
Syakirah dan Kiya sedang mengantri untuk membayar belanja'an mereka. Syakirah mengerutkan keningnya saat melihat kerudung Kiya yang sobek.
Kenapa kerudung kak Kiya sobek? Perasaan tadi baik-baik saja. Sebenarnya apa yang sudah terjadi saat aku sedang mengobrol dengan Aliya? nanti saja aku tanyakan kepadanya. ujar Syakirah dalam hati.
Mereka mengantri cukup lama, sampai akhirnya mereka membayar belanja'an mereka di kasir. Mereka keluar dari supermarket saat sudah membayar barang belanja'an mereka. Mereka memasukkan semua barang belanja'an ke dalam mobil, setelah itu Syakirah dan Kiya segera masuk dan bergegas untuk pulang.
Syakirah masih ragu untuk bertanya kepada Kiya soal kerudungnya, apalagi mood Kiya sedang memburuk. Syakirah memberanikan diri untuk bertanya kepada Kiya mengenai kerudungnya.
"Kak, kenapa kerudungmu sobek? Apa telah terjadi sesuatu saat aku berbicara kepada Aliya tadi?" ujar Syakirah. Kiya menoleh ke arah Kiya dan tersenyum tanda dia baik-baik saja.
"Aku tidak apa-apa Syakirah. Tadi, kerudungku tersangkut paku." ujar Kiya berbohong.
Syakirah masih belum percaya sepenuhnya dengan ucapan Kiya, dia masih curiga.
"Jangan berbohong kak! Kerudungmu tidak mungkin tersangkut paku!" ujar Syakirah.
Kiya menghela nafas panjang. Dia memang tidak bisa berbohong dari dulu. Percuma dia berbohong kepada Syakirah, karena itu tidak ada gunanya.
"Aku tadi bertemu dengan hanifa dan aku juga sempat bertengkar dengannya." jawab Kiya.
"Hah! jadi kakak tadi bertemu dengan Hanifa!lalu kerudung kakak di robek olehnya?" tanya Syakirah tidak percaya.
Kiya menceritakan semuanya kepada Syakirah, mulai awal dia bertemu dengan Hanifa sampai kerudungnya bisa sobek. Syakirah mendengarkan Kiya sambil menyetir, dia sempat memgump*t beberapa kali karena kesal.
"Lalu, kenapa kakak tidak membalasnya?" Syakirah.
"Kau lupa Syakirah? Kita sedang ada di supermarket. Aku tidak mungkin membuat masalah disana, bisa-bisa aku diusir!" Kiya.
"Tapi, tetap saja kak!" Syakirah.
"Aku bukan lawan yang sebanding dengan mulut kotornya itu! Lebih baik aku diam saja. Kau adalah lawan yang sebanding dengan Hanifa, Syakirah. Kau sangat tomboy Syakirah, hanya saja hatimu akan melemah saat membahas tentang kelemahanmu." Kiya.
"Ya sudah, terserah kakak saja!" Syakirah.
__ADS_1
Syakirah melanjutkan kemudinya. Dia masih sangat kesal, kalau sampai dia bertemu dengan Hanifa lagi, dia pasti akan membalas perbuatan Hanifa.
Mereka sudah sampai di rumah. Mereka meletakkan barang belanja'an mereka dan mulai duduk di sofa.
"Ya ampun, aku lelah sekali." ujar Syakirah.
"Iya, aku juga." ujar Kiya.
"Apa kita cuma membawa bahan-bahan tadi untuk ke rumah Abel?" Syakirah.
"Iya, itu sudah cukup. Aku yakin sekali besok saat kita sampai disana, Abel akan memarahi kita karena membawa banyak makanan. Kau tahu Abel tidak suka jika ada temannya yang berkunjung ke rumahnya membawa banyak makanan untuk dirinya." Kiya.
"Benarkah? Aku tidak tahu soal itu. Waktu aku kesana dulu, aku juga membawa buah tapi dia tidak marah." Syakirah.
"Dia tidak akan marah kalau hanya membawa beberapa makanan saja. Sementara kita membeli banyak sayuran dan buah, ditambah lagi kita juga membeli daging, ikan dan ayam tadi." Kiya.
"Iya juga sih." Syakirah.
***
Jam menunjukkan pukul delapan malam. Syakirah dan Kiya sedang memasukkan pakaian mereka ke dalam mobil. Setelah memasukkan pakaiannya tadi, Syakirah dan Kiya sedang memainkan ponselnya masing-masing. Syakirah sedang mengirimkan pesan ke grupnya, sementara Kiya sedang melihat video membuat kerajinan untuk mengajar muridnya, saat dia pulang dari Madura nanti.
"Assalamualaikum teman-teman." Syakirah mengirimkan pesan ke teman-temannya di grup.
"Waalaikumsalam Syakirah. Apa kau sudah sehat Syakirah?" Wahyu.
"Aku sudah sehat kok Wahyu, terima kasih sudah mengkhawatirkanku." Syakirah.
"Alhamdulillah kalau begitu." Wahyu.
"Oh iya, aku mau pamit ke kalian. Besok aku akan pergi ke Madura selama empat hari." Syakirah.
"Apa? Kau akan pergi ke Madura besok? Mendadak sekali kalau ngasih kabar?" Rey.
__ADS_1
"Haha iya, maaf ya karena ngasih kabar mendadak." Syakirah.
"Kenapa kau mau kesana? kau kan baru saja sembuh!" Navile.
"Aku kangen sama temanku yang ada disana, jadi aku mau berkunjung kesana." Syakirah.
"Hei Syakirah, apa kau yakin mau kesana? Kau itu baru saja sembuh! Baru juga keluar dari rumah sakit!" Ryan.
"Aku sudah sembuh kok. Aku juga bosan di rumah terus. Kalau aku masuk kerja, ya percuma karena cuti liburku masih panjang. Kalau aku di rumah, aku bosan. Jadi, Aku memutuskan untuk pergi ke rumah Abel." Syakirah.
"Kau yakin akan baik-baik saja disana? Aku sedikit khawatir denganmu." Wahyu.
"Iya, aku pasti akan baik-baik saja. Jangan khawatir begitu!" Syakirah.
"Ya sudah kalau begitu. Jangan lupa untuk meminum obatmu disana dan menjaga dirimu baik-baik!" Wahyu.
"Iya, semoga liburan mu menyenangkan." Rey.
"Iya makasih ya teman-teman. Kalau gitu aku mau pamit buat tidur ya. Assalamualaikum." Syakirah.
"Waalaikumsalam." Wahyu.
"Waalaikumsalam." Rey.
"Waalaikumsalam." Navile.
"Waalaikumsalam." Ryan.
Setelah mengucapkan kata salam. Syakirah mengajak Kiya bergegas untuk tidur, agar besok mereka bisa bangun lebih pagi dari pada sebelumnya.
Sebelum tidur, Syakirah dan Kiya tidak lupa untuk mematikan ponsel mereka. Karena membiarkan ponsel saat tidur itu sangat berbahaya. Setelah mematikan ponsel mereka masing-masing, Syakirah dan Kiya berdo'a sebelum tidur. Selesai berdo'a, mereka menutup mata mereka dan menuju ke alam mimpi.
Bersambung......
__ADS_1