
Wahyu tahu bagaimana perasaan Syakirah sekarang, jika sudah seperti ini Syakirah tidak boleh di perlakukan dengan kasar karena itu akan sangat menganggu kondisi psikologisnya.
"Apa hanya gara-gara cinta persahatan kita harus bubar? Kenapa cinta merusak semuanya?" ujar Syakirah yang masih belum bisa menerima kenyataannya ini.
"Ini adalah pilihan mereka. Bagi mereka ini adalah pilihan terbaik, kita tidak boleh memaksa mereka untuk kembali kepada kita. Yang hanya bisa kita lakukan adalah menerima kenyataan ini. Aku tahu ini berat untukmu dan juga untukku tapi kita harus menerimanya." ujar Wahyu.
Syakirah diam, apa yang di ucapkan Wahyu ada benarnya. Meskipun ini berat untuknya tapi dia harus menerimanya. Syakirah mulai mengerti sekarang.
Disini aku lah yang salah. Seharusnya aku juga harus menghindari mereka. Mungkin aku berteman dengan mereka adalah pilihan yang salah. Aku tidak bisa menghargai perasaan mereka yang menyukaiku. Aku adalah aku. Aku akan tetap menjadi Syakirah yang tidak bisa di paksa. Aku tidak mencintai mereka, aku hanya mencintai Ahmad. Jika ini yang mereka inginkan, baiklah. Aku akan menerimanya. Apa hanya gara-gara cinta mereka menjadi agresif seperti ini? batin Syakirah.
"Aku akan mencoba untuk menerimanya, Wahyu. Mungkin ini berat tapi aku akan mencobanya." ujar Syakirah sambil tersenyum. Aku akan mengikuti alurnya, begitu pikir Syakirah.
Wahyu mengangguk dan menuntun Syakirah untuk kembali ke ruangan, mereka tidak makan siang sama sekali. Apalagi untuk Syakirah, rasanya hambar sekali jika Syakirah melihat makanan.
Syakirah dan Wahyu duduk di meja kerjanya masing-masing. Mereka melihat Ahmad yang masih disini.
"Apa kau tidak makan siang?" tanya Wahyu kepada Ahmad.
"Sudah. Selesai makan siang aku langsung kembali ke ruangan karena masih ada pekerjaan yang tertinggal kemarin." jawab Ahmad. Wahyu hanya mengangguk saja.
"Kalian sendiri bagaimana? Kalian sudah makan siang? Biasanya kan kalian selalu kembali saat bel." tanya Ahmad.
"Sudah, kami sudah makan siang. Kami kembali juga karena masih ada pekerjaan." jawab Syakirah. Ahmad pun mengangguk.
__ADS_1
Bel selesai istirahat sudah berbunyi, pintu ruangan Syakirah di buka, Syakirah pun refleks menoleh. Syakirah melihat Rey dan Navile, yang dilihat hanya memberikan tatapan permusuhan. Syakirah menghela nafas, tidak mau memperbesar masalah. Lebih baik dia melanjutkan pekerjaannya dari pada melihat mereka berdua. Sementara Ahmad sedang memicingkan mata curiga, sepertinya hubungan Syakirah dan teman-temannya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, pikir Ahmad.
***
Bel pulang kerja sudah berbunyi untuk karyawan siff pagi, Syakirah sedang berbincang-bincang dengan seniornya sementara Wahyu juga sudah pulang. Saat sedang bicara Syakirah melihat Rey dan Navile sedang berjalan, Syakirah ingin mendekati mereka tapi dia urungkan karena hubungan mereka juga sedang tidak baik.
Rey dengan sengaja menabrak bahu Syakirah sampai membuat Syakirah hampir terjatuh, seniornya pun refleks menolong Syakirah yang hampir terjatuh.
"Kau tidak apa-apa, Syakirah?" tanya seniornya.
"Aku tidak apa-apa, terima kasih."
"Bukankah mereka teman-temanmu? Kenapa mereka bersikap seperti itu denganmu?"
"Hubungan kami sedang tidak dalam baik-baik saja." lirih Syakirah.
Syakirah hanya tersenyum menanggapi ucapan seniornya. Semoga saja, pikir Syakirah. Akhirnya Syakirah pulang setelah dia berbincang-bincang dengan seniornya.
