Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Kena mental


__ADS_3

"Tentu saja. Kau tahu sendiri bagaimana kejamnya Syakirah dulu, bahkan dia bisa mematahkan tulang manusia dalam sekejap. Dan aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Cukup sekali saja, tidak usah berkali-kali!" jawab Wahyu di seberang sana. Sudah beberapa kali Syakirah mematahkan tulang orang-orang yang berani dengannya, tapi Syakirah tidak gencar saat ada orang yang mengancamnya, justru dia malah menjadi.


"Ya, kau benar. Aku juga tidak mau Syakirah berubah lagi, tapi kita harus secepatnya menemukan Syakirah sebelum terlambat. Orang berubah menjadi jahat lebih cepat di bandingkan dengan orang yang berubah menjadi baik. Percayalah Wahyu, jika Syakirah berubah seperti dulu lagi, teman-temanmu bisa habis di tangan Syakirah."


Mengapa Kiya berkata seperti itu kepada Wahyu? Tentu saja karena Syakirah tidak akan membeda-bedakan teman. Bahkan yang awal mula sahabat bisa menjadi musuh. Syakirah tidak akan memilih-milih teman, jika temannya sudah berkhianat kepadanya maka jangan berharap bisa berteman lagi dengannya. Tapi itu, tidak tahu jika sekarang.


"Iya, kau benar." ujar di seberang sana.


"Ya sudah, kalau begitu aku tutup dulu. Jam masuk sekolah sudah mau berbunyi dan aku harus segera mengajar. Nanti kita lanjutkan lagi. Assalamualaikum."


"Ya, Waalaikumsalam."


Panggilan mereka berdua pun akhirnya selesai, Kiya berjalan lagi menuju ke sekolah. Sementara Wahyu sedang menatap ponselnya nanar, entahlah sebenarnya ada rasa kecewa di hati Wahyu. Wahyu dekat dengan Kiya jika Syakirah ada masalah, jika Syakirah tidak ada masalah maka mereka berdua tidak akan dekat. Wahyu berharap kalau Kiya bisa menerimanya apa adanya, tapi prinsip Kiya adalah "Aku tidak akan pernah menjalani hubungan dengan seorang laki-laki, itu zina namanya. Aku ingin langsung menikah, bukankah pacaran setelah menikah lebih leluasa? Kita bisa melakukan apa saja yang kita mau karena kita sudah terikat dengan tali pernikahan." begitulah kata-kata Kiya terngiang di kepala Wahyu.


Wahyu masuk ke dalam pabrik dan menuju ruangannya. Saat sampai di ruangan, dia sudah di sambut oleh tatapan jengah Ahmad yang berada di meja kerjanya, Wahyu hanya memberikan ekspresi datar.


Braaakkh.


Suara gebrakan meja lagi-lagi terdengar di seluruh ruangan ini. Rey, Ryan dan Navile hanya awalnya bekerja jadi mengalihkan pandangan mereka melihat Wahyu dan juga Ahmad.


"Apa?" tanya Wahyu saat Ahmad masih belum berpindah dari meja kerjanya.

__ADS_1


"Kau tidak perlu bertanya seperti itu! Kenapa Syakirah tidak masuk kerja beberapa hari ini? Aku menelponnya tapi ponselnya tidak aktif. Kau pasti menyembunyikan Syakirah kan?!" ujar Ahmad penuh emosi.


Aku tidak menyembunyikannya, justru Syakirah sendiri yang memilih bersembunyi. batin Wahyu.


Wahyu tidak memperdulikan Ahmad dan memilih untuk membaca dokumen-dokumen penting yang ada di hadapannya. Ahmad yang di abaikan Wahyu tambah marah.


"Hei Wahyu, kau dengar tidak?!" ujar Ahmad lagi.


Braaakkh.


Bugh.


Satu bogeman meluncur ke wajah Ahmad, Ahmad sangat terkejut saat Wahyu memukulnya. Rey, Ryan dan Navile langsung berdiri dari meja kerjanya dan mendekati mereka. Wahyu manarik kerah baju Ahmad, Wahyu benar-benar sudah sangat jengah melihat Ahmad. Ahmad hanya diam saja.


Seketika ke empat mata orang ini membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang di ucapkan Wahyu.


