
Selepas kepulangan Syakirah dan Ahmad, Kiya dan Wahyu langsung bertemu. Mereka berdua sedang membicarakan tentang Syakirah dan Ahmad.
Kali ini Kiya tidak seperti biasanya, dia memakai hoodie besar agar tidak ketahuan oleh Syakirah dan tetangga sekitar. Sementara Wahyu juga sama dengan Kiya.
"Apa informasi yang kau bawa, Wahyu?" tanya Kiya.
Saat ini mereka sedang ada di tempat sepi, seperti warung kopi yang berada di tempat gelap dan biasanya terdapat wanita dan laki-laki yang sedang mabuk. Mereka memilih tempat ini dengan terpaksa, karena tempat inilah yang paling strategis dan menghindari kekepoan teman-teman Wahyu. Ya, benar sekali. Teman-teman Wahyu tidak tahu kalau Wahyu sedang menyelidiki tentang Syakirah.
"Tidak ada yang spesial. Semuanya baik-baik saja." jawab Wahyu sambil menyodorkan ponselnya yang terdapat foto Syakirah dan Ahmad.
"Apa yang terjadi kepada mereka? Apa ada sesuatu? Kenapa Syakirah terlihat bahagia?" tanya Kiya heran saat melihat Syakirah yang begitu tersenyum senang.
"Aku tidak tahu soal itu. Tapi yang jelas, Syakirah terlihat bahagia di luarnya saja, tidak di dalamnya."
"Kau benar."
"Lalu apa yang mereka bicarakan di restoran XX ini?" tanya Kiya lagi.
"Mereka hanya sarapan saja, tidak ada yang mereka bicarakan, kecuali Ahmad yang memuji Syakirah karena cantik."
"Kenapa dia bicara begitu? Apa matanya baru saja terbuka sekarang?" tanya Kiya ketus. Wahyu hanya mengangkat bahunya saja.
"Mereka sampai di wisata XX. Apa saja yang mereka lakukan?"
"Saat mereka datang, mereka langsung menuju restoran untuk membahas masalah mereka."
"Lalu, apa respon Syakirah?"
"Syakirah memaafkan Ahmad dan juga memberikan kesempatan untuk Ahmad."
"Apa?! Apa-apaan Syakirah itu!" teriak Kiya.
"Tenanglah, jangan berteriak. Nanti pusat perhatian akan tertuju kepada kita!" Wahyu mengingatkan.
"Iya, iya maaf. Apa ada hal lain lagi?"
"Mereka berdua berduel."
"Maksudmu berduel bernyanyi begitu?"
"Iya."
"Apa lagu yang mereka nyanyikan?"
"Salahkah kita. Lagu yang dinyanyikan oleh Robin Hood dan Asmirandah."
"Kenapa mereka menyanyikan lagu itu?"
"Aku tidak tahu. Lagu itu ide dari Ahmad sendiri." Kiya mengangguk.
"Lalu, apa lagi yang mereka lakukan?" tanya Kiya lagi.
"Aku tidak tahu. Syakirah baru saja sampai rumah pukul 7 malam. Dan aku sudah pulang saat jam 11 siang."
"Kenapa? Kenapa kau pulang? Kau tidak menyelidikinya sampai akhir?"
"Tidak. Karena yang aku lihat Syakirah bahagia, jadi aku pulang. Aku juga ingin istirahat, Kiya."
"Kalau begitu ceritanya, kenapa kau mengikutinya tadi?"
"Aku hanya merasa kepo saja."
"Alasanmu tidak masuk akal!"
Kiya terus mengamati foto-foto yang ada di ponsel Wahyu. Kiya sedang memikirkan ide.
"Wahyu." panggil Kiya.
__ADS_1
"Apa lagi?"
"Apa kita sebaiknya membawa Syakirah pergi sekarang?" Wahyu langsung terkejut dengan ucapan Kiya.
"Apa kau masih belum percaya kepada Ahmad, Kiya?"
"Memangnya kau percaya?" tanya Kiya balik.
"Tidak juga."
"Lalu, kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Aku pikir kau percaya."
"Tidak sepenuhnya."
"Kau yakin dengan tindakanmu itu? Apa kau sudah bersiap menerima resikonya?"
"Aku yakin. Aku akan membicarakannya kepada Syakirah besok dan aku harap dia menyetujuinya."
"Lalu, bagaimana dengan Ahmad?"
"Dia pasti tahu. Aku akan memberitahu kak Rani saat kita sudah sampai ke tempat tujuan kita. Kita akan lihat bagaimana respon Ahmad terhadap kepergian Syakirah."
"Oke, aku setuju denganmu. Tapi kita akan membawa Syakirah kemana?"
"Kita akan membawanya ke Bandung."
"Kau yakin?"
"Yakin. Apa kau bisa menyelesaikan teman-teman mu dan pabrik?"
"Kau tenang saja. Aku tidak akan resign dari sana. Kami tidak akan mudah untuk dikeluarkan dari sana. Aku akan meminta izin saja. Jika tidak dapat izin maka terpaksa aku akan resign." Kiya mengangguk.
"Lalu, bagaimana dengan teman-temanmu?"
"Kau tenang saja, Syakirah pasti akan setuju."
"Bagaimana kau yakin?" tanya Wahyu heran.
