Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Wahyu penasaran


__ADS_3

Memangnya siapa Clara dalam hidup Roy? Pacar? Bukan. Tunangan? Juga bukan. Clara hanya menumpang hidup di keluarga Roy, dia juga bukan siapa-siapa Roy. Mama Roy memang bilang kalau Clara harus menjadi menantunya bukan? Tapi apakah Clara menyetujuinya? Tidak kan? Dan jika di sebut pacar Roy, bukankah itu terlalu agresif. Secara Roy tidak pernah menembak atau mengajak kencan Clara. Jadi Clara hanya menumpang hidup saja di keluarga Roy.


Clara pergi dari taman itu dengan air mata yang terus menetes, padahal dia sudah tidak mau menangis karena dia bukan siapa-siapa Roy. Clara menghentikan taksi yang lewat, dia segera masuk ke dalam taksi itu dan meninggalkan taman yang cukup menyakitkan ini, padahal dia juga baru saja datang ke taman ini. Tapi awal dia kesini sudah membuat hatinya sakit


***


Roy baru saja pulang dengan keadaan lelah sekali, tidak tahu habis ngapain dia. Roy masuk ke ruang tamu dan mendapati mamanya yang sedang khawatir sambil menelpon seseorang.


"Mama kenapa?" tanya Roy sambil duduk di sofa single itu.


"Clara, Roy!" ujar mama Roy dengan nada yang khawatir.


"Clara kenapa, ma?" tanya Roy tak kalah panik.


"Tadi ada temen Clara yang datang kesini, dia nyari Clara. Ya mama bilang kalau Clara katanya main ke tempat temennya, tapi temennya bilang kalau Clara gak ke tempat mereka sama sekali." jelas mama Roy.


Teman-teman Clara sudah tahu kalau Clara sedang ada di rumah Roy karena dia sakit. Dan jika mereka mencari Clara, mereka juga harus datang ke rumah musuhnya itu karena sahabatnya ada disana.


"Hah?! Mama yang bener aja dong!"


"Mama gak bohong, Roy. Mama udah coba buat hubungi Clara tapi gak di angkat sama dia."


Roy menyuruh pelayan untuk memanggil supir yang mengantarkan Clara tadi pagi. Tak lama supir itu datang, dia membungkukkan badan tanda hormatnya.


"Dimana Clara?" tanya Roy kepada supir tersebut.

__ADS_1


"Tadi pagi saya mengantarkan nona Clara ke taman, tuan muda. Nona Clara bilang kalau saya harus meninggalkan dirinya karena sudah ada teman yang menemaninya. Saya pun menuruti permintaan nona Clara dan berpesan untuk menelpon saya jika dia mau pulang." jelas supir tadi.


Teman? Roy mengerutkan keningnya saat mendengar penjelasan dari supirnya. Perasaan tadi Roy melihat bahwa teman geng motor Clara sedang berkeliaran di jalanan sejak tadi pagi, bukan ada di taman. Roy tidak yakin kalau teman Clara ada di taman, mengingat penampilan mereka yang urakan itu pasti mereka lebih memilih untuk latihan di halaman markas mereka.


"Sebutkan ciri-ciri teman Clara yang lo lihat." pinta Roy.


"Mereka ada banyak, saya tidak kepikiran untuk menghitung. Jika di ingat-ingat ada sekitar 6 sampai 7 orang. Mereka semua memakai pakaian pendek dan juga berwarna pink semua. Rata-rata dari mereka berpenampilan terbalik dengan nona Clara." jelas supir tersebut.


Roy dibuat terkejut dengan penjelasan supir tadi, itu artinya Clara tidak sedang bersama dengan temannya lagi. Karena teman Clara jauh dari apa yang di jelaskan oleh supirnya. Apalagi jika mereka memakai pakaian berwarna pink semua, sudah pasti Roy akan menertawakannya.


"Dimana tamannya?" tanya Roy lagi.


"Ada di jalan XX tuan muda." jawab supir tersebut.


