
Clara berusaha untuk lebih tenang lagi meskipun hatinya sedang tidak karuan saat ini, apalagi setengah tubuhnya juga sudah telanjang. Dia takut tiba-tiba Roy akan menidurinya saat dia sudah terlelap nanti. Hati Clara sedang tidak karuan saat ini, ada rasa penyesalan saat Roy mengajaknya ke rumah dan menyuruhnya untuk berobat. Bagi Clara ini sama saja dengan menjual tubuhnya sendiri kepada Roy, karena Clara sudah berhutang uang dan budi kepada Roy. Tanpa Roy, tidak mungkin Clara akan hidup lebih lama lagi dan kakinya juga tidak akan sembuh sampai dia mati nanti. Setelah hati Clara sudah benar-benar tenang, akhirnya dia tidur di pelukan Roy, Roy juga demikian, dia tidur sambil memeluk tubuh Clara. Akhirnya mereka berdua tertidur setelah melakukan adegan setengah panas itu.
***
Jam menunjukkan pukul 7 pagi, Clara sedang ada di bawah terik matahari untuk mendapatkan vitamin D yang baik untuk kesehatannya saat ini. Clara berjemur sambil mengingat kejadian adegan setengah panas kemarin.
Apa yang sebenarnya ada di pikiran Roy sih?! Heran gue. Kalau kemarin gue gak nangis udah pasti lebih dari kemarin! batin Clara yang masih kesal.
Clara menutup matanya sambil mendongakkan wajahnya ke atas, wajah yang bersinar karena matahari sangat cantik sekali.
Cup
Satu kecupan manis di pipi kanan Clara, siapa lagi kalau bukan Roy pelakunya. Clara tetap memejamkan matanya tanpa memperdulikan Roy yang menjahilinya.
"Lara, ayo sarapan." ajak Roy, karena dari bangun tadi tidak makan apa-apa, hanya meminum air putih saja. Clara membuka matanya dan dia bisa melihat kepala Roy yang menutupi sinar matahari itu.
"Gue gak lapar, Roy. Gue masih kenyang." ujar Clara.
"Kenyang? Habis makan apa lo?" tanya Roy.
"Gak makan, cuma minum air putih aja." jawab Clara sambil memejamkan matanya lagi.
Tanpa pikir panjang lagi, Roy mendorong kursi roda Clara dan membawanya untuk berteduh di sebuah gubuk taman yang di bawahnya ada kolam ikan. Tiba-tiba pelayan datang sambil membawa makanan, mejapun sangat penuh dengan makanan dan minuman.
"Ayo makan." ujar Roy. Clara berdecak kesal.
"Gue gak lapar, Roy." tolak Clara.
"Ooh, gue tau. Lo pasti pengen kejadian malam kemarin lebih dari itu kan, makanya lo gak mau makan. Iya kan? Ngaku lo!" ujar Roy memojokkan. Clara melongo mendengar ucapan Roy, dia meleparkan sendok ke arah Roy tapi Roy dengan sigap langsung menghindar.
"Lo kalau ngomong jangan seenak jidat ya! Yang pengen kejadian semalam terulang lagi itu siapa coba?! Yang ada lo kali, bukan gue!" ujar Clara marah. Roy langsung tertawa mendengar ucapan Clara
__ADS_1
"Kalau bisa sih lebih dari itu." ujar Roy sambil mengedipkan sebelah matanya, menggoda Clara.
"Lakuin aja, besoknya gue pastiin kalau tubuh gue udah gak bernyawa lagi!" ancam Clara. Roy langsung berhenti tertawa dan melihat Clara dengan tatapan membunuh.
Eh? Kenapa dia lihat gue kok kayak gitu? Bener kan gue ngomong. batin Clara takut.
Roy langsung mendekati Clara dan menarik tubuh Clara ke dalam pelukannya. Roy memeluk Clara dnegan sangat erat, seolah-olah kalau Clara akan menghilang.
"Roy, lo kenapa?" tanya Clara bingung.
"Jangan pergi." lirih Roy.
"Hah! Emang gue mau pergi kemana coba?!" tanya Clara heran.
"Pokoknya jangan pergi. Lo harus janji sama gue."
"Lepasin gue, Roy! Sakit! Lo meluk gue terlalu erat!"
"Janji dulu."
