Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Buket bunga ( Part 1 )


__ADS_3

"Udahlah, Thom. Lo gak usah terlalu bernostalgia kayak gitu. Itukan masa lalu, yang kita lihat itu masa depan jadi lebih baik lo lupakan aja itu. Anggap kalau lo sedang menuruti kemauan adik lo." ujar Evan yang masih tertawa.


"Huh! Ck! Terserah!" Thomas.


"Udah, udah. Jangan terlalu di pikirkan. Sekarang gue tanya sama kalian berdua. Syakirah sekarang masih ada nggak di rumah Aliya?" ujar Evan.


"Ada kok." jawab Roy. Evan mengangguk mengerti.


"Kenapa emangnya? Lo mau kesana? Lebih baik gak usah dari pada lo debat sama temennya itu!" ujar Thomas.


"Hahahahaha. Lo jangan gitu dong Thomas. Ingat benci sama cinta itu beda tipis. Jadi jangan pernah benci sama dia." ujar Roy.


"Gue sih pengennya gitu, tapi gimana kalau Syakirah malah emosi lihat gue?" Evan nampak ragu untuk mengunjungi Syakirah di rumah Aliya.


Kalau gue kesana, apa Syakirah akan menerima gue dengan tangan terbuka? Tapi gue yakin Syakirah akan menolak kedatangan gue. Dia kan kecewa banget karena gue ningggalin dia gitu aja. Apa gue minta bantuan Roy sama Thomas aja ya? Kalau Roy sih pasti mau-mau aja, kalau Thomas kayaknya dia bakalan nolak karena disana kan ada Aliya. batin Evan.


Evan sudah menyiapkan hadiah untuk Syakirah saat dia datang kesini lagi, tapi Evan ragu apa Syakirah mau menerimanya apa tidak? Evan bahkan mencari hadiah untuk Syakirah butuh waktu seminggu, karena Syakirah sendiri juga tidak suka barang yang terlalu mewah. Evan menatap Roy dan Thomas secara bergantian, ragu untuk mengatakan.


"Gue boleh minta bantuan kalian?" tanya Evan.


"Boleh. Lo emang minta bantuan apa emang?" Roy.


"Tapi kalian harus janji akan menuruti permintaan gue ini." Evan.


"Emang lo minta apa sih, Van? Sampai harus janji segala!" Thomas.


"Janji dulu." Evan.


Roy dan Thomas saling tatap, takut jika Evan memerintahkan hal yang tidak-tidak kepada mereka.


Biasanya kalau gak di kasih tahu kayak gini permintaannya agak meresahkan. batin Roy.


Nih anak minta apa sih? Pakai Janji segala lagi! Kayak anak kecil aja! batin Thomas.


"Oke, kita janji. Asalkan permintaan lo masih bisa kita turuti, kita akan turuti." Roy. Evan tersenyum.


Evan keluar dari ruangannya dan menyuruh Roy dan Thomas untuk mengikutinya. Mereka berdua pun mengikuti Evan.


Dan disinilah mereka, di sebuah ruangan berharga milik Evan. Kenapa di sebut ruangan berharga? Karena tempat inilah yang menjadi saksi hubungan Syakirah dan Evan. Di ruangan ini sudah ada beberapa bungkusan hadiah yang sudah Evan siapkan untuk Syakirah. Banyak sekali, bahkan tidak tahu ada berapa bungkusan hadiah itu. Evan mengambil buket bunga ukuran jumbo yang di dalamnya ada rangkaian beberapa bunga, coklat dan boneka. Evan menyerahkannya kepada Roy, Roy pun menerima buket bunga itu dengan kebingungan.


"Buat apa buket bunga lo kasih ke gue?" tanya Roy bingung. Evan tersenyum licik yang membuat Roy dan Thomas bergidik ngeri.

__ADS_1


"Kalian kasih ini ke Syakirah sekarang." ujar Evan.


Duarr.


Roy dan Thomas menganga tidak percaya dengan ucapan Evan. Apalagi Thomas, jangan di tanya bagaimana ekspresinya sekarang, hampir seperti orang mati.


"Van, lo gila apa ya?! Syakirah itu ada di rumah Aliya dan gue gak mau kesana, apalagi kalau sampai ketemu sama Aliya!" Thomas.


"Kenapa? Lo kan juga udah janji sama gue, Roy juga udah janji sama gue. Mau gak mau lo harus turutin kemauan gue. Janji itu harus di tepati!" Evan menekankan kata janji. Thomas mengusap wajahnya kasar, menyesal.


"Van, tapi gue gak mau!" Thomas.