"Kau jangan memikirkan Syakirah. Syakirah itu urusanku. Urusanmu adalah teman-temanmu dan pabrik." Wahyu mengangguk.
Mereka berdua pulang karena sudah terlalu malam dan mereka juga harus menyelesaikan masalah mereka secepat mungkin. Kalau bisa besok atau lusa harus selesai.
Saat Kiya sudah berada di rumah, dia ditelpon oleh kak Rani. Kiya terus memandangi ponselnya itu. Kiya mengangkatnya.
"Apa?" tanya Kiya di seberang sana dengan datar.
"Kiya, bagaimana? Apa kau sudah mendengarkan cerita dari Syakirah? Apa aku perlu menceritakannya kepadamu?" tanya di seberang sana dengan sangat senang.
"Tidak perlu."
"Kenapa? Apa kau sudah tahu?"
"Ya."
"Kalau begitu, aku yang menang ya? Secara kan Syakirah bahagia dengan Ahmad."
"Jika bahagia di luarnya saja untuk apa? Dan sementara di dalamnya sedih. Apa itu masih di anggap menang?"
"Apa maksudmu, Kiya? Ahmad bercerita kalau Syakirah bahagia."
"Hanya di luarnya saja."
Tut…
Kiya langsung menutup panggilan telponnya. Persetan dengan kak Rani akan membuat dia darah tinggi terus. Setelah menutup panggilan telponnya, Kiya menyeringai licik.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kak Rani beranggapan kalau kakak yang menang? Justru disinilah aku yang menang. Lihat saja, aku tidak akan membiarkan kakak dekat dengan Syakirah begitu saja." gumam Kiya.
Sementara kak Rani dibuat bingung oleh Kiya. Mengapa Kiya berkata kalau Syakirah tidak bahagia? Mendengar ucapan Kiya, kak Rani segera menemui Ahmad.
"Ahmad! Ahamd! Ahnad!" teriak kak Rani.
"Apa sih? Gak usah teriak-teriak bisa gak sih?" jawab Ahmad.
"Ahmad, apa kau serius kalau Syakirah bahagia tadi saat berjalan bersamamu?" tanya kak Rani memastikan.
"Tentu saja. Buktinya dia selalu tersenyum saat sedang bersamaku."
"Tapi, kenapa Kiya berkata kalau Syakirah hanya bahagia diluar saja tapi tidak bahagia di dalam? Apa maksudnya dengan kata-katanya itu?" ujar kak Rani heran.
"Memangnya Kiya berkata seperti apa?" tanya Ahmad.
"Kiya bilang, kalau Syakirah hanya bahagia diluar saja tapi tidak di dalamnya."
"Kenapa Kiya berkata seperti itu?" tanya Ahmad heran.
"Aku juga tidak tahu. Padahal jelas-jelas Syakirah bahagia."
"Sudahlah. Jangan pikirkan perkataan Kiya. Nanti aku akan bicara kepadanya."
Kakak beradik itu mengangguk dan masuk ke kamar mereka masing-masing. Sementara Kiya sedang menelpon Syakirah.
"Ada apa, kak? Tumben malam-malam telpon?" ujar di seberang sana.
"Syakirah, apapun keputusan yang aku ambil kau harus menerimanya ya." ujar Kiya.
"Keputusan apa, kak? Aku tidak bisa langsung menerima keputusan kakak tanpa jelas dan sebab."
"Ini soal Ahmad."
"Memangnya kenapa dengan Ahmad?"
"Syakirah, kakak hanya akan menghukumnya sebentar saja. Kakak hanya ingin memberikan pelajaran untuknya. Jadi kau ikuti saja apa kata kakak ya."
"Jika tidak berdampak buruk terhadap seseorang maka aku akan menerimanya."
"Kau tenang saja. Disini yang akan tersakiti mungkin saja hanya Ahmad seorang."
"Baiklah kalau begitu, kak."
"Besok kita bertemu dicaffe biasanya untuk membicarakan ini. Aku akan menunggumu setelah kau pulang kerja."
Tut…
Kiya menutup panggilan telponnya dengan Syakirah. Syakirah hanya menghela nafas lelah melihat kakak sepupunya itu. Kiya terlalu peduli dengan perasannya.
Bersambung.......
***
Pesan cerita.
Tidak semua orang yang kita lihat itu merasa bahagia. Terkadang orang yang merasa sangat bahagia, biasanya orang yang selalu terpuruk. Hanya saja dia menutupi keterpurukannya dari semua orang yang ada disekelilingnya.
Begitu juga dengan Syakirah. Dia terlihat bahagia saat bersama Ahmad, tapi Ahmad tidak tahu bagaimana perasaan Syakirah sebenarnya. Syakirah hanya bahagia diluar tapi tidak bahagia di dalam. Perasaan seperti ini biasanya sangat berdampak buruk kepada orang tersebut karena telah menyembunyikan sakit hatinya.
***
Happy eid mubarak🙏🏻
Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1-2 Syawal 1142 H. Minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin🙏🏻🙏🏻
Author minta maaf ya sama kalian, kalau author punya salah dan pernah khilaf ke kalian🙏🏻 Karena Author juga manusia biasa seperti kalian yang tidak luput dari kesalahan. 🙏🏻
__ADS_1