
Mereka berdua kembali diam lagi, tidak ada topik pembicaraan lagi. Evan mau cerita pun mau cerita apa. Karena hari sudah mulai siang, Kiya memutuskan untuk pulang. Apalagi pekerjaannya juga tertunda gara-gara curhat dengan Evan. Kiya berpamitan kepada Evan, lalu dia pergi meninggalkan Evan sendirian. Evan memandangi tubuh Syakirah yang terbalut gamis panjang yang sampai menutupi sepatu yang dia pakai, dan kerudung panjangnya itu yang sampai lututnya. Baju Kiya selalu panjang hingga menutupi kedua kakinya dan kerudung yang panjang, hanya belakang kerudungnya saja yang sampai paha, kalau depan kerudungnya hanya sampai bawah perutnya saja. Ada rasa senang di hati Evan tapi dia tidak bisa mengerti arti dari kesenangan hatinya itu.
***
Hari sudah malam, seperti pesan yang di kirimkan Syakirah untuk Evan. Saat ini mereka berdua sudah duduk di caffe XX. Evan dari tadi menatap Syakirah ketakutan.
Gila! Dia dandan kayak gitu lagi, merinding gue. batin Evan sambil mengusap tengkuknya.
Syakirah sekarang berdandan, hampir seluruh kelopak matanya berwarna hitam bercampur coklat, belum lagi bibir warna semerah darah itu. Evan selalu ketakutan saat Syakirah berdandan seperti itu.
"Evan, gue mau lo jujur saja gue!" ujar Syakirah tegas. Evan mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.
"Maksuk kamu apa, Syaki?" tanya Evan kebingungan.
"Huh! Ck!" Syakirah berdecak kesal melihat Evan, dia langsung melemparkan hpnya ke Evan. Evan mengambil hp Syakirah dan melihat video yang Syakirah tunjukkan. Evan menganga saat melihat videonya.
Sial! Gue kecolongan lagi kayaknya! Siapa lagi kalau bukan anak buah Syaki! Huh! Ck! batin Evan kesal.
"Jawab pertanyaan gue jujur, Van! Lo suka kan sama kak Kiya? Jujur aja, Van. Gue juga gak bakalan marah kok!" ujar Syakirah. Evan memalingkan wajahnya, dia menghela nafas.
"Gue juga gak tau, Syaki. Gue gak tau gue suka sama Kiya apa nggak. Hati gue selalu tertarik dengan Kiya tapi otak gue selalu menentangnya." ujar Evan.
Gaya bicaranya berubah sama gue, itu artinya dia udah gak suka lagi sama gue. batin Syakirah.
Evan selalu berbicara menggunakan bahasa yang baik dan terkesan romantis jika berbicara dengan Syakirah. Awal mereka berdua gaya bicara Evan sangat kasar tapi saat Evan mencintai Syakirah, gaya bicara Evan mulai berubah.
__ADS_1
"Van, gue tau lo itu suka sama kak Kiya. Cuma lo aja yang gak bisa mengartikan perasaan lo itu." ujar Syakirah.
"Gue gak tau, Syaki. Gue gak tau gue suka sama Syakirah apa nggak. Gue gak yakin sama perasaan gue." ujar Evan. Evan mengusap wajahnya dengan kasar, pusing sekali rasanya.
"Van, untuk saat ini lo emang gak tau, tapi tunggu beberapa hari lagi. Pasti lo akan tau tentang perasaan lo sama kak Kiya. Gue udah bisa tebak dari tatapan mata saat lihat kak Kiya. Lo gak bisa mengelak lagi sama gue, Van." ujar Syakirah.
Syakirah tahu jelas bagaimana perasaan Evan. Apalagi saat Kiya dan Evan saling tatap di rumah Aliya waktu itu. Dan Syakirah semakin yakin saat Evan mengirimkan pesan kepada Kiya waktu itu.
