Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Mencari Syakirah


__ADS_3

Sementara Rey, Ryan dan Navile sedang berkumpul di rumah Rey untuk membahas rencana mereka.


"Untung saja kita tadi bersikap natural." Ryan.


"Iya, untung saja. Tadi waktu Rey memukul Ahmad aku sudah sangat gugup. Untung saja. Rey seharusnya tadi kai pukul lebih keras lagu, supaya Ahmad tahu rasa." Navile.


"Huh! Sebenarnya aku juga gugup. Aku tidak pernah beracting seperti ini. Harusnya Kiya itu memberitahu kita strateginya, bukan hanya menyuruh saja." Rey.


"Percuma Kiya tidak akan pernah seperti itu. Dia itu hanya mau terima jadi saja, untuk masalahnya dia tidak mau ikut campur." Navile.


"Sudahlah, jangan memikirkan itu. Ayo pulang sana, aku mau tidur." Rey.


"Hei, apa kau mengusir kami?" Ryan.


"Ya, aku mengusir kalian. Apa kalian tidak tahu kalau kita ini cuti? Manfaatkan cuti kalian dengan baik. Jarang-jarang kita seperti ini." Rey.


"Halah, ngomong saja kalau mau malas-malasan. Kau selalu seperti ini jika sedang libur!" Navile.


"Huh! Terserah kalian saja. Pokoknya sekarang kalian pergi dari rumahku! Aku mau tidur!" usir Rey.


Rey menarik tangan Ryan dan Navile untuk pergi dari rumahnya.


"Hei Rey, harusnya kita itu pergi ngopi bukan malah tidur!" Ryan.


"Ya sudah, sana berdua saja!"


Braaakk.


Rey membanting pintunya setelah Navile dan Ryan berada di luar rumahnya.


"Ck! Jadi gimana? Mau kemana? Tidur? Apa ngopi?" tanya Ryan.


"Ngopi saja." Navile.


Mereka berdua akhirnya pergi untuk ngopi berdua, tanpa Rey.


***


Sementara Ahmad sedang melacak nomor ponsel Kiya. Dia baru ingat kalau dia bisa melacak nomor ponsel seseorang. Karena berhubung nomor Kiya aktif jadi Ahmad memanfaatkannya.


"Apa akan ketemu jalannya, Ahmad?" kak Rani.


"Tenang saja, lacakan ku tidak mungkin salah. Kakak jangan khawatir begitu." kak Rani mengangguk. Dia ikut adiknya saja.


"Bandung?" ujar Ahmad setelah selesai melacak nomor ponsel Kiya.


"Jauh sekali. Mereka bertiga ada di Bandung naik apa?" kak Rani.


"Sepertinya memang ada di Bandung."

__ADS_1


"Apa kau akan mencarinya kesana?"


"Iya."


Ahmad berjalan ke kamarnya. Dia mengambil kopernya dan mulai memasukkan pakaiannya. Kak Rani yang melihat itu langsung heran.


"Ahmad, apa kau akan mencarinya sekarang? Kau kan masih belum istirahat." kak Rani.


"Aku tidak mau menunda waktu, kak. Aku akan mulai perjalanan sekarang. Paling tidak besok pagi aku sudah sampai disana."


Kak Rani tidak menanggapi ucapan Ahmad dan langsung berjalan keluar kamar Ahmad. Setelah selesai membereskan perlengkapannya Ahmad berjalan keluar kamar.


"Ahmad." panggil kak Rani.


"Ya, kak?" Ahmad.


"Bawa bekalmu. Nanti kalau kau lapar, makan ya." ujarnya sambil menyodorkan kotak makan.


"Kakak tidak perlu repot-repot membawakanku bekal. Aku yakin nanti waktu di jalan pasti ada orang berjualan makanan." ujar Ahmad sambil menerimanya.


"Sudah, makan saja. Jangan banyak bicara."


"Ya sudah, kalau begitu aku pamit. Assalamualaikum."


"Ya, hati-hati. Semoga kamu cepat bertemu dengan Syakirah. Waalaikumsalam."


"Syakirah, aku akan mencarimu sampai kau ketemu. Aku akan mengungkapkannya kepadamu. Syakirah, tunggu aku." gumam Ahmad.


***


Sementara Kiya, Syakirah dan Ahmad baru saja selesai makan malam. Mereka duduk di teras kontrakkan mereka. Mereka berhasil menemukan kontrakkan dengan cepat dan biaya yang lumayan murah selama sebulan.


"Apa ada perkembangan dari mereka bertiga?" tanya Kiya.


