Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Ke butik


__ADS_3

Akhirnya mereka berdua memilih untuk diam dan memainkan hpnya dan membiarkan Evan senyum-senyum sendiri seperti orang gila.


***


2 hari kemudian...


Syakirah dan Kiya sedang ada di butik terkenal di kota ini. Syakirah antusias untuk memilih, Kiya yang merasa sangat risih. Apalagi tadi waktu pertama kali datang mereka sudah di sambut oleh karyawan butik. Sepertinya sudah di rencanakan, pikir Kiya.


"Ayo, kak. Kenapa kau tidak memilih baju? Kan ini dinner pertamamu, ayo cepat pilih. Kalau bisa yang bagus ya." ujar Syakirah yang sangat antusias dari tadi.


"Syakirah, apa tidak apa-apa beli disini? Disinikan mahal." tanya Kiya.


Ya gak apa-apa lah, kak. Kan yang bayarin Evan, bukan aku. Buat dia mah ini cuma seupil doang. Horang kaya emang gitu ya. batin Syakirah, hanya membatin saja.


"Tidak apa-apa, kak. Kak Rahman juga nyuruh aku buat membawa kakak kesini kok, jadi tidak masalah kan." jawab Syakirah.


"Aku tidak yakin kalau kakakku menyuruhku kesini. Dia saja fighting gaun pernikahan juga tidak disini, dan ini malah hanya dinner saja?" ujar Kiya heran sekali.


"Aaaihh, apa sih kak? Kakak jangan terlalu berfikir seperti itu. Mungkin saja kak Rahman ingin menebusnya dengan ini."


"Menebus apa?"


"Menebus waktu yang tidak bisa selalu ada buat kak Kiya. Bisa saja kan." ujar Syakirah. "Hei, bisa carikan baju muslim yang sangat elegan tapi gayanya yang sederhana." lanjut Syakirah kepada karyawan butik. Karyawan butik tadi mengangguk dan mencarikan baju yang di mintai oleh Syakirah.


Ada yang tidak beres sepertinya. Siapa sebenarnya bosnya kak Rahman ya? Aku yakin sekali kalau Syakirah kenal bosnya kak Rahman. batin Kiya mulai curiga.


Kiya akhirnya melihat-lihat baju, tempat yang dia tempati saat ini adalah tempat gaun berwarna putih, itu permintaan Kiya yang ingin membeli baju berwarna putih. Kiya melihat-lihat baju itu. Ada baju yang menarik perhatian Kiya, Kiya pun melihat baju itu.


"Kakak suka baju muslimah ini?" tanya karyawan butik yang tiba-tiba datang.


"Ah, iya sepertinya begitu." jawab Kiya gagu.

__ADS_1


"Ini pilihan yang sangat bagus sekali. Ini di buat sekitar 8 bulanan. Kristal yang ada pada kainnya juga sangat langkah sekali untuk di cari. Jika kakak mau, kakak boleh mencobanya." ujar karyawan itu.


Kiya melihat harga yang tertera di samping baju itu, dan betapa terkejutnya dia saat melihat harga yang tertera.


Apa! Sudah gila apa ya! Baju seperti ini harganya 235 juta?! Yang benar saja?! Aku kalau punya uang sebesar ini, pasti sudah aku sumbangkan kepada orang yang lebih membutuhkan. Ya ampun, sepertinya aku salah tempat. batin Kiya lemas.


Kiya langsung lemas saat melihat harganya, dia sepertinya mau pingsan saat melihat harga semahal itu. Kiya memandangi baju itu dengan tatapan lesu.


"Kak, apa kau suka baju itu?" tanya Syakirah yang sudah ada di belakangnya.


"Eh? Tidak Syakirah, aku hanya melihat-lihat saja." jawab Kiya gelagapan. Syakirah langsung melihat karyawan yang ada di sebelah Kiya tadi.


"Eh? Tadi kakak ini bilang dia suka dengan baju yang ini. Saya menyuruhnya untuk mencobanya, tapi dia menolak." jelas karyawan itu gelagapan.


Semua karyawan yang ada di butik ini sangat mengenal Syakirah. Bagaimana tidak kenal, ini adalah butik keluarga milik Evan. Apalagi dulu Syakirah sering dinner dengan Evan saat pacaran dan pastinya membeli baju disini. Jadi karyawan yang ada disini sudah tidak asing lagi dengan Syakirah.


