
"Jika aku melihatnya langsung maka aku akan percaya tapi jika tidak, belum tentu aku percaya. Aku butuh bukti, bukan hanya kepastian dan omongan belaka saja. Aku lebih memilih bukti di bandingkan dengan kepastian. Karena bukti lebih kuat di bandingkan dengan kepastian."
Itu adalah kata-kata yang sering Evan ucapkan kepada seluruh orang-orang terdekatnya, baik itu teman, anggota keluarga atau rekan bisnisnya. Evan adalah pewaris tunggal perusahaan papanya jadi dia harus bersikap professional agar dia tidak kecolongan suatu saat nanti.
Karena Wahyu juga mau istirahat, akhirnya mereka berdua pulang ke rumah masing-masing. Saat Wahyu mengambil motornya tiba-tiba saja Evan membunyikan klakson mobilnya dan membuat Wahyu terkejut.
"Apa?" tanya Wahyu.
"Suatu saat nanti, gue ingin mengenal Kiya lebih." ujar Evan. Wahyu tidak suka dengan ucapan Evan, tentu saja karena dia memiliki perasaan lebih kepada Kiya jika tidak, dia tidak mungkin jadi seperti ini.
"Kenapa lo ingin mengenal dia lebih?" tanya Wahyu tak suka.
"Ya karena dia sepupu Syakirah lah. Kalau soal restu orang tua gue pasti dapat tapi kalau restu si Kiya kayaknya kagak. Sementara gue mau dapat restu dari semua keluarga Syakirah semua, itu artinya gue juga harus dapat restu dari Kiya kan."
Wahyu bernafas lega mendengar ucapan Evan. Wahyu pikir Evan juga ikut suka Kiya. Wahyu memang tidak berhak marah soal Kiya karena Wahyu bukan siapa-siapa Kiya lagi, tapi Wahyu ingin menjadi yang terbaik untuk Kiya. Bukan yang terbaik sebagai sahabat saja tapi terbaik sebagai seorang laki-laki.
"Mungkin lo akan susah buat dapat restu dari dia. Kiya wanita dingin, biasanya wanita seperti itu akan lebih susah. Semoga lo berhasil aja." ujar Wahyu menyemangati Evan.
"Gue yakin kok kalau gue akan dapat restunya. Gue kurang apa coba, ganteng iya, kaya juga iya, setia juga iya. Gue itu flawless jadi gue yakin kalau Kiya akan menerima restu gue." ujar Evan dengan pd nya.
"Huh! Ck! Belum tentu juga lo udah sombong."
Evan mengangkat bahunya tanda mengejek, lalu dia melajukan mobilnya dan menuju ke markas geng motornya. Sementara Wahyu, dia sedang mengirimkan pesan kepada Kiya.
"Kiya, aku sudah menemukan keberadaan Syakirah. Jika besok kau mau ikut silahkan tapi jika tidak juga tidak apa-apa. Besok aku akan menemui Syakirah setelah pulang kerja." pesan yang dikirimkan Wahyu untuk Kiya terkirim.
"Aku ikut." pesan balasan dari Kiya singkat. Wahyu tersenyum dan menaruh ponselnya kembali. Dia akhirnya menuju ke rumahnya.
Sementara Evan, dia sedang memikirkan bagaimana sosok Kiya. Entah kenapa hatinya ingin tahu lebih tentang Kiya. Di lihat dari foto Kiya saja, sepertinya Kiya susah di tebak maunya apa.
"Gue masih ingin lebih mengenal dia, tapi gue sendiri juga gak percaya kalau gak lihat langsung. Kalau gue nyuruh Roy yang ada tuh anak marah-marah karena gue gak ngehargai kerja kerasnya, bukannya gue gak ngehargai atau apa, tapi kan gue juga butuh bukti bukan cuma lembaran kertas doang." gumam Evan sambil menyetir mobilnya.
__ADS_1
Evan sepertinya tidak jadi untuk ke markas, dia bahkan membelokkan mobilnya ke arah restoran domini terkenal di kota ini. Evan juga membeli 5 boks domini. Setelah membeli domini itu, Evan melanjutkan perjalanannya. Kemana? Ya ke rumah Aliya buat nemuin Syakirah lah. Masa iya ke markasnya bawa domini, lucu gitu ya kan.
