
Bagai tersambar petir saat mendengar nama kakak Kiya. Evan sampai diam kaku dan tidak bergerak sama sekali. Evan sangat terkejut sekali. Dan yang paling Evan terkejut lagi adalah, apakah Kiya tidak pernah tahu nama panjangnya. Perusahaan Novanda adalah perusahaan papanya. Dan nama panjang Evan adalah, Evan Arwien Novanda. Kiya tidak tahu tentang hal ini? Tentu saja bagi Kiya, Evan itu tidak penting karena Kiya baru mengenalnya juga.
"Hei! Evan! Kenapa kau diam seperti itu?!" Kiya meneriaki Evan yang sedang melamun.
"Eh? Iya? Apa? Gue gak apa-apa kok. Cuma lagi mikir aja." jawab Evan gelapagan.
Pantas aja bang Rahman selalu cerita tentang adiknya, orang adiknya aja Kiya. batin Evan.
"Kenapa lo gak coba buat kenalan aja sama bos kakak lo." saran Evan. Kiya menghela nafas lelah.
"Tidak akan pernah ada yang menerimaku apa adanya, pasti akan di suruh berubah. Aku ini bukan wanita kreteria lelaki, tidak bisa romantis, cuek dan hati sedingin es, mana ada lelaki yang tertarik ambk padaku. Hanya ada 2 orang lelaki yang bisa menerimaku apa adanya." ujar Kiya. Evan mengerutkan keningnya.
Nah, sadar juga dia kalau hatinya sedingin es. batin Evan.
"Siapa?" tanya Evan.
"Siapa apa?" tanya Kiya balik.
"Siapa yang lo maksud 2 lelaki yang mau nerima lo itu?" tanya Evan lagi.
"Asraf dan Wahyu." jawab Kiya blak-blak'an.
Deg.
Apa? Apa dia bilang tadi? Wahyu? Wahyu temannya Syakirah itu kan? Jadi dia suka sama Kiya? Tapi waktu gue tanya kenapa dia gak ngaku aja, ya iyalah Wahyu gak akan pernah ngaku kalau urusan perasaan. Dan siapa tadi? Asraf? Siapa lagi itu? Wajar sih kalau ada yang suka sama dia, diakan cantik cuma cuek aja gitu. Jadi gue harus gimana ini? Hati gue selalu tertarik dengan Kiya, tapi otak gue selalu menentangnya. batin Evan.
__ADS_1
"Wahyu suka sama lo?" tanya Evan mencoba untuk memastikan.
"Iya, tapi Wahyu tidak pernah bilang kalau dia menyukaiku. Aku tahu pun karena tidak sengaja mendengar percakapan antara Syakirah dan Wahyu." jawab Kiya.
"Terus Asraf itu?" tanya Evan lagi.
"Dia musuhku saat ada di pesantren dulu, tapi hubunganku sekarang sudah sedikit membaik dengannya. Asraf menyatakan perasaannya melalui surat sebelum dia pergi untuk studi ke luar kota, dia akan kembali sekitar 4 tahun lagi." jawab Kiya.
Kalau Asraf gak ada berarti saingan gue cuma Wahyu aja dong? batin Evan.
Saingan? Mungkin saat ini Evan menganggap seperti itu tapi tidak tahu kalau satu tahun lagi. Jadi Evan menganggapnya saingan sekarang.
"Terus gimana?" tanya Evan.
"Tidak ada terusannya. Aku tidak tahu Wahyu akan melamarku atau tidak, aku juga tidak berharap kepadanya. Kalau Asraf, mungkin tidak akan bisa karena dia kembali dalam waktu 4 tahun lagi, aku juga tidak berharap kepadanya. Jika aku menunggu Asraf, orang tuaku akan terus menentang dan memaksaku. Aku tidak akan pernah berharap kepada sesama manusia, karena belum tentu harapan kita tidak sesuai dengan kenyataan." jawab Kiya.
"Apa lo mau gue jodohin sama teman-teman gue? Teman-teman gue banyak yang jomblo loh." canda Evan. Kiya langsung memberikan tatapan kematian kepada Evan.
"Bercanda-bercanda, gak usah marah napa sih?! Teman gue juga gak akan ada yang mau sama lo. Lo bukan kreteria mereka soalnya." ujar Evan. Kiya hanya mendengus kesal mendengar ucapan Evan.
