
"Aku tidak tahu. Jika itu pilihan yang terbaik bagi Syakirah, aku hanya bisa membiarkannya. Aku juga masih sayang nyawaku. Lagi pula dia juga tidak memiliki teman selain teman lamanya itu, kalian sendiri juga tidak mau jadi temannya kan. Jadi terima saja kenyataannya. Aku akan mencoba untuk memberitahu Kiya baik-baik. Semoga dia tidak marah dan tidak melampiaskan kemerahannya kepada kalian."ujar Wahyu.
Mereka semua diam, merasa sangat bersalah. Rey menepuk pundak Wahyu, Wahyu menoleh menatap Rey dengan tatapan datarnya.
"Wahyu, aku tahu aku salah. Aku minta maaf. Aku menyesal telah melakukan ini kepada Syakirah. Aku sadar, Syakirah menghargai perasaanku dengan caranya sendiri. Aku terlalu egois karena memikirkan perasaanku sendiri. Aku mau kita tetap bersahabat lagi. Kita akan mencari Syakirah bersama-sama." ujar Rey mencoba untuk menyemangati Wahyu.
"Iya, itu benar. Ayo kita cari Syakirah bersama-sama." Ryan.
"Aku juga ikut andil dalam mencari Syakirah, karena aku juga terlibat juga. Oleh sebab itu, ayo kita cari Syakirah bersama-sama." Navile.
"Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara kalian tapi jika menyangkut masalah Syakirah aku tidak bisa diam." Ahmad.
Wahyu melihat satu persatu dari mereka, lalu tersenyum. Wahyu mengangguk kepada mereka.
"Pertama kita bicarakan ini kepada Kiya. Aku sudah membuat janji dengannya nanti malam. Nanti kalian ikut aku."
Mereka semua mengangguk, lalu berjalan ke ruangan mereka karena bel selesai istirahat sudah berbunyi.
***
Malam pun telah datang dan Evan sedang melihat laporan tentang perusahaan papanya. Evan adalah pewaris tunggal perusahaan papanya. Semua kakak-kakaknya sudah memiliki bisnis mereka sendiri, jadi Evan lah yang harus meneruskan perusahaan papanya.
Tok... tok... tok...
__ADS_1
Suara pintu ruangan Evan di ketuk, Evan menoleh dan menyuruh orang itu masuk. Saat orang itu masuk, Evan menatap mereka lekat.
"Jadi gimana?" tanya Evan.
"Lo pasti kaget jika melihat laporan ini. Gue juga gak tau ini beneran apa nggak tapi kemungkinan iya." ujar Roy.
Yang datang adalah Roy dan Thomas, mereka berdua adalah tangan kanan Evan. Tugas mereka adalah melaksanakan apa yang Evan suruh kepada mereka. Evan adalah ketua geng motor. Anggota geng motornya terdiri dari 30 orang dan satu ketua.
"Memangnya ada apa dengan orang itu? Apa dia menginginkan sesuatu? Apa dia pembunuh berdarah dingun? Atau gimana?" tanya Evan bingung. Roy menyerahkan berkas laporan itu kepadanya Evan.
"Lo baca sendiri, supaya lo percaya." ujar Roy.
Evan membuka berkas laporan itu, dia mulai membacanya. Evan langsung berdiri dari tempat duduknya saat membaca berkas laporan itu.
"Jadi itu Syakirah? Dan Syakirah sudah tahu kalau gue ada disini?" ujar Evan tak jawab percaya.
Evan duduk lagi di kursinya, melihat pelipisnya yang sedikit berdenyut. Dia baru saja sampai disini dan Syakirah sudah tahu.
"Lalu, kenapa informasi yang kalian berikan ke gue sedikit?" tanya Evan saat melihat ada 2 lembar kertas saja. Roy dan Thomas saling tatap.
