Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Kak Rahman dan Kiya


__ADS_3

"Hahaha. Meskipun gue cowok, gue tetap mahir kalau hal beginian. Gak kayak kalian, daunnya wortel aja kalian kira seledri. Hahahaha." Thomas dan kedua temannya tertawa terbahak-bahak.


Mereka langsung diam kikuk mendengar ucapan Thomas, tapi tidak dengan Aliya, dia berdecak kesal karena Thomas menghina orang yang sedang belajar. Jika di perhatian mereka memang salah karena tidak belajar hal seperti ini, tapi bukannya mereka sudah mau belajar sekarang? Ya meskipun gara-gara Syakirah, tapi mereka tetap belajar kan. Kita seharusnya menghargai orang yang sedang belajar bukan malah mengolok-oloknya.


***


Seperti biasa, Kiya selalu mengerjakan pekerjaan di luar saat weekend. Saat ini dia sedang ada di sebuah kedai yang berada di taman kota. Dia duduk sendirian sambil melihat kolam ikan yang ada di sebelah duduknya, sesekali dia melemparkan makanan ikan ke dalam kolam. Kiya sedang memberi nilai ke kertas ulangan anak kelas 6, jadi kali ini dia harus lebih teliti lagi. Karena biasanya anak kelas 6 akan protes jika nilai ulangan hariannya rendah. Sesekali dia memikirkan perkataan kakaknya kemarin malam.


Flashback On


Kiya sedang mencuci piring, tiba-tiba kak Rahman datang sambil membawa gelas yang kotor. Kak Rahman bersandar sambil bersedekap dada melihat adiknya.


"Pikirkan baik-baik tawaranku tadi, boss ku bukan sugar daddy jadi kau tidak perlu takut. Dia masih muda, umurnya juga masih 20 tahunan, bukankah itu lebih baik dari pada di jodohkan oleh ayah dan ibu? Lebih baik aku yang menjodohkan dari pada mereka berdua." ujar kak Rahman.

__ADS_1


Kak Rahman sangat sayang sekali dengan Kiya, hanya saja Kiya tidak pernah menyadari itu Kiya selalu berfikir kalau kakaknya itu egois, kak Rahman sendiri juga tidak ambil pusing tentang Kiya. Dia selalu membiarkan Kiya selalu menghinanya ini itu, karena dia sendiri juga tidak bisa menjadi kakak yang Kiya inginkan. Kak Rahman selalu memilih pekerjaannya di banding Kiya, oleh sebab itu kenapa Kiya selalu menghina kalau kakaknya selalu egois.


"Jangan pernah menga... "


"Kiya, aku ini sayang kepadamu. Oleh sebab itu aku ingin yang terbaik untukmu." ucapan Kiya di potong oleh kak Rahman. Kiya langsung menghentikan kegiatan mencuci piringnya saat mendengar ucapan kak Rahman.


"Benarkah begitu? Apa maksudmu dengan kata sayang? Apakah sayang selalu meninggalkan? Apa kau pernah ada di sisiku setiap saat? Mendengar keluh kesahku setiap aku ada masalah? Apa itu yang di namakan sayang? Aku sangat bingung sekali saat kau mengatakan itu. Kau tidak pernah mengajakku untuk berbicara sekedar basa basi saja, jika penting kau akan bicara tapi jika tidak penting kau tidak akan bicara. Kau bahkan tidak pernah cerita kalau kau akan menikah, jika aku tidak mencari tahu aku tidak akan tahu kalau kau akan menikah. Kau menyembunyikan hubunganmu kepadaku dan hanya cerita ke ayah dan ibu. Apa kau pikir aku bodoh? Aku tentu saja tahu jika kau punya pasangan dan akan segera menikah. Apa kau memberitahuku kalau kau akan menikah? Tidak kan? Apakah itu yang di namakan sayang? Menyembunyikan sesuatu yang sangat penting dan keluarga yang harusnya tahu menjadi tidak tahu. Apa kau tidak menganggapku sebagai adikmu?" ujar Kiya dengan tegasnya. Kak Rahman sampai tercengang mendengar ucapan Kiya.


