
Hari ini masih hari selasa, Syakirah masih memiliki satu hari lagi untuk berkencan dengan Ahmad. Ya… anggap saja kencan, kak Rani yang menyuruhnya untuk menganggapnya kencan. Syakirah beberapa kali menghela nafas berat.
"Syakirah, ada apa denganmu?" tanya Rey. Syakirah memandangi ke empat sahabatnya ini.
"Kalian tahu? Kemarin malam aku baru saja bertemu dengan kak Rani."
"Kak Rani itu bukannya kakaknya Ahmad ya?" ujar Wahyu.
"Iya."
Apa maksudnya ini? Kenapa kakaknya Ahmad mengajak bertemu dengan Syakirah? ujar Wahyu dalam hati.
"Kenapa dia mengajakmu bertemu?" tanya Wahyu penasaran.
"Dia membahas masalah tentang Ahmad." jawab Syakirah lesu.
"Kenapa?"
"Besok kita libur dan besok aku mau berkencan dengan Ahmad."
"Apa!? Kencan?!" ujar mereka bersama.
"Kau berkencan dengan Ahmad, Syakirah?" tanya Rey.
"Anggap saja begitu. Waktu aku bertemu dengan kak Rani, dia memohon kepadaku untuk bertemu dengan Ahmad sekali lagi. Awalnya aku menolak tapi akhirnya aku menerimanya. Dia bilang Ahmad ingin bertemu denganku dan membicarakan masalahnya. Dan, kak Rani menyuruhku untuk menganggapnya kencan. Aku mengiyakannya saja. Karena dia bilang, jika Ahmad menyakitiku lagi maka kak Rani akan melepaskanku dengan ikhlas."
"Dan kau setuju dengan itu?" tanya Ryan.
"Ya, tentu saja. Ini suatu keuntungan besar bagiku. Dimana aku tidak akan merasa bersalah jika aku menjauhi kak Rani."
"Memangnya kau mau bertemu dengan Ahmad dimana?" tanya Wahyu.
"Di wisata XX."
"Apa?"
"Syakirah, itu adalah tempat yang sangat romantis. Kau tidak boleh kesana! Bisa-bisa kau terbawa suasana!" peringat Wahyu.
"Sudahlah Wahyu, anggap saja ini pertemuan terakhir ku dengan Ahmad. Jika Ahmad menyakitiku, maka tidak ada alasan lagi bagi kak Rani untuk mempertahankanku."
"Jika dia tidak menyakitimu?"
"Ya... aku tidak akan menjauhinya."
Mereka berempat tidak melarang Syakirah untuk bertemu dengan Ahmad. Syakirah sudah ada pada tekatnya. Syakirah juga sudah menantikan ini sejak lama. Mereka hanya bisa berharap Syakirah akan baik-baik saja.
Bel selesai istirahat sudah berbunyi. Mereka kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. Tapi tidak dengan Wahyu, dia pergi ke toilet untuk menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Assalamualaikum." ujar Wahyu.
"Waalaikusalam. Ada apa?" jawab di seberang sana.
"Kiya, Syakirah baru saja memberitahu, kalau besok dia akan berkencan dengan Ahmad."
"Apa? Kencan?"
"Iya. Dia bilang Ahmad ingin bertemu dengannya dan membahas tentang masalahnya. Tapi Ahmad tidak memberitahu Syakirah langsung tapi dia dibantu oleh kakaknya."
"Maksudmu kak Rani membantu Syakirah, begitu?"
"Ya, kau benar."
"Biarkan saja, aku memang menyuruh Ahmad untuk menemui Syakirah dan meminta maaf kepadanya langsung."
"Lalu, bagaimana kalau sampai Syakirah sakit hati lagi?" tanya Wahyu khawatir.
"Kau tenang saja. Kita hanya mengikuti strategi yang telah kita rancang."
"Baiklah."
"Apa kau tahu Syakirah akan berkencan dimana?" tanya Kiya di seberang sana.
"Dia akan berkencan di wisata XX."
"Apa? Wisata itu sangat romantis. Bagaimana Syakirah bisa menyetujuinya?"
"Ya sudah."
Setelah itu sambungan telpon mereka terputus. Wahyu kembali ke ruangannya, sementara Kiya sedang mengumpat dengan kesal.
Ahmad kau benar-benar sangat licik. Kau mengandalkan kak Rani sebagai perisai mu. Jika, kau mengandalkan kak Rani sebagai perisai mu, maka aku yang akan menjadi perisai Syakirah. Kita lihat saja, siapa yang akan menang. ujar Kiya dalam hati dengan emosi.
Kiya menghubungi Ahmad, awalnya Ahmad menolak tapi akhirnya dia mengangkatnya.
"Kiya, apa kau tidak tahu aku sedang bekerja?" tanya Ahmad kesal.
"Oh... jadi kau mementingkan pekerjaanmu dari pada Syakirah?"
"Kiya, aku tidak begitu. Jika kau mau membahas tentang Syakirah, kita bahas nanti saja."
"Kau yakin?" Ahmad tidak menjawab, karena dia tahu Kiya sedang mengancamnya.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Ahmad dengan nada datarnya.
"Kau menjadikan kak Rani sebagai perisai mu, Ahmad? Kau benar-benar sangat licik, Ahmad."
