
Clara cukup menyesal dengan hilangnya ciuman pertamanya, padahal dia menjaga itu untuk suaminya kelak. Clara terus membuka mulutnya saat Roy menyodorkan makanan untuknya. Jujur saja, perutnya keroncongan minta di isi dari tadi tapi lidahnya terasa kelu saat ingin menyantap makananannya.
Clara, apa gue jatuh cinta lagi sama lo? Kayaknya iya. Ciuman pertama Clara udah gue ambil, harusnya Clara juga ngambil ciuman pertama gue juga tapi kayaknya itu gak mungkin. Clara, karena gue jatuh cinta sama lo lagi, lo akan terikat lagi dengan belenggu cinta gue. Gak peduli, saat lo hilang nanti gue akan cari lo sampai ke ujung dunia sekalipun. Lo harus mau menjalani hidup seumur hidup sama gue, semakin lo menolak belenggu cinta gue akan semakin kuat. batin Roy.
Clara sudah menghabiskan makanannya, Roy menyodorkan gelas berisi air putih kepada Clara dan menyodorkan obat agar Clara meminumnya. Setelah Clara makan dan minum obatnya, Roy beranjak dari duduknya.
"Roy." panggil Clara yang membuat Roy berhenti. Roy menaruh piring kotor itu di nakas dan duduk kembali di kursi tadi. Roy menatap Clara lekat.
"Apa?" tanya Roy. Clara ragu-ragu untuk berbicara tapi bagaimanpun Clara akan berbicara.
"Apa lo nyuruh gue buat bayar hutang gue dengan tubuh gue?" lirih Clara yang masih bisa di dengar Roy. Roy mengerutkan keningnya bingung.
Apa? Hutang? Tubuh gue? Maksudnya apa coba? batin Roy kebingungan.
"Maksud lo apa?" tanya Roy.
"Roy, lo udah bayar biaya operasi gue kan dan gue gak mungkin bisa lunasi itu dengan cepat. Bisa sih tapi mungkin butuh beberapa tahun lagi. Dan apa lo nyuruh gue buat bayar hutang gue dengan tubuh gue? Kalaupun iya lebih baik batalin aja operasinya. Gue gak mau di jadiin boneka." penjelasan yang diberikan Clara membuat Roy terkejut. Roy menunjuk kening Clara dengan jari telunjuknya.
"Bodoh!" Roy menyebut Clara bodoh. Clara yang mendapat hinaan dari Roy seperti itu langsung mengerucutkan bibirnya. "Gue gak pernah bilang kalau lo harus bayar hutang lo dengan tubuh lo. Gue juga gak pernah bilang kalau lo harus bayar hutang lo. Dan kenapa lo malah berfikir tentang itu?" tanya Roy. "Gue gak minta lo buat bayar hutang lo, La. Gue cuma minta satu hal dari lo. Dan kalau lo bisa penuhi permintaan gue ini, gue anggap hutang lo lunas." lanjut Roy.
__ADS_1
"Apa permintaan lo?" tanya Clara.
"Jangan pernah tinggalin gue!" jawab Roy dengan nada sedikit mengancam.
Apa? Kenapa? Kenapa lo malah minta permintaan yang itu? batin Clara bingung.
"Maksud lo apa, Roy?" tanya Clara yang tidak paham dengan ucapan Roy.
"Gue mau lo hidup seumur hidup sama gue."
Deg.
"Roy, gue masih gak ngerti sama ucapan lo." ujar Clara sambil garuk kepala yang tidak gatal.
"Huh! Ck! Dasar cewek gak peka!" Roy emosi saat Clara tidak peka dengan ucapannya. "Gue mau lo hidup sama gue, nikah sama gue, buat anak sama gue, jalani rumah tangga sama gue, pokoknya lo harus hidup sama gue dan gak boleh sama orang lain!" Roy menegaskan.
Deg.
