
"Aku juga tidak tahu, Al. Aku pikir mereka berteman denganku tulus tapi ternyata mereka berteman denganku karena mereka menginginkan sesuatu. Kau tahu sendiri kan Al bagaimana Rey, Ryan dan Navile saat mengajakku berteman dengan mereka, mereka sangat antusias aku pikir mereka senang berteman denganku. Al, aku tidak tahu apa harus bagaimana lagi. Aku menganggap mereka seperti keluargaku sendiri. Wahyu adalah orang pertama yang bisa aku percaya saat aku sekolah SMP dulu, aku tidak mau hubungan pertemananku dengannya berakhir seperti ini. Tapi jika aku terus berteman dengan Wahyu, maka persaudaraan Wahyu, Rey, dan Ryan akan hancur gara-gara wanita sepertiku dan aku tidak mau itu terjadi." ujar Syakirah yang masih menangis. Tisu sudah bertebaran dimana-mana, mata Syakirah juga sembab dan terlihat sipit.
"Sudah jangan menangis. Rumahku jadi kotor karena ingusmu itu." canda Aliya.
"Sekarang kau mau bagaiamana? Ini sudah malam, kau mau pulang atau menginap disini?" tanya Aliya akhirnya. Waktu juga sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam, Aliya takut jika Syakirah pulang malam akan terjadi sesuatu nanti.
"Apa aku boleh menginap disini?" tanya Syakirah. Jujur, dia masih ingin menenangkan dirinya, masih ingin merenungi nasibnya sekarang. Syakirah belum mau untuk pulang saat ini, mungkin dia juga tidak akan bekerja lagi.
"Tentu saja, aku sudah menganggapmu seperti saudaraku. Menginaplah disini sampai kau merasa tenang. Telpon ibumu dulu supaya dia tidak khawatir kepadamu." ujar Aliya.
"Terima kasih, Al."
"Kau tidak perlu berterima kasih. Sudah tanggung jawabku kalau kau ada masalah dan menceritakannya kepadaku. Kau dulu juga sudah beberapa kali menolongku bukan dan aku akan menebusnya sekarang."
Syakirah tersenyum mendengar ucapan Aliya, dia masih beruntung memiliki Aliya. Dia merasa nasibnya tidak terlalu menyakitkan. Syakirah meminjam ponsel kepada Aliya, Aliya pun dengan senang hati meminjamkan ponselnya.
"Assalamualaikum, ini nak Aliya ya?" ujar di seberang sana.
"Waalaikumsalam, ini Syakirah bu." ujar Syakirah.
"Syakirah! Ya Allah, kamu kemana saja nak?!" ibu Syakirah mulai bernafas lega.
"Maaf, bu. Maaf karena Syakirah sudah membuat ibu khawatir. Bu, Syakirah butuh waktu untuk menenangkan diri saat ini. Jadi, Syakirah mau menginap di rumah teman Syakirah untuk beberapa hari ini supaya Syakirah bisa menenangkan diri. Dan juga Syakirah mohon, jangan beritahu teman-teman Syakirah apalagi kak Kiya. Syakirah mohon bu ya?" Syakirah memohon.
"Kamu kenapa, Syakirah? Apa kamu sedang bertengkar dengan teman-teman mu?"
__ADS_1
"Ceritanya panjang, bu. Syakirah tidak bisa menjelaskan sekarang. Tapi Syakirah mohon jangan beritahu siapa-siapa kalau Syakirah sedang ada di rumah teman Syakirah."
Lama tidak ada jawaban dari seberang sana. Syakirah sangat yakin kalau ibunya sedang khawatir sekarang ini.
"Kamu yakin akan baik-baik saja?" tanya ibu Syakirah di seberang sana.
"Tenang saja, bu. Ada teman Syakirah yang menjaga Syakirah."
Terdengar ibu Syakirah menghela nafas, mungkin ini sangat berat untuknya. Wajar jika ibunya khawatir karena Syakirah adalah perempuan, jika laki-laki mungkin ibunya tidak akan sekhawatir ini.
"Ya sudah, jika kamu baik-baik saja ibu tidak masalah. Ibu juga tidak akan memberitahu teman-teman mu dan Kiya. Tapi berjanjilah kepada ibu kalau kau menjaga kesehatanmu."
