
Pagi ini masih menunjukkan pukul enam pagi. Syakirah dan Kiya sedang menyiapkan perlengkapan mereka untuk ke Madura. Mereka akan menginap di rumah Abel empat hari lamanya. Karena empat hari itu adalah kesepatan antara Syakirah dan ayahnya, jadi mereka di Madura hanya empat hari saja.
"Kak, apa kita tidak membawa apa-apa untuk ke rumah Abel besok? Aku tidak enak jika tidak membawa apa-apa kesana." Syakirah.
"Tentu saja kita akan membawa sesuatu kesana. Tapi, kakak tidak tahu harus membawa apa? Rumah Abel jauh dari pasar, butuh waktu sekitar dua jam untuk ke pasar. Rumahnya juga jauh dari supermarket atau minimarket. Karena, memang rumahnya di perkampungan." Kiya.
"Iya juga sih, rumah Abel memang jauh dari segala tempat. Bagaimana kalau kita membeli sayuran dan buah untuk kesana? Kita juga harus pergi ke supermarket untuk membeli camilan saat disana!" Syakirah.
"Itu ide yang bagus, tapi kita harus menyelesaikan perlengkapan kita terlebih dahulu!" Kiya.
Syakirah dan Kiya sudah membereskan perlengkapan mereka untuk ke Madura. Selanjutnya, mereka akan pergi ke pasar dahulu untuk membeli beraneka ragam sayuran dan buah.
Syakirah dan Kiya memakai motor untuk ke pasar, karena jarak pasar lumayan dekat dengan rumah mereka. Mereka membutuhkan waktu kurang lebih lima belas menit untuk sampai kesana.
Saat sampai di pasar, Syakirah mencari tempat untuk memakirkan motornya. Di pasar boleh menggunakan motor untuk berkeliling, tapi tentu saja itu sedikit merepotkan karena jalannya yang cukup sempit, jadi mereka memutuskan untuk memakirkan motornya saja.
Setelah memakirkan motornya, Kiya dan Syakirah berjalan untuk mencari sayuran terlebih dahulu. Mereka menyusuri jalanan pasar yang lembab dan sedikit agak bau, meskipun begitu mereka tidak menghiraukan hal itu.
"Kita mau beli apa ya kak? Aku bingung sekali." Syakirah.
"Kita akan membeli wortel dulu, kau tahu kan kalau Abel sangat suka sekali dengan wortel." Kiya.
"Iya, dia suka sekali dengan wortel. Dia seperti kelinci. Kalau begitu kita cari wortel terlebih dahulu!" Syakirah.
Mereka mencari penjual wortel langganan mereka, karena harganya yang murah dan sayurannya juga masih sangat bagus dan segar.
Tak berselang lama, mereka sudah sampai di tempat langganan mereka. Mereka membeli wortel setengah kilo, mereka juga sedang mencari sayuran lain yang akan di bawa saat ke madura.
"Kira-kira kita mau membeli apa lagi ya? Kita hanya membeli satu sayuran saja dari tadi." Syakirah.
"Entahlah, aku tidak tahu apa yang harus kita beli, karena aku tidak pernah tahu Abel suka memasak apa?" Kiya.
Mereka berfikir sejenak untuk membeli sayuran lain selain wortel. Tak berselang lama, akhirnya mereka memutuskan untuk membeli kentang, kubis, sawi, jagung, tomat dan bawang bombay.
Mereka membeli satu kilo kentang , dua buah kubis yang ukuran sedang, tiga buah sawi, delapan buah jagung, satu kilo tomat dan juga setengah kilo bawang bombay.
Setelah mereka membeli bahan-bahan tadi, mereka memutuskan untuk kembali ke parkiran terlebih dahulu sebelum berkeliling lagi.
Mereka menitipkan barang belanja'an mereka ke tukang parkir dan setelah itu mereka pergi untuk berkeliling lagi.
