Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Panti asuhan ( Part 3 )


__ADS_3

"Kak Syakirah namanya kepanjangan, aku panggil kak Syaki aja ya?"


Deg.


Hati Syakirah serasa berhenti mendengar panggilan untuknya. Seketika Syakirah ingat panggilan itu, panggilan itu adalah panggilan yang sering di sebut oleh seorang laki-laki. Sudah sekitar 1 tahun laki-laki itu tidak ada kabar sama sekali. Syakirah sendiri juga tidak mencari tahu tentang laki-laki itu. Mengingat laki-laki itu membuat hati Syakirah berdenyut nyeri. Dia bisa mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Rasanya Syakirah ingin menangis sekarang ini.


"Kak! Kak Syakirah! Kak Syakirah! Kok diem sih, kak!" panggil anak-anak itu sambil mengoyangkan tubuh Syakirah.


"Eh? Eh? Iya? Apa?" jawab Syakirah gelagapan.


Mereka mengingatkanku kepada dia. batin Syakirah.


"Itu kak, Nama panggilan kakak apa?"


"Nama panggilan kakak itu kak Irah, jadi kalian kalau manggil kak Irah saja ya."


"Oke, kak."


Semua anak-anak mendekat ke arah Syakirah dan duduk di depan Syakirah. Mereka semua terus menatap Syakirah, yang di tatap juga merasa bingung. Syakirah meraba wajahnya, mungkin ada sesuatu yang menempel di wajahnya makanya anak-anak itu melihatnya.


"Kenapa kalian lihat kakak seperti itu? Apa ada sesuatu di wajah kakak?" tanya Syakirah sambil meraba wajahnya. Mereka menggelakan kepala dengan cepat.


"Nggak, kak." jawab mereka serempak.


"Terus kenapa kalian lihat kakak seperti itu?"


"Soalnya kak Syakirah cantik." jawab salah satu dari mereka semua.


"Kalian juga cantik kok."


"Nggak, kak. Kita ini gak cantik seperti kak Syakirah. Kulit kakak putih, lihat deh kulit aku item aku juga agak gemuk juga." jawab anak perempuan yang masih duduk di bangku SD kelas 3.


"Hei, gak boleh bicara seperti itu. Dengarkan kak Syakirah baik-baik ya. Cantik itu gak harus putih, tapi... " Syakirah menunjuk ke arah jantung hatinya.


"Tapi... dari sini. Kalau hati kita cantik, bersih dan kita gak pernah dendam atau benci sama seseorang maka wajah kita juga akan cantik, seperti hati kita." jelas Syakirah.


"Aku punya temen kak. Dia itu cantik banget, tiap hari dia di antar ke sekolah naik mobil. Dia cantik tapi dia sombong, kak. Buktinya dia sombong dia juga cantik."


"Kita gak boleh menjelekkan tubuh kita sendiri. Kita harus bersyukur masih di beri organ tubuh yang lengkap sama Allah. Lihat deh, terkadang ada anak yang organ tubuhnya kurang lengkap, seperti tangan, kaki dan lain-lain. Tapi mereka gak pernah menjelekkan tubuh mereka, malah mereka mensyukuri hal itu karena itu juga atas pemberian Allah. Memangnya kalau tubuh kalian seperti itu kalian mau menyalahkan Allah? Itu gak baik. Allah menciptakan kita itu berbeda-beda supaya kita dapat belajar satu sama lain. Contohnya kamu dan teman kamu yang kamu katai sombong itu. Kamu juga harus mengingatkan dia supaya dia tidak boleh sombong. Begitu pula kamu, kamu gak boleh jadi seperti dia karena jika kamu ikut sombong maka kamu gak akan punya teman." jelas Syakirah.

__ADS_1


"Oh jadi gitu ya, kak. Jadi selama ini aku yang salah, karena aku iri lihat dia kak."


"Iri kepada sesama manusia itu wajar. Kita pasti akan minder jika bertemu dengan orang yang lebih baik dari kita. Kak Syakirah juga pernah kok merasa seperti itu, tapi kak Syakirah menepisnya dan percaya diri kalau kita itu sama-sama baik. Tidak ada makhluk sempurna di dunia ini. Dimana ada kelebihan pasti disitu juga ada kekurangan." jelas Syakirah lagi.


