
Mereka berdua melanjutkan untuk mencari bahan, Aliya berhenti di stand sayur dan buah. Dia mengambil beberapa sayur dan juga buah masing-masing 3 foam, karena ada diskon besar-besaran karena supermarkert akan segera tutup untuk jangka waktu 3 bulan karena sedang masa perbaikan.
Sekitar 15 menit telah berlalu, akhirnya mereka berdua ke kasir untuk membayar belanjaan Aliya. Mereka sudah ada di dalam taksi, Thomas ikut pulang dari pada dia jadi kacang lagi.
Saat sampai di rumah Aliya, Aliya turun dari taksi.
"Makasih, sudah menemaniku untuk berbelanja." ujar Aliya kepada Thomas yang masih ada di dalam taksi.
"Oh iya ini, tadi aku membelikan ini untukmu. Wanginya kalem gitu sih, sepertinya cocok jika di pakai denganmu." ujar Aliya lagi sambil menyodorkan 2 parfum lelaki yang dia pilih tadi. Thomas pun mengambil parfum itu.
Jadi dia beli ini buat gue, bukan buat tunangannya itu? Kok tiba-tiba dada gue berdebar gini ya. batin Thomas.
"Makasih." ujar Thomas. "Kalau gitu gue pergi dulu ya. Jalan, pak." lanjut Thomas. Akhirnya taksi itu pergi dari rumah Aliya.
Aliya masuk ke dalam rumahnya. Sementara Thomas sedang mengatur detak jantungnya yang tidak normal itu.
"Lagi jatuh cinta ya, mas?" tanya pak taksi itu kepada Thomas.
"Nggak, pak. Siapa coba yang jatuh cinta!" tolak Thomas.
"Udah mas, ngaku aja. Saya dulu juga begitu kok, alhamdulillah jodoh juga." ujar pak taksi tadi.
"Dia udah punya tunangan, pak." ujar Thomas.
"Mas, kalau jodoh ya insyaallah akan di satukan. Lagi pula mbaknya tadi cuma tunangan aja kan, belum menikah juga. Jadi kalau jodoh mah pasti di satukan aja." Thomas diam tidak menjawab ucapan pak taksi itu.
"Amiiin." ujar Thomas pada akhirnya.
Kalau dia merebut Aliya dari tunangannya itu sama saja dia sebagai pebinor, oleh sebab itu lebih baik dengan cara adil saja.
Sementara yang ada di supermarkert sedang kebingungan untuk mencari Thomas.
"Thomas kemana lagi tuh anak?" ujar Roy.
__ADS_1
"Tau, ini belanja udah selesai tinggal bayarnya aja, Thomas pakai ngilang segala." ujar Ucok.
Hp Roy berbunyi menandakan ada pesan masuk, Roy segera membuka hpnya. Dia mengumpat dengan kesal saat tahu pengirim pesan itu.
"Udah, kita ke kasir aja. Thomas udah ada di markas!" ujar Roy kesal.
"Lah? Kok bisa?" tanya Clara.
"Gak tau!"
Akhirnya mereka pun pergi ke kasir untuk membayar barang belanja'an mereka.
***
Malam sudah tiba, Rey, Ryan, dan Navile sudah ada di rumah Wahyu. Saat makan siang tadi, Wahyu menyuruh mereka untuk datang ke rumahnya saat sudah pulang kerja nanti. Jangan lupakan Ahmad, dia juga ikut ke rumah Wahyu, bukan untuk mendengarkan cerita Wahyu tapi hanya sekedar bermain saja.
"Apa yang mau kau bicarakan dengan kita? Sepertinya penting." tanya Rey.
"Iya lumayan penting." jawab Wahyu.
"Ini soal Syakirah dengan masa lalunya." jawab Wahyu. Mereka bertiga mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.
Wahyu menghela nafas, lalu dia menceritakannya kepada mereka bertiga. Mereka mendengarkan cerita dari Wahyu dengan seksama tanpa ada yang membantahnya.
"Aku tidak bisa memberitahu kalian tentang ini, karena ini juga bentuk Syakirah mengharhai perasaan kalian. Aku benar-benar minta maaf telah membohongi kalian." ujar Wahyu di akhir ceritanya.
Mereka bertiga diam, hati mereka rasanya tersayat saat mendengar kejujuran Wahyu. Mereka telah di bohongi Syakirah lagi. Mereka ingin marah tapi sepertinya mereka tidak pantas untuk marah. Kecewa? Tentu saja, itu pasti.