"Iya. Mereka berhasil dan sepertinya Ahmad sudah percaya. Tadi Navile mengirimkan pesan kepadamu, bahwa dia melihat mobil Ahmad pergi. Dan aku berfikir Ahmad tidak akan pergi malam-malam jika tidak ada urusan." jawab Wahyu.


"Maksudmu?" Kiya.


"Aku pikir Ahmad sudah mulai mencari kita." Wahyu.


"Bagaimana bisa kau berfikiran seperti itu? Ahmad kan belum tahu kalau kita ada di Bandung." Kiya.


"Aku yakin dia sudah tahu. Dia itu pintar melacak. Aku yakin dia sudah mulai perjalanan kemari." kali ini Syakirah yang berbicara. Kiya dan Wahyu menoleh dan menatap Syakirah.


"Apa kau masih berharap kepadanya Syakirah?!" tanya Kiya ketus.


"Kak, bukannya aku membela Ahmad. Tapi memang Ahmad itu pintar melacak seseorang dari nomor ponsel. Kakak tadi kan menjawab telepon dari kak Rani, kemungkinan besar Ahmad sudah tahu." Syakirah.


"Apakah memang begitu?" Kiya.

__ADS_1


"Iya, aku yakin sekali." Syakirah.


Mereka diam. Sejak Syakirah sudah sampai di Bandung, Syakirah memang diam saja. Wahyu dan Kiya juga tidak mengajak Syakirah bicara karena mereka tahu apa yang sedang dirasakan oleh Syakirah.


"Sudahlah, jangan pikirkan itu. Kita tidak mungkin kan tidak melakukan sesuatu. Sebulan ini kita tinggal di kota orang. Aku pikir lebih baik kita juga bekerja." Wahyu.


"Kau mau bekerja apa? Kita hanya membawa pakaian dan uang saja kesini." Kiya.


"Kau ada benarnya juga Kiya." Wahyu.


"Aku punya ide." Syakirah. Wahyu dan Kiya menatap Syakirah meminta penjelasan.


"Apa?" tanya mereka berdua serempak.


"Aku pikir lebih baik kita berjualan kue dan juga aku juga ingin menyanyi. Aku yakin kita bisa melakukan itu. Bagaimana?" Syakirah.


"Aku setuju, tapi aku tidak bisa membuat kue dan aku juga tidak pintar menyanyi." Kiya.


"Aku juga." Wahyu.


"Untuk kalian berdua lebih baik berjualan kue dan minuman saja. Dan aku akan menyanyi. Tadi aku lihat ada gitar di mobil paling belakang, aku pikir aku bisa memanfaatkan itu." Syakirah.


"Jika, kau tidak keberatan itu tidak masalah." Wahyu.


"Lalu, kapan kita akan memulainya?" Kiya.


"Besok kita akan membuat kue dulu. Kak Kiya coba kau cari di internet pasar terdekat disini. Dan kita akan berjualan keliling saja." Syakirah. Kiya mengangguk dan mulai mencari di internet.


"Apa kau yakin akan melakukan ini, Syakirah?" Wahyu.


"Tentu saja. Hitung-hitung untuk menambah uang kita. Aku tidak mau jadi pengangguran dengan usiaku yanh sudah dewasa ini." Wahyu mengangguk dengan ucapan Syakirah.


"Ayo kita tidur. Ini sudah malam. Kita kan besok mau berjualan." ajak Kiya. Syakirah dan Wahyu mengangguk dan berjalan masuk ke dalam kontrakkan.


Syakirah membanting tubuhnya di kasur. Dia sangat pusing sekali. Masalahnya begitu sangat banyak, dia tidak sanggup untuk menyelesaikan masalahnya dalam sekejap. Syakirah mengaktifkan ponselnya dan dia bisa melihat bahwa ada panggilan tidak terjawab dari kak Rani dan juga Ahmad.


Syakirah ingin mengirimkan pesna kepada Ahmad, tapi dia tidak tahu harus mengirimkan pesan apa.


"Ahmad, maafkan aku yang sudah merepotkanmu. Aku yakin kau sudah sedang dalam perjalanan untuk mencariku. Aku minta maaf karena sudah merepotkanmu. Aku hanya ingin menenangkan pikiranku sejenak saja." pesan terkirim dan Syakirah mematikan ponselnya kembali. Syakirah menutup matanya dan mulai pergi ke alam mimpi.


Bersambung......


***


Happy eid mubarak๐Ÿ™๐Ÿป


Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1-2 Syawal 1142 H. Minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป


Author minta maaf ya sama kalian, kalau author punya salah dan pernah khilaf ke kalian๐Ÿ™๐Ÿป Karena Author juga manusia biasa seperti kalian yang tidak luput dari kesalahan. ๐Ÿ™๐Ÿป

__ADS_1


__ADS_2