__ADS_1
"Kiya, aku tidak mungkin menemui Syakirah langsung. Kau harus mengerti, bagaimanapun aku masih merasa bersalah."
"Oh... begitu ya. Kau tahu Ahmad? Kau menjadikan kakakmu perisai mu, tapi aku menjadi perisai untuk Syakirah. Jika, aku sudah bertindak, jangankan dirimu, kakakmu yang sangat menyayangimu dan yang cerdik itu tidak akan pernah berhasil menghadapiku!" ujar Kiya dengan nada yang emosi.
"Kiya, kau harus tahu. Aku tidak pernah menyuruh kakakku, aku hanya meminta tolong saja padanya. Aku meminta tolong kepadanya untuk memberitahu Syakirah agar Syakirah mau bertemu denganku."
"Lalu, bagaimana bisa kau mengajaknya berkencan di wisata XX? Kau pikir, kau sedang berkencan dengan Syakirah?! Dengar ya, Ahmad jika kau mau menyelesaikan masalahmu setidaknya cari tempat yang sepi!"
"Apa? Wisata XX?"
"Jangan berpura-pura tidak tahu, Ahmad!"
"Kiya, aku hanya meminta kak Rani mengatakan kalau aku mau bertemu dengan Syakirah. Aku tidak menyuruh kak Rani untuk mengatakan kepada Syakirah kalau aku ingin berkencan dengannya! Percayalah padaku, Kiya. Aku tidak tahu apa-apa tentang ini. Jika kau tidak memberitahuku tadi mungkin aku tidak akan tahu, karena kak Rani memberitahu ku nanti malam. Dia hanya bilang kalau Syakirah setuju. Itu saja." ujar Ahmad panjang lebar.
Apa? Jadi kak Rani yang merencanakan hal ini? Sepertinya dia ingin bermain-main denganku?! ujar Kiya dalam hati.
"Kau yakin tidak tahu, Ahmad?" tanya Kiya memastikan.
"Tidak, Kiya. Percayalah padaku. Aku tidak pernah menyuruh kak Rani untuk hal itu. Aku juga menghargai perasaan Syakirah disini."
Kiya langsung memutuskan sambungan telponnya dengan Ahmad. Ahmad begitu sangat marah saat Kiya mematikan telponnya secara sepihak.
"Apa-apaan Kiya itu?! Dia yang menghungiku seenaknya dan memutuskan sambungan telponnya seenaknya! Apa yang sedang kak Rani lakukan? Kenapa dia hanya membuat masalah ku tambah runyam sih? Aaarrrggghh!" ujar Ahmad frustasi.
Setelah memutuskan sambungan telponnya dengan Ahmad, Kiya menghubungi kak Rani. Dia begitu sangat marah sekali.
"Kiya, tumben sekali kamu menelponku? Biasanya saja tidak. Hehe." ujar di seberang sana.
"Apa yang kak Rani lakukan?" tanya Kiya tanpa basa basi.
"Apa maksudmu, Kiya? kakak tidak mengerti."
"Apa yang kak Rani lakukan pada Syakirah? Kenapa kak Rani malah menyuruhnya berkencan dengan Ahmad? Apa yang sedang kak Rani rencanakan? Apa kak Rani mau aku membawa Syakirah pergi dari sini sekarang? Kak Rani jangan pernah ikut campur urusan Syakirah dan Ahmad!" ujar Kiya emosi.
"Kiya, dengarkan aku dulu. Aku bisa menjelaskannya padamu."
"Apa yang ingin kak Rani jelaskan? Semuanya sudah jelas! Kak Rani kau sudah menantangku kali ini, kak Rani pikir aku tidak bisa menang dari kakak? Tentu saja tidak, disini aku lah yang akan menang!"
"Kiya, aku benar-benar bisa menjelaskan."
"Apa?! Kenapa kak Rani menyuruh Syakirah untuk berkencan dengan Ahmad? Apa kak Rani mau menambahkan luka di hati Syakirah? Kenapa kak?! Kenapa?!!"
"Tidak Kiya, tidak begitu. Aku menyuruhnya berkencan dengan Ahmad, karena aku ingin yang terakhir kalinya melihat adikku bahagia dengan seseorang yang dia cintai. Kiya, jika Ahmad menyakiti Syakirah maka aku akan melepas Syakirah dengan ikhlas. Tapi, jika Ahmad tidak menyakiti Syakirah, maka aku akan berusaha untuk mendapatkan Syakirah demi Ahmad. Kiya, aku mohon sekali ini saja, biarkan aku yang bertindak. Aku mohon."
"Baiklah, anggap saja ini kencan terakhir Ahmad dan Syakirah."
Setelah itu Kiya memutuskan sambungan telponnya tanpa mendengar jawaban dari kak Rani. Kiya pergi mandi untuk menenangkan pikirannya yang sedang panas begitu juga hatinya. Sementara kak Rani sedang ketakutan sendiri.
__ADS_1
"Bagaimana ini? Aku tidak mungkin bisa melawan Kiya jika sudah seperti ini? Aku harus memberitahu Ahmad agar tidak tergoda dengan apapun. Aku tidak mau, kalau sampai Syakirah menjauh dariku." ujar kak Rani khawatir.
Bersambung......