"Tapi kak, pasti ada aja teman aku yang olok-olok aku kalau aku itu jelek." ujar anak berkerudung tadi.


"Emangnya siapa yang hilang kamu jelek?" tanya Syakirah.


"Teman aku, kak."


"Iya, kakak tahu dia teman kamu. Maksud kakak itu dia cowok apa cewek?"


"Cowok."


"Kalau dia olok-olok kamu karena kamu itu jelek, coba deh bilang gini ke dia. Jangan terus-terusan olok-olok aku, nanti kalau aku udah besar terus aku cantik, Eh kamunya yang ngajak aku nikah."


"Apaan sih kak? Mana ada yang kayak gitu."


"Ada lah. Karma itu ada barangkali kamu sama dia jodoh gara-gara dia terus olok-olok kamu." cerocos Syakirah.


"Tau deh. Kak Syakirah sama aja sama kak Ahmad!"


"Biarin!"


Semua anak-anak itu tertawa melihat perdebatan Syakirah dan juga anak berkerudung itu. Tanpa mereka sadari ada 2 lelaki yang sedang memperhatikan mereka.


"Kak Syakirah baik banget ya kak Ahmad. Gak kayak kak Hanifa judesnya gak ketulungan." ujarnya.


"Husstt. Gak baik ngomong gitu. Hanifa udah berubah, kak Ahmad juga udah putus kok sama dia."


"Sejak kapan?"


"2 hari yang lalu."


"Oh."


Anak itu melihat Syakirah dengan seksama. Seketika dia teringat almarhuma ibunya. Dia seperti menemukan sosok ibu di dalam Syakirah.


***

__ADS_1


Mereka semua sudah ada di depan gerbang panti asuhan. Ahmad juga membawa kantong plastik yang dia bawa tadi.


"Kak Ahmad kenapa pulang? Kenapa gak nginep disini aja?"


"Kak Ahmad harus kerja. Lain kali kak Ahmad main kesini lagi ya." tutur Ahmad lembut.


"Kakak ada hadiah buat kalian nih. Kakak panggil namanya satu-satu ya."


Ahmad mulai memanggil nama-nama anak-anak itu, mereka dengan antusias berebutan takut tidak mendapatkan hadiah juga. Setelah pembagian itu selesai dan memastikan bahwa tidak ada yang kurang, Ahmad menghampiri ibu panti dan menyodorkan sebuah amplop dan juga kotak besar yang berisi bingkisan.


Ibu panti adalah seorang janda yang tidak memiliki anak. Suaminya meninggal karena kecelakaan, karena kesepian akhirnya dia membuka panti asuhan dan mengurus anak-anak sendiri. Hanya dia seorang yang ada di panti asuhan ini. Pekerjaannya adalah berjualan nasi dan kue, itu juga di bantu oleh anak panti.


"Ini buat ibu." ujar Ahmad.


"Ahmad, kamu gak perlu repot-repot bawa buat ibu."


"Gak repot kok bu, justru Ahmad merasa senang." ibu panti itu akhirnya menerima bingkisan dari Ahmad dan mengucapkan kata terima kasih.


Saat ini Syakirah dan Ahmad sudah ada di mobil, mereka pulang dari panti asuhan pukul setengah 9 malam. Dan Ahmad sangat yakin kalau dia akan mendapatkan amukan dari Kita karena mengajak Syakirah sampai larut malam.


"Syakirah." penggil Ahmad yang sedang menyetir.


"Apa?"


"Aku cinta kamu."


"Tapi aku nggak."


"Ya, tapi kan aku cinta kamu. Secara kamu juga harus cinta dong sama aku, masa nggak."


"Ya, memang nggak."


"Kenapa?"


"Sudah jelas jawabannya masih saja tanya. Sehari gak bicara tentang cinta gak bisa apa ya!" gerutu Syakirah.


"Gak bisa, karena hidup aku itu penuh dengan cinta aku ke kamu."


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2