"Kenapa? Kenapa kalian selalu membohongi kita lagi?" tanya Ryan sendu.
"Maaf." hanya kata maaf yang bisa Wahyu ucapkan untuk saat ini. Akhirnya rahasia tentang Syakirah terbongkar juga.
"Lebih baik kita batalkan pertemuan kita dengan Syakirah weekend ini, sepertinya suasana hati kalian tidak cukup baik jika bertemu dengannya." lanjut Wahyu lagi.
__ADS_1
"Apa kau mau menjauhkan kita dari Syakirah lagi?!" tanya Navile tak suka.
"Aku tidak pernah ada niatan untuk menjauhkan Syakirah dari kalian, sepertinya lebih baik kita seperti ini saja. Jika aku boleh memilih antara berteman atau menjauh, aku lebih memilih menjauh karena jika aku dekat dengan kalian, aku akan terus menyakiti hati kalian. Ada baiknya jika hubungan kalian dan Syakirah tetap seperti ini." jelas Wahyu.
"Kita akan tetap mengadakan pertemuan kita dengan Syakirah. Kita tidak ada hak untuk mengatur hidup Syakirah karena kita bukan orang tuanya, kita ini hanya temannya saja. Aku tidak mau jika hubunganku dengan Syakirah terus berjauhan seperti ini." putus Rey pada akhirnya.
"Kau yakin?" tanya Wahyu memastikan. Rey pun mengangguk.
"Bagaimana dengan kalian? Aku tidak memaksa kalian untuk bertemu dengan Syakirah." tanya Wahyu kepada Navile dan juga Ryan. Mereka berdua saling tatap.
"Aku akan menemui Syakirah juga. Aku juga ingin selamanya tetap berteman dengan Syakirah." ujar Navile.
"Aku juga. Meskipun aku kecewa tapi aku tetap ingin bertemu dengan Syakirah. Aku juga mau berteman dengannya selamanya." ujar Ryan.
Wahyu tersenyum senang melihat tanggapan mereka tentang Syakirah, meskipun tidak bisa di bohongi bahwa mereka sangat kecewa.
"Sudah selesai kan? Aku bilang juga apa. Lebih baik kau memberitahu mereka dulu, dari pada mereka yang mengetahui sendiri." ujar Ahmad. Wahyu mengangguk dan berterima kasih kepada Ahmad.
"Kau sendiri juga kenapa ada disini?" tanya Ryan sedikit tidak suka.
"Kenapa memangnya? Wahyu juga tidak melarangku untuk kesini juga kan? Jadi wajar saja jika aku datang kesini, karena Wahyu tidak keberatan jika aku disini." jawab Ahmad dengan percaya dirinya.
"Cih." Navile.
"Sudahlah, aku membawa beberapa makanan dan minuman sebelum aku kesini tadi." ujar Ahmad sambil memberikan kantong plastik kepada mereka. Mereka pun mengambil minuman soda itu, begitu pula Ahmad.
"Ahmad, jika menurut cerita dari Wahyu, Evan adalah orang yang berkuasa, dia bisa melakukan apa saja yang dia mau. Lalu begaimana denganmu? Jika Syakirah memilih Evan apa yang akan kau lakukan?" ujar Rey. Ahmad meneguk minuman soda itu.
"Aku juga tidak tahu, aku sendiri juga bingung jika memikirkan hal ini. Tapi aku punya satu cara untuk mendapatkan Syakirah." ujar Ahmad.
"Cara apa?" tanya Ryan.
"Ada deh, pokoknya aku sudah menyiapkan cara untuk mendapatkan cara demi Syakirah." jawab Ahmad dengan bangganya. Ke empat orang ini berdecak kesal mendengar ucapan Ahmad.
__ADS_1
Aku sendiri juga tidak yakin tentang hal ini, tapi ada kemungkinan besar kalau Syakirah mau denganku. Aku tidak sesempurna Evan, aku juga tidak sekaya Evan, tapi aku yakin Syakirah tidak pernah memandang fisik dan materi. Aku juga sudah membicarakan ini dengan kak Rani, dan kak Rani bilang ini adalah pilihan yang terbaik. Sudahlah, aku akan mencobanya terlebih dahulu. batin Ahmad.
Bersambung......