Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Frustasi


__ADS_3

"Ya, kau tahu sendiri kan bagaimana perasaan mereka bertiga kepada Syakirah. Tentu saja mereka lebih bersikap agresif karena Syakirah lebih memilih Ahmad. Aku pusing memikirkannya. Nomorku di blokir oleh Syakirah. Aku sudah menghubunginya berkali-kali tapi tentu saja tidak bisa secara nomorku di blokir olehnya."


"Nanti aku coba tanya dia langsung, sekarang aku masih mengajar. Nanti kalau Syakirah sudah pulang aku akan tanyakan. Kau jangan khawatir, semuanya pasti akan baik-baik saja." Kiya mencoba untuk menenangkan Wahyu.


"Iya, tolong ya Kiya."


"Ya, sudah. Aku tutup panggilannya ya. Assalamualaikum."


"Iya, Waalaikumsalam."


Akhirnya panggilan mereka berdua tertutup. Wahyu memilih tidur, berharap sakit kepalanya reda nanti saat sudah bangun. Sementara Kiya sedang memandangi ponselnya yang gelap itu.


"Apa aku bilang, pasti akan jadi seperti ini. Kau memang tidak pernah mendengarkan kata-kata ku, Syakirah. Jika sudah seperti ini kaulah yang akan sakit hati sendiri." gumam Kiya.


4 tahun yang lalu Kiya pernah menasehati Syakirah agar tidak terlalu berhubungan dengan teman-teman Wahyu, namun Syakirah selalu bilang kalau mereka itu baik. Ya, baik karena ada maunya. Kiya menghela nafas mengingat kejadian 4 tahun lalu itu, biarlah Syakirah merenungi nasibnya terlebih dahulu, pikir Kiya. Kiya pun melanjutkan mengajarnya.


***


Malam telah tiba, Kiya juga sudah ada di rumah Syakirah. Wahyu baru saja menghubunginya agar tidak lupa melihat keadaan Syakirah.


Tok… tok… tok…


"Assalamualaikum." Kiya mengetuk pintu rumah Syakirah dan mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam. Kiya, ada apa?" jawab ibu Syakirah. Kiya mencium punggung tangan ibu Syakirah.


"Saya mau ketemu sama Syakirah, bu. Syakirahnya ada?" tanya Kiya sambil melihat ke dalam rumah.

__ADS_1


"Ibu juga bingung, sekarang sudah jam 8 malam tapi Syakirah juga belum pulang. Ibu jadi khawatir. Kamu coba telpon dia." jawab ibu Syakirah.


"Saya kesini juga gara-gara itu, bu. Saya sudah coba hubungi Syakirah tapi ponselnya tidak aktif."


Ibu Syakirah bertambah khawatir dengan ucapan Kiya.


"Ibu tadi pagi juga lihat mata Syakirah sembab, mungkin Syakirah habis menangis. Apa Syakirah ada masalah?"


"Soal itu Kiya kurang tahu, bu." bohong Kiya. Kiya tidak mungkin memberitahu ibu Syakirah kalau Syakirah dan sahabatnya sudah terpecah belah. Bisa-bisa ibu Syakirah pingsan nanti jika tahu, karena ibu Syakirah sendiri juga sudah menganggap teman Syakirah seperti anak kandungnya sendiri.


"Kalau gitu Kiya pamit pulang saja, bu. Nanti Kiya coba hubungi Syakirah di rumah."


"Iya, tolong ya Kiya."


"Iya, bu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Ya Allah, Syakirah. Kamu dimana nak?" gumam ibu Syakirah saat Kiya sudah pergi.


Saat Kiya sudah sampai di rumah, Kiya mencoba untuk menghubungi Syakirah tapi hasilnya nihil, ponsel Syakirah tidak aktif sama sekali. Kiya mencoba untuk menghubungi Wahyu.


"Assalamualaikum, Kiya. Bagaimana? Apa respon Syakirah?" tanya di seberang sana.


"Aku sudah ke rumah Syakirah tadi, tapi Syakirah tidak ada di rumah. Ibu Syakirah bilang kalau tadi pagi mata Syakirah sembab. Aku tidak berani memberitahu ibu Syakirah soal terpecah belahnya persahatan kalian, aku takut ibu Syakirah tiba-tiba pingsan." ujar Kiya.


"Aaaaaaggghhhh. Kenapa Syakirah tiba-tiba menghilang tanpa kabar begini?"

