Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Kak Dara


__ADS_3

"Udah! Cukup! Kalian berdua jangan berantem! Gak enak di dengar orang rumah! Kalian mau papa kalian marah?! Hah?! Udah jangan ribut mulu! Gak malam, gak pagi, gak siang, gak sore, kalau ketemu ribuuuuuttt mulu! Tapi kalau gak ada, nyariin. Kalian berdua itu aneh ya!" ujar mama Evan melerai pertengkaran kedua kakak beradik itu. Evan dan kak Cherly sama-sama mengulurkan lidahnya tanda mengejek. Mama Evan sampai memijat pelipisnya yang terasa nyut-nyutan melihat kedua anaknya itu.


Sementara di rumah Kiya, Kiya memandangi ponselnya dengan nanar dan tersenyum getir. Tidak percaya kalau Evan mengenalkannya kepada mamanya dan juga kakaknya. Kiya melengos ketika mengingat suara mama dan kakak Evan.


"Sudah gila apa ya! Bagaimana bisa dia mengenalkanku kepada mama dan juga kakaknya?!" ujar Kiya sedikit kesal.


Kiya tidak memperdulikan kejadian beberapa menit yang lalu, dia lebih memilih untuk sibuk dengan laptopnya dari pada mengingat itu, yang membuat kepalanya pusing.


***


Sementara di rumah Roy, seperti biasa mereka sedang menikmati makan malam tapi kali ini sedikit berbeda, karena adanya kak Dara, kakaknya Roy. Kak Dara baru saja pulang dari luar kota, dia ingin memastikan keadaan kedua orang tuanya, karena dia tidak percaya kalau orang tuanya baik-baik saja. Meskipun jawaban orang tuanya dari telpon baik-baik saja, tapi kak Dara tetap memastikannya agar dia tidak sampai ketinggalan.


"Ooohh, jadi ini yang namanya Clara? Anak cewek calon menantu mama itu?" tanya Clara di sela makannya sambil menatap Clara. Clara tersenyum gagu mendengar ucapan kak Dara itu.


Kok jadi kayak gini ya? Kayaknya kakaknya Roy gak bakalan suka kalau gue ada disini. Ini bakalan gue manfaatin buat keluar dari penjara ini. Gini dong, kenapa gak muncul kemarin-kemarin sih kakaknya Roy ini. Bikin gue bingung aja. batin Clara senang.


Clara akan mencoba memanfaatkan kak Dara sebagai alasan untuk pergi dari rumah Roy, karena sepertinya kak Dara tidak menyukainya.


"Iya, ini loh yang sering mama ceritakan ke kamu. Cantik kan?" ujar mama Roy.


"Cantik kok, tapi dia kok mau ya sama cecunguk ini?!" kak Dara mencibir.


"Gue ganteng makanya dia mau!" jawab Roy sambil menjulurkan lidahnya, mengejek.


"Dih! Paling juga dia lu pelet supaya dia suka sama lo!" cibir kak Dara lagi.


"Gak usah ngaco kalau ngomong!"

__ADS_1


"Dih! Siapa coba yang ngaco?! Emang itu kenyataanya kok!"


"Itu gak sesuai kenyataan. Dia suka gue gara-gara gue ganteng tau gak sih! Iya kalau kakak, jelek. Makanya gak ada yang mau." Roy balik mencibir kakaknya.


"Heh! Apa lo bilang tadi?! Gue?! Jelek?!" tanya kak Dara tak percaya sambil melengos. "Mata lo buram apa gimana sih?! Lo gak lihat anak-anaknya klien papa lagi ngantri buat jadi calon suami gue?! Mata lo itu lo taruh dimana?! Hah?!" lanjutnya lagi.


Banyak sekali lelaki yang mengantri untuk bisa hidup dengan kak Dara. Selain parasnya yang cantik, kak Dara juga wanita yang mandiri. Tapi dia tidak ada sama sekali niat untuk menjalani rumah tangga di umurnya yang hampir menginjak kepala 3, dia masih saja betah sendiri. Kedua orang tuanya juga tidak memaksa kak Dara untuk menikah, biarlah kak Dara memilih kehidupannya sendiri, mereka hanya bisa menasehati tanpa perlu menghakimi.


