesaikan masalah kita nanti. Dimana aku akan memutuskan untuk membawa Syakirah atau tidak. Dan dimana juga kau akan merasakan penyesalan yang begitu dalam."
Setelah mengatakan itu, Kiya pergi meninggalkan Ahmad sendirian. Saat Kiya sampai di ruang tamu, dia langsung mengajak Syakirah pulang dan berpamitan kepada kak Rani. Akhirnya mereka berdua pun pulang.
Bersambung......
__ADS_1
Menurut kalian gimana sih karakteristiknya Ahmad dalam cerita tiga tahun yang lalu? Dan karakteristiknya Ahmad di cerita ini?
Komen di bawah ya… ^_^