"Kak, coba saja." ujar Syakirah kepada Kiya.


"Harganya sangat mahal sekali, Syakirah!" bisik Kiya sambil melotot.


"Ayolah, kak. Sesekali habiskan uang kakakmu itu. Kau kan tidak pernah menghabiskan uangnya. Aku yakin uangnya juga sudah banyak, jadi dia tidak akan keberatan." ujar Syakirah.


"Kau sudah gila apa ya! Mana ada baju yang harganya 200 juta!" ujar Kiya emosi sambil berteriak. Saat beberapa detik kemudian Kiya langsung sadar dan menutup mulutnya sendiri.


Syakirah membisikkan sesuatu kepada karyawan itu, karyawan itu membalas dengan anggukkan kepala lalu dia melenggang pergi.


"Sudah begini saja. Sekarang kakak ke salon saja ya, untuk urusan baju biar karyawan butik ini yang urus." ujar Syakirah.


"Ke salon? Harus ya?" tanya Kiya.


"Ya iyalah, kak. Biar kakak lebih fresh, biar tidak terlalu pusing. Tenang saja tidak akan menghabiskan uang yang banyak kok." ujar Syakirah berbohong soal biaya salon. Kiya mengangguk lemas saja, lalu Syakirah menuntun Kiya untuk ke salon.

__ADS_1


Butik ini sudah di lengkapi untuk salon juga, jadi tidak usah repot untuk mencari salon lain juga. Salonnya terletak di lantai 2, sementara disini ada 6 lantai, dan Syakirah sedang ada di lantai 4 jadi mereka harus turun lagi. Saat ada di lift Kiya mulai menggerutu.


"Syakirah, aku mau pindah tempat saja!" ujar Kiya emosi.


"Kenapa?" tanya Syakirah.


"Kenapa kau malah bertanya? Kau tidak lihat harganya semahal itu tadi! Aku mau pingsan rasanya tadi saat mengetahui harga sebesar itu." jawab Kiya emosi.


"Kak!" Syakirah berteriak sampai membuat Kiya terkejut, apalagi mereka juga ada di dalam lift saat ini. "Pokoknya kau harus ikut kata-kataku! Jangan sesekali membantah! Atau akan menjadi runyam!" lanjut Syakirah dengan senyum menakutkan. Kiya langsung mengangguk dan meneguk ludahnya kasar.


"Begitu dong, kalau kakak nurut kan enak jadinya." ujar Syakirah senang.


Mereka berdua keluar dari lift dan sudah di sambut oleh karyawan salon. Kiya di tuntun untuk mengikuti mereka, sementara Syakirah langsung sibuk dengan dunianya.


Mumpung free, kapan lagi gue bisa kayak gini? Makasih ya, kak. Nanti waktu pulang aku kasih hadiah sebagai tanda terima kasihku. Hihi. batin Syakirah senang.


Syakirah naik lagi ke dalam lift. Hpnya berdering menandakan ada pesan masuk, Syakirah segera mengambil hpnya dari tasnya, lalu dia membukanya dan ternyata dari Evan.


"Gimana? Udah pilih baju?" pesan dari Evan.


"Kak Kiya tadi udah srek sama satu baju, tapi waktu gue suruh coba dia gak mau." pesan balasan dari Syakirah.


"Kenapa?" pesan dari Evan.


"Katanya terlalu mahal." pesan dari Syakirah.


"Beli aja." pesan dari Evan.


"Gak lo suruh pun juga bakalan gue beli." pesan dari Syakirah.


"Terus sekarang Kiya lagi ngapain?" pesan dari Evan.

__ADS_1


"Dia lagi spa, biar pikirannya tenang juga. Tadi dia sempet marah-marah juga sih tapi gue gak terlalu urus juga, dia pasti jaga imagenya kalau disini jadi gak masalah. Sekarang gue juga mau lihat baju buat gue sama kak Kiya dulu, nanti gue kabarin lagi. Mumpung free ya." pesan dari Syakirah. Lalu Syakirah memasukkan hpnya ke dalam tasnya lagi. Dia pun keluar dari lift saat liftnya sudah berhenti dan terbuka.


Bersambung......


__ADS_2