
Mereka masih berjalan-jalan di Mall. Mereka sedang melihat beberapa accessoris yang lucu. Tiba-tiba saja ponsel Syakirah berbunyi menunjukkan ada pesan masuk. Syakirah segera mengeluarkan ponselnya dari tas dan melihat isi pesan tersebut.
"Syakirah." from Wahyu.
Syakirah mengernyitkan dahi bingung. Kenapa tiba-tiba Wahyu mengirimi dia pesan? Padahal, sebelum Syakirah berangkat, Syakirah sudah pamit kepada teman-temannya.
"Wahyu, ada apa?" Syakirah.
"Syakirah, aku mau memberitahumu sesuatu yang sangat penting!" Wahyu.
"Sesuatu penting apa?" Syakirah.
"Ahmad datang ke pabrik kemarin, dan kau tahu Ahmad seperti di hormati oleh Bu Ariana dan beberapa Direktur pabrik." Ahmad.
Jantung Syakirah sarasa berhenti melihat isi pesan yang di kirimkan Wahyu untuknya. Antara terkejut, sedih dan gugup menjadi satu. Dia bahkan sudah tidak bisa berkata apa-apa.
"Wahyu, jangan membohongiku!" Syakirah.
"Syakirah, aku tidak sedang berbohong padamu. Apa yang aku ucapkan itu fakta." Wahyu.
"Lalu, bagaimana denganku kalau sampai Ahmad bekerja di pabrik yang sama dengan kita?" Syakirah.
"Syakirah, aku harap kau tenang dan jangan takut. Aku akan mencari informasi tentang kedatangan Ahmad ke pabrik." Wahyu.
"Wahyu, aku takut." Syakirah.
"Jangan takut Syakirah. Jika memang Ahmad juga bekerja di pabrik tempat kita bekerja, maka kita akan resign dari pabrik bersama." Wahyu.
Syakirah tidak membalas pesan dari wahyu, dia rasanya ingin menangis sekarang. Syakirah sudah tidak mampu berkata-kata. Dia sudah mau pingsan jika Kiya tidak menyadarkannya.
"Syakirah." Kiya memanggil Syakirah.
"Eh? Ada apa kak?" jawab Syakirah terkejut.
"Kau terlihat pucat sekali, apa kau sakit?" Kiya.
"Tidak kak." Syakirah.
"Aku lapar, bagaimana kalau kita cari makan dulu?" Abel. Mereka berdua mengangguki ucapan Abel dan pergi keluar dari Mall.
Syakirah menyetir dengan gemetar, matanya sudah memanas dan dia ingin menangis saat ini. Kiya yang melihat Syakirah tidak fokus menyetir merasa khawatir.
"Syakirah, apa kau baik-baik saja?" Kiya bertanya
"Iya kak, aku baik-baik saja." jawab Syakirah.
Mereka berhenti disebuah restoran dan mereka mulai mencari tempat duduk. Mereka memesan makanan mereka, setelah pelayan tadi pergi, mereka diam sesaat sampai akhirnya Abel membuka suara.
"Hei, apa kalian lupa? Kalian kan sudah berjanji kepadaku kalau kalian akan menceritakan tentang kejadian kalian saat aku tidak bersama kalian." Abel.
"Iya." Kiya dan Syakirah menjawab bersama.
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo cerita! Kenapa kalian diam saja?" Abel.
Syakirah dan Kiya saling tatap sampai akhirnya mereka menceritakan semuanya. Mulai dari Syakirah bertemu dengan Ahmad di pasar malam sampai pertengkaran Kiya dan Hanifa di supermarket. Abel mendengarkan cerita Syakirah dan Kiya dengan seksama, sesekali dia mengumpat karena kesal.
"Apa! Jadi wanita ular itu menyobek kerudungmu?" Abel berdiri dan menggebrak meja dengan keras. Para pengunjung restoran sampai mengalihkan pusat perhatian kepada mereka.
"Abel, jaga mulutmu! Kau tidak lihat para pengunjung sedang melihatmu!" Abel mengedarkan pandangan ke para pengunjung saat mendengar ucapan Kiya. Dia begitu sangat malu dan duduk kembali. Syakirah dan Kiya hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Abel. Setelah itu, pelayan datang dan membawa pesanan mereka.
"Kak, tadi Wahyu mengirimkan pesan untukku." ujar Syakirah.
"Lalu? Apa kau tidak memberitahunya jika kau ke Madura?" tanya Kiya.
"Aku memberitahunya." Syakirah
"Lalu, kenapa dia mengirimkan pesan?" Kiya.
"Dia bilang kalau... " Syakirah.
"Kalau apa?" Kiya.
"Dia bilang kalau Ahmad datang ke pabrik tempatku bekerja dan... dia begitu sangat di hormati disana. Dia seolah-olah memiliki jabatan yang kuat dan tinggi di pabrik." Syakirah.
"Apa!" Kiya dan Abel tak percaya dengan ucapan Syakirah tadi.
