
"Syaki, sebenarnya Clara baik-baik aja kok." ujar Evan ragu.
"Baik-baik aja? Kenapa lo bisa tau? Lo kan juga gak tau dia dimana." ujar Syakirah.
"Ceritanya panjang Syaki, aku gak bisa cerita sama kamu, rahasia soalnya. Kalau kamu pengen tau kamu tanya aja ke Roy." jelas Evan.
"Lah kok jadi tanya ke Roy? Roy tau dimana Clara?" Syakirah kebingungan.
"Maaf ya, Syaki. Aku gak bisa jelasin karena aku udah janji dengan Roy. Kalau kamu pengen tau, kamu tanya Roy aja tapi seminggu lagi, soalnya Roy lagi keluar negeri." jelas Nevan.
"Perasaan Roy tadi ada di jalan kok sama gue, kenapa sekarang keluar negeri?"
"Tadi Roy cuma ke markas sebentar buat pamitan sama temen-temen terus dia pulang lagi." Evan berbohong padahal Roy nanti malam berangkat bukan sekarang.
Syakirah bertambah cemberut mendengar ucapan Evan, Evan sendiri juga kebingungan menjelaskannya untuk Syakirah.
"Maaf ya, Syaki. Aku sendiri juga gak tau detailnya kayak gimana, soalnya cuma Roy yang tau." jelas Evan lagi berharap Syakirah bisa mengerti dengan apa yang dia ucapkan. Syakirah menghela nafas, dia tahu kalau Evan tidak tahu apa-apa tentang Clara.
Mereka berdua berbincang-bincang sangat lama, mulai membahas pekerjaan sampai membahas keluarga mereka masing-masing. Karena Evan ada pekerjaan yang lumayan penting, akhirnya mereka berdua pulang. Mereka berdua berpisah di perempatan lampu merah. Akhirnya Syakirah dan Evan pulang ke rumah mereka sendiri.
***
Malam pun telah tiba, seperti apa yang di katakan Wahyu ke Kiya kemarin. Wahyu dan Kiya sudah ada di depan rumah Aliya, Kiya memandangi rumah berlantai 2 itu dengan sangat seksama.
"Ini benar rumah Aliya? Kau tidak salah rumah kan, Wahyu?" tanya Kiya.
"Tidak. Ini memang rumah Aliya, lebih tepatnya rumah yang di berikan tunangannya." jelas Wahyu.
"Dia sudah bertunangan?" tanya Kiya heran, padahal setahu Kiya Aliya masih berumur 18 tahun.
__ADS_1
"Iya, dia mengikat hubungannya dengan pertunangan, bukankah itu lebih baik." Kiya mengangguk mengerti dengan ucapan Wahyu.
Mereka berdua akhirnya masuk ke halaman rumah Aliya, mereka mengetuk pintu rumah Aliya. Lama tidak ada jawaban akhirnya pintu pun terbuka. Terlihat wajah Syakirah yang membukakan pintu, Kiya langsung memeluk Syakirah dengan air mata yang menderai. Syakirah juga panik karena tiba-tiba Kiya datang dan langsung memeluknya. Kiya melepaskan pelukannya, dia menatap Syakirah lekat.
"Syakirah, kau dari mana saja? Kenapa menghilang tanpa kabar seperti ini? Kau pikir aku tidak khawatir apa?" tanya Kiya di sela isak tangisnya.
"Maaf sudah membuat kakak khawatir." lirih Syakirah.
"Syakirah, ayo pulang." ajak Kiya.
"Aku masih ingin ada disini, kak." tolak Kiya dengan halus.
"Syakirah, kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik. Kita akan menyelesaikannya bersama-sama, percayalah kepadaku." Wahyu angkat bicara.
"Bagaimana bisa aku percaya kepadamu sementara aku adalah perusak persaudaraanmu." jawab Syakirah dengan tegas.
"Syakirah, kakak tidak mau kau berubah seperti dulu jadi tolong mengertilah. Ini juga demi kebaikanmu." ujar Kiya. Syakirah sedih karena Kiya masih trauma dengan sifat Syakirah yang dulu.
"Lalu, bagaimana kalau keputusannya tetap akan berpisah?" tanya Syakirah dengan air mata yang menetes.
