Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Hubungan Ahmad dan Hanifa berakhir


__ADS_3

"Hanifa, maafkan aku. Aku minta maaf karena telah menjadikanmu korban pelarianku. Aku tidak pernah berfikir seperti itu. Tidak semua ini juga salahku tapi juga salahmu. Jika kau mau menyalahkan aku, aku juga bisa menyalahkanmu. Ini salah kita berdua." gumam Ahmad.


***


Keesokan paginya Ahmad menemui Hanifa di kos nya, sesuai dari temannya bahwa Hanifa sedang ada di Bandung dan mengikuti Ahmad. Ahmad sudah ada di depan kos Hanifa, dia mengetuk pintu kos Hanifa.


Tok… tok… tok…


Cklek…


Suara pintu terbuka dan Hanifa sangat terkejut melihat kedatangan Ahmad. Hanifa seketika langsung gugup melihat Ahmad. Bagaimana dia bisa tahu kalau aku ada disini? Begitu pemikiran Hanifa.


"Ah... Ahmad?" gumam Hanifa gagu.


"Aku ingin berbicara kepadamu."


"I... Iya."


"Kita tidak bicara disini. Aku mau kita bicara di tempat lain." ujar Ahmad sambil meninggalkan Hanifa pergi.


Hanifa segera mengunci kamar kos nya dan berjalan mengikuti Ahmad. Mereka berdua masuk ke mobil dan Ahmad membawa Hanifa ke tempat sepi seperti taman yang tidak banyak lalu lalang orang.


"Kenapa kita ke taman?" tanya Hanifa.


"Turun." Ahmad.


Mereka berdua turun dari mobil dan duduk di sebuah bangku dengan jarak tertentu. Awalnya Hanifa mendekat tapi Ahmad malah menjauh.


"Ada apa?" tanya Hanifa mencoba mencari tahu apa yang akan dibicarakan Ahmad.


"Aku mau mengakhiri hubungan kita." jawab Ahmad to the point.


Hati Hanifa sakit rasanya, Ahmad mengatakan itu tanpa ada beban sedikit pun dihatinya.


"Kenapa? Kenapa Ahmad? Kenapa kau mau mengakhiri hubungan kita? Apa ini karena Syakirah?" ujar Hanifa mulai emosi.


"Hanifa, dari awal hubungan kita ini sudah tidak baik-baik saja. Apa kau tidak merasakannya? Jangan bawa-bawa Syakirah dalam hubungan kita. " Ahmad.


"Aku tahu itu, tapi aku tetap bertahan karena aku mencintaimu!" Hanifa.


"Tapi aku tidak. Aku menjadikanmu hanya pelarianku saja. Aku juga tidak mencintaimu. Aku tidak pernah memiliki rasa apa-apa kepadamu." Ahmad.


Deg.


Seketika Hanifa tercekik mendengar kejujuran Ahmad. Jadi selama ini yang mencintai hanya dia saja. Hanifa tak kuasa menahan air matanya. Dia cukup tertekan dengan dengan kejujuran Ahmad. Lidahnya terasa kelu saat mau berbicara.


"Jadi selama ini kau tidak mencintaiku?" Hanifa memastikan.


"Tidak." jawab Ahmad.

__ADS_1


Lagi, jawaban Ahmad sangat menyakitkan.


"Lalu, kenapa kau dulu menjadikan aku kekasihmu?" Hanifa.


"Aku tidak mau di anggap kalau aku gagal mencari pengganti Syakirah, jadi aku memilihmu."


"Kau jahat!" Hanifa berteriak.


Ahmad mengusap wajahnya dengan kasar, dia tahu dia jahat oleh sebab itu kenapa dia ingin memulainya dari nol lagi.


"Hanifa, maafkan aku. Aku memang bukan laki-laki yang baik untukmu. Oleh sebab itu kita harus mengakhiri hubungan kita sebelum terlambat." Ahmad.


Hanifa tidak menjawab, dia mengusap air matanya.


"Kenapa kau dulu tidak bilang kepadaku jika kau hanya ingin tidak di anggap gagal? Jika kau bilang kepadaku, aku bisa membantumu dan aku juga tidak akan pernah menaruh perasaan apa-apa kepadamu. Harusnya kau dulu bicara begitu, jika sudah seperti ini aku lah yang akan tersakiti." Hanifa.


"Aku tahu. Oleh sebab itu, aku minta maaf kepadamu."


"Tidak semua masalah bisa di selesaikan dengan kata maaf. Aku bukan Syakirah, wanita yang selalu memaafkan semua orang dan memiliki hati yang sangat putih, bersih tanpa dendam sekalipun." Hanifa.


"Lalu, kau mau apa? Jika aku sanggup maka aku akan menuruti permintaanmu sebagai tanda permintaan maafku."