Roy melepaskan pelukannya, lalu dia mengecup bibir Clara, hanya kecupan saja tidak lebih. Wajah Clara langsung merona malu karena para pelayan masih ada disini dan mereka melihat itu semua.
Kok bisa ya Roy biasa-biasa aja? Ini pasti bukan pertama kalinya buat dia. batin Clara.
Akhirnya mereka berdua pun memulai sarapan mereka, hanya ada dentingan sendok dan hembusan angin pagi.
***
Sementara di pabrik, Ahmad tidak fokus sama sekali dengan pekerjaannya saat ini, fokusnya saat ini hanya pada Syakirah.
"Wahyu, aku ingin berbicara secara pribadi denganmu. Ikut aku." ujar Ahmad.
__ADS_1
Ahmad pun keluar dari ruangan yang di ikuti Wahyu dari belakang. Mereka berdua pun berhenti di sebuah gudang pabrik karena tempat ini sangat sepi.
"Kau ingin bicara apa denganku?" tanya Wahyu. Perlakukan Wahyu dan ketiga temannya untuk Ahmad sudah berubah, mareka tidak lagi membenci Ahmad.
"Apa Syakirah balikan lagi dengan Evan?" tanya Ahmad lirih.
"Tunggu! Kau tahu tentang Evan dari mana? Kau kan tidak pernah berkenalan dengannya." tanya Wahyu heran.
"Kau tidak perlu tahu hal itu, kau harus menjawab pertanyaanku tadi." jawab Ahmad.
"Perasaan tidak, karena Evan tidak pernah cerita kalau dia balikan lagi dengan Syakirah. Syakirah juga tidak pernah cerita jika dia balikan lagi dengan Evan. Kenapa kau bertanya soal itu?" ujar Wahyu.
Ahmad pun menceritakan kejadian kemarin malam kepada Wahyu, tentang Evan yang menghadang dirinya dan memperingatinya untuk menjauhi Syakirah karena Syakirah adalah miliknya lagi.
"Huh! Ck! Jangan pernah pikirkan ucapan Evan! Dia emang kayak gitu dari dulu. Dia cuma menghasutmu agar kau menjauhi Syakirah dan tidak mengganggunya untuk mendekati Syakirah. Itu hanya akal-akalannya saja." ujar Wahyu saat Ahmad sudah selesai cerita.
"Apa benar begitu?" tanya Ahmad memastikan.
"Iya, benar. Jangan pikirkan hal itu. Tapi kenapa Evan ada disini? Syakirah kan masih ada di rumah Aliya. Tidak mungkin juga Syakirah pulang." ujar Wahyu heran.
"Aku juga tidak tahu, aku hanya melihatnya sendirian saja kemarin malam." ujar Ahmad.
"Ah, sudahlah, tidak usah di pikirkan. Aku sekarang ingin bertanya sesuatu hal yang sangat penting."
"Tanya apa?"
"Aku bingung sekali saat ini. Rey, Navile tidak tahu kalau Evan adalah mantan kekasih Syakirah, yang mereka tahu Evan adalah musuh geng motor Syakirah. Apalagi sebentar lagi ulang tahun Syakirah, aku yakin kita semuanya akan merayakannya bersama-sama. Dan aku yakin mereka bertiga pasti akan bertanya-tanya kenapa Evan repot-repot untuk menyiapkan ulang tahun Syakirah? Dan aku harus bagaimana? Apa aku jujur saja kepada mereka bertiga?" ujar Wahyu.
"Bukannya lebih baik kalau jujur saja ya? Dari pada terus berbohong yang akhirnya akan tahu juga." saran Ahmad.
"Kau enak sekali kalau bicara! Yang aku permasalahkan adalah, bagaimana caranya aku menjelaskannya kepada mereka agar mereka bisa paham? Aku memang sudah berniat untuk memberitahu mereka tapi aku bingung bagaimana caranya." ujar Wahyu panik.
__ADS_1
"Bicarakan saja secara baik-baik, aku yakin mereka bisa mengerti dengan posisinya waktu, aku dengar Syakirah berpacaran dengan Evan karena terpaksa, jadi jelaskan saja pada mereka seperti itu. Jelaskan saja hubungan Syakirah dan Evan mulai dari awal tanpa ada yang kau tutupi, dari pada kau terus berbohong seperti ini yang membuat hatimu tidak tenang." saran Ahmad.
Bersambung......