"Kau boleh memilih, Syakirah. Kau bisa kembali dengan geng motormu jika kau tetap akan berpisah tapi jika kau tidak berpisah, maka pilihannya juga ada di tanganmu. Kakak hanya ingin satu darimu, kakak tidak mau kau berubah. itu saja, tidak lebih." jelas Kiya.
"Aku tidak siap kak jika harus mendengar jawaban mereka." ujar Syakirah sambil memeluk Kiya.
"Ada kakak, Syakirah. Kakak akan selalu ada di sampingmu." jelas Kiya. Mereka berdua berpelukan cukup lama, sampai akhirnya Kiya melepaskan pelukan Syakirah.
"Kita semua akan membahas ini. Kita akan membahas ini minggu depan, jadi kakak harap kau datang. Kau boleh ada disini, menginaplah disini sampai kau bisa tenang." ujar Kiya lembut. Syakirah mengangguk.
"Apa kakak mau pulang sekarang? Kakak kan baru saja sampai, apa tidak mau mampir terlebih dahulu?" tanya Kiya.
__ADS_1
"Ujian tengah semester sudah tinggal beberapa minggu lagi, kakak juga harus menyelesaikan nilai ulangan harian anak-anak. Kakak tidak bisa mampir, Syakirah." jelas Kiya. Ada rasa kekecewaan di hati Syakirah.
"Jadi kakak mau langsung pulang?" tanya Syakirah lagi. Kiya mengangguk pasti dengan pertanyaan Syakirah.
"Ya sudah, kakak pulang dulu ya. Assalamualaikum."
"Iya, hayi-hati di jalan, kak. Waalaikumsalam."
Kiya dan Wahyu pergi dari rumah Aliya, memang mereka tidak berniat lama. Jika Syakirah setuju mereka akan pulang karena Kiya juga ada pekerjaan yang harus dia selesaikan sebelum ujian tengah semester. Baru 2 langkah mereka berjalan ada mobil sports yang berhenti di depan rumah Aliya. Wahyu tahu siapa pemilik mobil itu, tentu saja Evan. Sementara Kiya hanya menatap mobil itu datar. Saat Evan keluar dari mobil, Evan langsung memeluk Wahyu dengan sangat erat.
"Woi Wahyu, apa kabar? Udah lama ya kita gak ketemu. Gimana kabar lo? Pasti baik lah ya, malah tambah nambah cueknya." ujar Evan.
Sok kenal, Sok dekat. batin Wahyu.
"Kita udah bertemu beberapa hari yang lalu, jadi lo gak usah kayak orang gak ketemu satu abad!"
"Lo gitu amat sih sama gue."
"Cih!"
Wahyu berdecak kesal melihat kelakuan Evan, dari pada dia mendengarkan celotehan Evan yang tidak ada faedahnya sama sekali lebih baik dia masuk ke mobil Kiya. Wahyu pun juga sudah masuk di dalam mobil, tinggal Kiya saja yang belum. Kiya mengamati wajah lelaki yang di depannya ini dengan sangat datar.
Jadi dia yang namanya Evan itu? Kelakuannya sebelas dua belas dengan Ahmad, suka menyakiti hati wanita. Apa yang Syakirah suka dari dia sebenarnya? Tampan? Apa mungkin gara-gara dia tampan? Tapi Syakirah bukan tipe wanita yang memandang fisik. Kelakuannya bahkan sama bejatnya dengan Ahmad, hanya saja dia lebih bejat dari Ahmad. Syakirah, bagaimana bisa kau menjalin hubungan dengan lelaki seperti ini semua? Aku bahkan bisa mencarikanmu lelaki yang lebih baik dari pada mereka. Jika saja aku ibumu, sudah aku jodohkan kau dari dulu. batin Kiya.
Kiya menatap wajah Evan sangat datar, Evan sendiri sedang berdecak kesal karena Wahyu meninggalkannya begitu saja. Evan beralih menatap Kiya, Evan melihat tubuh Kiya dari atas sampai bawah.
Jadi ini yang namanya Kiya? Emang sih penampilannya sangat tertutup tapi bukan berarti kelakuannya kayak penampilannya kan? Gue udah tau gelagat dia, paling juga dia pakai baju gini buat gaya-gaya'an doang. batin Evan meremehkan Kiya.
Bersambung......
__ADS_1