
Sekitar setengah jam, akhirnya orang suruhan Roy datang. Roy menggendong tubuh Clara dan memasukkannya ke dalam mobil belakang. Roy menyuruh 2 orang untuk membawa motornya dan motor Clara, sementara satunya sebagai supir. Roy masuk ke dalam mobil, menjadikan pahanya sebagai bantal untuk kepala Clara.
"Clara! Bangun! Lo kenapa sampai pingsan sih?! Dingin juga kagak dingin-dingin amat sih! Ya meskipun tubuh gue juga kedinginan sih." ujar Roy tambah khawatir.
***
Dan saat ini Clara sedang ada di rumah besar milik Roy. Roy juga sudah memanggil Dokter untuk melihat keadaan Clara. Orang tua Roy juga panik karena Roy tiba-tiba saja membawa tubuh Clara yang pingsan dan basah kuyup. Orang tua Roy juga sudah menganggap Clara sebagai anaknya sendiri karena dulu Roy pernah mengenalkan Clara kepada kedua orang tuanya. Mama Roy cukup senang dengan kehadiran Clara, Clara sangat unik bagi mama Roy. Sampai akhirnya Roy bilang kalau dia sudah putus dengan Clara tapi Roy tidak memberi alasan kenapa Roy putus dengan Clara, hati mama Roy sakit sekali.
Setelah mengecek tubuh Clara, Dokter itu melepaskan stetoskopnya.
"Ada apa Dok sama Clara, Dok?" tanya Roy khawatir. Dokter menghela nafas.
"Dia mengidap tulang bengkok di kaki bagian kanannya." jawab Dokter tersebut. Mereka bertiga terkejut dengan jawaban Dokter itu, terlebih lagi Roy. Dia sudah berfikir yang tidak-tidak.
"Kenapa bisa begitu, Dok?" tanya Roy lagi.
"Sebenarnya beberapa tahun yang lalu gadis ini pernah periksa ke saya. Dia bilang kalau kaki kanannya sakit saat dia sedang berenang, saya pun akhirnya meronsen kakinya dan mendapati tulangnya bengkok. Saya sudah menyarankannya untuk operasi tapi dia menolak karena tidak ada biaya. Sekarang kebengkokan kakinya sepertinya bertambah buruk, jika tidak, dia tidak mungkin pingsan seperti sekarang. Dia harus segera di operasi, bisa-bisa kakinya di amputasi dan lebih parahnya bisa menyebabkan kematian." jelas Dokter itu.
Saat mendengar penjelasan Dokter tersebut, orang tua Roy sangat terkejut. Bahkan mama Roy sampai menangis tersedu-sedu.
"Dokter, saya mau dia sembuh." ujar mama Roy di sela tangisnya.
"Iya, Dok. Saya mau dia sembuh." papa Roy menyahuti.
"Tentu saja bisa jika dia mau operasi, tapi tentu saja biayanya sangat mahal." jawab Dokter tadi.
"Untuk masalah itu gak masalah, Dok. Saya yang akan tanggung biayanya. Saya cuma minta surat rujukan dari Dokter agar bisa ke Dokter Amerika." ujar Roy.
"Tentu saja, besok saya akan membawa surat rujukan itu. Saya juga akan memberitahu Dokter XX untuk mempersiapkan segalanya."
__ADS_1
Setelah berbincang-bincang dengan Dokter tadi, Dokter tadi akhirnya pamit. Orang tua Roy dan Roy melihat Clara dengan tatapan kesedihan yang sangat terpancar. Jika di lihat dari wajah Roy sekarang, kemungkinan besar Roy sedang jatuh cinta lagi dengan Clara.
"Roy, mama mau kamu ngelakuin sesuatu supaya Clara sembuh." ujar mama Roy yang masih menangis.
"Iya, ma. mama tenang aja, Roy akan buat Clara sembuh apapun itu caranya!" tekat Roy. Jika Roy sudah bertekad seperti ini tidak akan pernah bisa menghalanginya, bahkan orang tuanya sekalipun. Mama Roy mengangguk.
"Ya udah, Roy. Sekarang kamu harus tidur, ini sudah mau tengah malam. Kamu tidur disini ya, temani Clara. Barangkali nanti Clara sadar dia butuh sesuatu." ujar papa Roy. Roy mengangguk sebagai jawaban, akhirnya orang tua Roy pergi dari kamar tamu itu.
