Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Perjalanan yang penuh dengan kenangan


__ADS_3

Pagi ini menunjukkan pukul lima pagi. Syakirah dan Kiya sudah bersiap-siap untuk perjalanan ke Madura.


"Syakirah, sudah siap semuanya?" ibu Syakirah bertanya.


"Udah bu." jawab Syakirah.


"Hati-hati nanti waktu dijalan. kalau merasa lelah berhenti sebentar untuk istirahat." ibu Syakirah.


"Iya bu." Syakirah.


Syakirah dan Kiya pamit kepada kedua orang tuanya dan meminta do'a agar mereka selamat sampai tujuan. Setelah itu mereka memulai perjalanan mereka.


Mereka menyusuri jalan raya yang ramai oleh kendaraan bermotor dan juga kendaraan bermobil.


"Syakirah, seandainya penjual daging tidak memanggil kita, apa jawabanmu terhadap ibu Ahmad?" Kiya bertanya kepada Syakirah secara tiba-tiba.


"Entahlah kak. Sebenarnya waktu itu aku juga bingung. Tapi, aku mau menjawab jika aku dan Ahmad memang berjodoh, maka aku akan menerimanya. Itu saja."


"Hmm, begitu ya."


"Memangnya kenapa?"


"Syakirah, sebenarnya kau harus tahu soal ini!"


"Soal apa?"


"Kau tahu, sebenarnya Ahmad masih mencintaimu, hanya saja dia takut untuk mengungkapkannya. Karena, dia pernah menyakiti mu dulu."


"Hah! Apa yang kakak bicarakan itu tidak benar!"


"Syakirah, jika Ahmad tidak mencintaimu tidak mungkin dia membela mu saat kau berhadapan dengan Hanifa!"


"Kak, itu karena Hanifa yang salah. Oleh sebab itu, Ahmad membelaku!"


"Sepertinya kau harus tahu sendiri. Percuma aku memberitahumu, kau tidak akan percaya sama sekali."


"Tahu soal apa?"


"Suatu hari kau akan tahu."


Syakirah sangat berfikir keras untuk memahami ucapan dari Kiya. Sebenarnya apa yang harus dia ketahui? Apalagi soal Ahmad. Memangnya ada apa dengan Ahmad? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya.


***


Sekitar delapan jam berlalu, akhirnya Syakirah dan Kiya sampai di Madura. Mereka sudah sampai di Jembatan Suramadu. Jembatan yang memiliki panjang sekitar lima ribu empat ratus tiga puluh delapan meter. Orang yang melihat jembatan ini pasti akan takjub, karena jembatan ini terletak diatas laut dan juga mereka bisa melihat pemandangan laut saat berkendara.

__ADS_1


Syakirah mematikan AC mobil dan membuka jendela mobilnya. Kiya pun juga melakukan hal yang sama. Mereka menikmati angin yang berhembus sambil tersenyum senang. Tidak menyangka mereka akan sampai di Pulau Madura berdua saja, padahal dulu mereka selalu datang bersama-sama.


"Kak, kenapa kau menangis?" Syakirah bertanya kepada Kiya, saat dia melihat kakaknya tiba-tiba menangis.


"Sepertinya, Pulau ini akan menjadi kenangan saat kita melewati ini berdua saja." jawab Kiya.


"Hm? Kenapa kakak berfikir seperti itu?" tanya Syakirah kebingungan.


"Kau tidak ingat Syakirah? Lima tahun. Lima tahun yang lalu, kita melewati perjalanan ini semua bersama-sama. Bersama mereka dan sekarang kita hanya melewati ini sendiri. Lalu tiga tahun. Tiga tahun yang lalu, kita melewati perjalanan ini semua dengan temanmu, dengan sahabatmu. Sepertinya, perjalanan ini penuh dengan kenangan. Perjalanan yang dimana kau merasakan yang namanya bahagia dan juga merasakan kesedihan sekaligus."


Syakirah begitu tahu apa yang diucapkan oleh Kiya, sangat sangat paham sekali. Dia juga merasakan hal yang sama. Perjalanan yang membuatnya bahagia sekaligus yang membuatnya merasa sangat sedih.


Flashback on


Saat Syakirah berumur tiga belas tahun, dia berlibur ke Madura. Dia berlibur tidak sendirian, dia ditemani oleh Ahmad, Kiya, kak Rani, kak Rahman dan juga teman-teman Ahmad dan Kiya. Tujuan mereka sama, yaitu ke rumah Abel dan menginap disana.


Mereka mengunjungi Bukit Kapur Arosbaya di daerah Bangkalan, Kolam Renang Goa Pote di daerah Bangkalan dan beberapa tempat lainnya.


Saat mereka sedang ada di Bukit Tinggi Daramista di daerah sumenep. Ahmad mengungkapkan perasaannya kepada Syakirah. Saat itu tidak ada siapapun hanya mereka berdua saja.


