
Hanifa menitikkan air matanya haru. Syakirah sangat bijak sekali menurutnya.
"Jangan menangis. Jika kau memang berniat maka cobalah. Jangan takut, niatmu baik. Pasti Ada jalannya." Syakirah.
***
Saat ini mereka berlima sedang ada di bandara, Syakirah, Ahmad, Kiya, Wahyu dan juga Hanifa. Hanifa memutuskan untuk pulang sekarang naik pesawat.
"Kau yakin mau pulang sekarang? Masih ada waktu seminggu aku disini." ujar Ahmad.
"Bagaimana kalau aku sampai jatuh cinta padamu lagi? Lebih baik aku pulang." Hanifa.
"Hanifa, aku cukup khawatir. Kau sendirian di pesawat. Apa kau yakin apa baik-baik saja?" Syakirah.
"Huh! Memangnya apa yang kau khawatirkan dengannya? Tidak akan terjadi apa-apa." Kiya. Hanifa hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan Kiya. Wajar jika Kiya berbicara sangat ketus padanya, itu karena yang memulai permusuhan adalah dia.
"Tidak akan ada apa-apa. Aku yakin kalau aku akan baik-baik saja." Hanifa.
Ahmad melihat jam di pergelangan tangannya. Jam menunjukkan pukul 11:15 dan artinya keberangkatan Hanifa kurang 15 menit lagi.
"Pesawat akan terbang 15 menit lagi. Lebih baik kau cepat masuk dari pada nanti ketinggalan pesawat." Ahmad. Hanifa mengangguk mengerti.
Hanifa menatap Kiya, yang di tatap malah bergidik ngeri. Hanifa menghampiri Kiya.
"Kiya... " belum selesai Hanifa bicara, ucapannya sudah di potong oleh Kiya.
"Apa?!" ujar Kiya ketus.
"Aku tahu kau sangat marah kepadaku. Oleh sebab itu, aku minta maaf kepadamu. Aku minta maaf karena sudah jahat selama ini kepadamu." Hanifa.
"Kau pikir aku akan memaafkanmu?!" Kiya.
"Aku tidak berharap lebih. Setidaknya aku sudah mengucapkan kata maaf ku." Hanifa.
"Huh!" Kiya.
Kiya menghampiri Hanifa, Hanifa tentu saja sedikit mundur. Dan tiba-tiba saja Kita memeluknya, Hanifa sangat kaget saat Kiya memeluknya. Hanifa membalas pelukan Kiya.
"Jelek baiknya dirimu itu kau tetap temanku. Kita pernah mencari ilmu di tempat yang sama. Kita selalu di ajarkan untuk memaafkan seseorang jika seseorang itu bersalah. Kita juga di ajarkan untuk tidak pendendam. Aku memaafkanmu Hanifa." ujar Kiya lembut. Hanifa sangat tersentuh dengan ucapan Kiya.
"Sekarang pergilah sebelum ketinggalan pesawat. Mainlah ke rumahku jika kau ada waktu nanti." lanjut Kiya.
Hanifa tersenyum mendengar ucapan Kiya.
Mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi sebelum aku menemukan calonku, Kiya. Aku juga tidak akan pernah menginjakkan kaki kotorku ke rumahmu. Aku akan datang ke rumahmu saat aku menyebarkan undanganku nanti. batin Hanifa.
__ADS_1
Hanya bisa membatin saja, tidak perlu di ungkapkan. Hanifa menghampiri Wahyu dan tersenyum. Hanifa mengeluarkan benda dari saku gamisnya.
"Benda ini milikmu kan?" ujar Hanifa kepada Wahyu dan memperlihatkan sebuah sapu tangan.
"Ah, iya. Itu milikku. Terima kasih." Wahyu mengambil sapu tangan itu. Wahyu tidak sengaja menjatuhkan sapu tangannya saat dia terakhir bertemu dengan Hanifa sebelum ke Bandung.
"Maaf." Hanifa.
"Aku dan teman-temanku sudah memaafkanmu dari awal." Wahyu. Hanifa hanya tersenyum dan pergi menghampiri Syakirah.
"Syakirah, maafkan aku sekali lagi." Hanifa.
"Aku sudah memaafkanmu. Jangan meminta maaf lagi." Syakirah.
Hanifa mengambil tas besarnya di tangan Ahmad. Hanifa menatap lekat Ahmad dan tersenyum.
"Terima kasih." gumam Hanifa yang masih bisa di dengar oleh Ahmad. Ahmad hanya mengangguk.
Hanifa berjalan keluar bandara dan masuk ke area pesawat. Sebelum benar-benar keluar Hanifa melambaikan tangannya kepada mereka berempat. Mereka pun membalas lambaian tangan Hanifa.