"Kau tahu seberapa paniknya aku dan Kiya? Sangat, sangat panik! Kau tahu? Jika Syakirah berubah seperti dulu lagi, mungkin saat ini kau bukanlah orang yang sangat berarti bagi Syakirah. Syakirah bisa saja membunuhmu, tidak! Syakirah bisa saja membunuh kita. Kau tahu kan kalau dulu Syakirah di sebut psikopat, jadi jangan pernah kau macam-macam dengannya saat ini. Berhentilah untuk menganggu Syakirah dan carilah hidupmu sendiri. Syakirah menghilang seperti ini juga gara-gara dirimu, bodoh!" lanjut Wahyu lagi.


Wahyu melepaskan tangannya dari kerah baju Ahmad, nafasnya masih memburu. Wahyu mengusap wajahnya dengan kasar, dia pusing sekali saat ini memikirkan Syakirah. Beginilah sahabat, tidak akan pernah meninggalkan sahabatnya dalam kesusahan.


"Apa maksudmu Syakirah tiba-tiba menghilang?" Rey.

__ADS_1


"Iya, jangan membuat kami khawatir." Navile.


"Katakan! Apa yang sebenarnya terjadi dengan Syakirah?!" Ahmad.


"Iya, ayo katakan, Wahyu. Kau jangan mengarang cerita!" Ryan.


Gendang telingan Wahyu rasanya mau pecah mendengar ocehan mereka berempat.


"Diam!" suara Wahyu menggema di ruangan ini. Mereka berempat langsung diam kikuk. Jujur saja mereka takut jika Wahyu sedang marah, kecuali Ahmad dia terlihat biasa-biasa saja. Jangan pernah meremehkan diamnya seseorang.


"Kalian bertiga kenapa menanyakan tentang Syakirah? Bukankan kalian sudah tidak berteman lagi dengannya? Bukankah kalian sendiri yang memutuskan untuk menjauh dari Syakirah? Lalu kenapa di saat Syakirah menghilang kalian malah mengkhawatirkannya? Apa kalian menyesal telah menjauhi Syakirah? Kalian bilang, kalau kalian tidak akan menyesal meninggalkan Syakirah, lalu kenapa sekarang panik saat mendengar Syakirah tidak ada kabar? Dimana kata-kata kalian waktu itu hah?" ujar Wahyu kepada Rey, Ryan dan Navile.


Jleeeb.


Mereka bertiga langsung kena mental mendengar ucapan Wahyu. Jujur saja, saat mereka menjauhi Syakirah ada rasa penyesalan di hati mereka tapi mereka terlalu gengsi untuk minta maaf. Wahyu beralih menatap Ahmad.


"Dan kau Ahmad, kau biasanya yang paling antusias saat mendengar tentang Syakirah, lalu kenapa sikapmu biasa-biasa saja saat Navile bicara kalau aku dan Syakirah bukan temannya lagi? Biasanya kau akan langsung mencari tahu tapi kenapa kau waktu itu diam saja? Dan saat ini kau mendengar kalau Syakirah tidak ada kabar, kau juga ikutan panik. Bukankah itu artinya waktu itu kau tidak peduli dengan Syakirah? Kau yang berusaha mendapatkan Syakirah mati-matian bukan waktu itu? Bahkan kau sampai menyusulnya untuk ke Bandung. Setelah Syakirah memberimu kesempatan, kau seperti tidak peduli lagi dengannya. Kau telah mendapatkan apa yang kau ingin, setelah itu kau langsung meninggalkannya. Kau pikir Syakirah itu barang apa?!"


Jleeeb.


Ahmad juga kena mental seperti Rey, Ryan dan Navile. Kata-kata Wahyu sangat menancap di hatinya. Bagaimana bisa Wahyu bicara seperti itu tanpa ada saringan sama sekali? Ahmad juga baru kali ini di pojokkan seperti ini, biasanya dia yang akan memojokkan.

__ADS_1


Mereka berempat diam mendengar ucapan Wahyu, tidak ada yang bergeming sama sekali. Takut jika menjawab langsung salah di mata Wahyu, jadi mereka diam saja. Wahyu menatap mereka satu-persatu dan langsung meninggalkan mereka berempat. Biarlah mereka merenungi kesalahannya, begitu pikir Wahyu.


Bersambung......


__ADS_2