Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Asraf pergi


__ADS_3

"Apa Asraf sedang PDKT dengan kak Kiya?" tanya Syakirah lagi karena Hanifa tidak menjawab ucapannya tadi.


"Anggap saja begitu, aku juga kurang paham soal itu. Mereka berkencan atau tidak, aku tidak tahu." ujar Hanifa yang juga kebingungan melihat mereka berdua. Mereka seperti kencan tapi juga tidak bisa di sebut dengan kencan.


"Kenapa kak Kiya kau bertemu dengannya, bukannya dia sangat membenci Asraf ya?" tanya Syakirah bingung.


"Jangan tanyakan padaku, tanyakan saja kepada kakakmu itu. Dia itu mood-mood'an, kadang sehat kadang tidak sehat juga." jawab Hanifa. Syakirah hanya mengangguk saja.


***


Hari sudah mulai siang, jam juga sudah menunjukkan pukul setengah 11 siang. Asraf dan Kiya sedang duduk di sebuah restoran, mereka berdua sedang makan siang. Asraf memandangi Kiya yang sibuk makan.


Berapa tahun ya kira-kira aku studi di luar negeri? Rasanya aku ingin membawa Kiya kesana, tapi itu tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi. Kenapa jam sangat cepat sekali? Aku masih ingin bersama dengan Kiya. Masih ada 1 jam 30 menit tapi itu adalah waktu perjalananku untuk ke bandara. batin Asraf.


Asraf seperti akan kehilangan Kiya jika dia pergi studi ke luar kota. Berat sekali rasanya untuk meninggalkan Kiya. Kata orang tuanya studinya hanya 4 tahun saja tapi itu tergantung Asraf sendiri, jika dia bisa belajar dengan cepat kemungkinan besar waktu dia belajar tidak akan sampai 4 tahun.


"Apa kau tidak memakan makananmu?" tanya Kiya heran, karena Asraf dari tadi hanya memandanginya saja.


"Eh? Iya, aku hanya sedang berfikir saja." jawab Asraf gelagapan. "Kiya, jika aku sudah kembali apakah kamu sudah menjadi milik orang lain?" lanjut Asraf dengan pertanyaan.


"Omong kosong apa lagi yang kau bicarakan!" ujar Kiya.


"Aku takut jika aku sudah kembali lagi kesini kamu sudah menjadi milik orang lain." ujar Asraf.


"Lalu, kenapa jika aku sudah menjadi milik orang lain? Itu sudah menjadi takdirku kan." ujar Kiya.


"Aku akan merasa sangat kehilangan. Bisakah kamu menungguku selama 4 tahun ini? Aku akan berusaha untuk menyelesaikan studi secepatnya agar aku bisa kembali kesini lagi secepatnya." ujar Asraf.


"Aku tidak tahu, jika takdirku berkata lain bisa saja aku menikah setelah kau pergi." jawab Kiya sambil menghela nafas, dia benar-benar tidak tahu isi pikiran Asraf sekarang ini. Dan bagaimana bisa Asraf suka dengannya? "Takdir sudah di tentukan saat kita berada di dalam kandungan. Jika aku dan kau berjodoh, kita pasti akan di satukan. Tapi jika tidak kita harus ikhlas." lanjut Kiya lagi.

__ADS_1


"Iya, aku mengerti." ujar Asraf dengan tersenyum. Hatinya getir sekali saat Kiya mengatakan itu, seperti Kiya tidak mau menunggunya.


Bukan Kiya tidak mau menunggu Asraf tapi orang tuanya pernah berkata, kalau dia harus menikah di umur 20 tahun dan orang tuanya juga akan menjodohkannya jika Kiya tidak mempunyai pasangan. 2 tahun ini Kiya harus menikmati masa lajangnya, karena setelah 2 tahun dia akan menikah. Kiya sendiri juga merasa berat jika harus menikah di umur 20, menurutnya itu terlalu muda, tapi itu lebih baik di bandingkan menikah di umur 18 tahun.


***


Saat ini mereka sudah berada di bandara, Asraf sudah membawa tas dan kopernya. Asraf terus tersenyum ke arah Kiya menutupi kesedihannya. Dia sangat berharap saat dia kembali Kiya belum menjadi milik orang lain.


"Apa tidak ada pesan terakhir untukku?" tanya Asraf.