Roy membanting tubuhnya di sofa, lelah. Roy yang awalnya duduk, berdiri lagi menghampiri Clara yang tidak sadarkan diri. Roy duduk di pinggiran ranjang. Roy menatap wajah Clara lekat seperti tidak mau beralih dari wajah Clara sedetik saja. Roy mendekatkan wajahnya ke wajah Clara.
Cup.
Satu kecupan di bibir ranum Clara, sepertinya ciuman pertama Clara sudah di ambil oleh Roy. Roy menurunkan wajahnya dan mengecup leher Clara, setelah itu dia kembali lagi ke sofa dan tidur di sana.
***
Pagi pun telah tiba, Kiya sudah siap dengan pakaian mengajarnya tapi sebelum dia berangkat ke sekolah untuk mengajar, Kiya menelpon Wahyu.
"Waalaikumsalam, ada apa? Kau mau ke markas Syakirah sekarang?" ujar di seberang sana.
"Tidak. Aku tidak bisa hari ini. Wahyu, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi. Ujian tengah semester sudah mau di mulai dan ini adalah sibuk-sibuknya para guru untuk mempersiapkan ujian. Beberapa hari ke depan akan ada rapat di sekolah, aku tidak bisa datang ke markas Syakirah." jelas Kiya.
"Kau tenang saja, Kiya. Aku masih ada, aku bisa kesana sendirian." ujar Wahyu di seberang sana.
"Maaf ya, aku benar-benar minta maaf."
"Kau tidak perlu minta maaf. Kau itu guru, wajar jika kau seperti ini. Aku juga memaklumi hal itu."
"Ah, ya sudah, Wahyu. Aku harus pergi ke sekolah. Akan ada rapat pagi hari ini. Assalamualaikum."
__ADS_1
"Iya. Waalaikumsalam."
Sambungan mereka pun terputus, Kiya berangkat menuju sekolah tempat dia mengajar. Sementara Wahyu sedang menelpon seseorang yang bisa membantunya untuk menemukan Syakirah.
"Halo, Wahyu. Tumben lo telpon gue duluan? Ada apa? Pagi-pagi juga." ujar di seberang sana. Dilihat dari gaya bahasanya saja sudah tahu siapa dia, siapa lagi kalau bukan Evan. Wahyu berdecak kesal.
"Gue butuh bantuan lo." ujar Wahyu singkat.
"Bantuan apa?"
"Pokoknya bantuan."
"Oke, gue akan bantuin lo tapi lo juga harus bantuin gue."
"Kalau lo nyuruh gue buat bujuk Syakirah buat nerima lo lagi, kayaknya nggak. Gue masih sayang sama gue." ujar Wahyu geram sekali.
"Kok lo bawa-bawa nyawa segala sih? Gue gak akan minta bantuan itu. Lagi pula gue juga sadar kesalahan gue apa kok, jadi gue akan nerima resikonya."
"Oke, gue akan bantuin lo." putus Wahyu akhirnya meskipun ada rasa tidak ikhlas di hatinya.
"Oke, nanti jam 7 malam kita ketemuan di caffe XX."
"Oke."
Sambungan mereka pun akhirnya terputus, Wahyu memilih untuk masuk ke ruangan kerjanya. Disana sudah ada ke empat lelaki brengsek, bagi Wahyu. Wahyu duduk di meja kerjanya dan mulai membuat laporan.
"Hei Wahyu, apa kau hari ini mau mendatangi markas Syakirah?" tanya Ryan.
"Kalau kau tidak mau ikut lebih baik jangan bertanya, atau kau yang akan aku suruh kesana!" ujar Wahyu penuh emosi. Geram sekali melihat mereka semua. Laki-laki tapi takut, hanya gendernya saja laki-laki tapi sifatnya seperti perempuan, Wahyu mengejek mereka di dalam hatinya.
__ADS_1
"Aku hanya bertanya saja. Aku tidak akan pernah sudi untuk menginjakkan kakiku kesana, itu sama saja membuat nyawaku dalam bahaya!" ujar Ryan dengan bergidik ngeri.
Bersambung......