"Van, gue tau apa yang lo omongin sama kak Kiya pagi tadi. Itu artinya lo udah tau kan? Waktu dia cuma satu tahun lagi, bukan bertahun-tahun lagi. Kalau lo berani jujur sama diri lo sendiri, gue yakin lo yang akan mengambil hak kak Kiya. Kalau lo terus menentang perasaan lo tentang kak Kiya, gue berani menjamin kalau lo akan kehilangan dia." ujar Syakirah lagi. "Jangan pernah menentang perasaan lo sendiri. Semakin lo menentang, semakin sadar juga lo dengan perasaan lo. Gue udah pernah mengalami itu, jadi lo jujur aja sama diri lo sendiri." lanjut Syakirah lagi.
Gue gak boleh gegabah, bukan cuma Evan aja yang suka sama kak Kiya tapi ada Wahyu. Gue gak akan pernah mendukung salah satu dari mereka. Biarin aja kak Kiya yang memilih siapa yang pantas untuk hidup dengannya. batin Syakirah.
Evan terdiam mendengar ucapan Syakirah. Dia tahu hatinya sekarang sudah di penuhi oleh nama Kiya dan nama Syakirah punya tempat sendiri di hatinya. Evan masih belum yakin dengan perasaannya, apalagi sikap Kiya terhadapnya sangat di luar normal sikap lainnya, itu bagi Evan. Evan beberapa kali menghela nafasnya, mengusap wajahnya sambil melihat Syakirah.
***
Braaakkh.
Evan membanting ps genggamnya dengan sangat keras, sampai ps genggamnya terbelah menjadi beberapa bagian. Evan sangat marah sekali, marah dengan perasannya sendiri. Evan berdiri dari duduknya dan mengambil hpnya. Dia menelpon seseorang dan akhirnya sambungan mereka terhubung.
"Bang Rahman." ujar Evan kepada seberang sana. Ya, yang dia telpon adalah kak Rahman, Evan ingin membicarakan sesuatu kepada kak Rahman.
"Ada apa, Van?" tanya kak Rahman yang ada di seberang sana.
"Bang, lo kan selalu bilang ke gue kalau lo punya adik perempuan kan?" tanya Evan.
__ADS_1
"Iya, gue pernah bilang gitu ke lo. Emang kenapa?" tanya kak Rahman di seberang sana.
"Gue suka sama adik lo, bang." ujar Evan. Yang di seberang sana terkejut mendengar ucaoan Evan.
Hah? Evan suka sama Kiya? Emang dia udah tau gimana Kiya? batin kak Rahman.
"Emang lo udah tau adek gue, Van?" tanya kak Rahman.
"Udah, bang. Dia sepupu Syakirah, sementara Syakirah itu mantan gue. Gue juga udah bicara beberapa kali sama adek lo, bang." jawab Evan.
"Terus lo mau gimana?" tanya kak Rahman yang ada di seberang sana.
"Lo harus buat dia ketemu sama gue, bang. Tapi lo jangan bilang kalau bos lo itu adalah gue, lo gak perlu bilang itu. Lo cuma nyuruh dia buat ketemu sama gue aja. Gimana? Lo bisa kan, bang??" ujar Evan.
"Gue udah coba sih kemarin tapi dia nolak. Gue akan berusaha lebih keras lagi buat bujuk dia." ujar kak Rahman.
"Oke, bang. Thanks ya, makasih banget udah mau bantuin gue." ujar Evan.
"Oke, no problem." ujar kak Rahman.
Akhirnya sambungan telpon mereka berdua terputus, Evan menaruh hpnya dan berjalan ke arah balkon.
Gue udah suka sama lo ternyata. Gimana bisa gue suka sama cewek sedingin es kayak gitu? Haha, ternyata cinta itu buta ya. Karena gue udah suka sama lo, jadi gimanapun caranya lo harus jadi milik gue. Gak ada yang boleh ngambil lo dari gue, Kiki. Gak ada dan gak akan bisa. Selamanya lo harus hidup sama gue. Gue akan membereskan orang yang suka sama lo itu. Wahyu, maafin gue karena udah suka sama Kiya ya. Gue gak bisa ngebohongin perasaan gue, jadi terpaksa gue harus ambil Kiya dari lo. Apalagi Kiya juga bukan siapa-siapa lo kan? Dia cuma temen lo kan bukan pacar kan? Jadi gue masih berhak buat merebut Kiya dari lo. batin Evan
Bersambung......
__ADS_1