Kak Rahman memang tidak memberitahu Kiya perihal dia menikah, dia hanya cerita kepada kedua orang tuanya, tidak dengan Kiya padahal Kiya juga harus tahu soal itu. Kiya bahkan sangat terkejut saat mendengar kakaknya sudah melamar seorang wanita, jika tidak di beritahu oleh temannya dia tidak akan tahu. Sakit? Tentu saja hati Kiya sakit, kakak kandungnya menyembunyikan hal sepenting ini darinya, bagi Kiya itu sungguh menyakitkan.


"Kalau begitu jangan pernah memikirkan aku, pikirkan saja calon istrimu itu! Kau lebih memilih dia kan di bandingkan aku? Oleh sebab itu jangan mengusik hidupku, karena kau akan segera menjalani kehidupan yang baru." ujar Kiya. Sakit sekali hatinya saat mendengar kakaknya akan menikah tanpa sepengetahuannya.


"Kiya, kau sangat keras kepala." ujar kak Rahman.

__ADS_1


"Kalau aku keras kepala, kenapa kau terus mengajakku bicara? Lebih baik jangan bicara denganku kalau kau tidak mau bertengkar denganku!" ujar Kiya. Kiya langsung meninggalkan dapur.


"Kau harus tetap mengikuti instruksiku, Kiya. Jangan sesekali kau menentang, karena setelah aku menikah kau akan tinggal bersamaku, bukan dengan ayah dan ibu lagi. Ayah dan ibu akan tinggal dengan Aisyah karena Aisyah masih kecil, jadi dia harus ikut ayah dan ibu. Kau sudah dewasa jadi kau harus ikut denganku, kau tidak boleh lagi merepotkan ayah dan ibu!" ujar kak Rahman. Ucapan kak Rahman membuat tubuh Kiya membeku.


Apa? Tinggal dengannya saat dia sudah menikah? Sudah gila apa ya! batin Kiya emosi.


"Kau... !"


"Aku yang meminta ini, bukan kemauan ayah dan ibu! Jangan membawa nama ayah dan ibu! Dan satu lagi, aku yang akan memilihkanmu pasangan." ucapan Kiya di potong oleh kak Rahman. Kiya berdecak kesal, dia langsung melenggang pergi meninggalkan kak Rahman.


Flashback Off


Kiya tersenyum getir mengingat kejadian semalam. Tinggal bersama kakaknya yang sudah menikah? Apa kakaknya mau dia membuat masalah di rumahnya? Apa kakaknya mau dia menjahili istrinya itu? Kiya sungguh sangat tertekan dengan ucapan kakaknya. Tanpa Kiya sadari, ada butiran kristal bening yang keluar dari matanya. Sakit sekali hatinya saat ini.

__ADS_1


Kalau mau menikah setidaknya beritahu aku supaya aku tidak kecewa seperti ini. Kau pikir tidak sakit apa rasanya, rasanya hatiku tertusuk ribuan duri yang tajam. Bisa-bisanya dia menyembunyikan hal ini dariku. Mungkin kehadiranku tidak penting di hidupnya, selama ini yang dia urus kan Aisyah bukan aku. Ayolah Kiya, jangan membawa adikmu kecilmu yang tidak tahu apa-apa itu. Jangan bawa-bawa dia ke dalam masalahmu. Dia itu hanya tahu bermain saja, kau menjelaskannya beberapa kali pun dia hanya akan garuk-garuk kepala saja. Kenapa hidupku pahit sekali ya? Masalah keluarga, masalah percintaan, dan masalah hidup. Miris sekali rasanya, ingin mati saja aku rasanya. batin Kiya.


Bersambung......


__ADS_2