Saat Syakirah berada di parkiran, Syakirah melihat Rey dan Navile sedang bersama karyawan pabrik lainnya. Perempuan dan laki-laki langsung kumpul jadi satu, mereka semua tertawa Rey dan Navile juga ikut tertawa tentunya. Entah kenapa hati Syakirah sakit. Rey yang melihat Syakirah langsung mengalihkan pandangannya dan melihat temannya. Dari pada Syakirah sakit hati, Syakirah lebih memilih pulang.
Saat Syakirah sudah mengendarai motornya menjauhi area pabrik, Rey dan Navile langsung melihat Syakirah.
Apakah ini pilihan terbaik? Aku juga ingin egois sesekali. batin Rey.
__ADS_1
Apa ini terlalu keterlaluan untuk Syakirah? Lalu bagaimana dengan Syakirah yang tidak pernah menghargai perasaanku. batin Navile.
***
Syakirah sampai di rumah dengan tubuh yang sangat lemas, dia sangat berfikir keras sehari ini. Teman-temannya yang sudah tidak mau berteman dengannya akibat urusan cinta di tambah lagi tentang kata menghargai. Memangnya Syakirah tidak pernah menghargai perasaan mereka? Syakirah menghargai perasaan mereka, hanya saja mereka tidak pernah tahu.
Syakirah membating tubuhnya ke ranjang dan mulai mencerna kejadian sehari ini, Rey yang dengan sengaja menabraknya, Rey dan Navile yang sudah memiliki teman baru, rasanya ingin pecah saja kepala Syakirah.
Syakirah memutuskan untuk mandi. Setelah selesai mandi dia pergi ke dapur untuk makan malam. Mau tidak mau, Syakirah harus tetap makan. Tadi siang saja Syakirah tidak makan, bisa-bisa dia masuk rumah sakit jika tidak makan sehari, perutnya saja sudah terasa perih dari tadi.
Setelah selesai makan, Syakirah kembali ke kamarnya. Pikirannya sedang kacau saat ini, dia tidak bisa berfikir dengan jernih. Dia bingung harus memulai dari mana lagi. Dia harus memulainya dari nol lagi seperti dulu.
Syakirah membuka ponselnya, melihat ada pesan atau tidak. Setelah melihat pesan, Syakirah beralih melihat status Rey, Syakirah membukanya. Rey mengepost fotonya bersama teman-teman barunya, bahkan teman barunya lebih banyak, disana juga ada Navile. Senyum mereka berdua sangat terpancar jelas, bahkan tidak tanggung-tanggung. Syakirah bisa mengingat jelas, senyum mereka selama ini seperti senyum keterpaksaan, tidak ada ketulusan di senyum mereka. Tanpa Syakirah sadari, kristal bening keluar dari sudut matanya. Ada pesan masuk dari Wahyu, Syakirah segera membukanya.
Wahyu
"Syakirah, apa kau baik-baik saja."
Syakirah
"Iya, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkan tentang aku, kan disini puncak permasalahan ada di aku jadi aku lah yang harus menerima resiko. Wahyu, aku cuma mau memberitahumu saja. Rey dan Ryan adalah sepupu mu, seharusnya kau lebih membela mereka di bandingkan dengan aku. Aku ini hanyalah temanmu, kehadiranku juga tidak terlalu penting untukmu. Suatu saat pasti yang kau butuhkan adalah keluargamu bukan temanmu. Jadi aku mohon berbaiklah kepada Rey dan Ryan, mereka itu juga keluargamu. Jika kau meninggalkan aku, aku tidak masalah, yang penting hubunganmu dengan keluargamu itu membaik."
Syakirah menangis sendiri melihat rentetan pesan yang dia kirimkan ke Wahyu. Bagi dia itu benar, dia hanya orang yang memecah belah keluarga Wahyu. Contohnya saja saat ini, hubungan Wahyu, Rey dan Ryan tidak membaik gara-gara dirinya. Syakirah hanya bisa merenungi nasibnya saja saat ini, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
Syakirah mematikan ponselnya, membanting ponselnya dan menutupi wajahnya dengan bantal. Dia menangis tersedu-sedu melihat nasibnya sekarang ini. Mungkin dia harus menjauhi teman-temannya termasuk Wahyu, mungkin ini adalah jalan terbaik.
Bersambung......