Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Ahmad dan Syakirah ( Part 1 )


__ADS_3

Kiya berjalan untuk menemui orang itu dengan perasannya mengebu-ngebu, merasa sangat geram karena masih pagi masih pagi sudah harus berdebat dengan Ahmad. Bisa kena stroke dia.


"Apa?!" ujar Kiya yang mulai darah tinggi.


"Jangan galak-galak kenapa sih."


"Biarin. Kenapa datang kesini? Kau lihat jam tidak? Masih pagi sudah mulai buat keributan disini. Maumu itu apa sih?"


" Kalian kan pulang sekarang kan?"


"Iya, kenapa memangnya?"


"Syakirah boleh kan pulang bareng aku?" tanya Ahmad sedikit gagu.


"Berharap banget!"


"Ya iyalah, pasti di bolehin."


"Gak usah ke pd an jadi orang. Aku belum tentu ngizinin. Tapi kalau di pikir-pikir lagi lebih baik Syakirah pulang bareng aku dan Wahyu dari pada pulang sama kamu!"


"Ayolah, Kiya. Kau mengizinkan kan kalau Syakirah ikut denganku. Aku akan menjamin keselamatan Syakirah dan juga keselamatan perasaannya."


"Kalau aku gak mau gimana?"


"Ya, harus mau."


"Dasar pemaksa. Aku pikir dulu ya."


Kiya berjalan mondar mandir di depan Ahmad memikirkan apa dia mengizinkan Ahmad atau tidak. Ahmad sendiri juga sudah tidak sabar mendengar jawaban Kiya.


Kiya menghela nafas dan melihat Ahmad. Kiya melihat Ahmad sedang serius sekali memandangnya.


"Aku mengizinkanmu, tapi tepati janjimu tadi. Dan satu lagi, jangan antar Syakirah sampai rumah. Berhentikan dia di jalan XX nanti biar aku yang bawa dia sampai rumah. Takutnya nanti ibu Syakirah mikir yang gak seharusnya."


"Oke, makasih ya."


"Hmm."


Ahmad berjalan keluar kontrakkan lagi untuk menemui Syakirah. Sementara Kiya hanya memandangi punggung Ahmad.


"Apa secinta itukah kau sama Syakirah, Ahmad?" gumam Kiya. Kiya sudah mau berjalan ke arah kamarnya lagi, tapi dia berhenti saat melihat Wahyu yang sedang berdiri.


"Gak aku sangka, ternyata kau mengizinkannya. Awalnya aku pikir kau tidak akan mengizinkannya, tapi ternyata dugaanku salah, kau mengizinkannya." ujar Wahyu.


"Awalnya juga aku mau melarang tapi saat aku melihat keseriusan di wajah Ahmad, aku merasa kasihan padanya. Apa secinta itukah dia dengan Syakirah?"

__ADS_1


"Menurutku, Syakirah itu punya segalanya. Dia juga menerima orang apa adanya bukan ada apanya, sama sepertimu."


"Kenapa kau menyamakan aku dengan Syakirah?"


"Kalian itu sebelas dua belas. Sudahlah, gak usah di pikirkan." Wahyu kembali masuk ke kamarnya, Kiya pun juga demikian.


Sementara Ahmad sedang di selimuti rasa senang. Ya senanglah, orang di izinin berdua sama Syakirah kok gak senang.


"Syakirah, aku sudah bilang sama Kiya." ujar Ahmad bahagia.


"Terus gimana katanya?" tanya Syakirah.


"Katanya boleh, tapi saat sampai di sana aku harus menurunkanmu di jalan XX nanti yang akan mengatarkanmu ke rumah bukan aku tapi Kiya. Takut calon mertua berfikir yang gak seharusnya."


"Ngomongnya gak usah pakai calon mertua."


"Gak apa-apa kan. Kan aku calon menantunya."


"Terserah dirimu saja."


"Syakirah, ayo jalan-jalan untuk yang terakhirnya sebelum kita pulang." ajak Ahmad.


"Memangnya kau sudah membereskan pakaianmu?" tanya Syakirah, karena setahu dia Ahmad belum tahu kalau Syakirah pulang sekarang. Ahmad menggeleng.


"Belum. Hehe."


"Bantuin."


"Manja banget sih."


"Sesekali bantuin aku itu gak apa-apa. Kan kamu mau jadi calon istri aku nanti, jadi harus belajar bantuin calon suami."