"Aku tidak minta apa-apa. Aku hanya minta temukan aku kepada Syakirah."


Ahmad langsung terkejut mendengar ucapan Hanifa, mana mungkin dia menemukan Hanifa dan Syakirah, itu sangat jauh. Apalagi kalau sampai Kiya tahu.


"Tidak ada. Aku hanya ingin meminta maaf saja." jawab Hanifa.


"Jangan membuat masalah! Ada Kiya di depan Syakirah, kau mau mati ya!" Ahmad.


"Apa sesulit itu menemukan aku dengan Syakirah?"


"Tentu saja."


"Kenapa?"


"Karena kau pernah menyakitinya secara fisik dan perasaan. Harusnya kau tahu jawabannya kau tidak perlu bertanya."


Hanifa diam, dia tahu apa kesalahannya dengan Syakirah. Itu juga karena dia terlalu terobsesi dengan Ahmad, dia tidak ingin berbagi laki-laki dengan wanita lain. Semua orang juga tidak akan mau berbagi dengan orang lain, apalagi jika status mereka sudah menikah.


"Temukan aku sebentar saja. Bilang saja kau mau membahas masalahmu." Hanifa.


"Aku akan mencobanya." Ahmad.


Mereka berdua diam tidak memulai pembicaraan.


"Apakah hubungan kita akan berakhir mulai detik ini?" tanya Hanifa.


"Iya. Maafkan aku."

__ADS_1


"Bolehkah aku meminta sesuatu?"


"Jika tidak aneh aku akan menurutinya."


"Bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya?" ujar Hanifa sedikit gugup.


Ahmad menoleh ke arah Hanifa, dia melihat Hanifa masih mengeluarkan air matanya. Ahmad menghela nafas lelah. Ahmad mendekati Hanifa dan menarik kepala Hanifa ke pelukannya. Hanifa menangis sejadi-jadinya di pelukan Ahmad.


"Aku mencintaimu, Ahmad." ujar Hanifa terisak.


"Terima kasih karena telah mencintaiku. Aku tidak pantas di cintai oleh wanita sepertimu. Carilah laki-laki yang bisa mencintaimu dengan setulus hati. Jadikan ini pengalaman untukmu saat mencari laki-laki nanti. Pilihlah lelaki yang menurutmu baik. Jangan mencari lelaki brengsek seperti diriku ini." tutur Ahmad.


Hanifa hanya mampu terisak di pelukan Ahmad. Hubungannya dengan Ahmad akhirnya berakhir setelah 3 tahun ini.


***


Hanifa turun dari mobil Ahmad dan berjalan ke arah Ahmad. Saar ini mereka sedang berada di depan kos Hanifa. Setelah menangis dan mengucapkan permintaan terakhirnya ke Ahmad, dia merasa lebih baik. Ahmad membuka jendela mobilnya.


"Jangan lupa untuk permintaanku agar bertemu dengan Syakirah." ujar Hanifa yang masih terisak tapi air matanya sudah tidak ada.


"Nanti aku kabari. Aku akan mencoba untuk membujuknya." ujar Ahmad.


Hanifa tersenyum dan berjalan ke kamar kos nya lagi tapi dia berhenti saat Ahmad memanggil namanya.


"Hanifa." panggil Ahmad. Hanifa berbalik.


"Bisakah kita tetap berteman setelah ini? Aku tidak mau hubungan kita menjadi renggang. Bagaimanapun kita ini teman kan?" lanjut Ahmad.


Hanifa tersenyum mendengar ucapan Ahmad. Dia bersyukur masih bisa berteman dengan Ahmad.


"Tentu saja, kita akan tetap berteman. Tapi mungkin kita tidak akan sedekat dulu. Kita memiliki hidup kita masing-masing dan memiliki tujuan kita masing-masing."


"Iya."


Hanifa kembali melanjutkan jalannya untuk ke kamar kos nya. Ahmad sendiri juga sudah pergi dari tempat kos Hanifa.


Hanifa menangis sejadi-jadinya di kamar kos nya. Dia mengorbankan teman-temannya demi Ahmad. Hanifa tidak membenci Ahmad, dia hanya kecewa. Dia telah memaafkan Ahmad meskipun kesalahan Ahmad sangat besar karena telah mencampakkannya.


Ahmad sendiri juga sedang berfikir untuk mempertemukan Syakirah dan Hanifa.


Bersambung......


***


Pesan cerita :


Jangan pernah kalian mengorbankan teman kalian hanya untuk kekasih kalian. Karena pada saat hubungan kita berakhir dengan kekasih kita, maka kita membutuhkan teman bukan kekasih kita.


Jangan lupa like, komen dan vote ya... biar author semangat up nya ^_^

__ADS_1


__ADS_2