"Kak, kita tidak mungkin kan membeli sayuran saja?" tanya Syakirah.
"Iya, kakak sudah memikirkannya. Kita akan membeli daging, ayam dan juga ikan." Kiya.
__ADS_1
Setelah Kiya mengatakan itu, mereka bergegas untuk mencari penjual daging. Tak berselang lama, akhirnya mereka menemukan penjual daging. Mereka membeli dua kilo daging.
Saat penjual daging tersebut sedang memotong daging mereka, ada seseorang yang memanggil nama Syakirah.
"Nak Syakirah yah?" ujar ibu tadi. Syakirah pun refleks menoleh ke arah ibu tadi. Dia sangat terkejut melihat ibu tadi yang tak lain adalah ibu kandung Ahmad, dan Syakirah juga melihat Ahmad yang berada di samping ibunya.
"Eh? Ada bu Wati. Assalamualaikum bu. Apa kabar bu? Sudah lama kita tidak bertemu." Syakirah mencium punggung tangan bu Wati dan di ikuti juga oleh Kiya.
Bu wati adalah ibu kandung Ahmad, harusnya Syakirah memanggilnya dengan sebutan tante atau budhe. Tapi, bu Wati melarangnya untuk memanggil itu karena umurnya yang sudah mencapai lima puluh tahun, dia juga sudah tidak muda lagi. Jadi, bu Wati menyuruh Syakirah untuk memanggilnya dengan sebutan ibu.
"Waalaikumsalam Syakirah. Kabar ibu baik, kamu sendiri juga bagaimana? Kamu baru saja keluar dari rumah sakit kan? Bagaimana keadaan kamu sekarang? " ibu Wati.
"Alhamdulillah, Syakirah sudah membaik bu." Syakirah.
"Alhamdulillah kalau begitu. Ibu tidak mau kalau sampai calon menantu ibu sampai sakit." ibu Wati.
"haha iya bu." Syakirah tersenyum canggung, karena mengingat dia bukan siapa-siapa Ahmad lagi. Sebenarnya dia cukup tidak enak dipanggil sebagai calon menantu, tapi dia juga tidak mau kalau ibu Wati sakit hati karena Syakirah tidak mau dipanggil calon menantu. Jadi, dia mengiyakan saja panggilan dari bu Wati.
"Nak Syakirah, ibu minta maaf ya karena tidak bisa menjenguk nak Syakirah saat sakit." ibu Wati.
"Iya bu tidak apa-apa, lagi pula Syakirah juga sudah sehat kok." Syakirah.
Syakirah melihat ke arah sampingnya, karena dari tadi dia tidak mendengar suara Kiya semenjak bertemu dengan ibu Wati. Saat dia melihat Kiya, Syakirah sangat terkejut. Kiya memasang wajah datarnya, dia juga melihat Ahmad dengan tatapan tidak bersahabat sama sekali. Ahmad juga sebaliknya, menatap Kiya dengan sikap dingin dan angkuhnya.
Ck, kenapa ya setiap ada Syakirah pasti disitu ada Kiya. Kenapa ya, Kiya selalu saja ikut dengan Syakirah?. Heran deh. ujar Ahmad kesal dalam hati.
"Nak Syakirah kok tumben ke pasar saat hari sabtu, biasanya kan hari minggu kalau nak Syakirah ke pasar?" tanya ibu Wati. Syakirah yang mendengar namanya disebut pun langsung menoleh.
"Iya bu, Syakirah sedang belanja untuk keperluan di Madura." Syakirah.
Ahmad langsung menoleh ke arah Syakirah, saat dia mendengar kalau Syakirah mau ke madura. Syakirah yang mendapat tatapan dari Ahmad langsung memalingkan wajahnya.
"Loh, jadi nak Syakirah mau ke Madura?" ibu Wati.
"Iya bu, Syakirah mau menginap ke rumah Abel dan juga mau liburan sebentar untuk menenangkan pikiran." Syakirah.