Tanpa mereka berdua sadari ada sepasang mata yang sedang melihat mereka. Bahkan sepasang mata itu juga memvideo mereka.
"Gila! Sih Evan tumben tertarik sama cewek kayak gitu? Biasanya kan tuh anak minta yang sempurna doang." ujar Vanya yang tak lain adalah tangan kiri Syakirah dan yang biasanya menggantikan posisi Clara saat Clara tidak ada.
"Iya tumben juga ya? Kesambet apa tuh anak sampek kayak gitu?" ujar temannya.
__ADS_1
"Kita kirim aja kali ya video ini ke Syakirah? Biar Syakirah tahu dan gak berharap lagi sama Evan gitu." ujar Vanya.
"Boleh deh. Coba lo kirim ke Syakirah."
Akhirnya Vanya mengirimkan video Evan dan Kiya kepada Syakirah, entah bagaimana reaksi Syakirah saat melihat video itu.
"Ayo Van, kita harus balik lagi ke markas. Lo gak lapar apa dari tadi pagi belum makan." ajak teman Vanya.
"Iya, perut gue udah keroncongan dari tadi. Dah lah, kita balik aja. Gak ada untungnya juga sih nguntit si Evan." ujar Vanya. Akhirnya Vanya dan temannya berjalan menjauh dari Evan dan juga Syakirah.
Sementara Evan dan Kiya sama-sama terdiam. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Kiya memikirkan bagaimana caranya agar dia tidak tinggal bersama dengan kakaknya saat kakaknya sudah menikah nanti, dan bagaimana caranya agar dia tidak di jodohkan oleh orang tuanya. Sementara Evan sedang berfikir tentang perasaannya kepada Kiya. Evan masih ragu dengan perasaannya kepada Kiya, apa benar dia suka kepada Kiya atau tidak, pertanyaan itu berputar-putar di kepala Evan. Tak lama hp Evan berdering menandakan ada pesan masuk, Evan segera mengeluarkan hpnya dari saku celananya. Dia melihat pesan dari Syakirah.
"Evan, gue mau nanti malam kita ketemu di caffe XX. Ada hal yang mau gue omongin sama lo. Penting!!!!!!" pesan dari Syakirah dengan akhir tanda seru yang banyak. Evan hanya membalas OK saja, lalu dia memasukkan hpnya ke dalam saku celananya lagi.
"Kiki, coba aja lo ikutin saran dari kakak lo itu." saran Evan. Padahal Evan cuma mau Kiya tahu kalau bos kakaknya adalah dirinya. Pamer? Bukan pamer sih cuma pengen ngasih tau aja gitu.
Kiki? Huh! Terserah dia saja. batin Kiya. Kiya hanya mendengus kesal saat Evan memanggilnya Kiki
"Kenapa kau terus menyuruhku untuk bertemu dengan bos kakakku? Apa kau tahu siapa dia?" tanya Kiya yang mulai curiga karena dari tadi Evan menyuruhnya untuk bertemu dengan bos kakaknya.
"Nggak, gue gak tau kok. Ya barang kali aja lo cocok sama dia, dari pada harus di jodohin sama orang tua lo, lebih baik nurut sama kakak lo." ujar Evan berbohong.
"Nanti aku pikir-pikir lagi." ujar Kiya.
Mereka berdua kembali diam lagi, tidak ada topik pembicaraan lagi. Evan mau cerita pun mau cerita apa. Karena hari sudah mulai siang, Kiya memutuskan untuk pulang. Apalagi pekerjaannya juga tertunda gara-gara curhat dengan Evan. Kiya berpamitan kepada Evan, lalu dia pergi meninggalkan Evan sendirian. Evan memandangi tubuh Syakirah yang terbalut gamis panjang yang sampai menutupi sepatu yang dia pakai, dan kerudung panjangnya itu yang sampai lututnya. Baju Kiya selalu panjang hingga menutupi kedua kakinya dan kerudung yang panjang, hanya belakang kerudungnya saja yang sampai paha, kalau depan kerudungnya hanya sampai bawah perutnya saja. Ada rasa senang di hati Evan tapi dia tidak bisa mengerti arti dari kesenangan hatinya itu.
__ADS_1
Bersambung......