Clara terkejut lagi dengan ucapan Roy. Clara tidak menemukan kata-kata untuk membantah Roy. Mana mungkin gue yang miskin ini menjalani hidup sama Roy yang kayanya gak bisa di hitung lagi, pikir Clara.
__ADS_1
"Roy, gue gak tau apa maksud lo sebenarnya. Tapi kenapa gue harus hidup sama lo? Gue ini cuma cewek miskin yang hidup serba kekurangan, itu dulu sekarang gue cuma cewek sederhana yang serba berkecukupan. Gak ada cantik-cantiknya, gak ada manis-manisnya dan lo minta gue buat hidup seumur hidup sama lo? Itu gak mungkin Roy. Gue gak sepadan sama lo. Lo itu anak orang kaya sementara gue itu cuma anak terlantar, di lihat dari segi manapun gue gak sepadan sama lo. Jangankan di lihat dari segi materi, di lihat dari penampilan aja kita udah beda jauh." jelas Clara. Clara sadar diri jika dia adalah anak terlantar. "Roy, lo itu anak orang kaya, lo ganteng, pasti semua cewek juga mau sama lo. Lo harus menikah dan menjalani rumah tangga dengan cewek yang sepadan sama lo, bukan sama cewek miskin kayak gue. Perlu lo garis bawahi, Roy. KITA INI BEDA." Clara menekankan kata beda dalam kalimatnya.
Roy sangat tidak suka dengan ucapan Clara. Roy terlihat menahan emosi mendengar ucapan Clara.
"Gue gak mau tau. Mau gak mau, suka gak suka, senang gak senang, bahagia gak bahagia, lo harus tetap hidup seumur hidup sama gue!" Roy mencoba untuk menahan emosinya yang mau keluar.
"Gue gak bisa, Roy." lirih Clara.
Praaang.
Piring dan gelas yang ada di nakas seketika pecah, Clara sangat terkejut sekali. Clara menundukkan kepalanya, tidak mau menatap Roy yang sedang emosi, takut sekali dia rasanya. Saat Clara menunduk, Clara bisa melihat darah segar sedang bertetesan di lantai tapi Clara tidak mau membantu Roy karena takut. Clara meremas ujung baju piyama yang dia kenakan saat ini. Roy tiba-tiba saja mencengkerah dagu Clara sangat keras, Clara meringis kesakitan. Clara bisa melihat darah segar sedang bercucuran di tangan Roy. Roy mengangkat dagu Clara agar Clara bisa melihat wajahnya. Clara bisa melihat dengan jelas tatapan amarah Roy.
"Gue gak mau tau, Clara! Lo harus mau menjalani hidup dengan gue! Kalau lo gak mau, maka teman-teman lo yang akan kena imbasnya juga. Lo tau kan kalau gue udah mengeluarkan bodyguard terbaik dari gue? Semuanya akan hancur tanpa sisa, bahkan bisnis-bisnis orang tua teman lo itu!" ujar Roy lirih yang penuh dengan emosi. "Lo udah terbelenggu dengan cinta gue lagi, Clara. Jadi gue gak akan pernah lepasin lo gitu aja. Gue cinta sama lo, Clara." lanjut Roy.
Clara menangis tersedu-sedu karena kesakitan raga dan juga hatinya. Dia tahu bagaimana dia dulu terikat dengan belenggu cinta Roy, dia bahkan tidak bisa bergerak sedikitpun. Clara mengingat kenanganya dengan sangat jelas sekali. Roy melepaskan cengkeraman tangannya dari dagu Clara sangat kasar.
"Jangan pernah lo melanggar, Clara! Lo udah tau gimana rasanya saat terbelenggu sama cinta gue kan? Jadi jangan pernah coba-coba buat lari karena saat lo lari, yang kena imbasnya adalah orang terdekat lo! Pegang kata-kata gue, gue gak main-main kali ini!" setelah mengucapkan kata itu, Roy pergi meninggalkan Clara yang sedang menangis tersedu-sedu.
Bersambung......
__ADS_1