Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Minta bantuan


__ADS_3

"Hei Wahyu, kau itu bagaimana sih?! Namanya orang minta maaf juga harus membawa hadiah, supaya dia juga senang." ujar Ryan. Wahyu tambah berdecak kesal karena dari tadi Ryan menjawab saja.


"Terserah kalian saja! Aku tidak mau ikut campur!" ujar Wahyu kesal.


"Kenapa kalian tidak membawa makanan kesukaan Syakirah saja?" saran Ahmad.


"Kita kan ada di caffe nanti, di caffe kan ada makanan. Lalu untuk apa kita ke caffe kalau di caffe saja ada makanan?" ujar Ryan.


"Bukan itu maksudku, seperti makanan kesukaan Syakirah dan bisa dia makan saat ada di rumah." jelas Ahmad. Terkadang Ahmad juga jengah melihat Ryan yang pintar sekali bicara yang di luar kata masuk akal.


"Boleh juga, bagaimana? Kalian setuju tidak dengan saran Ahmad?" tanya Ryan kepada Rey dan Navile.


"Aku setuju, lagi pula lebih baik makanan dari pada barang bukan. Tapi makanan kesukaan Syakirah itu apa?" jawab Rey.


Krik... krik... krik...


Braaakkh.


Mereka bertiga membenturkan kepala mereka ke meja, Ahmad dan Wahyu sampai terkejut, seketika pusat perhatian langsung tertuju kepada mereka.


"Apa yang kalian bertiga lakukan? Kalian membuat malu tahu!" ujar Wahyu kesal. Rey mengangkat kepalanya.


"Wahyu, apa kau tahu makanan kesukaan Syakirah?" tanya Rey lesu.


Kenapa mereka seperti orang pasrah saat di tanya apa makanan kesukaan Syakirah? Itu karena mereka tidak tahu apa makanan kesukaan Syakirah. Syakirah tidak pernah pilih-pilih makanan jadi mereka tidak pernah tahu apa makanan kesukaan Syakirah. Apa yang ada, Syakirah akan memakannya tanpa banyak komentar.


"Tidak tahu!" jawab Wahyu acuh.


"Bagaimana denganmu, Ahmad? Apa kau tahu makanan kesukaan Syakirah?" tanya Rey kepada Ahmad.


"Syakirah tipe orang yang tidak pilih-pilih makanan sebenarnya. Aku yakin kalian membelikan makanan yang biasa saja dia akan menerimanya. Setahuku dulu Syakirah suka makanan yang pedas, apapun itu makanannya jika pedas dia akan suka." jawab Ahmad.


"Kau tidak membantu sama sekali!" ujar Ryan.


"Aku sudah membantu kalian. Kalian bertanya ya aku jawab setahuku, mana mungkin aku mengarang jawaban!" ujar Ahmad tak kalah kesal.


"Makanan pedas? Apapun yang berbau pedas?" tanya Navile. Ahmad mengangguk.


"Apa dia suka yang instan?" tanya Rey.


"Suka, tapi ada baiknya yang biasa bukan yang instan." jawab Ahmad.

__ADS_1


"Kalau begitu apa? Makanan pedas yang tidak instan?" tanya Ryan bingung.


"Seblak mungkin?" ujar Navile.


"Sepertinya jangan." ujar Rey.


"Lalu apa?" tanya Navile bingung.


Mereka bertiga berfikir sangat keras sekali, tidak tahu kalau 2 manusia yang di mintai saran tadi sudah menyiapkan hadiah untuk Syakirah. Meskipun tidak tahu selera Syakirah seperti apa tapi mereka tetap memberikan hadiah yang menurut mereka bagus.


***


Hari sudah beranjak sore, Syakirah sedang duduk di kursi halaman rumah Aliya sambil menikmati teh. Syakirah sedang melihat-lihat pakaian di online shop, sampai akhirnya sebuah suara mobil yang tidak asing di telinga Syakirah terdengar.


Ngapain Evan sore-sore gini kesini? batin Syakirah bingung.


Evan keluar dari mobil sambil membawa sebuah paperbags. Dia menghampiri Syakirah yang sedang duduk di kursi.


