
Ahmad sudah sampai di Bandung, dia sedang berada di supermarket. Perutnya terasa sangat perih, bekal yang di berikan kak Rani tidak dia sentuh sama sekali olehnya. Dia masih tidak nafsu makan.
"Syakirah, dimana kamu?" gumam Ahmad.
Ahmad melanjutkan perjalanan untuk mencari Syakirah. Berdasarkan lacakan Ahmad, Kiya sedang berada di sebuah perumahan, tapi Ahmad tidak tahu dengan pasti.
***
Saat sudah sampai, tiba-tiba ponsel Ahmad berdering menandakan ada panggilan. Ahmad mengangkat panggilan tersebut.
"Ya, halo." ujar Ahmad.
"Ahmad, dimana kau? Apa kau tidak bekerja sekarang?" ujar di seberang sana.
"Aku sudah mengirimkan surat izin bukan kalau aku tidak masuk kerja."
"Ahmad, hari ini ada meeting dengan CEO pabrik. Kau seharusnya ada disini sekarang."
"Aku tidak bisa. Aku sedang ada di Bandung sekarang."
"Jika tidak ada yang penting pulang saja."
"Ini sangat penting. Aku tidak mungkin pulang begitu saja."
"Ahmad, sekarang pulanglah dan datang ke pabrik. CEO sedang menunggu mu."
Tut…
Panggilan telpon terputus. Ahmad berdecak sangat kesal. Dia sedang mencari Ahmad, sementara saat ini di pabrik ada meeting penting.
Ahmad kembali berfikir. Apakah dia harus pulang? Atau dia harus meninggalkan pekerjaannya demi Syakirah? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepala Ahmad.
Ahmad menghungi kak Rani.
"Ahmad, kenapa baru aktif?" tanya di seberang sana.
__ADS_1
"Aku mematikan ponselku agar baterainya tidak cepat habis, kak." ujar Ahmad.
"Ahmad, tadi ada salah satu temanmu datang kesini. Dia mengatakan kalau ada meeting penting di pabrikmu."
"Iya, kak. Dia juga baru saja menghungiku. Aku bingung sekarang ini. Apakah aku harus pulang atau aku harus meninggalkan pekerjaanku?"
Tidak ada jawaban di seberang sana. Kak Rani diam tidak menjawab, dia juga sedang bingung sama seperti Ahmad.
"Ahmad."
"Ya?"
"Sekarang pulanglah. Kita lanjutkan pencarian Syakirah di hari lain."
"Apa? Apa kak Rani sudah gila?! Aku baru saja sampai di Bandung! Dan aku yakin aku akan segera menemukan Syakirah."
"Ahmad, aku tahu. Tapi mencari Syakirah tidak semudah yang kau kira. Aku yakin sekarang ini Kiya sedang menyembunyikan Syakirah. Kita tidak bisa meremehkan Kiya begitu saja. Kita harus punya rencana yang cukup matang. Aku tidak mau ada resiko lagi di setiap perbuatan yang kita lakukan."
"Tapi, kak… "
"Sekarang pulanglah. Kita akan memikirkan caranya nanti."
Tut…
"Syakirah, aku ingin kita cepat bertemu. Aku tidak mau kehilanganmu lagi." gumam Ahmad.
Tanpa Ahmad sadari, ada pesan dari seseorang yang sangat penting yang belum dia baca. Dia tidak menyadari pesan itu dan hanya memikirkan Syakirah saja, padahal pesan itu juga dari orang yang dia pikirkan.
***
Syakirah sedang membuat kue untuk dia jual, sementara Kiya dan Wahyu sedang membuat es buah untuk mereka jual juga.
Apa Ahmad benar-benar tidak mencariku? Aku yakin dia pasti mencariku. Dia tidak mungkin kan tidak mencariku? Ayolah Syakirah memangnya kau itu siapanya Ahmad sampai kau berfikir seperti itu? Kau itu hanya mantan kekasihnya, bukan kekasihnya. Ayo sadarkan dirimu, Syakirah. batin Syakirah mengutuk dirinya sendiri.
Syakirah hanya melamun saja, adonan yang dia buat hanya dia aduk saja tanpa melakukan apapun ke adonan itu.