"Iya, bu. Syakirah janji. Kalau begitu Syakirah tutup telponnya ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Bagaimana? Apa di izinkan?" tanya Aliya.
"Iya, di izinkan." jawab Syakirah.
"Alhamdulillah kalau begitu. Ya sudah, sekarang mandilah, aku akan meminjamkan bajuku untukmu."
"Kau tidak perlu meminjamkan bajumu untukku, aku sudah membawa baju dari rumah." ujar Syakirah sambil menunjuk tas ranselnya.
"Oh, jadi sudah ada niat buat nginap disini ya dari tadi, cuma diam saja."
__ADS_1
Syakirah menyengir, dia memang sengaja membawa pakaiannya tadi di tas ranselnya dan memasukkannya di jok motor supaya ibunya tidak tahu, agar dia tidak perlu meminjam pakaian Aliya nantinya.
"Ya sudah, ayo mandi sana. Kau dari tadi belum mandi kan, hanya menangis saja. Lebih baik kau mandi sekarang dan makan malam, aku sudah lapar." ujar Aliya.
"Oh iya, kamarmu ada di atas, di sebelah kamarku. Kau punya kartu aksesnya kan, nanti langsung buka saja. Tidak ada apa-apa disana, hanya ada kasur, lemari, meja dan kamar mandi. Untuk barang kecil hanya ada lampu tidur dan juga beberapa accessories seperti gucci dan patung Menara Eiffel , jadi kau jangan takut untuk masuk. Aku tidak mau kalau kau berfikiran buruk tentang kamarku. Disana tidak ada barang mewah sama sekali, jadi kau tidak perlu takut. Kau mengerti kan?" lanjut Aliya.
Syakirah mengangguk, Syakirah memang selalu waspada jika ingin menginap di rumah temannya ini. Takut dia di sangka mencuri barang karena dulu tunangan Aliya pernah menuduhnya, padahal barangnya juga ada di berangkas pribadinya.
Syakirah mulai berjalan menaiki tangga untuk menuju kamarnya. Saat sudah sampai di kamarnya, dia menaruh pakaiannya di lemari. Setelah selesai membereskan pakaiannya, dia masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Saat ini Aliya dan Syakirah sudah ada di meja makan, mereka sedang menikmati makan malam. Syakirah sebenarnya sedikit hambar melihat makanan, tapi dia tidak enak jika menolak masakan Aliya. Di tambah lagi dengan masakan Aliya yang kurang enak, terkadang asin, terkadang manis, terkadang terasa bawang sekali, entahlah Syakirah tidak tahu jika harus mengartikan masakan Aliya. Tapi Syakirah selalu menghargai masakan Aliya, karena Aliya sendiri juga baru belajar memasak setelah lulus sekolah.
Setelah selesai makan malam, mereka berdua berkumpul di ruang tamu.
"Kau mau menginap disini berapa hari?" tanya Aliya.
"Aku juga belum tahu, kalau perasaan ku sudah membaik aku akan pulang." jawab Syakirah.
"Kalau bisa yang lama ya, kalau bisa jangan pulang seterusnya, tinggal disini saja sama aku." celetuk Aliya.
"Kalau soal itu aku tidak bisa, ada orang tuaku. Aku juga harus mengurus mereka juga. Apalagi saat ini mungkin aku akan di keluarkan dari pabrik. 2 bulan yang lalu aku sudah izin cuti selama satu bulan dan sekarang aku tidak masuk karena harus menenangkan perasaan ku. Aku juga sudah siap jika harus di keluarkan dari pabrik, aku memang seenaknya sendiri jadi apapun resikonya aku akan menerimanya." jelas Syakirah panjang lebar.
"Jadi kau mau apa disini? Kau tahu kan jika siang aku akan kuliah. Kalau kau mau disini sendirian itu tidak masalah."
"Aku sendiri juga tidak tahu, aku tidak membawa berkas-berkas sekolah ku. Jika aku kembali rasanya aku akan bertemu dengan kak Kiya, tapi jika tidak aku tidak akan bisa bekerja. Aku sendiri juga bingung sebenarnya."
__ADS_1
Syakirah dan Aliya nampak berfikir, sebenarnya Aliya ingin menawarkan Syakirah untuk kuliah bersamanya tapi Aliya yakin Syakirah akan menolaknya dengan tegas.
Bersambung......