Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Kencan ( Part 3 )


__ADS_3

Syakirah masih saja diam padahal Ahmad sudah selesai bercerita. Ahmad sendiri juga masih memegang tangan Syakirah, berharap Syakirah percaya padanya. Ahmad memang menceritakan semuanya tanpa berbohong sama sekali, tapi di hati Syakirah masih ada keraguan untuk mempercayai Ahmad.


"Syakirah, aku tidak minta kepadamu untuk mempercayaiku sekarang. Aku juga tidak memaksamu untuk mempercayaiku. Tapi kamu harus, apa yang aku ceritakan kepadamu tadi adalah kebenarannya. Aku sudah jujur kepadamu tanpa ada yang aku tutupi." ujar Ahmad menjelaskan.


"Entahlah, Ahmad. Aku masih ragu untuk itu. Aku sudah tidak bisa mempercayaimu seperti dulu lagi. Jadi, jangan salahkan aku jika aku sudah tidak percaya kepadamu." ujar Syakirah.


Ahmad merenungi nasibnya. Dia menyesal karena telah menyelingkuhi Syakirah dulu. Penyesalan memang berada di akhir.


"Jika kau memang masih belum percaya kepadaku, setidaknya beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku. Aku akan memperbaikinya dan aku juga akan menyelesaikan masalah ku satu-persatu." ujar Ahmad.


"Jika kau mau menyelesaikan satu-persatu masalahmu, maka kau akan mulai dari mana?" tanya Syakirah.


Ahmad nampak berfikir, dia juga tidak tahu harus memulai dari mana sebenarnya. Tapi, dia yakin dia bisa menyelesaikan masalahnya dengan cepat.


"Mungkin aku akan memulai dari Hanifa terlebih dahulu." ujar Ahmad.


"Aku ingin memberikan sedikit nasehat kepadamu. Aku harap kau tidak menyakiti perasaan Hanifa saat menyelesaikan masalah mu nanti. Aku tidak mau kau menyakiti perasaan perempuan lagi, cukup aku saja. Aku tahu rasanya di sakiti. Aku berharap banyak padamu saat kau menyelesaikan masalah mu dengan Hanifa. Jangan sakiti perasaannya. Sekuat-kuatnya perempuan, dia akan menangis saat dia lelah. Aku sudah pernah merasakannya." ujar Syakirah yang nampak sedih.


Ahmad mengerti dengan ucapan Syakirah. Dia tidak boleh menyakiti Hanifa karena sejahat-jahatnya Hanifa pasti dia akan menangis saat sedang patah hati.


Syakirah, terbuat apa hatimu itu? Kau bisa memaafkan Hanifa dengan mudah, padahal dia sering menyakitimu dulu. Aku menyesal karena telah melepaskanmu dulu. Syakirah, mau tidak mau, suka tidak suka, kau harus bersamaku nanti. Kau harus bisa menerimaku. Aku tahu cinta tidak di paksa. Tapi jika cinta itu menyangkut dirimu maka aku akan memaksanya, tidak peduli apa resikonya. ujar Ahmad dalam hati.


"Aku akan mencobanya. Aku yakin aku bisa melakukannya." jawab Ahmad. Syakirah hanya tersenyum menanggapi ucapan Ahmad.


"Lalu… apa… aku… bisa mendapatkanmu lagi?" tanya Ahmad ragu. Syakirah seketika murung mendengar ucapan Ahmad.

__ADS_1


"Jika aku dan dirimu memang berjodoh maka aku akan menerimamu, tapi jika tidak kita hanya bisa berteman." jawab Syakirah.


"Lalu, apakah aku mendapatkan kesempatan lagi?" tanya Ahmad lagi.


"Ya. Jika kau sudah tidak ada hubungan dengan wanita lain, maka kau akan mendapatkan kesempatan. Tapi, jika kau masih memiliki hubungan dengan wanita maka kau tidak akan mendapatkan kesempatan. Maksud dari perkataan ku adalah, aku tidak menyuruhmu untuk mengakhiri hubunganmu dengan perempuan yang sedang bersamamu. Aku hanya tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubunganmu, itu saja." Ahmad mengerti dengan ucapan Syakirah.


Syakirah dan Ahmad masih berada di dalam restoran meskipun makanan dan minuman mereka sudah habis. Mereka masih terasa canggung jika keluar berdua seperti ini, bagaimanapun mereka ada hubungan yang spesial dulu.


"Syakirah, apa kau tidak mau menaiki wahana?" tanya Ahmad.