__ADS_1
Kiya datang untuk membantu Syakirah, tapi saat dia lihat Syakirah hanya melamun saja. Kiya menghela nafas lelah, sepertinya dia tahu apa yang di pikirkan Syakirah sekarang ini
"Tidak perlu berharap lebih kepadanya. Jika dia masih sayang, dia pasti akan mencarimu. Kau bilang dia akan datang, sekarang mana? Dia bahkan tidak menelponku sama sekali. Syakirah, aku tidak tahu terbuat apa hatimu itu. Kau terlalu baik kepada Ahmad. Kau itu sudah banyak disakiti olehnya. Kenapa kau masih saja memikirkannya? Kalau aku boleh memilih antara Ahmad dan Rey, tentu saja aku pilih Rey. Rey itu cukup bertanggung jawab dari pada Ahmad. Sewaktu kau pacaran dengannya, dia tahu kau tidak mencintainya tapi dia berusaha agar kau bisa mencintainya. Dia bahkan tidak menyerah seperti lelaki pada umumnya. Di bandingkan dengan Ahmad, Rey lebih baik. Ck ck ck, aku memikirkannya saja sudah membuatku naik darah. Carilah lelaki yang bertanggung jawab. Jangan seperti Ahmad, habis menyakiti tiba-tiba pergi. Dia itu lelaki b*j*ng*n." gerutu Kiya.
Syakirah diam tidak menjawab ucapan Kiya. Dia tahu meskipun dia menjawab, jawaban kakaknya lah yang akan menjadi penentunya.
"Syakirah, kau dengar tidak?" tanya Kiya berdecak kesal.
"Aku mendengarnya, kak."
"Kenapa kau diam saja?"
"Percuma juga aku menjawab, kakak tidak akan pernah setuju dengan jawabanku. Kak, aku juga tidak tahu kenapa aku baik dengan Ahmad. Aku juga ingin mencari laki-laki lain, tapi hatiku selalu tidak nyaman jika dekat dengan lelaki lain, kecuali sahabat dan Ahmad atau keluarga dan sepupu. Harusnya aku minggu depan ada pertemuan dengan dokter psikiater, tapi karena aku sedang ada disini jadi tidak jadi. Dan aku juga sudah membatalkannya. Kakak pikir itu semua karena siapa? Tentu saja karena kakak." ujar Syakirah.
"Syakirah, aku tahu kau ingin sekali menantangku. Tapi perlu kau ingat! Aku melakukan ini semua demi dirimu. Aku tidak mau kau terus tersakiti seperti ini. Kau masih beruntung karena ini masih aku, bagaimana kalau sampai kak Rahman yang melakukannya? Aku berani bertaruh seratus persen kalau Ahmad akan masuk rumah sakit dan akan keluar dari sana sangat lama. Bersyukurlah karena ini masih aku."
Syakirah menghela nafas. Dia meletakkan adonannya lagi.
"Sudahlah, kak. Kakak lanjutkan saja semua ini." ujar Syakirah sambil meninggalkan dapur.
"Apa? Apa kau pikir bisa membuat ini?! Syakirah! Syakirah!" teriak kak Rani, tapi Syakirah tidak menggubrisnya, dia lebih memilih ke kamarnya dari pada berdebat dengan kakaknya itu.
"Harusnya kau tidak perlu memaksanya." ujar Wahyu yang tiba-tiba datang. Wahyu mendengarkan perdebatan Syakirah dan Kiya mulai awal sampai akhir.
"Apa?! Apa kau mau membela Ahmad juga?! Kalian sama saja!" Kiya meninggalkan dapur juga. Kesal melihat Wahyu.
"Ck. Harusnya tadi aku tidak ikut campur. Aku tahu Kiya sangat gila jika sudah menyangkut Syakirah. Ahmad, kenapa kau juga sangat bodoh?! Kau itu harusnya sadar siapa orang yang ada di belakang Syakirah, yang melindungi Syakirah. Ck! Syakirah dan Kiya yang punya masalah, kenapa aku yang pusing?! Sudahlah, aku keluar saja mencari udara segar. Persetan dengan mereka berdua tidak ada gunanya juga."
Akhirnya Wahyu keluar dari kontrakkannya itu meninggalkan Syakirah dan Kiya. Seharusnya mereka sudah berjualan, tapi karena bertengkar jadi tertunda.
Bersambung......
***
Happy eid mubarak🙏🏻
__ADS_1
Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1-2 Syawal 1142 H. Minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin🙏🏻🙏🏻
Author minta maaf ya sama kalian, kalau author punya salah dan pernah khilaf ke kalian🙏🏻 Karena Author juga manusia biasa seperti kalian yang tidak luput dari kesalahan. 🙏🏻