"Ya lo harus mau! Roy aja mau, kenapa lo gak mau? Lo udah janji lo sama gue tadi." Evan.


"Gue gak mau ketemu sama Aliya, Van! Gue benci setengah mati sama dia!" Thomas.


"Oke, kalau lo gak mau turutin kemauan gue ini, gue coret lo dari geng motor gue. Gimana?" Ancam Evan. Evan tahu cara ini adalah cara terampuh untuk anggota geng motornya.


"Oke oke. Gue akan turuti kemauan lo, tapi jangan coret nama gue. Oke?" Thomas mulai panik.


Sial! Bisa-bisanya Evan ngancam gue coba! batin Thomas.


"Oke, kalau gitu gue anterin kalian. Ayo!"


"Kenapa cuma buket bunga yang lo kasih ke dia? Kenapa gak semuanya?" tanya Roy. Evan berbalik dan melihat Roy.


"Untuk sementara ini dulu, gue takut Syakirah nolak hadiah dari gue. Jadi untuk sementara buket bunga dulu." jawab Evan.


Evan melangkahkan kakinya lagi, mereka berdua mengikuti Evan keluar dari rumah. Mereka semua sudah masuk ke dalam mobil Sports hitam milik Evan. Roy dan Thomas ada di depan, sementara Evan ada di belakang. Mereka pun memulai perjalanan untuk ke rumah Aliya. Thomas beberapa kali mengumpat dengan kesal, sementara Roy hanya tertawa saja.


***


Dan sampailah mereka bertiga di rumah Aliya, Evan memandangi rumah Aliya dari dalam mobil.


"Ini rumah Aliya?" tanya Evan.


"Iya, lebih tepatnya ini rumah yang di kasih tunangannya." jawab Roy.


"Oh jadi dia udah tunangan." Thomas.


"Lo jangan cemburu, oke?" Roy.

__ADS_1


"Ck! Siapa coba yang cemburu! Justru itu lebih baik!" Thomas.


Jadi udah tunangan ya, padahal umurnya masih 18 tahun. batin Thomas


Sebenarnya di hati Thomas ada rasa tidak ikhlas mengetahui Aliya sudah bertunangan. Entah kenapa hatinya tidak ikhlas. Roy mengambil buket bunga dan keluar dari mobil di ikuti oleh Thomas, sementara Evan tetap di dalam mobil melihat apa yang terjadi.


Tok... tok... tok...


Roy mengetuk pintu rumah Aliya. Lama tidak ada jawaban, Roy mengetuk pintu rumah Aliya lagi. Sementara yang di dalam sedang khawatir saat ada yang mengetuk pintu rumahnya malam-malam.


"Siapa ya? Malam-malam ketuk pintu rumahku? Jangan-jangan hantu lagi? Ini rumahku kenapa sih ada disini?" ujar Aliya khawatir. Aliya melihat pintu rumahnya yang di ketuk terus.


"Syakirah juga kenapa tidak keluar dari kamar ya? Aku takut."


Aliya mencoba untuk mendekati pintunya secara perlahan, seperti maling saja padahal rumahnya sendiri. Aliya mencoba mengintip di balik tirai jendelanya. Saat melihat orang yang mengetuk pintu rumahnya Aliya benar-benar terkejut.


"Kenapa mereka datang ke rumahku ya? Mereka tidak akan mencelekaiku kan gara-gara aku teman Syakirah?" Aliya tambah panik saat mengetahui pintu rumahnya di ketuk oleh anggota geng motor Evan.


Aliya memegang handle pintu rumahnya.


Buka, tidak, buka tidak. Buka saja. batin Aliya.


Aliya menarik handle pintu rumahnya. Tidak sadar kalau dia hanya memakai lingerie berwarna merah, meskipun tidak terawang tapi tetap saja menampakkan bentuk tubuhnya.


"Kenapa kalian datang kesini?" tanya Aliya langsung saat pintu sudah terbuka.


Roy dan Thomas meneguk ludah mereka kasar saat melihat tubuh Aliya yang memakai lingerie. Aliya yang merasa tubuhnya di pandangi langsung melihat tubuhnya sendiri.


"Aaaahhhhhh." teriak Aliya sambil menutup area dadanya. Roy dan Thomas juga terkejut saat Aliya berteriak.


"Kalian tunggu disini sebentar."


Aliya langsung masuk ke dalam rumahnya lagi dan menutup pintunya kembali.


"Gila! Tubuhnya oke banget, man." ujar Roy.


"Iya, gue juga gak nyangka kalau tubuhnya oke banget kayak gitu." jawab Thomas.


"J*n**r gue sampai bangun." Roy.


"Gue juga."

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2