
Syakirah menangis sendiri melihat rentetan pesan yang dia kirimkan ke Wahyu. Bagi dia itu benar, dia hanya orang yang memecah belah keluarga Wahyu. Contohnya saja saat ini, hubungan Wahyu, Rey dan Ryan tidak membaik gara-gara dirinya. Syakirah hanya bisa merenungi nasibnya saja saat ini, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Syakirah mematikan ponselnya, membanting ponselnya dan menutupi wajahnya dengan bantal. Dia menangis tersedu-sedu melihat nasibnya sekarang ini. Mungkin dia harus menjauhi teman-temannya termasuk Wahyu, mungkin ini adalah jalan terbaik.
Sementara Wahyu sedang khawatir melihat rentetan pesan yang dikirimkan Syakirah kepadanya. Wahyu mengirimkan pesan kepada Syakirah tapi hanya centang satu, menandakan Syakirah tidak online. Wahyu mencoba untuk menghubungi Syakirah tapi ponsel Syakirah tidak aktif, Wahyu sudah mulai panik tapi dia mencoba untuk bersikap tenang. Karena Syakirah sudah mematikan ponselnya lebih baik Wahyu pergi tidur dan membicarakan ini dengan Syakirah besok pagi.
***
Pagi pun telah tiba, Wahyu sudah ada di pabrik menunggu kedatangan Syakirah. Dia sengaja berangkat lebih pagi karena ingin bicara dengan Syakirah langsung dan membawa Syakirah pergi ke suatu tempat.
Sampai bel berbunyi dan Wahyu sudah masuk ruangannya Syakirah tak kunjung datang. Wahyu juga sudah mencoba menghubungi Syakirah tapi sepertinya nomor ponselnya telah di blokir, baik secara telepon biasa atau panggilan suara Whatsapp. Wahyu sangat cemas sekali.
"Wahyu, cek ulang berkas-berkas ini. Jika sudah selesai berikan berkas ini kepada bu Ariana." ujar Ahmad sambil menyodorkan berkasnya kepada Wahyu tapi tidak di respon oleh Wahyu.
Ahmad mengamati wajah Wahyu, seperti kekhawatiran yang sedang terpancar di wajahnya. Ahmad cukup emosi karena Wahyu tidak mendengarkan ucapannya.
Braaakk.
Suara gebrakan meja Wahyu terdengar sangat keras di ruangan ini. Wahyu sangat terkejut begitu pula dengan Rey dan Navile, mereka juga tidak kalah terkejut dengan Wahyu.
"Hei, kenapa kau menggebrak meja? Apa kau tidak melihat kami sedang bekerja?!" Navile mulai emosi dengan Ahmad yang menggebrak meja. Wahyu sendiri juga sedang mengamati Ahmad.
"Jangan salahkan aku, salahkan temanmu ini. Aku berbicara dengannya tapi dia malah melamun!" ujar Ahmad tak kalah emosi.
"Dia bukan temanku!" jawab Navile dengan wajah penuh amarah.
Ahmad yang mendengar ucapan Navile sangat terkejut. Bukan temanku? Apakah hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja? Pikir Ahmad. Ahmad hanya mengerutkan keningnya bingung.
Sementara Wahyu di buat pusing lagi dengan Navile yang memberitahu Ahmad kalau Wahyu bukan temannya. Ini sama saja menambahkan masalah, begitu pikir Wahyu. Wahyu menangkup dan mengusap wajahnya dengan kasar, pusing sekali rasanya.
__ADS_1
"Ada apa? Jangan menggebrak meja seenaknya!" ujar Wahyu. Ahmad mengalihkan pandangannya melihat Wahyu.
"Kau itu kenapa? Dari tadi aku lihat kau melamun saja. Jika kau ada masalah jangan bawa-bawa ke pabrik!" ujar Ahmad.
Braaakk.
Sekarang giliran Wahyu yang menggebrak meja. Dia sudah mau emosi dari tadi tapi dia menahannya.
"Kau pikir aku juga mau membawa masalahku ke pabrik?! Aku juga tidak mau! Aku pusing dari kemarin memikirkan Syakirah. Dari kemarin malam sampai pagi ini Syakirah tidak dapat di hubungi, nomorku di blokir olehnya! Di tambah lagi dengan rusaknya pertemananku dengan mereka bertiga!" tunjuk Wahyu kepada Rey dan Navile, kurang satu yaitu Ryan dia sedang dalam masa di liburkan bukan.
