Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Maafkan kami


__ADS_3

Aku sendiri juga tidak yakin tentang hal ini, tapi ada kemungkinan besar kalau Syakirah mau denganku. Aku tidak sesempurna Evan, aku juga tidak sekaya Evan, tapi aku yakin Syakirah tidak pernah memandang fisik dan materi. Aku juga sudah membicarakan ini dengan kak Rani, dan kak Rani bilang ini adalah pilihan yang terbaik. Sudahlah, aku akan mencobanya terlebih dahulu. batin Ahmad.


***


Akhirnya weekend yang di tunggu-tunggu telah tiba. 5 orang lelaki ini sedang menunggu di caffe XX sambil membawa paperbags masing-masing.


"Cih! Kau bilang kalau kau tidak akan bawa apapun." ujar Ryan saat melihat Wahyu dan Ahmad membawa paperbags.


"Siapa bilang?" tanya mereka berdua kompak.


"Ya, kau!" ujar Ryan.


"Aku tidak bilang begitu." ujar mereka berdua kompak lagi. Ryan berdecak kesal.


"Dimana dia? Kenapa belum datang?" tanya Rey.


"Sebentar lagi mungkin, Kiya baru saja mengirimkan pesan bahwa masih ada di jalan." jawab Wahyu. Rey mengangguk.


Sekitar 15 menit telah berlalu, akhirnya Kiya dan Syakirah datang. Saat mereka berdua datang, Ahmad, Rey, Navile dan Ryan sangat terkejut melihat Syakirah yang tidak memakai kerudung.


"Maaf macet tadi di jalan." ujar Kiya sambil duduk. Syakirah hanya diam saja sambil menundukkan kepalanya. Wahyu sudah mau bicara tapi Kiya tiba-tiba memotong ucapannya.


"Kita bahas itu nanti, aku lapar sekali saat ini. Tidak sempat sarapan tadi soalnya." potong Kiya. Kiya pun mengambil buku menu dan memesan makanan.


"Syakirah." panggil Rey. Syakirah tidak menjawab, dia hanya diam saja.


Jadi tidak menjawab ya? Getir sekali hatiku rasanya. batin Rey sedih.


Braaakkh.


Ryan menggebrak meja dengan sangat keras, sampai pusat perhatian tertuju kepada mereka semua. Syakirah bahkan sampai mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang menggebrak meja.


"Hei! Apa yang kau lakukan?!" tanya Navile dengan geram.


"Sudah cukup, ayo selesaikan masalah kita! Aku menunggu selama 2 minggu hanya untuk menyelesaikan ini semua tahu!" ujar Ryan.

__ADS_1


"Maaf." ujar Syakirah tiba-tiba.


"A-apa k-kau bilang tadi? Maaf?" tanya Ryan terkejut.


"Iya, aku minta maaf karena tidak bisa menghargai kalian. Aku tidak ingin menjalin hubungan lebih dengan kalian karena aku hanya menganggap kalian sahabat saja, tidak lebih. Aku memang tidak bisa menghargai perasaan kalian, oleh sebab itu aku minta maaf." ujar Syakirah yang masih tertunduk.


"Sebenarnya kamilah yang harus minta maaf, kami... "


"Tidak! Di sini akulah yang salah. Aku memang bukan teman yang baik untuk kalian." Syakirah memotong ucapan Rey.


"Tidak, bukan begitu! Disini kamilah yang salah, kami mementingkan perasaan kami sendiri tanpa memikirkan perasaanmu. Harusnya kami tidak menaruh perasaan dan harapan lebih kepadamu. Jadi kamilah yang bersalah dalam hal ini." ujar Rey. Syakirah diam tidak menjawab.


"Syakirah, ini semua bukan hanya salahmu tapi ini juga salah kita. Kamilah yang salah karena sudah menaruh perasaan kepadamu, padahal kau hanya menganggap kami sebagai sahabat tidak lebih." ujar Navile.


"Maafkan kami yang terlalu egois dengan perasaan kami, tanpa memikirkan perasaanmu." ujar Ryan.


"Maafkan kami, Syakirah." ujar mereka bertiga kompak.


Syakirah meneteskan air matanya saat mendengar ucaoan mereka bertiga, terharu.


"Kalian... hiks... "


"Tidak, aku hanya terharu saja mendengar perkataan kalian. Aku pikir kalian tidak akan memaafkan aku." ujar Syakirah bahagia.


"Ah begitu ya, kalau begitu apa kau memaafkan kami?" tanya Rey.


"Aku selalu memaafkan kalian. Aku berterima kasih karena kalian juga mau memaafkanku." jawab Syakirah.