"Sepertinya anggota geng motor Syakirah menutupi informasi tentang Syakirah. Gue gak berani mengorek lebih dalam informasi tentang Syakirah. Bukannya gue takut atau apa, kalau gue mengorek lebih dalam, kemungkinan besar akan terjadi perang lagi seperti dulu. Dan itu cukup 2 kali dan gak usah di ulangi lagi. Kita hampir kehilangan nyawa Azam waktu itu, jadi gue anggap ini pelajaran dalam hidup gue. Geng motor Syakirah terlalu kejam, jika anggota geng motornya sekejam itu, lalu begaimana dengan ketua geng motornya? Dan gue tau sendiri gimana Syakirah. Dia memang belum pernah membunuh tapi jika dia di suruh membunuh, dia pasti akan melakukannya." jelas Roy panjang lebar.
Saat Evan dan Syakirah menjalin hubungan, anggota geng motor mereka tidak setuju dan terjadilah tawuran 2 geng motor besar, tanpa diketahui oleh Syakirah dan Evan. Di lihat dari segi manapun geng motor Syakirah lebih unggul dari pada geng motor Evan. Karena saat mereka tawuran yang paling terluka parah adalah geng motor Evan, jadi di lihat dari manapun geng motor Syakirah lah yang menang. Tapi itu tidak membuat Evan dan Syakirah mengakhiri hubungan mereka, mereka hanya memberikan persyaratan kepada kedua geng motor mereka. Akhirnya kedua geng motor itu sepakat dan menyetujui syarat yang di berikan Evan dan Syakirah. Tapi tidak lama terjadilah tawuran lagi akibat kandasnya hubungan Evan dan Syakirah, bahkan hampir salah satu dari geng motor Evan kehilangan nyawa. Hanya Syakirah seorang yang menghentikan tawuran kedua geng motor, Evan sudah pergi dari sini dan Syakirah lah yang harus melerai mereka semua.
__ADS_1
Evan tersenyum dengan getir mengingat masa lalunya itu. Cukup kejam tapi asik, pikir Evan. Evan menatap kedua temannya ini.
"Jadi Syakirah sekarang ada dimana? Markas? Rumah?" tanya Evan.
"Dia gak ada di markas dan juga tidak ada di rumah. Dia tinggal di rumah temannya Aliya." jawab Thomas.
"Aliya?" ujar Evan bingung.
"Iya Aliya, teman Syakirah waktu SMP yang kebobrokannya kagak usah di tanya." ujar Thomas marah.
Jujur saja Thomas sangat benci dengan Aliya karena pernah di kerjai habis-habisan oleh Aliya. Saat itu Thomas tidak tahu jika Aliya adalah teman Syakirah, jadi dia iya iya saja. Dan sampailah saat mereka berdua di mall, Aliya di sapa oleh Syakirah dan tentu saja Thomas sangat terkejut dan marah.
"Hahahahaha. Sebenci itu kah lo sama dia?" tanya Evan dengan tawa yang menggema saat berhasil mengingat Aliya. Roy juga ikut tertawa.
"Sangat, sangat benci! Gue bener-bener benci dan gue harap gue gak akan pernah ketemu dia lagi!" ujar Thomas.
"Padahal waktu itu lo udah suka sama dia, tapi saat lo tau kalau dia teman Syakirah, lo langsung gak suka. Padahal waktu itu lo habisin duwit lo cuma gara-gara dia." ujar Roy.
Evan dan Roy masih saja tertawa, hanya Thomas yang memasang wajah kecutnya. Thomas bisa mengingat bagaimana Aliya meminta ini itu ini itu dan Thomas langsung menurutinya. Gue bodoh sekali, batin Thomas.
"Udahlah, Thom. Lo gak usah terlalu bernostalgia kayak gitu. Itukan masa lalu, yang kita lihat itu masa depan jadi lebih baik lo lupakan aja itu. Anggap kalau lo sedang menuruti kemauan adik lo." ujar Evan yang masih tertawa.
"Huh! Ck! Terserah!" Thomas.
__ADS_1
"Udah, udah. Jangan terlalu di pikirkan. Sekarang gue tanya sama kalian berdua. Syakirah sekarang masih ada nggak di rumah Aliya?" ujar Evan.
Bersambung......