"Memangnya kau ingin menaiki wahana?" bukannya menjawab pertanyaan Ahmad, Syakirah malah bertanya balik.


"Kita sudah jauh-jauh kesini, rugi bukan jika kita tidak melakukan apa-apa? Setidaknya kita naik satu wahana saja."


"Ya sudah, ayo kita naik wahana."


Triing…


Salah satu ponsel dari mereka berbunyi, mereka berdua melihat ponselnya masing-masing. ternyata pesan dari ponsel Ahmad. Ahmad membuka pesan yang dikirimkan kakaknya.


"Ahmad, apa kau sudah berbicara dengan Syakirah?" pesan yang dikirimkan kak Rani kepada Ahmad.


"Sudah, kak." pesan terkirim.


"Lalu, bagaimana? Apa kau berhasil? Apa kau tidak menyakiti perasaan Syakirah?"

__ADS_1


"Aku berhasil dan aku juga tidak menyakiti perasaan Syakirah."


"Syukurlah kalau begitu, dengan begini aku tidak akan pernah kehilangan Syakirah lagi. Ceritakan padaku saat kau sampai di rumah nanti ya. Dan juga kalau bisa naik wahana bianglala saja, agar terlihat romantis. Oh ya jangan lupa juga, foto yang banyak dengan Syakirah agar bisa dibuat kenang-kenangan!" Ahmad membaca pesan dari kak Rani sambil tersenyum sendiri. Syakirah yang menyadari hal itu langsung bertanya kepada Ahmad.


"Ahmad, kenapa kau tersenyum sendiri?" tanya Syakirah.


"Ah, tidak ada. Aku hanya membaca pesan dari kak Rani saja. Syakirah, apa kita bisa berfoto? Kak Rani menyuruhku untuk berfoto yang banyak denganmu."


Syakirah nampak berfikir dengan ucapan Ahmad tentang foto tadi, sampai akhirnya dia mengiyakannya. Mereka berdua berfoto di pohon yang berbentuk love itu. Sesekali fotografer menyuruh mereka untuk saling bersentuhan. Malu? Tentu saja malu, siapa yang tidak malu jika seperti itu, karena mereka tidak ada hubungan yang spesial.


Dengan tinggi badan Syakirah yang mencapai 175cm dan tinggi badan Ahmad yang 180cm membuat mereka nampak serasi. Apalagi dengan wajah mereka yang tampan dan juga cantik. Sesekali ada pasangan yang melirik mereka berdua saat sedang berfoto karena iri dengan tinggi badan dan juga wajah Syakirah dan Ahmad. Ahmad dan Syakirah jadi pusat perhatian para pengunjung, mereka berdua sangat serasi sekali, begitu pikiran orang yang melihat Syakirah dan Ahmad.


Saat berfoto di pohon berbentuk love, Syakirah berada di depan dan Ahmad berada di samping Syakirah sedikit ke belakang, dan itu saja sudah membuat mereka seperti seorang pengantin.


Selesai berfoto, Ahmad dan Syakirah duduk di bangku yang sudah tersedia di pinggir bunga-bunga. Mereka berdua melihat foto mereka, ada rasa malu yang di sembunyikan mereka. Mereka mendapatkan 20 lembar foto sekaligus, padahal mereka merasa hanya berfoto beberapa saja. Saat mereka melihat dengan teliti ternyata ada beberapa foto yang di sengaja oleh fotografer tadi saat mereka berdua tidak sadar. Meskipun tidak tahu saat di foto, tapi fotonya nampak sangat natural.


"Apa aku boleh membawanya pulang, Syakirah?" tanya Ahmad saat melihat foto-foto tadi.


"Tentu saja. Bukankah kak Rani yang menyuruh kita berfoto tadi? Tunjukkan padanya agar dia puas!" ujar Syakirah sedikit ketus.


Ahmad hanya tersenyum menanggapi ucapan Syakirah yang ketus itu. Sangking asiknya melihat foto-foto tadi, mereka sampai lupa kalau mereka mau menaiki wahana.


"Ahmad, bukankah kita mau naik wahana?" tanya Syakirah sambil menunjuk bianglala yang sangat besar itu. Entah kenapa tiba-tiba Syakirah ingin menaiki bianglala.


"Iya, kita taruh barang-barang kita di tempat penitipan saja ya?" Syakirah mengangguk.

__ADS_1


Akhirnya mereka beranjak dari duduk mereka dan menuju ke tempat penitipan barang.


Bersambung......


__ADS_2