Roy di buat terkejut lagi oleh supir yang mengantarkan Clara tadi. Dia tadi juga ada disana, menjemput perempuan yang baru saja menghilang dari hadapannya. Tanpa pikir panjang lagi, Roy mengambil kunci motornya dan langsung melenggang pergi tanpa berpamitan dengan mamanya.


"Sebenarnya gue itu mau di apain sih sama dia? Kalau dia cuma sekedar nolongin gue, kenapa gak lepasin gue sekarang? Dia yang maksa buat tunangan sama gue, tapi dia juga punya perempuan lain. Maunya apa sih sebenarnya?" gumam Clara sambil tersenyum getir.


Clara mengambil hp yang masih belum dia lihat dari tadi pagi. Dia sedikit terkejut saat melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari teman dan mama Roy, tapi tidak ada panggilan dari Roy. Clara mematikan daya hpnya, dia tidak ingin melihat hpnya sekarang ini. Dia ingin sendiri sambil meratapi nasibnya yang begitu malang sekali. Dia seperti kucing yang terdampar di tengah kerumunan orang, tidak tahu arah mana yang akan di tuju.


***


Sementara di pabrik, semua karyawan pabrik sedang makan siang, mengisi perut mereka yang lapar. Kali ini Syakirah hanya Makan berdua dengan Wahyu. Rey, Navile dan Ryan sedang mendapatkan hukuman dari bu Ariana karena datang terlambat dan membuat masalah di pabrik. Ahmad? Dia adalah karyawan kesayangan CEO tentu saja dia ada di ruangan CEO saat ini.


Syakirah diam-diam melirik Wahyu yang sedang asik dengan makanannya. Ada terbesit rasa bersalah di hati Syakirah, tentu saja soal Kiya kakak sepupunya itu.

__ADS_1


Gue harus dukung siapa ini? Kak Kiya juga belum tahu kalau Wahyu suka sama dia, sementara dia udah tahu kalau Evan suka sama dia. Itu juga karena Evan ngungkapin sendiri. Sebenarnya siapa yang tulus di antara mereka berdua? Kalau Wahyu memang tulus menyukai kak Kiya, tapi kalau Evan... ? batin Syakirah.


"Wahyu." panggil Syakirah.


"Kalau ada yang mau kau bicarakan, bicarakan saja. Kau tidak perlu memperhatikanku seperti itu." ujar Wahyu.


Dari tadi Wahyu sudah melihat gelagat aneh dari Syakirah. Tidak dari tadi, tapi dari kemarin-kemarin. Wahyu merasa kalau ada yang ingin Syakirah katakan kepadanya, tapi Syakirah tidak berani mengatakannya. Dia juga tahu kalau Syakirah diam-diam memperhatikannya.


"Sebenarnya ada yang mau aku katakan kepadamu." jawab Syakirah sambil menundukkan kepalanya.


"Apa?" tanya Wahyu.


"Ini soal kak Kiya." jawab Syakirah yang masih menundukkan kepalanya.


"Ada apa dengan Kiya?" tanya Wahyu lagi.


Syakirah sudah mau menjawab pertanyaan Wahyu, tapi sayang kedatangan ketiga sahabatnya membuatnya urung untuk mengatakannya. Wahyu semakin penasaran, apa yang Syakirah sembunyikan darinya.


"Huh! Ck! Tanganku rasanya mau putus!" aduh Ryan.


"Memangnya kalian tadi di hukum apa sama bu Ariana?" tanya Syakirah.


"Membersihkan toilet wanita!" jawab mereka bertiga kompak dengan nada yang emosi.


Syakirah dan Wahyu menahan tawa mereka mendengar jawaban dari mereka. Harusnya mereka di beri hukuman membersihkan toilet lelaki, tapi ini di beri hukuman membersihkan toilet wanita.

__ADS_1


"Kau tahu tidak? Banyak sekali wanita yang memandangi kita bertiga tadi. Aku benar-benar kesal sekali. Lagi pula kenapa bu Ariana menghukum kita dengan cara seperti itu. Kalau mau membersihkan toilet setidaknya toilet laki-laki bukan toilet perempuan!" ujar Navile dengan sangat kesal sekali.


Bersambung......


__ADS_2