"Tidak. Harusnya kami yang berterima kasih karena kau masih mau berteman dengan kami." Syakirah hanya menanggapi dengan senyuman termanisnya saja.


Pesanan Kiya sudah sampai, Kiya memakan makanannya dengan sangat lahap sekali, itu karena dia lapar sekali. Mereka berenam hanya memesan minuman saja karena memang mereka tidak lapar dan haus saja.


"Kapan kau akan kembali lagi ke pabrik?" tanya Wahyu kepada Syakirah.


"Aku tidak tahu, mungkin besok akan membereskan barang-barangku dulu." jawab Syakirah.

__ADS_1


"Tidak. Sekarang saja. Aku akan membantumu untuk membereskan perlengkapanmu." ujar Ahmad.


"Hah?! Kau sudah gila apa ya! Mana mungkin aku membereskan pakaianku sekarang!" ujar Syakirah.


"Bisa kok, kalau aku membantumu."


"Aku tidak mau!"


"Ada baiknya kau pulang sekarang. Apa kau tidak merindukan orang tuamu?" ujar Kiya pada akhirnya. Syakirah diam dan berfikir sejenak.


"Aku sebenarnya juga merindukan orang tuaku, kak. Tapi mana mungkin aku membereskan barang-barangku sekarang, kak. Kalau mau membereskan setidaknya besok baru bisa pulang." jelas Syakirah.


"Ahmad akan membantumu." ujar Kiya. Ahmad langsung tersenyum senang mendengar ucapan Kiya.


"Ah sudahlah. Kalau begitu nanti ayo ikut aku." ujar Syakirah kepada Ahmad. Ahmad mengangguk dan tersenyum sangat senang sekali.


Cih. Mencari kesempatan dalam kesempitan. batin Ryan, Rey dan Navile.


Mereka melanjutkan perbincangan mereka sampai akhirnya Kiya memutuskan untuk pulang. Wahyu, Rey, Navile, dan Ryan pun juga ikut pulang karena mereka mengambil sift siang hari ini untuk menemui Syakirah, jadi mereka harus bersiap-siap untuk bekerja juga. Ahmad? Tentu saja dia ikut Syakirah, dia kan kesayangan CEO pabrik, dia tidak masuk setahun tidak akan di pecat juga. Dan ini hanya satu hari? Bukan masalah sama sekali karena memang satu hari.


***


Syakirah dan Ahmad sudah sampai di rumah Aliya, dengan Syakirah yang di bonceng Ahmad dengan motornya karena memang Syakirah tapi naik taksi untuk pergi ke caffe.


"Ini rumah Aliya Aliya temanmu itu?" tanya Ahmad sambil melihat sebuah rumah berlantai 2.


"Iya." jawab Syakirah. "Ayo masuk. Anggap saja rumah sendiri, meskipun aku bukan pemilik rumahnya juga. Hehe." ajak Syakirah.


Ahmad pun ikut Syakirah masuk ke dalam rumah Aliya itu.


"Rapi juga." gumam Ahmad yang masih bisa di dengar oleh Syakirah.


"Iya lumayan juga, semenjak aku disini aku jadi seperti pembantu. Itu juga bentuk terima kasihku karena menumpang di rumahnya, meskipun terkadang dia sering melarangku untuk membersihkan rumahnya." ujar Syakirah.


"Memangnya kenapa? Apa Aliya tidak suka dengan barang yang rapi dan juga bersih?" tanya Ahmad heran.

__ADS_1


"Entahlah, aku juga tidak bisa menyimpulkannya juga. Saat sekolah dulu dia anak yang rapi dan juga bersih, meskipun terkadang juga sering membuang sampah di bawah kursinya sendiri. Tapi semenjak dia bertunangan dia jadi jarang untuk membereskan atau membersihkan rumahnya. Setiap hari dia kuliah, setelah kuliah dia selalu kencan dan makan malam di rumah calon mertuanya. Dan semenjak itu aku tahu, bahwa dia tidak pernah mengurus rumahnya sama sekali. Dia selalu memanggil cleaning service untuk membersihkan rumahnya setiap hari. Tapi karena disini ada aku jadi dia tidak memangil cleaning service karena akulah yang membersihkan rumahnya. Bukan maksud untuk membanggakan diriku atau menjelekkannya, hanya saja itu adalah kesimpulanku. Bahkan dia juga sering pulang tengah malam, aku takut terjadi apa-apa dengannya tapi dia selalu bilang kalau dia baik-baik saja." jelas Syakirah kepada Ahmad.


Bersambung......


__ADS_2