Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Roy pergi dan Kiya sedih


__ADS_3

Roy tersenyum getir saat mengingat wajah Clara yang menangis tersedu-sedu karena cacian makinya dulu. Dan Roy mengangap ini semua adalah balasan dari perbuatan di masa lalunya dulu.


Saat ini keluarga Roy sedang menikmati sarapan pagi. Semuanya terlihat tapi sayang kalau Roy tidak ikut sarapan juga. Clara celingukan mencari keberadaan Roy secara diam-diam. Papa, Mama Roy dan kak Dara menyadari hal itu, tapi mereka diam saja dan membiarkan Clara celingukan mencari Roy.


Roy kemana ya? Kok tumben dia gak ikut sarapan? Meskipun dia gak ikut sarapan, tapi seenggaknya dia pasti nongol tapi sekarang kok nggak ya? Apa gue keterlaluan banget ya tadi? Tapi itukan cuma bohong, gak mungkin juga kan dia percaya? batin Clara.


Sampai akhirnya sarapan pagi sudah selesai, mama Roy mulai bicara.


"Clara, habis ini kamu ke ruang tamu ya sayang. Mama sama papa mau ngomong sesuatu sama kamu." ujar mama Roy dengan lembut.


Clara mengangguk dengan ekspresi wajah kebingungan, tapi dia tetap berjalan ke ruang tamu yang sudah ada kak Dara disana.


Terlihat Papa Mama Roy mau mengatakan sesuatu tapi mereka sangat berat untuk mengatakannya.


"Clara." ujar mama Roy sambil mengusap punggung Clara dengan lembut.


"Apapun nanti yang mama sama papa omongin kamu gak boleh nangis ya?" lanjutnya.


"Emang mama sama papa mau ngomong apa sama Clara?" tanya Clara.


Mama Roy melihat papa Roy dan kak Dara, mereka berdua sama-sama mengangguk. Mama Roy terlihat menghela nafas lelah.


"Clara, kamu anak yang cantik dan baik. Mama mau kamu tinggal disini selamanya ya sayang, karena mama gak mau kamu pergi dari sini." ujarnya sambil mengelus rambut Clara. "Dan... untuk Roy... " perkataan mama Roy menggantung, dia tidak sanggup untuk mengatakannya. "Roy pergi ke luar negeri sayang." lanjutnya dengan air mata yang sudah ada di pelupuk matanya.


"Maksudnya ma?" Clara menginginkan penjelasan lebih dengan apa yang di ucapkan oleh mama Roy.


"Roy pergi ke luar negeri, dia akan menetap untuk beberapa tahun disana dan kita gak tau kapan dia akan pulang. Dia bilang kalau dia ada disini, dia akan nyakitin kamu terus. Oleh sebab itu Roy memutuskan untuk tinggal di luar negeri untuk beberapa tahun." jelas mama Roy.


Deg


Clara benar-benar tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh mama Roy. Tanpa dia sadari air matanya jatuh tiba-tiba.


"Itu gak mungkin, ma!" sergah Clara.

__ADS_1


"Tapi memang itu kenyataannya sayang."


"Gak, ma. Itu gak mungkin."


"Sayang, Roy berangkat 15 menit yang lalu sebelum kamu turun. Ada pesan buat kamu, katanya dia sayang banget sama kamu."


Clara menggelengakan kepalanya tak percaya. Dia benar-benar tidak percaya dengan kenyataan ini, harusnya tadi dia tidak berbuat seperti tadi agar Roy tidak pergi dari sini. Awalnya Clara berfikir kalau dia akan di usir dari sini karena sudah mengecewakan Roy, tapi yang ada Roy malah yang pergi dari rumahnya sendiri.


Clara bangkit dari duduknya, dia berjalan tergesa-gesa untuk keluar. Mama papa Roy dan kak Dara mengikuti Clara dari belakang.


"Kamu mau kemana sayang?" tanya mama Roy khawatir.


"Aku mau jemput Roy ke bandara, ma." jawabnya dengan tegas.