"Syakirah, bagaimana bisa Ahmad ada di pabrik tempatmu bekerja?" tanya Kiya dengan amarah.
"Aku juga tidak tahu kak. Aku baru dapat kabar sewaktu kita melihat-lihat accessoris tadi." Syakirah menjawab dengan kesedihan.
"Jangan menfitnah orang sembarangan, Abel!" Syakirah.
"Syakirah, jika Ahmad benar-benar bekerja di pabrik yang sama denganmu, apa yang akan kau lakukan?" Kiya bertanya.
"Aku... juga tidak tahu kak. Jika Ahmad benar-benar ada dipabrik yang sama denganku, maka aku yang harus keluar dari pabrik itu." Syakirah.
"Syakirah, aku tidak tahu kenapa kau begitu? Tapi, kenapa kau tidak mencoba saja?" Abel. Syakirah dan Kiya menatap Abel tak suka dan datar. Jangan memberikan ide gila. Seperti arti tatapan Kiya dan Syakirah.
"Apa? Aku hanya menyarankan saja." Abel.
"Berhenti berpikiran tidak masuk akal, Abel!" Kiya.
"Aku hanya menyarankan saja, Kiya." Abel.
Syakirah tampak berfikir dengan ucapan Abel baru saja. Disisi lain, dia setuju dengan ucapan Abel tapi disisi lain, apakah dia sanggup untuk berhadapan dengan Ahmad?"
"Syakirah, apa kau sudah yakin kalau Ahmad memang satu pabrik denganmu?" tanya Kiya.
"Aku masih belum bisa memastikannya kak."
"Kalau begitu, kau tidak perlu terburu-buru, Syakirah. Jika, memang Ahmad bekerja di pabrik yang sama denganmu, maka keputusan ada ditanganmu." Kiya.
"Iya kak." jawab Syakirah pasrah.
__ADS_1
Cukup lama mereka membahas tentang masalah Syakirah. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang karena melihat suasana hati Syakirah yang memburuk.
Saat sampai dirumah Abel, Syakirah langsung tertidur. Dia ingin istirahat, tidak hanya raganya saja yang lelah tapi juga hatinya. Hatinya selalu di uji tentang Ahmad. Mengapa harus Ahmad yang menguji hatinya? Kenapa tidak yang lain saja? Begitulah gumam-gumam Syakirah.
Kiya melihat Syakirah dan Abel yang sedang tidur. Dia tidak mengikuti mereka tidur karena Kiya ingin menyelidiki tentang Ahmad.
Dia sedang duduk diruang tamu dan mulai mengirimkan pesan kepada Ahmad.
"Ahmad." Kiya. Tanpa mengucapkan salam, Kiya mengirimkan pesan kepada Ahmad.
Lama tidak ada jawaban dari Ahmad, Kiya hanya menunggu saja. Sekitar lima belas menit berlalu, akhirnya Ahmad membalas pesan dari Kiya.
"Kiya? Tumben ngirim pesan, biasanya juga tidak pernah." Ahmad.
"Berhenti basa-basi Ahmad! Katakan apa maumu!" Kiya.
"Apa maksudmu Kiya?" to Kiya.
Kiya benar-benar kehabisan kesabaran. Dia berjalan keluar rumah Abel dan mencari tempat yang pas untuk dia bisa meluapkan amarahnya. Kiya menelpon Ahmad, awalnya tidak dijawab oleh Ahmad tapi tak lama Ahmad mengangkatnya.
"Ada ap... " Ahmad tidak melanjutkan ucapannya karena sudah di dahului oleh Kiya.
"Ahmad, katakan apa yang kau mau?" tanya Kiya dengan Amarah.
"Hah? Apa maksudmu? Aku bahkan tidak tahu apa yang kau maksud."
"Ck."
"Wow.... ternyata kau juga bisa mengumpat ya."
"Katakan! Kenapa kau datang ke pabrik tempat Syakirah bekerja?"
"Oh... jadi kau marah menelponku untuk itu. Aku tidak menyangka, bahwa informasinya akan secepat ini."
"Ahmad, jangan kebanyakan bicara! Cepat katakan atau aku akan membawa Syakirah pergi dari sini sekarang juga!"
"Hei... Sabarlah sedikit. Jangan mengancam seperti itu terus!"
"Kalau begitu, cepat katakan!"
"Aku memang memiliki jabatan penting di pabrik Syakirah bekerja, tapi...."
"Jadi, benar kau memang bekerja disana?"
"Jangan memotong pembicaraan Kiya! Aku belum selesai bicara!"
"Lanjutkan."
"Aku tidak bekerja di pabrik yang sama dengan Syakirah. Pabrik tempatku bekerja memiliki kerja sama dengan pabrik tempat Syakirah bekerja. Kemungkinan besar, aku akan di pindahkan ke pabrik tempat Syakirah bekerja, tapi aku tidak tahu kapan itu."
Bersambung......
__ADS_1