Hanifa keluar dan masuk ke dalam badan pesawat, tubuhnya sudah hilang.
Waktu menunjukkan pukul 11:30 yang artinya pesawat yang Hanifa tumpangi akan lepas landas. Mereka berempat berjalan ke arah kaca yang di sediakan untuk melihat pesawat lepas landas. Banyak sekali orang yang melambaikan tangannya. Mereka berempatpun juga sama-sama.
Pesawat yang Hanifa tumpangi akhirnya lepas landas dan Hanifa menitikkan air matanya lagi. Merenungi nasibnya.
"Aku kasihan melihatnya." ujar Wahyu saat melihat pesawat yang di tumpangi Hanifa lepas landas. Ketiga orang di sampingnya menoleh menatap Wahyu.
Tumben Wahyu bicara begitu? Padahal dia sangat benci dengan Hanifa. batin Syakirah.
Ternyata dia juga kasihan ya. Dia saja sangat cuek sekali, ternyata bisa kasihan ya. batin Kiya.
Tunggu! Wahyu tidak mungkin menyukai Hanifa kan? Kalau dia menyukai Hanifa, kenapa tidak bilang tadi sebelum Hanifa pergi. batin Ahmad.
Mereka bertiga memiliki pemikiran yang sama. Hanya bisa membatin saja, jangan pernah di ungkapkan atau dia akan marah.
"Jangan berpikiran aneh-aneh. Aku hanya kasihan saja melihat nasibnya, tidak lebih!" ujar Wahyu seolah mengerti arti tatapan mereka bertiga.
"Memangnya kita memikirkan apa? Kita tidak memikirkan apa-apa kok." Syakirah.
"Kalian bertiga mengira kalau aku suka Hanifa kan. Itu tidak akan mungkin terjadi! Jadi berhentilah untuk berpikiran aneh-aneh!" Wahyu.
Mereka bertiga tersenyum memperlihatkan gigi mereka.
"Hehe. Ternyata kau tahu ya." Syakirah.
__ADS_1
Mereka berempat berjalan keluar bandara dan akan pulang. Syakirah sudah mau naik mobil Kiya tapi tiba-tiba tangannya di cekal oleh Ahmad. Syakirah menoleh dan mengurungkan untuk naik mobil.
"Ada apa?" tanya Syakirah heran.
"Ayo naik mobil bersamaku." ajak Ahmad.
"Tanya saja kepada kak Kiya." Syakirah.
Ahmad melihat Kiya, yang di lihat malah memberikan tatapan yang sangat tajam.
"Apa?!" ujar Kiya ketus.
"Aku mau mengajak Syakirah jalan-jalan. Boleh kan?" Ahmad. Kiya menyeringai licik.
"Memangnya kau punya nyawa berapa?" Kiya.
"Kenapa bawa-bawa nyawa? Aku kan tidak melakukan apapun!" protes Ahmad.
"Kalau sampai tergores sedikit saja, Habis kau!" Kiya.
Mobil Kiya pun akhirnya pergi meninggalkan Syakirah dan Ahmad berdua saja. Syakirah melihat Ahmad, yang di lihat malah tersenyum seperti tidak punya dosa padahal Syakirah hanya menatap Ahmad datar. Syakirah menghela nafas lelah, lalu masuk ke mobil Ahmad dan di ikuti oleh Ahmad juga. Mobil Ahmad keluar dari area parkiran bandara dan menuju ke jalan raya.
"Kau mau mengajakku kemana? Aku harus mempersiapkan pakaianku karena 3 hari lagi aku akan pulang." Syakirah.
"Jalan-jalan." Ahmad.
"Iya, aku tahu. Tapi jalan-jalan kemana?" Syakirah.
"Ya jalan-jalan." Ahmad.
"Ahmad! Aku ngerti kita mau jalan-jalan tapi mau jalan-jalan kemana? Taman? Caffe? Atau kemana?!" ujar Syakirah sedikit frustasi.
"Ya, pokoknya jalan-jalan. Ikut saja."
"Tinggal jawab saja apa susahnya sih!"
"Rahasia soalnya."
"Terserah."
Mereka berdua diam, percuma Syakirah berdebat dengan Ahmad. Itu tidak akan membuahkan hasil apa-apa. Hanya mulutnya saja yang pegal karena terus bicara.
Ahmad terus membawa Syakirah tanpa memberitahu kemana mereka akan pergi. Meskipun Syakirah marah tapi Ahmad tidak memperdulikannya karena Syakirah akan tersenyum jika sudah sampai nanti.
Bersambung......
__ADS_1
***
Jangan lupa like, komen dan vote ya... biar author semangat up nya ^_^