"Itu keberuntungan kakak aja! Kalau tau sifat aslinya, tuh cowok juga kagak bakalan mau sama kakak!" ujar Roy.


Kak Dara beralih melihat Clara dari atas sampai bawah.


Nih anak kayaknya cocok sama Roy, dia gak terlalu memperdulikan penampilan juga, apa adanya. Lebih baik gini dari pada dia sama cewek yang dandanannya kayak ondel-ondel itu. Gue setuju juga kalau dia sama nih cewek. batin kak Dara.


Kak Dara sangat tidak suka jika Roy mengajak seorang wanita ke rumah dengan pakaian yang ketat atau kurang bahan, dengan dandanan yang menurut kak Dara seperti ondel-ondel. Kak Dara sangat tidak suka dengan wanita yang seperti itu. Meskipun wanita itu kaya, lebih baik tampil apa adanya dari pada terlalu mencolok.


"Eh? Iya, kak?" jawab Clara gelagapan.


"Lo kok mau sih sama adik durjana gue? Bilang sama gue, lo di pelet kan sama dia!" ujar kak Dara sambil melayangkan tatapan pembunuhan kepada Roy.


"Ah itu... nggak kok. Aku cuma temannya aja kok, kak." jawab Clara gagu.


"Hah?! Teman?! Masa iya teman selalu tidur bareng?!"


Deg


Ucapan kak Dara sukses membuat Clara terkejut. Bagaimana bisa kak Dara tahu kalau Clara sering tidur sama Roy, padahal kak Dara baru saja sampai rumah dan baru tahu tentang Clara.

__ADS_1


Clara diam, tidak menjawab. Dia tidak tahu harus menjawab apa, karena sepertinya dia sedang di pojokkan juga.


"Dara, udah! Kamu jangan mojokin Clara terus!" ujar mama Roy. "Maaf ya, Clara. Mama yang ngasih tahu Dara kalau kamu dan Roy sering tidur sekamar." lanjut mama Roy.


Ucapan mama Roy sukses membuat Clara terkejut bercampur dengan kecewa. Bisa bertambah rusak imagenya, sudah tidak jelas latar belakangnya, anak terbuang dan miskin, di tambah lagi dengan seringnya dia tidur dengan Roy, lengkap sudah.


"Udah gak apa-apa, sans aja kali. Gitu aja tegang. Gue cuma bercanda." ujar kak Dara saat melihat wajah cemas Clara.


"Eh? Iya, kak." ujar Clara, akhirnya dia bisa bernafas dengan lega.


"Kenapa sih lo mau sama adek gue? Secara dia kan gak banget gitu!" tanya kak Dara sambil mencibir.


"Clara ini dulu mantan pacarnya Roy, tapi itu dulu kalau sekarang ya... beda lagi." jawab mama Roy.


"Terus? Lo gamon gitu sama dia?" tanya kak Dara lagi.


"Nggak, Clara itu gak gamon. Yang ada dia benci banget sama Roy, kalau di lihat sih mungkin sampai sekarang Clara masih benci sama Roy." jawab mama Roy.


Yang di tanya siapa, yang jawab siapa. Suka-suka aja deh ya. Haha.


"Benci? Kenapa Clara benci sama Roy?" tanya kak Dara lagi.


"Soalnya waktu putus sama Roy itu cuma gara-gara Clara miskin dan gak jelas latar belakangnya. Jadi Roy minta putus sama Clara dan bilang kalau Clara itu gak selevel dengan Roy. Terus Clara jadi benci sama Roy karena Roy terus menghina dia, gitu." jelas mama Roy.


Kak Dara langsung menyemburkan air yang dia minum tadi, terkejut dengan ucapan mamanya. Kak Dara beralih melihat Clara terkejut dan tidak percaya.


"Oh, jadi lo yang namanya Lara-Lara itu?! Lo ngapain masih mau sama adek gue?! Padahal kan lo udah di hina sama di caci maki sama dia! Lo di ancam kan sama dia! Ayo ngaku, biar gue gebek-gebek adek gue yang durjana ini!" ujar kak Dara yang tiba-tiba emosi.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2