"Ngapain lo datang kesini sore-sore kayak gini?" tanya Syakirah. Evan menyodorkan paperbags yang dia bawa ke Syakirah, Syakirah menerima paperbags itu dengan kebingungan. Evan lalu duduk di kursi yang kosong pinggir Syakirah.


"Gue pengen minta tolong sama lo." ujar Evan.


"Minta tolong apa?" tanya Syakirah. Evan mengusap wajahnya, bingung untuk menjelaskannya.


"Ya... terus... ?" tanya Syakirah bingung dengan penjelasan Evan.


"Gue udah booking seluruh restoran XX buat dinner gue sama Kiya." jawab Evan.


"Hah?! Lo booking semua restoran XX buat dinner lo sama kak Kiya?! Gila kali ya lo! Dia mana mungkin mau datang! Kenapa lo gak pesen ruangan private aja?!" ujar Syakirah terkejut.


"Itu masalahnya sekarang, dan gue mau lo bantuin gue." ujar Evan memohon.


"Lo minta bantuan apa sih?!" tanya Syakirah sedikit emosi.


"Gue mau lo pilihan baju buat dia, terus kalau bisa sih ke salon, tapi kalau Kiya gak mau juga gak apa-apa." jawab Evan.


"Pilihin baju?" tanya Syakirah bingung.


"Iya, nanti lo gak usah bilang kalau gue adalah adalah bosnya bang Rahman. Lo cuma bilang kalau lo di suruh bang Rahman buat beliin dia baju buat dinner, lo ngomong gitu aja." jawab Evan.


"Terus?"

__ADS_1


"Ya nggak terus, lo mau apa nggak? Kalau lo mau gue kasih kartu buat belanja."


Syakirah mencoba untuk memikirkannya.


Ada baiknya juga sih kalau kak Kiya jodoh sama Evan, itu lebih baik dari pada dia di jodohin sama orang tuanya. Gue bantu aja kali ya? batin Syakirah.


"Oke deh, gue bakalan bantu lo, tapi gak gratis dong pastinya." putus Syakirah dengan candaan.


"Masalah itu lo tenang aja, gue udah siapin juga kok." ujar Evan.


"Padahal gue cuma bercanda loh, Van." ujar Syakirah lesu.


"Tapi gue udah siapin juga kok, meskipun lo gak minta." ujar Evan.


Evan mengeluarkan dompetnya dari saku jasnya, dia memberikan 2 kartu black card kepada Syakirah.


"Kenapa 2?" tanya Syakirah bingung.


"Satunya buat lo, satunya lagi buat Kiya. Buat Kiya yang kanan, buat yang kiri buat lo." jawab Evan.


"Kenapa beda-beda? Kenapa gak jadi satu aja?" tanya Syakirah lagi.


"Innalillahi wainna'ilaihi rojiun. Ya Allah Syaki. Tinggal turutin aja napa sih nanya mulu dari tadi, pegel mulut gue." gerutu Evan.


"Biar jelas, Van. Biar gue paham, lo gimana sih! Makanya kalau kasih itu satu aja!" ujar Syakirah emosi.


"Ya udah pokoknya itu. Lo ajak dia ke butik waktu siang, terus lo kasih tau gue dia pilih baju warna apa. Nanti kirim foto bajunya juga ya." ujar Evan.


"Kapan emang lo dinnernya?" tanya Syakirah.


"Lusa." jawab Evan.


"Ini beli bajunya besok atau lusa aja?" tanya Syakirah.


"Lusa aja, waktu siang." jawab Evan.


"Kalau misalnya kak Kiya tanya dinnernya ada dimana gue harus jawab apa?" tanya Syakirah.


"Gak usah di jawab, bilang aja rahasia." jawab Evan.


"Oke."

__ADS_1


Akhirnya Syakirah membantu Evan untuk menyiapkan dinner dengan Kiya. Entah seperti apa dinner mereka berdua kali ini. Gadis muslimah dan Lelaki berandalan, aaaahh tidak sabar sekali rasanya untuk menunggu lusa.


Bersambung......


__ADS_2