"Syakirah, aku menyukaimu." Ahmad mengungkapkan perasaannya kepada Syakirah secara tiba-tiba. Syakirah sangat terkejut dengan ucapan Ahmad baru saja. Antara percaya dan terkejut menjadi satu.


"Ahmad, apa yang kau katakan?" tanya Syakirah tak percaya.


"Apa pendengaranmu sedang bermasalah?" tanya Ahmad balik.


"Aku bertanya balik padamu, karena kau seperti tidak mendengarkan ucapanku."


"Aku mendengarnya. Aku bertanya seperti itu karena aku terkejut dengan ucapanmu!"


"Begitu ya, kalau begitu aku ulang lagi ucapanku. Aku menyukaimu Syakirah."


"Apa kau serius? Apakah kau tidak melihat umurmu? Baru juga masuk sekolah SMP, masa udah ngungkapin perasaan cinta?" Syakirah tetap tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Itu artinya cinta monyet Syakirah. Kau polos sekali."


"Lalu?"


"Dari pada kau bertanya seperti itu, lebih baik kau jawab ungkapan cintaku!"


"Hah! Jadi aku harus menjawab pertanyaanmu dengan 'ya' atau 'tidak' begitu?"


"Tentu saja."


"Entahlah, aku tidak tahu."

__ADS_1


"Apa kau masih tidak yakin dengan perasaan cintaku, Syakirah?"


"Bukannya tidak yakin, tapi kita terlalu dini untuk menjalankan suatu hubungan!"


"Jadi kau menolakku, begitu?"


"Beri aku waktu untuk menjawabnya. Aku tidak mungkin langsung menjawabnya!"


"Baiklah, aku akan memberimu waktu. Kau harus menjawab pertanyaanku saat kita sudah sampai dirumah!"


"Ya, terserah."


Setelah Ahmad mengungkapkan perasaan cintanya pada Syakirah. Ahmad mengajak Syakirah untuk berjalan-jalan lagi. Dan jangan lupakan juga, Syakirah juga menerima Ahmad saat dia sampai dirumah. Sebenarnya dia juga menyukai Ahmad, hanya saja dia pura-pura tidak menyukai, karena dia sangat malu.


Flashback off


Syakirah tersenyum mengingat masa lalunya itu. Dia mendapat kebahagian saat dia menerima cinta Ahmad, tapi juga mendapat kesedihan saat dia mengakhiri hubungannya.


Syakirah menghela nafas berat. Kiya tahu apa yang dipikirkan Syakirah, dia juga ikut prihatin melihat Syakirah yang merasakan patah hati.


"Perjalanan yang penuh dengan kenangan." setelah mengatakan itu Syakirah tersenyum.


"Memang. Perjalanan yang penuh dengan kenangan. Perjalanan dimana kita mendapat kebahagian dan kesedihan sekaligus. Aku harap kau melupakannya Syakirah!"


"Aku selalu mencobanya, tapi semakin aku mencoba semakin besar pula cintaku padanya."


"Aku pernah dengar, banyak sekali orang yang mengatakan, kalau cinta pertama jarang sekali bisa dilupakan. Aku pikir itu hanya pemikiran manusia saja, ternyata ada yang membuktikannya, yaitu kau Syakirah."


"Aku... terlihat tidak normal seperti wanita lain." Kiya yang mendengar ucapan Syakirah begitu sangat terkejut. Bagaimana bisa adiknya ini bicara begitu?


"Jangan bicara begitu! Aku tidak suka mendengarnya!"


"Tapi, memang begitu bukan kenyataannya. Aku tidak bisa melupakannya, padahal dia sendiri yang membuatku sakit hati."


"Kau itu wanita normal! Aku yakin kau akan melupakannya nanti, hanya saja memang proses untuk dirimu itu lebih lama. Move on itu butuh proses yang gak bisa di protes. Kalaupun ada, berarti orang tadi tidak pernah merasakan yang namanya move on." Kiya tetap tidak terima dengan ucapan dari Syakirah tadi.


"Kau benar kak, aku juga yakin kalau aku bisa melupakannya."


"Kau tidak sendiri Syakirah, ada aku dan juga teman-teman kita yang selalu mendampingi kita. Jadi, jangan pernah berfikir seperti itu!"


"Iya kak, terima kasih ya atas semangatnya." Syakirah tersenyum mendengar ucapan sepupunya ini. Dia begitu beruntung memiliki sepupu seperti Kiya.


Syakirah melanjutkan mengemudinya dengan canda dan tawa, tidak seperti tadi yang di iringi dengan kenangan.


Syakirah berhenti di Masjid pinggir jalan karena Syakirah dan Kiya belum menunaikan ibadah sholatnya. Dan kebetulan juga, kalau adzan ashar sudah berkumandang. Syakirah dan Kiya menjamak sholatnya, karena sewaktu adzan dhuzur mereka tidak menemukan mushola sama sekali.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2