"Kau bertanya kepada siapa? Aku atau Kiya?" tanya Hanifa.


"Aku bertanya kepada Kiya. Aku sudah mendengar pesanmu kemarin, telinganku sampai panas mendengarnya!" gerutu Asraf.


"Itu juga demi kebaikanmu!" Hanifa melengos.


"Terima kasih." ujar Asraf sambil tersenyum, Kiya hanya mengangguk saja. "Kiya, bisakah kita tetap bertukar kabar meskipun lewat pesan?" lanjut Asraf dengan pertanyaan.


"Aku akan mengirimkanmu pesan saat aku sudah sampai di rumah nanti." jawab Kiya. Asraf tersenyum senang.


"Bolehkah aku pinjam tanganmu?" tanya Asraf.


"Bukan muhrim, kau kan sudah punya tangan sendiri." jawab Kiya.


"Sebentar saja, tidak ada 5 menit."


Apa yang sebenarnya otak anak ini pikirkan? Dia mau mencium tanganku begitu? Sudah gila apa ya! batin Kiya.


Sepertinya Kiya tahu kenapa Asraf mau meminjam tangannya. Tanpa pikir panjang lagi, Kiya mengambil tangan kanan Asraf lalu mencium punggung tangannya seperti sepasang suami istri. Asraf gelagapan, saat Kiya sudah mencium tangan Asraf dan mau melepaskannya, Asraf dengan sigap mencium punggung tangan Kiya balik. Mereka berdua saling tatap dalam keterkejutan, ada rona malu di kedua pipi mereka.

__ADS_1


"Ehem ehem, sepertinya aku menjadi obat nyamuk disini." ujar Hanifa sambil melengos. Asraf dan Kiya langsung gelagapan dan langsung memalingkan wajah karena malu.


Anggap saja hadiah untuk perpisahan kita. batin Kiya


Terdengar suara pemberitahuan kalau pesawat XX akan segera lepas landas dalam waktu 30 menit lagi. Asraf menghela nafas, pasrah sekali dia dengan keadaannya saat ini.


"Terima kasih ya sudah mengatarkanku kesini. Maaf juga karena sudah merepotkanmu. Hati-hati saat pulang nanti, ada baiknya kamu yang menyetir dari pada Hanifa." ujar Asraf.


"Iya." jawab Kiya. Kiya mengeluarkan sebuah kotak yang berukuran sedang dari dalam tasnya. Dia menyerahkan kotak itu kepada Asraf, Asraf menerimanya dengan kebingungan.


"Itu untukmu supaya kau semangat belajarnya. Aku tidak tahu barang apa yang kau sukai, jadi aku hanya memilih asal. Itu juga tidak baru, itu salah satu koleksiku. Jika kau tidak mau kau boleh membuangnya." ujar Kiya. Asraf tersenyum senang karena Kiya memberikannya sebuah hadiah.


"Terima kasih banyak, Kiya. Aku berjanji akan menyimpannya dengan baik. Kalau begitu aku masuk dulu ya. Assalamualaikum." ujar Asraf.


"Iya, hati-hati saat di jalan. Waalaikumsalam." ujar Kiya.


"Waalaikumsalam." ujar Hanifa.


Asraf berjalan menjauh dari mereka berdua sambil menarik kopernya. Saat sudah sampai di sebuah pintu masuk, Asraf berbalik, dia melihat Kiya yang sedang melambaikan tangan dengannya, Asraf pun melambaikan tangannya balik sambil menitikkan air matanya, setelah itu dia masuk dan sudah tidak terlihat lagi. Kiya menurunkan tangannya, ada yang mengganjal di dalam hatinya saat melihat Asraf pergi.


"Apakah kau menyesal?" tanya Hanifa.


"Tidak. Dia pergi untuk melanjutkan belajarnya jadi aku tidak menyesal sama sekali. Itu juga demi kebaikannya." jawab Kiya.


"Tapi raut wajahmu seperti... "


"Diamlah, atau aku akan merobek mulutmu itu!" Kiya memotong ucapan Hanifa. Jengah sekali dia saat berbicara dengan Hanifa. Persetan dengan Hanifa tidak akan ada untungnya sama sekali. Hanifa langsung diam saat Kiya memotong ucapannya.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2