"Bisa aja ngomongnya. Ya sudah, aku masuk dulu ambil koper sama ganti baju. Nanti sehabis jalan-jalan bisa sekalian langsung pulang." Ahmad mengangguk.


Syakirah masuk ke dalam untuk ganti baju, setelah ganti baju Syakirah mengambil koper dan berpamitan ke Kiya dan juga Wahyu. Kiya berpesan agar Syakirah tidak melewati batasnya saat ikut Ahmad nanti, karena mereka masih belum muhrim.


Setelah berpamitan kepada Kiya dan Wahyu, Syakirah menghampiri Ahmad. Ahmad mengambil koper Syakirah dan memasukkannya ke dalam bagasi, lalu mereka berdua masuk ke dalam mobil dan menuju ke kos'an Ahmad.


Sekitar 45 menit, akhirnya Syakirah dan Ahmad sampai di kos'an Ahmad. Ahmad turun dari mobil dan diikuti oleh Syakirah. Ahmad berjalan ke arah kamar kosnya yang diikuti oleh Syakirah.


Ahmad membuka kunci kamar kosnya, Syakirah bisa melihat kamar kos Ahmad. Ada kasur yang berada di lantai, lemari kecil, meja kecil, tv dan juga kamar mandi. Setiap kamar memiliki kamar mandi, jadi orang-orang tidak perlu repot untuk mengantri ke kamar mandi.


Ahmad mengambil koper dan mulai memasukkan baju-bajunya ke dalam koper tersebut. Syakirah hanya mengamati dari pintu, karena dia sungkan jika harus masuk ke kamar kos laki-laki. Selesai mengemasi pakain dan barangnya, Ahmad keluar dari kamar kosnya dan berjalan menghampiri ibu pemilik kos.


"Eh? Nak Ahmad, mau kemana? Kok bawa koper juga?" tanya ibu kos itu.

__ADS_1


"Ahmad mau pulang bu ke tempat tinggal Ahmad. Jadi Ahmad kesini mau kasih kunci sama biaya kos Ahmad." Ahmad menyodorkan kunci kamar kosnya dan juga uang yang berada di amplop. Ibu kos tadi menerimanya.


"Kamu disini kan belum sebulan, kok bayarnya full?" tanya ibu kos saat melihat uang yang ada di amplop tadi.


"Gak apa-apa bu. Buat ibu saja. Ahmad juga makasih banget sama ibu, karena ibu udah bantuin Ahmad saat Ahmad tinggal disini."


"Iya, ibu juga terima kasih karena nak Ahmad sudah ngekos di kos'an ibu. Waktu pulang hati-hati di jalan ya. Jangan lupa kalau ke Bandung lagi main kesini ya."


"Iya bu, Ahmad pamit ya. Assalamualaikum."


"Ya, hati-hati. Waalaikumsalam."


Ahmad memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil, Syakirah juga sudah duduk di mobil. Ahmad sudah masuk ke mobil dan mulai mengendarai mobilnya.


"Kita mau kemana dulu?" tanya Ahmad.


"Terserah mau kemana. Kau kan yang mengajakku jadi aku ikut saja." jawab Syakirah.


Ahmad tidak menjawab Syakirah, dan melajukan mobilnya.


Ahmad memakirkan mobilnya di sebuah mall besar.


"Kenapa kita ke mall?" tanya Syakirah.


"Katanya ikut saja, kok komen?" ujar Ahmad.


"Bukannya komen, cuma tanya saja."


"Kalau ke mall artinya ya belanja, memangnya orang ke mall mau ngapain lagi."


Syakirah turun dari mobil Ahmad. Mereka berdua masuk ke dalam mall dan mulai jalan-jalan.


"Kamu mau beli apa, Syakirah?" tanya Ahmad.


"Aku gak beli apa-apa. Kamu kalau mau beli, beli saja." jawab Syakirah.


"Kok gitu, kamu gak suka aku bawa kesini?" tanya Ahmad sedikit kecewa, padahal dia sudah merencankan sesuatu.


"Aku suka kok, cuma memang gak ada barang yang mau aku beli."


"Kalau gitu ikut kataku ya. Pokoknya apa yang aku saranin kamu harus turuti."


"Iya, asal gak aneh-aneh aku turuti."


Ahmad melanjutkan jalannya sambil melihat beberapa toko. Syakirah sendiri juga demikian, dia sedang minat beberapa barang tadi tapi dia tidak beli karena uangnya yang juga sudah mulai menipis.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2