"Nggak sayang. Kamu gak boleh jemput Roy. Dia udah pergi sayang."


"Aku yakin Roy masih belum berangkat, ma. Dia pasti lagi nungguin aku sekarang. Pokoknya aku mau jemput dia ke bandara!" kekeuhnya.


Papa Roy memeluk Clara dengan sangat erat seperti anaknya sendiri. Clara meronta-ronta meminta untuk di lepaskan tapi papa Roy tidak melepaskan peluakannya terharap Clara. Clara menangis sejadi-jadinya di pelukan papa Roy.


"Nggak...! nggak...! Roy gak mungkin ninggalin aku kayak gini! Itu gak mungkin....! Aku lagi sakit tapi kenapa Roy malah ninggalin aku! Rooooyyy... !" ujar Clara menangis tersedu-sedu di dalam pelukan papa Roy.


Mama Roy dan kak Dara hanya bisa melihat Clara yang menangis berada di pelukan papa Roy. Mama Roy sudah berusaha untuk membuat Roy mengerti dengan keadaan Clara, tapi Roy tetap kekeuh dengan pendiriannya.


***


Dan di sebuah trotoar jalanan yang ada di kota, Kiya sedang berjalan dengan tatapan mata yang kosong. Dia sedang sedih, hatinya benar-benar sangat hancur saat ini. Ternyata dia sudah memberikan harapan kepada orang yang salah.


Kiya masuk ke sebuah restoran ternama di pusat kota. Dia duduk di depan lelaki yang disebut kakaknya.


"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba mengajakku bertemu? Kau tahu kan kalau aku sedang sibuk." ujar kak Rahman.


"Aku... " ucapan Kiya menggantung. "Aku... akan tinggal dengan kakak saat kakak sudah menikah nanti." lanjutnya.

__ADS_1


Kak Rahman tersenyum sangat senang sekali. Akhirnya adiknya yang keras kepala itu menurut padanya.


"Tapi ada syaratnya." lanjut Kiya.


Senyuman kak Rahman langsung pudar saat mendengar kata syarat dari Kiya.


"Apa?" tanyanya.


"Berhenti menjodohkanku dengan Evan, biarkan aku mencari lelaki pilihanku sendiri."


Kiya menekankan kata-katanya. Pandangan lurus ke depan dan begitu sangat datar, berbeda seperti biasanya.


Kak Rahman mengerutkan keningnya saat mendengar persyaratan dari Kiya.


"Ada apa? Apa kau bertengkar dengannya? Aku pikir kau sudah sangat cocok dengannya." ujar kak Rahman.


"Tidak!" sergah Kiya dengan cepat. "Kami tidak ada kecocokkan sama sekali. Oleh sebab itu berhentilah untuk menjodohkanku dengannya." lanjutnya.


Kak Rahman menghela nafas mendengar ucapan Kiya.


"Itu tidak masalah bagiku. Yang penting kau tinggal bersamaku itu sudah cukup dan kau juga bisa mencari lelaki pilihanmu sendiri tanpa harus di kekang oleh ayah dan ibu." ujar kak Rahman.


Memang benar bukan kalau kak Rahman hanya menginginkan Kiya untuk tinggal bersamanya saat menikah nanti? Jadi tidak ada masalah tentang Evan.


Karena mereka berdua sudah berbincang-bincang dan kak Rahman juga harus segera kembali ke tempat kerjanya, akhirnya dia pergi meninggalkan Kiya sendirian di restoran tersebut.


Kiya mengambil hpnya dan memblokir serta menghapus sebuah nomor di benda pipih itu. Dia sedang tidak ingin di ganggu untuk hari, agar hatinya bisa lebih tenang dan agar emosinya tidak meluap.


Kiya menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Memejamkan matanya, berfikir sejenak dan mengontrol emosinya.


Sabar ya, bertahan sekali lagi. batin Kiya menyemangati dirinya sendiri.


Kiya berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan restoran itu.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2