"Aku dari tadi sudah tidak ada niatan untuk bekerja, aku hanya menunggu kedatangan Syakirah dan mengajaknya bicara tapi Syakirah tidak kunjung datang! Aku sudah menelpon ibunya, ibunya bilang kalau Syakirah sudah berangkat bekerja tapi Syakirah juga tidak ada disini! Aku pusing rasanya!" Wahyu mengeluarkan semua amarahnya. Mereka bertiga hanya diam mematung melihat Wahyu sedang marah.
"Apa? Syakirah tidak bisa di hubungi? Tadi pagi dia ada di belakangku saat mengendarai motor." Ahmad juga sudah mulai bingung.
Wahyu duduk kembali di kursi kerjanya, memijat batang hidungnya yang sudah mulai berdenyut nyeri.
"Inilah masalahnya, Syakirah sudah berangkat bekerja tapi dia tidak ada disini. Kau pikir aku tidak pusing apa!" Wahyu mulai lesu.
Apa? Syakirah tidak dapat di hubungi? Apa dia juga bertengkar dengan Wahyu? Tapi itu tidak mungkin. batin Rey dan Navile. Mereka berdua memiliki pemikiran yang sama tentang Syakirah.
"Wahyu, lebih baik kau pergi istirahat saja. Disini sudah di siapkan tempat tidur bukan untuk karyawan tetap, istirahatlah disana. Aku merasa prihatin melihat keadaanmu sekarang." saran Ahmad. Wahyu mengangguk dan berjalan keluar ruangan, lebih baik istirahat saja dari pada dia marah-marah terus.
Setelah kepergian Wahyu, Ahmad melihat Rey dan Navile. Sepertinya memang mereka sedang ada masalah, pikir Ahmad.
"Kenapa kau melihat kami seperti itu?" Navile.
"Aku punya mata, aku bisa melihat semuanya. Yang aku lihat bukan hanya kalian saja, ada meja, ada kursi dan lainnya. Jangan kepedean jadi orang!" Ahmad.
Dari pada meladeni mereka lebih baik Ahmad melanjutkan pekerjaannya yang tertunda gara-gara tadi. Rey dan Navile juga begitu, mereka juga kembali ke meja kerja mereka.
__ADS_1
Sementara Wahyu tetap mencoba untuk menghubungi Syakirah berulang-ulang, tapi tentu saja tidak bisa karena nomornya di blokir. Karena dengan keterpaksaan akhirnya Wahyu lebih memilih menghubungi Kiya.
"Assalamualaikum, ada apa?" ujar di seberang sana.
"Waalaikumsalam, apa aku mengganggu mu?" Wahyu.
"Tentu saja iya, kau tidak lihat jam berapa ini? Tentu saja aku sedang mengajar sekarang!" gerutu Kiya.
"Maaf, menganggu mu."
"Iya, tidak apa-apa. Kenapa kau menelponku?"
"Apa Syakirah bilang kepadamu dia mau kemana? Maksudku apa dia bilang kalau dia tidak bekerja hari ini?"
"Tidak, kemarin aku mengiriminya pesan tapi tidak di jawab sampai sekarang. Aku juga mengunjungi rumahnya tadi dan kata ibunya sudah berangkat bekerja. Memangnya ada apa? Apa sedang ada masalah?"
Wahyu menghela nafas, Kiya bahkan tidak tahu dimana Syakirah. Syakirah juga tidak membalas pesan dari Kiya. Wahyu pusing sekali.
"Sebenarnya ada." ujar Wahyu.
"Lalu, apa masalahnya?"
"Sulit untuk di jelaskan jika di telpon seperti ini. Tapi pokok masalahnya adalah gara-gara Rey, Ryan dan Navile dan gara-gara urusan cinta." di seberang sana Kiya mengerutkan keningnya. Mana mungkin mereka bertengkar dengan Syakirah, pikir Kiya.
"Memangnya ada apa?"
"Ya, kau tahu sendiri kan bagaimana perasaan mereka bertiga kepada Syakirah. Tentu saja mereka lebih bersikap agresif karena Syakirah lebih memilih Ahmad. Aku pusing memikirkannya. Nomorku di blokir oleh Syakirah. Aku sudah menghubunginya berkali-kali tapi tentu saja tidak bisa secara nomorku di blokir olehnya."
"Nanti aku coba tanya dia langsung, sekarang aku masih mengajar. Nanti kalau Syakirah sudah pulang aku akan tanyakan. Kau jangan khawatir, semuanya pasti akan baik-baik saja." Kiya mencoba untuk menenangkan Wahyu.
__ADS_1
Bersambung......