"Oh, kerumah nak Abel ya?" ibu Wati.
"Iya bu." Syakirah.
Syakirah melihat wajah bu Wati yang terlihat sedang ada masalah. Syakirah pun menanyakan keadaan bu Wati karena takut kalau bu Wati sakit.
"Ibu baik-baik saja? Ibu seperti terlihat ada masalah atau ibu sakit?" tanya Syakirah.
__ADS_1
"Eh, ibu tidak apa-apa. Ibu sedang memikirkan sesuatu." jawab bu Wati. "Nak syakirah, ibu mau ngomong sesuatu. Apa nak Syakirah mengizinkannya?" lanjut bu Wati.
"Iya bu, ngomong aja, tidak apa-apa." Syakirah.
"Kalau seandainya ibu berharap nak Syakirah adalah menantu ibu, apa tidak masalah?" tanya ibu Wati. Ahmad pun menoleh ke arah ibunya saat mendengar pertanyaan ibunya untuk Syakirah. Ahmad juga ingin tahu jawaban Syakirah tentang hal ini.
Syakirah sangat berfikir, dia bukan siapa-siapa Ahmad lagi tapi kenapa dia selalu dianggap lebih oleh keluarga Ahmad. Syakirah takut untuk menjawab pertanyaan dari ibu Wati, dia takut untuk menyakiti hati ibu Wati.
"Sya..." belum sempat Syakirah menjawab, penjual daging tadi sudah memanggilnya.
"Maaf mbk, ini dagingnya!" penjual daging tadi memanggil Syakirah dan Kiya. Syakirah pun mengambil daging tadi dan segera membayarnya.
"Maaf bu ya, sepertinya Syakirah harus pergi, soalnya masih banyak yang perlu disiapkan." Syakirah.
"Ah, iya tidak apa-apa. Kita bisa bicara lain waktu." ibu Wati.
"Kalau begitu, Syakirah pamit ya bu. Assalamualaikum." Syakirah.
"Waalaikusalam." ibu Wati.
Setelah berpamitan kepada Bu wati, Kiya dan Syakirah pergi untuk membeli ayam dan ikan.
Bu wati memperhatikan kepergian Syakirah dan juga Kiya. Dia menitikkan air matanya.
"Ahmad, boleh ibu berharap kalau nak Syakirah akan jadi calon pendamping hidupmu kelak?" tanya ibu Wati kepada Ahmad. "Ibu berharap lebih kepada nak Syakirah." lanjut ibu Wati.
"iya bu." jawab Ahmad singkat.
Setelah itu mereka pergi untuk pulang karena sudah selesai berbelanja. Sementara di sisi lain, Kiya sedang mengomeli Syakirah.
"Syakirah, jangan jadi wanita pengecut!" Kiya.
"Ya Allah kak. Aku tidak pengecut, aku takut kalau jawabanku akan membuat ibu Ahmad akan sakit hati. Dia itu sudah tua, aku takut kalau ucapanku akan membuat dia sakit nanti." Syakirah.
"Meskipun begitu kau harus tetap tegar Syakirah. Kalau kau seperti tadi, kau bisa dianggap lemah oleh Ahmad." Kiya.
"Iya kak, iya." Syakirah. Karena sudah tidak sanggup untuk menjawab ucapan Kiya, akhirnya Syakirah mengiyakan saja.
Mereka sudah sampai di tempat penjual ikan dan juga ayam. Mereka membeli setengah kilo Ikan mujair, setengah kilo Ikan lele dan juga sekilo ayam.
Setelah mendapatkan bahan-bahan mereka, mereka memutuskan untuk pulang dan membeli buah saat di supermarket saja. Karena, matahari yang sudah meninggi dan juga mereka sedang ada di pasar, yang udaranya tidak cukup baik untuk kesehatan.
Bersambung......
__ADS_1