__ADS_1


"Wahyu, aku tidak tahu persis masalahnya seperti apa. Aku juga tidak bisa bertemu denganmu sekarang ini, sekolah sedang sibuk karena ujian tengah semester di mulai sebentar lagi. Sekarang aku mau kau ceritakan secara detail, aku tidak mau nanti menyalahpahamkan salah satu dari kalian nanti."


Wahyu mulai menceritakan kejadian saat Syakirah di suruh untuk pergi ke ruangan CEO sampai Rey, Ryan dan Navile mengajaknya untuk menjauhi Syakirah. Wahyu menceritakan semuanya tanpa ada yang tertinggal sedikitpun. Kiya adalah pawang Syakirah, mungkin jika dengan Kiya, Syakirah bisa mengerti dan mulai lebih tenang.


"Jadi hanya karena urusan cinta, mereka lebih memilih menjauhi Syakirah? Jadi selama ini dugaanku benar kalau mereka ingin berteman dengan Syakirah karena ada maunya? Aku benar-benar tidak mengerti dengan pikiran mereka." ujar Kiya kepada Wahyu saat Wahyu sudah selesai bercerita.


"Awalnya mereka juga ingin lebih mengenal Syakirah lebih jauh lagi, tapi mungkin sepertinya ego mereka mengalahkan semuanya. Aku juga tidak mengerti, aku sudah berusaha untuk menjelaskannya kepada mereka tapi mereka tidak mau mendengarkan."


Kiya menghela nafas, inilah salah satu alasan Kiya tidak mau berteman dengan laki-laki.


"Sudahlah, Wahyu. Jangan memikirkannya, biarkan aku yang memikirkan Syakirah. Dia belum tentu mau mendengarkanmu, sampai mulutmu berbusa pun belum tentu dia mendengarkan. Untuk Syakirah aku yang akan mengurusnya, untuk teman-temanmu itu kau urus sendiri saja. Aku yakin Syakirah mau mendengarkan kalau aku yang bicara."


"Iya, aku berharap juga begitu."


"Kalau begitu aku tutup ponselnya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Panggilan telepon Kiya pun tertutup, Kiya memijat pelipisnya. Pusing juga dia, dia baru saja izin satu bulan 2 bulan yang lalu tidak mungkin dia izin lagi saat ini. Kiya mencoba menghubungi Syakirah lagi tapi hasilnya sama. Kiya membanting ponselnya ke kasur dan memijat batang hidungnya. Frustasi rasanya.


Sementara di sebuah rumah berlantai 2 sedang ada 2 orang perempuan, satunya sedang menangis tersedu-sedu sambil mengutarakan semua isi hatinya dan satunya lagi hanya melihat dan mendengarkan saja.


"Aku jadi tidak mengerti dengan pola pikiran mereka. Bukankah kau sudah menghargai perasaan mereka dengan cara kau berteman dengan mereka? Yang aku tahu kau selalu menghindar dengan orang yang menyukaimu kan, Syakirah."


2 orang wanita itu adalah Syakirah dan Aliya, Syakirah sedang curhat di rumah Aliya. Rumah yang Aliya tempati ini adalah rumah yang di berikan tunangannya untuknya. Pintu rumahnya terkunci dengan kartu akses, dan kartu itu hanya di miliki oleh 3 orang yang tak lain dia, Syakirah dan tunangannya. Aliya sengaja memberikan kartu akses rumahnya kepada Syakirah. Syakirah adalah sahabat Aliya, bagi Aliya Syakirah adalah bagian dari hidupnya karena Aliya juga pernah mengalami hal yang Syakirah alami saat ini.


"Aku juga tidak tahu, Al. Aku pikir mereka berteman denganku tulus tapi ternyata mereka berteman denganku karena mereka menginginkan sesuatu. Kau tahu sendiri kan Al bagaimana Rey, Ryan dan Navile saat mengajakku berteman dengan mereka, mereka sangat antusias aku pikir mereka senang berteman denganku. Al, aku tidak tahu apa harus bagaimana lagi. Aku menganggap mereka seperti keluargaku sendiri. Wahyu adalah orang pertama yang bisa aku percaya saat aku sekolah SMP dulu, aku tidak mau hubungan pertemananku dengannya berakhir seperti ini. Tapi jika aku terus berteman dengan Wahyu, maka persaudaraan Wahyu, Rey, dan Ryan akan hancur gara-gara wanita sepertiku dan aku tidak mau itu terjadi." ujar Syakirah yang masih menangis.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2