Evan akhirnya sampai di rumah Aliya. Evan mengetuk pintu rumah Aliya tapi tidak ada sahutan. Saat ada ibu-ibu tetangga rumah Aliya yang melihat Evan, mereka langsung menghampiri Evan.
"Eh! Jang! Unaon teh datang kesini?" (Eh! Mas! Ngapain datang kesini?) ujar tetangga Aliya.
Evan yang mendengar perkataan ibu tadi merasa bingung. Evan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf, bu. Saya gak ngerti bahasa ibu." ujar Evan. Ibu itu langsung gelagapan, lupa kalau dia tidak sedang bicara dengan Aliya melainkan dengan orang lain yang baru saja dia lihat.
"Eh? Maaf. Saya lupa tadi." ujar ibu tadi.
"Iya gak apa-apa, bu. Bu, ini mau tanya. Orang rumah ini kemana ya? Saya ketuk-ketuk dari tadi juga gak ada yang jawab." tanya Evan.
"Neng Aliya sama temannya Neng gelis itu lagi ke supermarket. Mereka berdua juga titip pesan ke ibu, kalau ada yang cari mereka di suruh nunggu. Katanya mereka gak lama." jelas ibu tadi.
"Oh, gitu ya bu. Kalau gitu saya mau tungguin disini aja, bu."
"Gak apa-apa, bu. Saya disini aja."
Ibu itu mengangguki dan meninggalkan Evan sendirian di depan rumah Aliya. Evan menaruh boks domininya ke kursi sebelahnya.
Evan menunggu sekitar setengah jam lamanya sampai Evan sendiri frustasi. Sampai akhirnya Syakirah dan Aliya pun pulang. Syakirah turun dari motornya saat melihat Evan sedang duduk di kursi teras Aliya.
"Evan? Ngapain lo kesini malam-malam?" tanya Syakirah.
"Ya, nungguin bidadari aku lah. Masa iya nungguin mulut comberan ini." kata-kata Evan yang terakhir menyindir Aliya. Aliya yang tidak terima langsung menghampiri Evan.
"Aku punya nama ya, Van! Namaku itu Aliya. A - L - I - Y - A. ALIYA! Bukan mulut comberan!" gerutu Aliya sambil mengeja namanya sendiri.
"Emang mulut lo itu mulut comberan. Kagak ada saringannya kalau lagi ngomong. Lo ngomong itu ya kayak kereta yang kagak berhenti kalau bukan waktunya. Wajar dong kalau gue nyebut lo mulut comberan!" Evan menyahuti gerutuan Aliya.
__ADS_1
"Mulutku kayak kereta itu juga waktu tertentu aja, gak setiap waktu mulutku kayak kereta terus menerus."
"Sama aja!"
"Gak!"
"Sama!"
"Gak!"
"Sama!"
"Eeiitss. Udah cukup kalian berdua jangan berantem mulu. Gak enak kalau di dengar tetangga. Gak malu apa?!" Syakirah melerai pertengkaran Evan dan Aliya.
Beginilah kalau Evan meladeni Aliya, dia juga akan ikut gila juga. Oleh sebab itu kenapa Evan lebih memilih diam saat Aliya sedang bicara.
"Evan, ngapain lo datang kesini?" Syakirah beralih ke Evan dan bertanya kepadanya. Evan menunjukkan 5 boks yang tidak Syakirah ketahui apa isinya. Syakirah mengambil boks tersebut.
"Apa ini, Va?" tanya Syakirah kebingungan.
"DO - MI - NI. Donat mini. Kamu kan suka domini jadi aku beli buat kamu." ujar Evan. Syakirah tersenyum senang tapi tidak lama dia cemberut lagi.
"Kenapa? Kamu gak suka domini lagi?" tanya Evan panik.
"Suka, Van. Suka banget. Tapi kenapa lo beli banyak banget? 5 boks lagi, seboks aja cukup, Van." ujar Syakirah.
"Sekalian dong, Syaki. Beli kok setengah-setengah. Ya udah karena domininya udah sampai di tangan kamu, aku pulang ya. Cepet tidur udah malam soalnya."
Syakirah mengangguk dan Evan pergi meninggalkan rumah Aliya. Syakirah mengeluarkan hpnya dan mengirimkan pesan kepada anak buahnya agar datang ke rumah Aliya.
Bersambung......
__ADS_1